
Aka duduk termenung di dekat jendela. Raut wajahnya sangat murung. Sudah beberapa kali Aka mencoba menghindari Rangga. Tapi tetap saja, Rangga seolah tau di manapun keberadaan Aka.
“Ka” panggil Nicko yang sedang menenteng tas sekolahnya. Aka menoleh ke arahnya.
“Buruan, nanti telat” kata Nicko mengingatkan. Aka segera berdiri dan mengikuti Nicko yang telah membawa tasnya.
“Mau pake mobil atau motor?” tanya Nicko menawari.
“Pake mobil aja, gue bawa rok” kata Aka menanggapi. Nicko tersenyum dan segera mencari kunci mobilnya.
“Eh Ka, Lihat headband gue nggak? “ tanya Nicko sambil menggeledah isi loker meja. Aka menaikkan bahu singkat.
“Nggak, emang naro di mana? Masih di perban? Kok masih make headband? “ tanya Aka. Nicko mendengus lelah.
“Lupa” jawab Nicko singkat. Aka mengerutkan dahi, lantas tertawa.
“Mikirin apa sih lo? Dasar pelupa” kata Aka sambil terkikik geli. Nicko tersenyum manis. Akhirnya Aka bisa tertawa, walau harus dengan tingkah konyolnya.
“Bukan gitu, gue nggak mau aja ada yang tau kalo kepala gue lagi sakit” kata Nicko. Ia menghentikan pencariannya. Sia sia saja, headbandnya tidak ketemu.
“Itu gara gara lo nggak mau ketauan lagi sakit, apa gara gara lo gengsi wajah lo yang mulus habis di timpuk kayu? “ tanya Aka jengah. Nicko selalu saja memperhatikan penampilannya, sangat berbeda dengannya yang seadanya.
Nicko manyun seketika. Ia segera menggendong tasnya dan menenteng tas Aka.
“Buat apa gengsi. Orang udah laku dapet istri” kata Nicko sambil melirik jahil ke arah Aka. Aka mendengus kesal.
“Terus ngapain pake headband segala kalo nggak buat jaga image? “ tanya Aka menyelidik. Nicko menghela nafas pasrah. Aka benar benar sangat penasaran.
“Gue make biar nggak ada yang kasihan sama gue” kata Nicko dengan nada rendah.
“Oke gue bakal asal percaya. Yang penting nggak buat deketin cewek lain aja” kata Aka sok sok an jutek. Nicko menyerigai jahil.
“Cie cemburu” kata Nicko menggoda Aka.
“Apaan sih?!! Buruan berangkat, gue nggak mau telat” kata Aka sambil melenggang pergi. Nicko tersenyum melihatnya. Dia segera menyusul Aka.
Mereka berjalan keluar rumah menghampiri mobil Nicko yang terparkir gagah di depan rumah.
“Tidak saya antar tuan? “ tanya Pak Tirto yang keluar dari pos penjaga. Nicko menggeleng.
“Nggak dulu pak. Bapak kan lagi masuk angin. Mending bapak minta di rawat dulu sama Bi Elis dan Bi Tuti “ kata Nicko ramah. Ia sangat perhatian dengan orang orang yang bekerja di rumahnya. Pak Tirto si supir bersama Bi Tuti sang istri dan Bi Elis sang anak bekerja di rumahnya selama lima tahun terakhir. Sedangkan Pak Marwan si penjaga rumah dan Pak Santoso si tukang kebun, mereka dari keluarga yang berbeda. Nicko awalnya agak keberatan jika dia harus memperkejakan orang di rumahnya, tapi ia juga tidak tega jika Aka harus menangani semuanya sendiri. Apalagi dengan luas rumah dan paksaan dari mamanya yang memaksa, Nicko tidak dapat lagi menolak.
“Ka” panggil Nicko yang telah mengeluarkan mobil. Nicko berkali kali melihat Aka melamun sendiri. Aka segera tersadar dari lamunannya. Nicko mengintrupsikan agar Aka segera naik mobil. Aka menurutinya.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Aka dan Nicko masih diam. Tak ada yang mau mengawali bicara.
...••••••••••••••••••••••••••••••••••••••...
“Ka” panggil Nicko saat mobil berhenti di dekat gerbang sekolah Aka. Jam masih menunjukkan pukul setengah enam. Suasana masih terlihat sepi. Hanya segelintir siswa yang lewat.
