This Crazy

This Crazy
TC chapter 18 {Baikan}



...Siapa yang dapet notif cerita ini update pada senyum senyum sendiri? Kalo iya, berarti kalian setia sama ceritanya Belle...


...Love you readers♡...


Pagi harinya Nicko bangun lebih awal seperti biasanya. Sebelum adzan subuh pasti Nicko memiliki alarm otomatis pada tubuhnya dan akan langsung terbangun.


"Bangun woy" kata Nicko yang mencoba membangunkan Aka yang masih tergeletak nyaman. Aka bukannya bangun malah menggeliat malas.


"Astagfirullah hal adzim " jerit Nicko seketika dan langsung menutup matanya karena akibat pergerakan Aka yang menggeliat membuat Aka tak sengaja membuat pinggang serta perut langsingnya terekspos.


Gue mimpi ato nyata nih gue nikah sama bayi gede kayak gini? Batin Nicko jenuh sambil memijit pelipisnya.


"Bangun woy, ni mau subuh. Sholat!!!! " kata Nicko agak berteriak.


"Egh.... nanti, baru adzan subuh juga" kata Aka sambil masih menutup matanya. Nicko menghela nafas gusar. Ia menarik kaos Aka agar perutnya tidak kelihatan. Bisa bisa melalang buana pikiran Nicko kalau tidak segera di cegah. Tiba tiba dia ia mendapat ide cemerlang yang entah datang dari mana. Nicko mendekatkan telapak tangannya ke pipi Aka. Nicko mengambil posisi duduk menyamping pada badan Aka yang ada di atas ranjang. Kepala Nicko, Nicko dekatkan pada kepala Aka dan bibirnya dia dekatkan pada telinga Aka. Nicko meniup telinga dan ceruk leher Aka berulang ulang.


"Elo mau bangun atau gue cium sekarang? Lo tau Ka? Gue belum pernah nyobain nyium lo sampai sekarang. Gue penasaran gimana rasanya. Kalo lo beneran nggak mau bangun, gue bakal nyium lo sekarang. Kira kira nggak masalah kan kalo bibir lo bengkak gara gara gue? “ kata Nicko pelan. Dia sudah membuat suaranya sedemikian rupa agar Aka merinding. Aka terbelalak seketika mendengarnya. Aka tahu kalau itu guyonan tapi entah mengapa tetap saja Aka merasa takut mendengarnya.


"Gimana? " tanya Nicko sambil sesekali meniup telinga Aka. Aka semakin merinding di buatnya. Tanpa pikir panjang Aka segera bangun dari posisinya dan masuk ke kamar mandi.


"Tujuh belas menit harus udah selesai!!! Kalo nggak gue susulin sekalian nanti" kata Nicko mencoba menakuti Aka kembali.


"Iya iya!!!! Bisanya ngancem doang dasar!!!! " racau Aka di kamar mandi.


“Hahaha seandainya gitu sekalipun nggak bakal gue ngelakuin begitu. Orang Papi lo aja bilang nggak boleh ngelakuin sesuatu yang berakibat bisa buat adek bayi sebelum lulus SMA” batin Nicko sambil terkekeh samar.


Setelah lima belas menitan Aka sudah keluar dari kamar mandi.


"Padahal gue cuma nakut nakutin doang . Ehh ternyata percaya. Gue nggak percaya, istri gue yang katanya rangking 1 paralel diumurnya yang paling muda se angkatan ternyata bisa gue bo'ongin sama guyonan murahan kayak gitu" kata Nicko sambil menyunggingkan senyum.


"Kalo elo ada di posisi gue pasti elo bakal ngelakuin apa yang gue lakuin kalo ketemu cowok omez kayak elo" kata Aka sambil memutar bola mata jengah.


"Buruan sholat" kata Aka ketus.


Setelah mereka sholat. Nicko yang biasanya tadarus Al Qur'an setelah selesai sholat magrib dan subuh langsung mengambil Al Qur'an. Nicko duduk kembali di atas sajadahnya setelah mengambil Al Qur'an. Ketika melihat Aka hendak beranjak melepas mukenanya, Nicko menarik ujung mukena Aka.


"Kenapa?! " tanya Aka ketus.


"Tadarus Al Qur'an dulu" kata Nicko tenang.


"Nggak ah, lagi males" kata Aka menolak . Tangannya masih menggantung belum sempat melepas mukenanya.


"Ketahuan nih kalo elo nggak pernah ngaji" kata Nicko mengintrogasi.


"Eh enak aja. Gue juga ngaji tauk!!! " kata Aka bersungut sungut.


"Udah ayo ngaji dulu. Nanti habis ini gue ajakin pergi deh. Mumpung libur" kata Nicko yang masih mencoba membujuk Aka.


"Males juga mau pergi" kata Aka cuek.


"Elo kalo nggak mau gue ajakin pergi, mau seharian di rumah?! " tanya Nicko berharap Aka akan luluh.


"Nggak perduli juga kalo gue harus di rumah seharian. Gue juga nggak masalah tuh" kata Aka yang tetap kekueh dengan keputusannya.


"Yakin nggak mau ikut? " kata Nicko yang masih mencoba membujuk Aka.


"Iya " jawab Aka singkat.


"Beneran? " goda Nicko lagi.


"Iya" jawab Aka masih tak acuh.


"Gue mau beli coklat loh" kata Nicko sambil tersenyum miring. Nicko tahu kalau Aka tidak akan menolak jika ada urusannya dengan coklat.


"Gue nggak mau" jawab Aka asal, Aka melotot kaget setelah mencerna ucapan Nicko. Dan segera berubah fikiran.


"Gue ikut" kata Aka antusias dengan binar mata yang begitu menggemaskan. Andai Nicko tidak bisa menahan diri, pasti sekarang ia akan langsung mencium pipi Aka tanpa memperdulikan racauan dari gadis itu.


"Tapi ngaji dulu" kata Nicko.


"Iya iya.... " jawab Aka malas.


Saat mengaji Nicko terpukau dengan suara indah nan merdu yang dilantunkan Aka ketika membaca ayat suci Al Qur'an.


"Masya Allah" guman Nicko pelan setelah mendengar suara emas Aka.


"Shodaqollahul adzim" baca Aka setelah selesai mengaji. Aka heran dengan ekspresi Nicko yang tersenyum ke arahnya dengan pandangan intens. Aka berdehem sesaat.


"Ehem, bukannya elo yang ngajakin ngaji?, kenapa malah jadinya gue sendiri yang ngaji? " kata Aka yang semakin tidak nyaman dengan cara Nicko memandangnya saat ini.


"Eh, iya, sorry sorry. Habis suara elo bagus sih" kata Nicko tulus.


