This Crazy

This Crazy
TC chapter 22{a past}



karena ini flash back, jadi sengaja aku kasih front italic


Flash back on


“Rangga!!!! “ panggil Aka sambil berlari. Rangga tersenyum melihatnya.


“Aka awas!!!!!! “ teriak Rangga ketika melihat sesuatu.


“Brukkkkkk!!!!!!!! “ terlambat, Aka sudah terlanjur jatuh terlebih dahulu. Rangga segera menemuinya.


“Hwaaaa!!!!!!! “ tangis Aka pecah seketika. Rangga berusaha menenangkannya.


“Udah jangan nangis “ kata Rangga menenangkan. Aka masih terus menangis.


“Hwaaaa!!!!!! Batunya nakal. Gue jadi jatuh “ kata Aka sambil masih terus menangis kesegukan.


“Cup cup jangan nangis lagi. Kamu jatuh sendiri gara gara kurang hati hati malah nyalahin batunya” kata Rangga mengingatkan. Bukannya tenang, Aka malah semakin merajuk.


“Jadi lo salahin gue?! Jelas jelas yang salah batunya, kok elo nyalahin gue sih?! “ kata Aka sambil merengut kesal.


“Ya bukannya gitu” kata Rangga sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana kepada Aka yang sangat childish ini.


“Maksudnya, kamu jangan nangis lagi. Masak sama batu doang nangis? Malu dong” kata Rangga yang membujuk Aka seperti membujuk anak kecil. Aka mengangguk perlahan, Rangga akhirnya lega.


“Tapi kaki gue masih sakit, nanti kalo Mami tau gimana? Gue takut dimarahin “ kata Aka mulai berhenti menangis. Rangga tersenyum kembali.


“Biar gue yang urus. Sekarang kita obatin dulu luka lo” kata Rangga sambil berjongkok di depan Aka. Aka menatapnya bingung.


“Yuk naik” ajak Rangga. Aka segera naik ke pundak Rangga. Ia segera berdiri dengan Aka yang ada di punggungnya.


“Rangga lari dong biar seru” kata Aka memerintah. Rangga segera melakukannya. Aka tertawa kegirangan. Melupakan kalau tadi ia sempat menangis karena sakit di kakinya.


Rangga mengajaknya ke klinik terdekat untuk di obati.


“Lain kali pake sepatu yang panjang ya dek biar nggak kayak gini lagi “ kata dokter yang mengobati luka Aka. Aka mengangguk paham. Rangga mengusap kepalanya dengan sayang.


“Adiknya mas? “ tanya dokter itu.


“Nggak, ini pacar saya” kata Rangga sekenanya.


“Oh saya kira adiknya, soalnya lebih cocok jadi adiknya daripada jadi pacarnya” kata dokter itu bergurau.


“Ah pak dokter ini bisa saja” kata Rangga sambil tersenyum.


“Bisa jalan? “ tanya Rangga memastikan.


“Bisa kok. Nih” kata Aka sambil mengangkat kakinya seperti berjalan di tempat. Mereka segera meninggalkan klinik tersebut.


“Gue anterin pulang ya? “ tanya Rangga.


“Nggak mau pulang dulu” kata Aka dengan ekspresi menggemaskan.


“Terus? “ tanya Rangga.


“Beli es krim dulu” kata Aka manja.


“Uang jajan lo abis? “ tanya Rangga menebak. Aka menggelengkan kepala.


“Bisa aja lo. Pulang aja. Besok gue traktir makan es krim deh. Sekarang udah sore. Lo harus pulang “ kata Rangga. Aka mengangguk antusias.


“Beneran ya? “ tanya Aka dengan mata berbinar. Rangga lalu membuka telapak tangannya ke depan. Aka yang melihatnya langsung menyambutnya. Mereka berjalan dengan santai. Aka kadang melenggangkan tautan tangan mereka sambil sesekali melompat lompat seperti anak kecil. Rangga tersenyum karenanya. Saat mereka melewati kerumunan cewek di sisi jalan, diantaranya berteriak begitu melihat Rangga.


“Kya!!!! Gantengnya!!!! “ teriak salah satu di antaranya.