Aka menoleh ke arahnya.
“Kenapa? “ tanya Aka dengan nada datar. Nicko berjalan lebih dekat, mengikis jarak mereka berdua.
“Gue boleh minta di peluk? “ tanya Nicko gugup. Aka terbelalak. Kenapa Nicko tiba tiba meminta di peluk?.
Walau sempat ragu, Aka akhirnya mengangguk perlahan. Tidak lama, Aka segera menghambur di pelukan Nicko. Nicko memeluk Aka dengan erat.
“Gue bakal jagain lo. Gue nggak bakal ngebiarin orang kayak Rangga ganggu hidup lo” kata Nicko serius. Aka merasa hatinya menghangat setelah mendengarnya. Aka mendongakkan kepalanya dan lantas tersenyum.
“Gue yakin bisa percaya sama lo “ kata Aka. Nicko tersenyum mendengarnya. Setelah merasa cukup, Nicko mengurai pelukannya.
“Ponsel lo siniin” kata Nicko tiba tiba.
“Buat apa? “ tanya Aka heran. Nicko segera mengambilnya setelah di sodorkan Aka. Nicko mengeluarkan salah satu ponsel model terbarunya.
“Lo pake ini aja. Sementara, ponsel lo gue yang bawa. Gue bakal nyuruh temen gue yang pinter IT biar nomer lo sama akun lo nggak bakal ketemu sama Rangga” kata Nicko.
“Jangan!!!!!! Nanti gue harus login lagi akunnya” kata Aka protes. Sebenarnya, itu bukan maksud Aka. Aka hanya tidak mau kalau Nicko tahu semua kontak teman cowok di ponselnya. Kalau Nicko tahu, Ia akan marah besar. Tahu sendirikan Nicko punya sifat posesif di atas rata rata kalau sama Aka. Nicko tersenyum tenang.
“Lo nggak tahu kemampuan cowok lo? “ tanya Nicko menyerigai. Aka meneguk ludah gugup. Ia sempat lupa kalau Nicko ahli dalam stalker maupun penyadapan akun. Tentu saja akun Aka pasti sudah tersimpan manis di ponsel Nicko.
Aka bingung harus menjawab apa. Ia merundukkan kepala takut. Nicko tersenyum melihat tingkah Aka yang menggemaskan. Kadang suka ngambek, ngajak bertengkar, kadang manja, kadang juga suka diem nggak jelas.
Nicko mengusap rambut Aka perlahan.
“Nggak perlu takut sama gue lagi” kata Nicko ramah.
“Belajar yang pinter ya Ma, nanti kalau Papa kerja Mama yang ngajar anak anak kita” kata Nicko lagi. Nicko tiba tiba mencium pipi Aka pelan. Aka memblushing seketika.
“Nicko!!!!!!!! “ terik Aka histeris. Nicko langsung ngacir pergi setelah Aka meracau.
Nicko mengulum bibirnya menahan tawa. Walau sudah berkali kali Nicko melakukan itu, Aka tetap saja masih belum terbiasa.
“Baby Aka!!!!!! “ teriak Chiara sambil berlari ke arah Aka. Aka segera menoleh ke arah sumber suara.
“Tumben lo berangkat pagi” kata Chiara seenaknya sendiri. Aka masih diam tak menanggapi. Degup jantungnya masih belum teratur gara gara Nicko.
“Diem aja lo. Ngomong napa” kata Chiara. Aka menghela nafas pelan.
“Gue harus ngomong apa? “ tanya Aka jengkel.
“Ya apa gitu, kayak bahas hubungan lo sama pacar lo atau apalah terserah” kata Chiara. Maklum lagi dalam mode kepolistik.
“Ngapain pake di bahas? “ kata Aka yang malas membahasnya.
“Ya, gue penasaran aja. Udah baikan apa belum gitu” kata Chiara yang semakin penasaran.
“Udah kok, lagian bukannya gue yang harus tanya lo ya? Hubungan lo sama Surya gimana? “ kata Aka mengalihkan pembicaraan. Ia benar benar malas membahas tentang Nicko. Bisa bisa ia terkena diabetes saking sering di buat baper dengan tingkah Nicko yang kelewat manis.
“Ihhh malah bahas itu lagi” kata Chiara malas. Aka memutar bola matanya jengah.