"Biasa aja tuh" kata Aka cuek.


"Enggak gue serius" kata Nicko sungguh sungguh sungguh.


"Gue malah ngarep kalo suara gue bagus waktu sholawatan" kata Aka sambil memandang ke arah lain.


"Mau denger suara gue kalo lagi sholawatan? " tawar Nicko.


"Emm nanti aja lah di mobil, sekarang elo ngaji dulu ya. Gue mau siap siap. Katanya mau ngajakin beli coklat? " kata Aka tersenyum menunjukkan deretan giginya yang terdapat gingsul. Nicko membalas senyuman Aka.


"No problem baby” jawab Nicko sambil melanjutkan niatnya dari awal.


••••••••••••••••••••••••••••


"Kita mau kemana sekarang? " tanya Aka heran karena Nicko akan mengeluarkan mobil dari garasi.


"Katanya mau coklat? " jawab Nicko.


"Iya, tapi kemana dulu" kata Aka tak mau kalah.


"Udah nggak usah bawel, buruan masuk" kata Nicko sambil membukakan pintu mobil untuk Aka masuki.


"Kebiasaan" kata Aka pasrah.


"Eh emang nggak ada polisi apa? Kok elo pake mobil sendiri? Nanti kalo ketilang gimana? " tanya Aka saat meletakkan pantatnya ke atas kursi mobil.


"Tenang, jalanannya sepi, jadi nggak bakal ada polisi. Kalau ada polisi juga gue nggak bakal kena tilang tuh. Gue kan kenal sama polisinya" kata Nicko santai. Aka membulatkan bibirnya sambil berguman Oooooo.


"Eh masih jauh ya? " tanya Aka.


"Agak sih" jawab Nicko sekenanya.


"Bosen nih, oh ya katanya elo bisa sholawatan. Sholawatan dong sekarang " pinta Aka.


"Mau sholawatan apa? " tanya Nicko mengiyakan permintaan Aka.


"Emm terserah deh penting bagus" kata Aka. Nicko pun memilih syair Qomarun dan mulai melantunkannya dengan merdu. Aka terkesima mendengarnya. Tapi entah suara Nicko yang terlalu bagus atau memang hawanya yang sangat nyaman membuat Aka jadi mengantuk. Kepala Aka mulai doyong.


"Gue ijin tidur dulu ya" kata Aka. Belum sempat Nicko menjawab, Aka malah sudah meletakan kepalanya diatas paha Nicko. Nicko terkejut seketika dan mulai menepikan mobilnya ke sisi jalan untuk


memberhentikannya sebentar.


"Yaelah ni bocah di sholawatin malah tidur" guman Nicko. Nicko menata posisi kepala Aka dengan hati hati. Takut Aka akan terbangun. Nicko tersenyum ketika melihat Aka tertidur pulas. Ibaratkan bayi yang sedang tertidur, Aka tampak sangat menggemaskan. Tanpa sadar Nicko mengecup ubun ubun Aka pelan dan membelai rambut halus Aka. Nicko menempelkan tangannya pada pipi Aka yang mulus. Tangannya turun meyusuri setiap inci wajah Aka. Dan berhenti di dagu Aka. Sesampainya di sana Nicko mengusap bibir pink Aka dengan ibu jarinya. Nicko meneguk salivanya kasar dan seketika tersadar.


"Astagfirullah!!!! Apa yang gue pikirin?!. Nggak Nicko! Nggak! Jangan sekarang!!! Belum waktunya, inget!!! " kata akal sehat Nicko. Nicko menghela nafas guna mentralkan degup jantungnya. Ia segera melajukan mobilnya kembali. Karena tinggal beberapa meter lagi akan sampai di tempat tujuan. Sesampainya di tempat tujuan Nicko segera membangunkan Aka.


"Aka bangun!!! Ini dah sampe" kata Nicko pelan.


"Ehkmmmm" guman Aka tidak jelas. Nicko mendengus nafas berat.


Cobaan apa lagi ini Ya Allah? Batinnya. Tiba tiba seorang lelaki paruh baya menyapanya. Dari pakaiannya saja semua orang bisa tau kalau dia seorang satpam.


"Assalamualaikum tuan" kata lelaki tua itu sopan sambil memberi hormat.


"Waalaikum salam. Pak Budi, kosongkan koridor utama menuju ruang saya “kata Nicko dengan ekspresi datar.


"Oh siap tuan" jawab Pak Budi menjalankan perintah tanpa perlu bertanya. Nicko melajukan mobilnya ke garasi khusus miliknya dan mendongakkan kepalanya, memastikan tidak akan ada orang yang melihat. Nicko lalu menyuruh Pak Budi membukakan pintu mobilnya. Setelah di bukakan Nicko memposisikan badan Aka agar bisa dia gendong. Setelah itu membawanya dengan gaya bridal style.


"Pak titip kunci mobilnya ya" kata Nicko penuh wibawa. Ia memang sudah memiliki karakter itu sedari kecil.


"Baik tuan" kata Pak Budi sendiko dawuh.


Nicko melangkahkan kakinya dengan santai sambil membawa Aka dalam dekapannya di koridor yang telah di kosongkan. Sesampainya di depan lift, Nicko agak kesusahan memencet tombol lift karena kedua tangannya ia gunakan untuk mengangkat tubuh Aka.


Beruntung Aka tidak terlalu berat. Jadi Nicko tidak terlalu berat membawanya.


"Pak Bayu tolong tekankan tombol liftnya" kata Nick ketika melihat seorang OB lewat membawa sapu.


"Itu siapanya tuan? " tanya OB itu heran melihat tuannya membawa seorang gadis dalam gendongannya.


"Oh, ini?, pacar saya" kata Nicko sekenanya. OB itu tak bertanya lagi dan langsung memencet tombol liftnya.


"Terima kasih Pak Bayu" kata Nicko.


"Sama sama tuan" kata OB itu sambil melanjutkan pekerjaannya.


Di lantai paling atas liftnya berhenti dan terbuka pintunya. Nicko mendekatkan wajahnya pada layar scan di samping pintu ruangnya. Setelah di scan.


Spikernya berbunyi "selamat datang tuan" lalu pintunya terbuka dengan sendirinya.


Kakinya segera melangkah ke arah kamar yang ada di dalam kantornya. Dan ketika sampai di dekat ranjang, Nicko meletakan Aka dengan hati hati. Namun karena pinggiran dipannya diplester sangat licin membuat lutut Nicko tergelincir dan tubuhnya ikut terhempas di atas kasur. Dan yang membuatnya lebih kaget lagi Aka tertidur disampingnya membuka mata.


"Loh, udah sampe? " tanya Aka yang masih mengantuk.