“Bang jadiin aku pacar bang” yang lain ikut menimpali. Mereka berteriak kegirangan.


Rangga mengabaikannya, ia tak mau berurusan dengan cewek seperti itu.


“Lo kok tumben pulangnya sorean? “ tanya Aka tiba tiba.


“Gue tadi ada less tambahan, jadi ya gini deh” kata Rangga sekenanya. Aka hanya ber oh ria, mempercayai alasan Rangga. Sayangnya, bukan itu yang di lakukan Rangga. Ia berbohong dengan Aka. Nasib Aka sungguh malang, ia di bohongi oleh Rangga. Sungguh teganya Rangga membohongi Aka. Dan hari itu, adalah hari terakhir mereka bersama.


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


“Mom Aka pergi dulu ya? “ tanya Aka sambil memakai tas selempangnya.


“Anak Mami cantik banget hari ini? Mau kencan ya? “ tanya Lina menggoda. Aka hanya tersenyum malu.


“Ih Mami nih kepo deh” kata Aka sambil mencium tangan Lina. Lina melihatnya.


“Hati hati ya? Pulangnya jangan kemalaman “ kata Lina mengingatkan. Aka mengguk paham. Ia segera keluar menuju motor Rangga yang terparkir di depan rumahnya. Tepat saat Aka pergi, Lina tersenyum merasa tidak enak. Ia merasa akan ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi. Ia lalu memanggil sopir pribadi keluarganya.


“Pak Mansur tolong ikutin Aka ya. Perasaan saya nggak enak “ kata Lina khawatir.


“Baik nyonya “ jawab Pak Mansur patuh. Ia langsung mengejar Aka dengan mobil pribadi keluarga Brian.


Pak Mansur mengikuti motor Rangga dari belakang dengan hati hati. Ia berusaha agar tidak ketahuan sedikitpun hingga sampai di tempat tujuan.


“Mau pesen apa? “ tanya Rangga lembut. Aka tersenyum.


“Kayak biasanya aja” kata Aka.


“Tunggu ya? “ kata Rangga sambil melambaikan tangan memanggil pelayan. Salah satu pelayan menghampiri mereka.


“Silahkan mau pesan apa” kata pelayan itu ramah sambil menyodorkan daftar menu. Rangga lalu menyebutkan beberapa menu yang akan dia pesan.


“Pesan spicygetty dua, chicken strips hot sauce satu, americano satu, latte satu, gelato fruity satu, cake eclairs dua, smoothie lavender coklat satu” kata Rangga. Pelayan itu menulisnya dengan teliti.


“Baiklah silahkan tunggu, pesanan akan segera datang” kata pelayan itu sopan dan langsung beranjak pergi. Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Rangga menyodorkan spicygetty, chicken strips hot sauce, latte, gelato fruity, cake eclairs dan smoothie lavender coklat ke arah Aka. Ia hanya menikmati spicygetty, Americano,


Aka memperhatikan Rangga dengan heran.


“Lo nggak kurang cuma makan segitu doang? “ tanya Aka heran. Rangga tersenyum hangat.


“Nggak masalah. Gue emang nggak terlalu banyak makan. Buruan habisin” kata Rangga menyarankan. Aka mengangguk patuh. Ia segera menghabiskan makanannya. Aka juga tidak terlalu khawatir dengan bill, Rangga pasti membayarkannya.


Setelah makanan habis, Rangga menuju kasir untuk membayar bill. Selagi menunggu Rangga, Aka memgeluarlan ponselnya memeriksa beberapa pesan yang masuk.


“Oh jadi ini ceweknya Rangga yang nggak bisa di andalanin sama sekali itu? “ sebuah suara membuyarkan Aka dari fokusnya terhadap ponsel. Aka merasa tersinggung dengan maksud orang itu yang jelas jelas mengarah ke dirinya. Ia segera menoleh tegas ke sumber suara itu. Lensa matanya tepat menghadap ke arah seorang gadis berperawakan tinggi dengan postur tubuh seperti seorang model. Gadis itu melirik tajam ke arah Aka.


Tuh kan di gantung lagi. yok kita demo ke authornya rame2