“Daripada lo bucin mulu tapi status udah punya pacar apa belum masih samar. Kalah lo sama Charles yang yang udah dapet si Lop” kata Aka. Chiara terdiam sejenak.
“Gue bingung sih sama orangnya. Belum ada peningkatan sama sekali. Masih biasa biasa aja “ kata Chiara dengan raut muka murung.
“Ohhhhh gitu, gue kira udah jadian” kata Aka kecewa.
“Nggak kok. Eh btw lo tau nggak kalo sekolah kita mau di liburin “ kata Chiara yang akhirnya mendapat topik pembicaraan. Aka melebarkan matanya seketika.
Semoga ini bukan prank april mop.
Guys, ini bukan bulan april!!!.
Ini bulan november, april mopnya masih lama oyyyy!!!!!
“Nggak tuh, emang kenapa? Kok tumben di liburin? “ tanya Aka penasaran.
“Katanya sih semenjak Nikita Hazel and the geng hilang. Lu tau sendirikan, orang tua para siswa meragukan keamanan sekolah kita” kata Chiara menjelaskan penyebabnya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka agar sampai di kelas.
Aka jadi ingat beberapa hari yang lalu dia sempat melihat Lop berdiam diri di pojok ruangan. Dia juga sempat mencium bau menyan di beberapa tempat tertentu.
“Kok ada bau parfumnya cowok ya? Perasaan belum ada anak cowok yang berangkat” kata Chiara sambil mengendus ngendus.
“Lo ganti parfum? “ tanya Chiara sambil mendekat ke arah bahu Aka. Aka mengernyit heran.
“Nggak kok” jawab Aka jujur.
“La terus, baunya aja dari baju lo kok” tanya Chiara menyelidik.
“Bukan gue yang pake parfum!!!! Ih lo ngeyel banget sih?!!!” kata Aka tegas. Chiara melemparkan tatapan menyelidik.
“Yang bener? “ tanya Chiara dengan sorot mata memicing. Aka menghela nafas berat. Temannya ini benar benar keterlaluan kalau sedang penasaran.
“Iya deh, gue tadi sempet pelukan bentar sama Nicko” kata Aka sekenanya.
Chiara melebarkan matanya seketika.
Satu
Dua
Tiga
Sebentar lagi dia akan berteriak histeris layaknya cewek fangirl yang beruntung bisa memeluk biasnya.
“ Kyaaaaa!!!!! Uhhhh cocuit!!!! Gue jadi pingen punya cowok kayak gitu, udah romantis, wangi lagi. Saking wanginya, di peluk aja baunya nular” kata Chiara heboh sendiri.
Tuh kan, apa yang di perkirakan Aka terjadi juga.
Aka memutar bola matanya jengah. Temannya benar benar punya tingkat kebucinan yang kelewatan sampai mengalahkan jauhnya akhirat.
...••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••...
“Gaes bu ketu mana nih kok belum dateng? “ tanya Jessi memecah keheningan kelas dengan suara cemprengnya. Semua menggeleng tak tahu. Jessi jadi cemberut sendiri.
“Izin nggak masuk kalik” kata Emi asal. Jessi hanya mangut mangut mengiyakan.
Kelas 10 mipa 1 kembali rusuh. Ini dia yang terjadi kalau ketua kelas sama guru tidak ada di kelas.
Buat yang baca novel ini, seandainya kalian jadi guru, author sarankan jangan tinggalkan anak murid kalian tanpa pengawasan orang dewasa, atau jika tidak, kelas kalian akan jadi berpindah peran menjadi pasar malam di waktu pagi.
“CY” panggil Jessi. Aka punya panggilan tersendiri di kelas. Kadang Baby Aka, kadang CY alias Child Young, kadang pendek (ini sih dari yang suka mengejek Aka doang, Aka aja bingung, Yuka yang paling pendek kenapa dia yang di sebut pendek??), kadang Kaka, kadang AFK, banyak lah pokoknya.
“Ya? “ sahut Aka.
“Gue duduk sebelah Aka-wa ya? “ pinta Jessi. Gadis penyuka k-pop itu membujuk Aka. Memang, setelah kejadian hilangnya Nikita, Amuse, dan Canala, Jessica jadi duduk sendiri. Bangku di sebelahnya biasa di tempati Amuse.
“Jangan Ka!!!! Gue aja yang duduk sebelah lo” kata Iliyas tiba tiba.