"Udah dari tadi Aka " jawab Nicko pelan. Nicko baru akan beranjak dari kasur, tangannya malah ditarik Aka.


"Mau kemana? " tanya Aka dengan suaranya yang agak serak khas orang yang bangun tidur.


"Mau ngurusi berkas" jawab Nicko yang hendak beranjak dari ranjang.


"Nggak boleh, sini dulu temenin" kata Aka manja.


Nicko membuang nafas pelan "Ngapain? " tanyanya.


"Sini tiduran dulu" kata Aka sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya. Nicko terpaksa menuruti keinginannya. Dan berbaring di sebelah Aka.


"Kena, pa" tanya Nicko heran karena tiba tiba Aka memeluk pinggangnya. Nicko menaikkan sebelah alisnya heran.


"Nggak papa" jawab Aka sambil menenggelamkan wajahnya di dada Nicko sambil tetap memeluk pinggangnya.


"Aka, Ini di kantor" kata Nicko yang merasa gugup dengan sikap Aka.


"Elo wangi Nicko" kata Aka tak menggubris omongan Nicko. Aka merasa nyaman dalam posisi seperti ini. Apalagi dengan wangi after shave dari baju Nicko yang membuatnya semakin terlelap. Nicko mencoba menetralkan degup jantungnya yang tak karuan.


"Elo gugup ya? " kata Aka sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Nicko dan menaikkan kakinya ke atas kaki Nicko. Menjadikan kaki Nicko menjadi guling. Nicko semakin tak karuan degup jantungnya.


JEDUG


JEDUG


JEDUG


Kira kira seperti itu bunyinya. Nicko menghela nafas dan membalas pelukan Aka. Nicko merangkul punggung Aka dan ikut terlelap.


***********


Tujuh menit kemudian Aka terbangun dari tidur lelapnya. Dan memandang langit langit kamar yang terasa sangat asing baginya. Dan yang lebih mengagetkan lagi wajah Aka berhadapan satu inci di depan wajah Nicko yang tampan mempesona.


"Hey bangun!!!! Gue laper" kata Aka tepat di depan wajah Nicko. Nicko yang merasa terganggu bergetar kelopak matanya. Aka mendengus kesal. Karena kesal Aka menarik ujung hidung Nicko yang mancung. Tapi sama saja karena Nicko terlihat tetap terlelap. Aka mengerucutkan bibirnya sebal dan saat itu Nicko langsung membuka matanya. Nicko yang melihat itu langsung menubruk pipi Aka dengan bibirnya. Aka terkejut mendapatinya setelah ciuman itu selesai.


"Akhirnya.... " kata Nicko terasa lega.


"Akhirnya apa?! Elo sengaja mau nyium pipi gue? " kata Aka meminta penjelasan.


"Salahnya siapa di tawarin, yaudah gue mau aja" kata Nicko sambil menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum penuh kemenangan.


"Huwaaa Mami!!!! Pipi aku udah nggak suci!!!! " kata Aka berakting menangis.


"Apa ruginya dicium suami sendiri? Itu juga bukan yang pertama kali kok. Kemaren kemaren kan gue udah pernah nyium pipi lo berkali kali” tanya Nicko heran.


"Ya rugi lah, nyium nya payah banget" kata Aka sambil cemberut.


"Mau diulang biar agak romantis? " tanya Nicko sambil menahan tawa. Aka membalasnya dengan gelengan kepala yang membuat Nicko manyun.


"Bukannya enggak mau, tapi belum mau. Kata Papi kalau terlalu romantis nanti bisa bikin anak. Papikan nggak bolehin dulu bikin anak sebelum lulus SMA" kata Aka polos. Nicko membulatkan matanya tak percaya. Bisa bisanya Aka bilang seperti Itu dengan ekspresi polosnya.


"Emang elo tau bikin anak itu maksudnya gimana? " tanya Nicko hati hati. Biasanya para cewek agak sensitif kalau di ajak ngomong soal kayak gini.


"Nggak tau" kata Aka jujur. Nicko mengusap wajahnya.


KRUCUKKKKK


Perut Aka berbunyi nyaring.


"Laperr" kata Aka sambil nyengir. Nicko baru ingat kalau mereka tadi pagi belum makan.


"Mau makan apa? " tanya Nicko kasihan melihat Aka.


Aka terlihat berfikir sebentar lalu " soto aja deh" kata Aka.


"Dideket sini ada kedai soto buket, mau? " tawar Nicko.


"Boleh" kata Aka sambil menganggukan kepala.


"Jangan dikasih santan ya, yang bening aja. Oh ya jangan lupa tambahannya sate telur puyuh sama bakwan jagung” kata Aka.


"Okey" jawab Nicko .


Tak lama pesanan soto buket akhirnya sampai juga.


"Nih makan yang banyak nanti elo kurus malah gue yang di marahin sama Mami" kata Nicko sambil menyerahkan bag isi makanannya kepada Aka.


"Sebenarnya gue males makan sih" kata Aka.


"Apanya yang males makan?!, elo harus makan!!! " kata Nicko. Aka heran dengan sikap Nicko.


"Elo khawatir sama gue? " tanya Aka sambil memicing.


"Buruan makan!!! " titah Nicko galak.


Aka mendengus kesal dan mulai memakan sotonya dari pada harus mendengarkan ocehan Nicko yang tidak ada bedanya dengan Maminya yang selalu mengkhawatirkannya. Baru satu suapan masuk ke perutnya Aka tercekat karena tenggorokkannya terasa gatal.


"Uhuk uhuk" Aka terbatuk batuk.


"Elo napa? " tanya Nicko kaget saat melihat Aka terbatuk.


"Ini, uhuk sotonya, uhuk pake santen ya?! Uhuk uhuk uhuk " kata Aka sambil masih terbatuk dan menggaruk tangannya. Nicko segera mendekat ke arah Aka.


"Eh iya, ini lo barusan makan yang pake santan" kata Nicko setelah mengecek sotonya.


"Ambilin gue air putih" kata Aka yang terlihat kesakitan. Aka mulai menggaruk leher dan tangannya.


"Jangan di garuk, nanti lecet" kata Nicko yang bingung dengan sikap Aka.


"Nih air putihnya" kata Nicko sambil menyodorkan gelas berisi air putih. Aka segera menerimanya dan mengeluarkan botol obat dari sakunya. Aka mengambil satu tablet dan langsung memimumnya.


"Elo kenapa? " tanya Nicko yang langsung duduk di sebelah Aka.


"Gue punya alergi akut sama santan dan daging kelapa" jawab Aka sambil mengatur nafasnya.


"Kenapa nggak bilang? " tanya Nicko cemas.


"Maaf ya, gue lupa ngecek sebelum makan" kata Aka. Sebenarnya masalahnya sepele. Sebenarnya sotonya memang bening sama santan. Dan Aka tidak sengaja memakan soto yang ada santannya.


"Siapa yang bawa makanan ini kesini?! " tanya Nicko galak pada karyawannya.


"Sa, saya tuan" kata seorang lelaki berumur sekitar enam puluh lima tahunan sambil menundukkan kepala. Terlihat orang tua itu sangat ketakutan.


"Lo gue pecat sekarang!!!!" kata Nicko berapi api. Sorot matanya memandang nyalang penuh amarah.


"Jangan tuan, maafkan saya tuan. Kalo saya anda pecat lalu siapa yang mencari nafkah bagi keluarga saya?" kata bapak itu hampir menangis.


"Masa bodoh! Gue nggak peduli!!! " kata Nicko dengan sorot mata menusuk.


"Ja, jangan Nicko. Kasihan bapak Itu " kata Aka menenangkan Nicko, karena Nicko terlihat sangat marah.


"Jangan apanya?, dia hampir mau nyelakain elo" kata Nicko sambil menatap cemas ke arah Aka.


"Gue udah nggak papa. Jangan pecat bapak ini. Bapak ini punya keluarga, kalo elo pecat dia, terus keluarganya siapa yang cari nafkah?. Jangan Nicko!!! Batalin omongan elo " kata Aka sambil memegang tangan Nicko.


"Beneran lo udah nggak papa? " tanya Nicko memegang ke dua bahu Aka. Aka terlihat sangat ketakutan ketika melihat Nicko marah besar. Aka segera memeluk Nicko. Nicko menghela nafas perlahan.


"Baiklah pak anda tidak jadi saya pecat" kata Nicko.


"Terima kasih tuan" kata bapak itu. Bapak itu segera bersujud di depan kaki Nicko. Nicko mundur satu langkah.


"Jangan sujud di depan saya pak. Kalau anda mau bersyukur, bersyukurlah pada Allah ta'ala. Saya hanya perantara saja" kata Nicko rendah hati. Aka masih memeluk Nicko dan masih menangis.


"Kalian semua boleh keluar sekarang" kata Nicko kepada semua karyawan yang ada di dalam ruangannya. Setelah sepi Nicko mencoba menenangkan Aka.


"Udah nggak usah nangis lagi " kata Nicko pelan.


"Jangan marah lagi, gue takut" kata Aka sambil masih sedikit kesegukan.


"Maaf ya, gue habis nakutin elo " kata Nicko. Aka mengangguk pelan.


"Mau makan lagi? " tanya Nicko.


"Atau mau di ganti aja makanannya? " tanya Nicko menawari Aka, mungkin saja Aka jadi nggak mau makan soto gara gara tadi.


"Nggak usah di ganti. Yang itu aja, nanti mubazir " kata Aka yang mulai tenang. Nicko menyunggingkan senyum melihatnya.


"Kalo gitu makan lagi ya" kata Nicko sambil menyodorkan soto tanpa santan. Aka malah menanggapinya dengan gelengan kepala. Nicko mengerutkan keningnya bingung.


"Kok nggak mau? " tanya Nicko heran.


"Nggak mau kalo makan sendiri. Maunya di suapin" rengek Aka manja. Nicko kembali tersenyum.


"Emm ok, tapi harus dihabisin" kata Nicko sambil menowel hidung Aka. Aka menanggapinya dengan anggukan kepala persis seperti seorang balita.


"Mending elo sekarang makan deh. Kalo nggak makan malah elo sendiri yang bakal gue makan" kata Nicko gemas dengan kelakuan Aka.


"Kata Papi nggak boleh makan orang, kalo makan orang itu namanya kanibal" kata Aka dengan nada suaranya yang terdengar sangat polos.


"Bukan makan orang beneran. Maksudnya bakal gue makan itu gue ajakin di kamar. Terus kita..... " kata Nicko terhenti karena ia sadar dengan apa yang di katakan barusan akan mengotori otak suci Aka.


"Terus kita ngapain di kamar? " kata Aka dengan nada polosnya.


"Emm nggak papa, nggak usah dipikirin hehe" kata Nicko kagok. Aka memanyunkan bibirnya kesal.


“Terus kita ngapain?!!!! “ tanya Aka yang sangat ingin tahu. Nicko kelabakan sendiri dengan pertanyaan Aka.


“Kita tidur” jawab Nicko singkat.


Benar bukan? Orang kalo di kamar pasti tidur bawaannya.


Aka mengerutkan bibirnya sebal.


“Katanya makan, kok sampai tidur? Plin plan ih. Jawab yang bener dong!!!! “ kata Aka makin penasaran.


Nicko menghela nafas gusar.


“Kalo di kamar itu ngapain Aka? “ tanya Nicko dengan nada lembut.


“Tidur” jawab Aka polos.


“Nah itu tau” kata Nicko lega.


“Tapi maksudnya apa dulu?!!! Kan tidur sama makan nggak ada hubungannya. Nicko mau makan sama Aka sambil tidur? Kata Mami nggak bagus loh. Nanti bisa keselek “ kata Aka dengan nada khasnya.


Astaga!!!! Bagaimana Nicko bisa berfikir macam macam tentang gadis polos ini???!!!.


Sepertinya benar, Nicko sudah gila.


Nicko kembali menghela nafas perlahan.


“Selain tidur ngapain? “ tanya Nicko serius. Ia tak punya pilihan selain berterus terang kepada Aka. Nicko bisa kejang kejang kalau terlalu bersabar lagi. Aka tampak berfikir sebentar.


“Aka waktu kecil selalu tidur sama Mami Papi walaupun udah punya kamar sendiri. Tapi, waktu Aka kelas dua SMP, Aka nggak di bolehin tidur bareng sama mereka berdua. Kata Papi, Mami sama Papi mau buatin Aka adek. Aka nurut aja. Habis itu Aka selalu tidur sendiri di kamar Aka” kata Aka menjelaskan.


Nicko mendengarkan dengan sabar.


Mungkin setelah ini Aka akan paham maksudnya.


“Terus? “ tanya Nicko. Ia meletakkan mug sotonya di meja.


“Aka seneng banget. Habis kejadian itu, tiga bulannya Mami hamil. Beberapa bulan kemudian, perut Mami buncit. Ada adeknya. Aka seneng. Aka bisa punya adek” kata Aka dengan sorot mata berbinar.


“Terus? “ tanya Nicko kembali. Aka mengerutkan kening bingung.


“Kok Nicko tanyanya terus mulu sih?!!! “ kata Aka jengah.


“Terus, Aka mau kayak gitu? “ tanya Nicko penuh penekanan. Aka semakin bingung.