“Eh lo gila?! Aka udah punya cowok!!!! Jangan asal duduk sebelah dia!!! Nanti cowoknya tau berabe lo” kata Jessi menakuti Iliyas.
“Paan sih wibu diem aja deh lo!!!” kata Iliyas tak terima. Aka memijat pangkal hidungnya frustasi. Ia heran kenapa teman temannya berebut ingin duduk di sebelahnya. Jessi melototot seketika.
“Lo kalo ngomong yang bener ya!!! Gue tuh yerombun, bukan wibu!!!!” kata Jessi tak terima.
“Bedanya apa?? Sama sama suka kresek putih sipit kan” kata Iliyas seenaknya sendiri. Jessi segera meracau tak karuan. Kelas kembali bertambah ramai dengan suara para penguninya.
“Hadehhh, pak wapres!!! Tuh anaknya di urusin. Nggak ada bu presiden, rakyatnya di urusin dong!!! Jangan cuma mabar mulu” kata Aka memanggil Jona. Jona yang sedang asik merasa terganggu.
“Lo aja sana beib yang ngurusin. Gue lagi ngejar rank yang sempat turun nih” kata Jona seenaknya sendiri. Jona memang terkenal suka dengan Aka sejak SMP. Tapi tidak pernah di tanggapi Aka . Aka bergidik ngeri. Ia mengurungkan niatnya. Meminta bantuan pada Jona bukan pilihan yang benar.
TOK TOK TOK
Suara pintu diketuk, membuat isi kelas senyap sementara. Seorang siswi masuk ke dalam kelas dengan kedua temannya.
“Mohon perhatiannya, ketua kelas dan sekrestaris di mohon barkumpul di aula sekarang juga” kata siswi itu. Mereka segera keluar kelas setelah mengatakannya.
Yuka mendengus lelah. Sementara Jona berdecak kesal. Susahnya menjadi sie di kelas memang seperti itu.
“Jon buruan!!!! “ kata Yuka mengintrupsi. Ada nada malas dalam suaranya.
“Nggak usah bikin acara!!! Buruan pak wapres. Mentang mentang nggak ada bu presiden jangan bikin kelas kita jadi yang paling jelek image-nya dong!!! “ kata Vanya bersungut sungut. Jona kembali berdecak kesal. Dia segera berdiri dari tempatnya.
“Guys, bu Anjani nggak masuk hari ini. Kita di haruskan ngerjain buku siswa halaman 63” kata Arsya sie pendidikan. Mereka segera mengeluh kesal, bahkan ada yang sampai berdecak. Walau begitu, mereka tidak punya pilihan lain selain mengerjakannya.
“Ka, nanti gue sama anak anak ke rumah lo ya? Udah lama kita nggak maen ke rumah lo” kata Wanda berbisik di sebelah Aka. Aka membelalakkan matanya seketika. Ia tidak mengkin mengajak teman temannya ke rumah Nicko.
“Tapi, rumah gue.... “ ucapan Aka terpotong.
“Oke jam empat nanti kita ke rumah lo” kata Wanda memotong perkataan Aka. Aka mendengus lelah. Ini bukan ide yang baik. Ia harus segera menghubungi Nicko secepatnya.
Waktu istirahat tiba. Aka pergi ke gazebo yang sepi.
Di lain tempat Nicko menyunggingkan senyum begitu sebuah notif muncul di ponsel Aka. Tanpa menunggu lama, Nicko segera men-swipnya. Dia segera mengangkatnya.
“Hallo cantik, udah kangen aja” kata Nicko mengawali. Aka mendengus kesal. Nicko selalu saja seperti itu.
“Waalaikumsalam” kata Aka ketus. Dia sengaja menyindir Nicko.Nicko terdengar terkikik di seberang sana.
“Iya lupa. Assalamualaikum cantik” kata Nicko manis. Aka mendengus kesal.
“Waalaikumsalam. Gue nanti pulang ke rumahnya Mami ya? Temen gue mau maen” kata Aka.
“Kenapa nggak di rumah gue aja? “ tanya Nicko menaikkan sebelah alisnya. Aka menepuk dahinya singkat.
“ Lo mau kita ketahuan terus dikeluarin dari sekolah?!! “ kata Aka agak keras.
“Kalo gue sih nggak masalah” kata Nicko seenaknya sendiri.
“Nicko!!!!! “ teriak Aka seketika. Nicko bahkan menutup telinga saking kerasnya teriakan Aka.