“Kayak gitu gimana? Aka nggak ngerti deh” kata Aka terus terang.


“Aka mau buat adek sama Nicko? “ kata Nicko tanpa basa basi. Ia sudah di ambang kesabarannya.


“Lah, kan Aka udah punya adek. Dua lagi, kalo punya lagi, kasihan Mami Papi, adek Aka masih kecil. Nanti repot ngurusinnya kalo nambah lagi” kata Aka polos. Ia masih belum mengerti juga.


“Bukan itu Aka” kata Nicko.


Ia menghela nafas berat. Apa Aka sepolos itu hingga tidak mengerti hal seperti ini?.


“Terus? “ tanya Aka yang masih kebingungan.


“Kita kayak Mami Papi. Buat adek. Adeknya itu anaknya Nicko sama Aka. Mau? “ kata Nicko penuh penekanan di setiap kalimatnya. Ia harap setelah ini koneksi neuron di otak Aka sudah tersambung.


“Maksud......, eh tunggu” kata Aka mengambang.


Aka mencoba mencerna apa yang di maksud Nicko. Nicko tersenyum sinis.


Rencananya berhasil.


Nggak dosa kan bikin istri tahu hal seperti itu?


Tiba tiba wajah Aka merah padam seketika.


“Hiiiiiii!!!!!!! Nicko jorok!!!! Otak Aka jadi kotor kalo kayak gini!!! “ kata Aka sambil menjauhkan duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Nicko.


“Emang itu yang gue pingin Ka. Dari pada lo polos mulu bikin gue stress lama lama. Mana gue kalo lagi tidur nahan nafsu gue biar nggak ngapa ngapain lo lagi. Coba lo bayangin, seberapa tersiksanya gue waktu tidur sebelahan sama lo???!!!! Gue tuh cowok normal Ka. Apa lagi sama hubungan kita yang udah sah. Gue terlanjur dapet peluang besar. Kalo gue ngapa ngapain lo kan nggak dosa” kata Nicko terus terang. Jujur, sebenarnya ia tidak tega mengatakan ini. Tapi mau bagaimana lagi? Bersama dengan Aka benar benar menguji imannya.


“Udah nggak usah di fikirin. Gue masih bisa pegang konsisten kok” kata Nicko mencoba tenang.


Aka mencoba mengontrol emosinya. Ia akhirnya menurut. Ia segera membuka mulutnya lebar lebar. Saat sesendok soto masuk ke mulutnya, Aka memakannya dengan senang hati.


"Elo makan juga" kata Aka sambil menunjuk soto yang tadi membuatnya alergi.


"Nanti aja,elo makan dulu. Gue bisa makan nanti " kata Nicko. Tiba tiba perut Nicko berbunyi merdu. Nicko menggigit bibir bawahnya.


"Hahahaha gue bilang juga apa, elo juga harus makan" kata Aka di antara gelak tawanya. Nicko lega. Akhirnya Aka melupakan kejadian tadi.


"Nih gue suapin juga ya" kata Aka sambil menyodorkan sesendok soto kepada Nicko. Nicko membuka mulutnya lebar lebar. Setelah makan Aka menagih janji Nicko kembali.


"Mau coklat " rengek Aka manja.


"Tenang, disini pusatnya" kata Nicko sambil berdiri.


"Ayok " ajak Nicko sambil menyodorkan tangannya kearah Aka. Aka menyambutnya dengan senang hati.


"Ayo" kata Aka senang. "Tapi nanti kalo gue pegel, lo gendong ya? " kata Aka sambil menunjuk ke arah Nicko. Nicko tersenyum jenaka.


"Berani berapa? " tanya Nicko. Aka terlihat berfikir sejenak mengetuk dagunya menggunakan jari telunjuknya pelan.


"Nanti gue cium deh" kata Aka yang membuat mata Nicko berbinar.


"Bener ya?" kata Nicko mengoreksi.


"Iya...... Tapi, cuma cium doang lo! Selebihnya nggak boleh" kata Aka.


"Siap bu jendral" kata Nicko sambil meletakkan tangannya di atas kepala memberi hormat.


"Kalo gue bu jendral terus pak jendralnya siapa dong?" kata Aka dengan polos.


"Ya gue lah" kata Nicko semakin gemas dengan ekspresi Aka.


"Kalo gue minta di ganti aja gimana pak jedralnya?" tanya Aka mengerjai Nicko.


"Nggak boleh!! Harus gue" kata Nicko menunjukan sifat posesifnya. Aka tersenyum melihat tingkah Nicko.


"Tapi gue nggak mau elo jadi jendral di dunia ini" kata Aka.


"Lah, kenapa? " tanya Nicko bingung.


"Karena elo cuma boleh jadi jendral dihati gue" kata Aka sambil tertunduk malu. Nicko tersenyum dan segera mengamit tangan Aka.


"Yuk gue ajak keliling pabrik. Dua jam lagi gue ada rapat" kata Aka tersenyum senang dan langsung mengikuti langkah Nicko.


"Yeee kayak orang penting aja mau rapat" kata Aka menggoda Nicko.


"Iya dong orang penting" kata Nicko.


"Ihh masak? " tanya Aka lagi.


"Gue penting nggak dihati lo? " tanya Nicko.


"Hehe iya" kata Aka sambil bergelayut manja di lengan Nicko yang gelatutan-nable.


"Oh jadi ini tempat pengolahan coklatnya? " tanya Aka ketika sampai di tempat.


"Iya, kamu lihat pipa pipa itu? Itu buat mengalirkan coklat yang telah di bland ke tempat pemanasan coklat" kata Nicko sambil menunjukkan tangannya ke arah pipa pipa besar.


"Apa harus pake pipa sebesar itu? " tanya Aka.


"Nggak, itu baru saluran pertama, di saluran berikutnya nanti ada pipa pipa kecil yang akan menghubungkan ke panci pemanasan" kata Nicko menerangkan.


"Terus di pabrik ini coklatnya di buat jadi apa aja? " tanya Aka kembali.


"Gini lo Akaku sayang. Jadi di pabrik ini, kami mengolah coklat menjadi bermacam macam variasi olahan. Seperti susu coklat dalam bentuk krim, bubuk dan cair, coklat batangan, cake coklat, permen coklat, es krim coklat, wafer coklat dan masih banyak lagi. Oh iya di sini kami juga baru merilis produk coklat madu" kata Nicko menerangkan panjang lebar.


"Coklat madu? apaan tuh? Enak nggak? " tanya Aka heran.


"Pastinya dong" kata Nicko mantap. Aka hanya mangut mangut.


"Pagi tuan" sapa salah satu karyawan yang sedang bekerja.


"Juga " kata Nicko menunjukan wibawanya.


"Wah ternyata pacarnya di ajak ke sini to? " kata karyawan itu ramah.


"Hehe iya" jawab Nicko.


"Non, hati hati sama tuan ya. Tuan itu agak nakal dan agresif orangnya" kata karyawan itu kepada Aka. Aka terlihat bingung.


“Asem, maksudnya apa nih gue di omongin sama karyawan gue sendiri?! “Batin Nicko .


"Mendingan elo lanjutin pekerjaan lo deh" kata Nicko sambil memberi intruksi mengusir. Setelah karyawan itu pergi, Aka memandang Nicko, meminta penjelasan perkataaan karyawan tadi.


"Nggak papa" kata Nicko mengelak. "Lo mau lihat permen coklat sama coklat batangannya yang mau di jual? " tanya Nicko berharap Aka akan lupa dengan yang tadi.


"Bentar deh, kayaknya ada yang aneh. Bos di sini siapa? Kok elo bisa keluar masuk terserah lo? " kata Aka terlihat heran.


"Siapa lagi? Ya gue lah" kata Nicko bangga.


"Bo'ong" kata Aka tak percaya.


"Eh beneran, disini tuh yang jadi atasan gue" kata Nicko bersungut sungut.


"Nggak nggak, gue nggak percaya" kata Aka ngeyel.


"Dibilangin juga " kata Nicko jengkel.


"Pak ini yang punya pabrik siapa? " tanya Aka pada orang yang sedang membungkus coklat.


"Orangnya di sebelah anda" jawab bapak itu.


"Tuh kan di bilangin juga apa" kata Nicko yang gemas dengan tingkah ngeyelnya Aka. Aka mendengus kesal.


"Yuk katanya mau coklat? " tanya Nicko .


Sesampainya di tempat. Aka tersenyum saat mencium aroma wangi.


"Hmm, wangi.... " kata Aka.


"Aku mau yang itu" kata Aka sambil menunjuk coklat yang sudah jadi di etalase.


"Bu, bungkuskan yang itu" kata Nicko pada penjaganya.


"Baik tuan" si ibu langsung membungkuskan coklatnya.


"Itu aja? " tanya Nicko memastikan kalau Aka masih ingin coklat yang lain.


"Sama yang itu, ini, itu, itu, itu, yang disana, yang itu juga, eh itu juga jangan lupa, itu, sama yang itu, dan itu juga. Ih kelamaan, semuanya deh!!! " kata Aka dengan pedenya sambil menunjuk coklat yang diinginkannya.


Si ibu penjaga melongo seketika. Gadis ini siapa? Kok nggak ada malunya minta coklat sebanyak itu . Apalagi sama tuan lagi mintanya. Batin ibu itu. Ibu itu tak bisa berkomentar apa apa. Dia hanya menurut karena takut dipecat, dan setelah membungkuskan coklatnya, ibu itu memberikannya pada Aka.


"Ini nona coklatnya" kata ibu itu sambil menyodorkan coklatnya.


"Terima kasih bu" kata Aka sambil menyunggingkan senyum manis. Ibu itu terkesima melihat Aka tersenyum.


“Wah pantas saja tuan suka dengan gadis cantik ini. Aku jamin pasti gadis ini tunangnnya tuan.” bain ibu itu.


"Emm tuan, maaf kalau saya lancang. Apakah ini tunangan tuan?" kata ibu itu sopan.


"Iya, dan sebentar lagi akan jadi nyonya besar perusahaan ini" kata Nicko dengan penuh wibawa. Ibu itu menaggapinya dengan senyuman. Aka melotot.


"Apaan sih?! Bikin malu".Setelah Aka dan Nicko pergi, ibu itu berkata.


"Baru pertama kali saya lihat tuan bisa tersenyum dengan seseorang. Pasti gadis itu adalah keajaiban yang di berikan Tuhan kepada tuan" kata ibu itu tulus.


"Yahhh mungkin sifatnya juga harus dirubah sedikit. Karena saya merasa gadis itu terlalu muda untuk tuan. Tapi tidak apa apalah. Yang penting tuan senang" kata ibu itu sambil melanjutkan pekerjaannya.


Ditempat lain Aka terlihat memikirkan sesuatu.


"Kenapa? Mikirin gue ya? " tanya Nicko menggoda Aka.


"Nggak tuh, gue lagi mikirin coklat" kata Aka jujur.


“Asem!!! Bukannya mikirin gue malah mikirin coklat lagi”. batin Nicko.


"Ngapain mikirin coklat?, coklat itu kurang? " tanya Nicko. Ia berusaha menyembunyikan kejengkelannya.


"Bukan, aku baru kepikiran. Di sini ada coklat praline nggak? " tanya Aka sambil memandang ke arah Nicko. Nicko menatap Aka bingung.


“Nggak ada, coklat apaan tuh?. Gue nggak pernah denger" kata Nicko.


"Itu loh. Coklat yang di masak tapi pake cara di tim" kata Aka.


"Oh itu, nggak ada tuh" kata Nicko sambil memperhatikan para pekerjanya bekerja.


"Oh iya,elo kan bos disini. Kenapa nggak pake kemeja sama jas formal? " tanya Aka yang sebenarnya mau dia tanya dari tadi.


"Gue pake, tapi waktu gue berangkat, gue emang sengaja pake baju casual. Nanti waktu ada rapat gue baru ganti setelan jas" kata Nicko menjelaskan. Aka mengangguk paham.


"Tuan, anda harus ikut rapat 10 menit lagi" kata seorang karyawan saat Nicko sampai di depan kantornya.


"Baik, saya akan bersiap" kata Nicko. Setelah karyawan itu pergi Aka dan Nicko masuk ke dalam kantor pribadi Nicko.


"Elo mau ganti baju? " tanya Aka saat Nicko hendak membuka lemari.


"Iya" jawab Nicko singkat.


"Oke gue bakal tutup mata sekarang " kata Aka lalu menutup matanya menggunakan tangannya. Nicko segera berganti pakaian. Ketika Nicko sudah selesai memakai celana, Nicko ingat Aka akan memberinya sebuah ciuman. Nicko tidak jadi memakai kemeja dan jasnya. Ia mendekat ke arah Aka dengan bertelanjang dada.


"Gue udah selesai" kata Nicko sambil berdiri di depan Aka. Aka langsung membuka matanya. Dan kaget karena Nicko berdiri dihadapanya tidak memakai baju. Aka bisa melihat dengan jelas perut abs dan dada bidang Nicko yang tercetak sempurna.


"Nicko lo mau ap... " kata Aka tertahan karena Nicko tiba tiba mencium pipinya. Aka sontak mendorong dada Nicko menjauh.


"Lo jangan kurang ajar ya!!!! " kata Aka memperingatkan.


"Gue cuma minta asupan energi doang kok" kata Nicko dengan sorot mata seperti orang mabuk.


"Asupan energi apanya?! Barusan elo mau melecehkan gue main sosor nggak jelas" kata Aka sinis. Nicko tidak menjawab ucapannya dan malah menggenggam kedua tangan Aka dengan satu tangan kirinya dan tangan kanannya memegang dagu Aka. Nicko langsung mencium pipi Aka dengan gemas. Sampai ia tak sadar ia malah menggigit pipi Aka.


"Akh, sakit tau!!! Katanya mau nyium, la ini kok malah gigit gue?!" kata Aka yang tak terima.


"Ah, lo nggak seru" kata Nicko yang pada akhirnya menyudahi ciumannya.


"Lo aja nyiumnya maksa gitu mana mau gue" kata Aka ketus.


"Oh jadi nggak mau nih? " kata Nicko sambil tersenyum miring.


"Kagak!!!!!, sono buruan siap siap terus berangkat rapat" kata Aka sambil bersembunyi di balik selimut.


"Huh, gue heran. Tadi manja manja, sekarang kok jadi galak kayak gitu. Apa dia mau PMS ya? " batin Nicko menebak penuh kecewa. Nicko akhirnya memakai kemeja, jas dan juga dasinya dan segera pergi untuk mengikuti rapat.


"Dasar gila!!!!" racau Aka saat Nicko pergi.


"Ck bisa bosen gue kalo disini terus. Keluar bentar ah, Nicko kan nggak bakal tau" kata Aka sambil mendekat ke arah pintu. Ceklek cecklek, suara kenop pindu dibuka. Aka heran karena pintunya tidak kunjung membuka.


"Kurang ajar!!!! Gue di kunci lagi dari luar Huh nyebelin!!! " racau Aka tak terima. Karena kesal Aka akhirnya kembali duduk di sofa.


"Bodo ah, daripada gue marah marah nggak jelas mending gue maen game aja" kata Aka sambil mengeluarkan ponselnya. Ia pun mulai memainkan game yang biasanya dimainkan anak laki laki.


Beberapa menit kemudian......


Skip ruang rapat


“Jadi, dimana saya bisa bertemu dengan kepala direktur” kata pria dengan perut buncit itu sinis, meremehkan.


“Mohon tunggu sebentar. Direktur memang sering sibuk akhir akhir ini” kata salah satu staff Nicko.


“Sibuk? Bukankah seharusnya dia fokus dengan urusan kantor?” Pria buncit itu mendelik penasaran.


“Tidak, justru tuan sering menyerahkan urusan kantor kepada orang kepercayaannya” kata staff yang lain menyahuti. Pria buncit itu kembali menghela nafas gusar.


“Ck, kalau begitu, bagaimana perusahaan ini bisa maju kalau direkturnya saja sering tidak di kantor?” kata pria buncit itu dengan nada meremehkan. Salah satu staff Nicko ada yang merasa tersinggung.


“Maaf tuan. Saya harap anda menjaga bicara anda tentang tuan kami” kata staff itu membela Nicko.


“Memangnya kenapa? “ kata pria buncit itu seraya mengangkat dagunya tinggi dengan gaya congkak.


“Anda pasti terpukau dengan tuan kami” kata staff yang lain.


“Ho ho, coba saya lihat seberapa hebatnya tuan kalian itu” kata pria buncit itu sambil membelai cambang tipisnya.


“Assalamualaikum” sapa Nicko sambil memasuki ruangan itu bersama dua orang body guard di sampingnya.


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu segera berdiri menghormati Nicko.


“Maaf saya tadi harus mengurus sesuatu yang penting” kata Nicko formal.


Para staf Nicko mengangguk memaklumi. Beberapa orang yang sudah tau kalau Nicko membawa Aka hanya tersenyum senyum sendiri.


Pria buncit tadi hanya mendelik sombong. Dia mengangkat tinggi tinggi dagunya seolah menunjukkan bahwa dia sangat di segani.


“Baiklah, mari kita mulai rapatnya” kata Nicko sambil duduk dengan tenang.


“Ahh, tunggu dulu. Bukankah kepala direktur perusahaan ini adalah ayahnya?. Kemana ayahmu nak?. Bukankah kau seharusnya bermain vidio game di kamarmu? “ kata pria buncit itu sambil menatap Nicko remeh.


Nicko hanya tersenyum tenang.


“Ayah saya bukan kepala direktur perusahaan ini” kata Nicko bersahaja.


“Lantas? “ kata pria buncit itu.


“Perusahaannya di tempat lain. Disini, saya sendiri yang menjadi atasnya” kata Nicko tenang. Ia memang sudah lihai mengurus sesuatu yang seperti ini.


“Tidak mungkin!!! “ kata pria buncit itu sambil menatap tak percaya.


“Mungkin saja. Bagaimana? Anda masih ingin bekerja sama dengan perusahaan kami?” kata Nicko. Dia harus benar benar menjaga royalitasnya.


“Oh, emm, maaf” kata pria buncit itu. Ia kembali menyenderkan pungunggungnya.


“Steve, tunjukkan progam kerjanya” kata Nicko sambil menatap lurus ke depan.


“Baiklah tuan” kata staffnya itu.


“Jadi inilah beberapa keunggulan divisi perusahaan kami. Jika anda tidak berkenan, silahkan pintu keluarnya di sebelah sana” kata staff itu. Dia memang tidakbmau ambil pusing, Nicko sudah memberitahunya seperti itu.


“Apa hanya begitu?!!! Kau tidak berniat menjelaskannya?!!! “ kata pria buncit itu.


Dia jelas jelas merasa tersinggung dengan sikap karyawan Nicko yang seolah meremehkannya.


“Saya rasa anda sudah terlalu brilian untuk di jelaskan. Jadi, untuk apa di jelaskan dua kali. Bukankah begitu tuan Scott?? “ kata Nicko sambil tersenyum miring.


“Baiklah saya setuju” tuan Scott menghela nafas pelan. Walau bagaimanapun, ia harus bisa bekerja sama dengan perusahaan ini.


“Terima kasih atas rapat hari ini. Sekian tuan tuan” kata Nicko singkat. Oa segera berdiri dengan di ikuti para bawahnnya.


“Umm, tuan Joshua. Bisakah kita bicara empat mata saja? “ kata pria buncit itu mencegah Nicko berajak. Nicko mengangguk formal.


“Tentu” Nicko mengibaskan tangannya. Body guardnya segera pergi setelah memberi hormat.


“Jadi, saya punya seorang putri yang sangat cantik” kata pria buncit itu menawarkan. Nicko tersenyum miring.


“Lalu? “ tanya Nicko. Beberapa dugaan muncul di benaknya begitu saja.


“Jika anda berminat, anda bisa berkenalan dengannya” kata tuan Scott.


“Tuan Scott, sepertinya tidak baik mencampurkan urusan pribadi dengan bisnis. Bukankah begitu? “ kata Nicko meremehkan. Ia sudah mencium tanda tanda kalau dirinya akan dikira laki laki yang suka bermain dengan perempuan. Hey!! Yang benar saja.


Apa kabar istrinya di kamar kalau begitu?


“Umm ya” kata tuan Scott canggung.


“Apa ini salah satu rencana anda agar bisa mendapatkan keuntungan lebih? “ tanya Nicko mendelik, memastikan.


“Oh bukan, saya hanya ingin anda berkenalan dengan putri saya. Siapa tahu berjodoh dan orang tua anda bisa berbesan dengan saya” kata tuan Scott. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya.


Nicko terkekeh renyah. Ia lantas mengeluarkan sebuah kalung. Bukan karena ingin pamer kalungnya, melainkan Nicko berusaha menunjukkan cincin yang menjadi bandul di kalung itu.


“Anda paham? “ kata Nicko sambil tersenyum miring. Tuan Scott membelalakan matanya tak percaya.


“Baiklah, itu hanya tunangan anda bukan? “ katanya mencoba tenang.


Nicko kembali terkekeh renyah.


“I am married man” kata Nicko spontan. Tuan Scott lebih terkejut lagi.


“Jadi tuan Scott, saya harap anda bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan kami dengan jujur. Satu lagi, jangan pernah anda menawari saya dengan hal semacam itu, saya tidak akan pernah tergoda” kata Nicko. Ia sudah mengira ini dari awal.


“Ada yang ingin di katakan lagi?” kata Nicko memastikan.


“Tidak tuan Joshua” kata Tuan Scott yang merasa kicep sekarang.


“Kalau begitu, saya pamit” kata Nicko hendak berajak pergi.


“Anda buru buru? “ tanya tuan Scott.


“Tentu” kata Nicko.


“Kenapa? “ tanya tuan Scott lagi.


“Saya harus melakukan sesuatu yang seru dengan istri saya” kata Nicko sambil tersenyum sinis.


“Bukankah anda terlalu muda untuk itu? “


“Tidak sama sekali”


“Oh, baiklah. Tapi, anda tidak masalah kalau istri anda hamil di usianya yang masih muda? “


“Saya tahu cara agar melakukan itu tanpa membuatnya hamil sekarang”


“Begitukah? “


“Tentu, saya saja sudah lupa ini akan menjadi ronde yang keberapa. Sebab saya sudah sering melakukannya” kata Nicko sambil tersenyum penuh kemenangan. Ia segera meninggalkan pria buncit yang sedang melongo itu.


Nicko mempercepat langkahnya menuju ruangan pribadinya.


"Assalammualaikum, Aka gue balik" kata Nicko ceria. Nicko keheranan melihat Aka yang kesal sendiri sambil memegang ponselnya.


"Waalaikum salam. Ihhhh kenapa nge lag sih?!!! " kata Aka sebal. Nicko yang tahu apa yang dialami Aka segera mendatangi Aka.


"Ihhhhhh gue sebel!!!! Mending gue AFK aja" kata Aka sambil meletakkan ponselnya.


"Nih pake punya gue aja" kata Nicko sambil menyodorkan ponselnya.


"Nggak mau ah, nanti nge lag lagi" kata Aka merajuk.


"Terima dulu, ini nggak bakal nge lag kok" kata Nicko santai.


"Gila!!!!! Ini kan asus rock? " kata Aka senang. Aka langsung membuka ponsel itu.


"Kok aplikasinya cuma aplikasi dasar sama game semua? " tanya Aka heran sambil mulai memainkan game.


"Iya, yang itu kan buat game doang" kata Nick dengan bangga.


“La terus elo pake apa? “ tanya Aka bingung, sebab semua game yang ada disana levelnya sudah tinggi semua.


“Nih gue punya dua” kata Nicko dengan sombongnya.


"Oh niatnya sombong nih? Emang ponsel elo apa aja?" tanya Aka menantang.


"Lo mau denger? Tapi jangan kaget ya? " tanya Nicko.


"Iya gue mau tau, buruan sebutin " kata Aka sambil masih fokus di layar ponsel.


"Ponsel gue tuh,


Samsung note gue pake kalo buat catatan


Asus rock gue pake buat nge game


Oppo reno3, gue pake kalo gue mau foto gambar dalam jarak jauh


Oppo F92 gue pake waktu jalan jalan


Iphone 11 pro buat gue pake waktu pergi


Vivo V19 buat foto waktu malam


Samsung galaksi S20 ultra gue pake kalo gue lagi pengen


Samsung Galaksi Z gue pake waktu pergi pergi tapi nggak mau bawa barang yang ribet.


Dan masih banyak yang lain lagi yang gue lupa mereknya apa aja" kata Nicko dengan bangganya.


"Yes victory!!!!! Hah banyak banget?!!!!" kata Aka sambil melongo.


"Yang itu buat elo aja. Gue punya dua kok" kata Nicko dengan santainya. Aka mengerjapkan matanya tak percaya. Nicko mengganggukkan kepala tegas.


Dalam hati Aka membatin BOJOKU PANCEN SULTAN!!!!!!.


"Yuk gue ajakin pergi."kata Nicko sambil menggandeng tangan Aka.


"Kemana? " tanya Aka lugu.


"Taman, sambil maen sepatu roda atau skateboard sama lihat anak anak" kata Nicko santai. Aka mengerutkan kening.


"Anak? Emang lu udah punya anak? " tanya Aka heran. Otak jahil Nicko segera muncul.


"Iya lah gue punya anak" kata Nicko sambil melirik jenaka.


"Masak? " tanya Aka cuek.


"Lupa ya? Tadi malem kita habis buat loh. Mau buat lagi? " kata Nicko sambil menyerigai. Aka melotot kaget.


"Ayo buat lagi" kata Nicko menakutkan. Nicko dengan pedenya melepas kemejanya dan siap menerkam Aka. Nicko mengulurkan tangannya sambil mendekati Aka. Aka semakin mundur ketakutan.


“Jangan jauh jauh Ka...... “ Nicko semakin merangkak mendekat. Aka berdebar semakin kencang.


“Segera ucapkan selamat dengan statusmu yang akan berubah menjadi wanita sebentar lagi “ kata Nicko yang kembali menyerigai layaknya harimau yang siap menerkam mangsanya.


tbc