“Iya beib iya, tapi nanti gue nggak bisa jemput lo. Lo minta di jeput Papi atau supir rumah lo ya? Gue nanti telat pulang, ada rapat OSIS” kata Nicko jujur. Aka mengaguk perlahan.
“Hem, nanti kalo gue nggak pulang ke rumah lo nggak papa kan? “ tanya Aka memastikan.
“Gapapa. Dari pada nanti kemaleman ke rumah gue, mending lo nginep aja di rumah lo. Itung itung lo kangen rumah juga kan? “ tanya Nicko. Aka menghela nafas pelan. Ia bersyukur Nicko memperbolehkannya.
“Jangan tidur kemaleman ya? “ kata Nicko mengingatkan. Aka tersenyum.
“Iya Nicko “ kata Aka sambil tersenyum. Nicko mengerutkan kening.
“Kok panggilnya Nicko? “ tanya Nicko. Aka sempat bingung.
“Nama lo kan Nicko. Lo amnesia apa udah ganti nama? ” kata Aka. Nicko mungkin akan kembali ke sifat bucinnya.
“Manggilnya Yayang Nicko dong” kata Nicko sambil terkikik geli. Tuh kan, baru saja di bilangin.
“Alay banget” kata Aka menahan malu. Ia merasa aneh jika harus memanggil Nicko dengan sebutan itu.
“Udah panggil aja” kata Nicko sambil terkekeh geli. Aka menghela nafas mencoba bersabar.
“Yayang Nicko, sayangnya Aka” kata Aka dengan nada manjanya, meniru perkataan Nicko. Nicko tersenyum puas.
“See you darling” kata Nicko lagi.
“To” jawab Aka. Oke, masalah selesai. Nicko tiba tiba teringat sesuatu.
“Eh salamnya lupa. Hehe, Assalamualaikum sayang” kata Nicko manis. Aka mengulum bibirnya agar tidak mengeluarkan suara tawa.
“Waalaikumsalam bapak negara” kata Aka manja. Nicko melebarkan senyumnya seketika.
“Cie....... Udah berani manggil bapak negara nih? Kemarin bukannya bapak jendral ya? “ kata Nicko menggoda Aka. Aka segera mengerutkan bibirnya sebal.
“Tau ah males gue” kata Aka ketus. Nicko melebarkan matanya seketika.
“Eh iya iya, jangan ngambek dong. Gue cium baru tau rasa lo” kata Nicko membujuk Aka.
“Emang bisa? “ kata Aka sambil mengangkat kedua alisnya meremehkan. Nicko tersenyum sekilas.
“Bisa lah. Gue samperin ke sekolah lo sekarang juga” kata Nicko mengancam.
“Ehhh, jangan!!!!!!!” kata Aka mencegah. Nicko meledakkan tawanya seketika.
“Hehe, iya sayang. Takut temen temen lo geger lagi ya? “ tanya Nicko kembali menggoda Aka. Aka semakin sebal. Ia merutuki dirinya yang mau saja di jadikan Nicko bulan bulanan.
“Tau ah males” kata Aka jengkel. Nicko kembali terkikik .
“Aduh, lucunya istriku. Jadi pingin peluk terus cubit pipi embemnya, terus bibirnya pingin gue ci....... “ Aka segera memotongnya.
“Bye!!!! “ Aka memutuskan sambungan telfon secara sepihak. Di lain tempat Nicko tertawa lepas. Dia bahkan mencium layar ponselnya dengan gemas.
Edo bergidik ngeri melihat Nicko yang mirip fanboy kalau sedang dalam mode seperti itu. Dia menyenggol lengan Surya kasar.
“Napa tuh temen lo? “ tanya Edo. Surya melirik sebentar lantas kembali fokus ke layar ponselnya.
“Habis telfonan sama bini-nya kalik” jawab Surya sekenanya.
“Ohhhh” Edo bisa memakluminya.
...•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••...
Rangga menjerit keras di dalam sebuah ruangan. Pikirannya benar benar kacau. Jiwa raganya benar benar hancur. Ia bahkan divonis dokter tidak akan punya kesempatan untuk memiliki anak setelah Nicko memutuskan saluran vas difference miliknya dalam perkelahian beberapa hari yang lalu.
“Akh!!!!!!! B^j*ng^n!!!!!!!!, Br#ngs#k!!!!!!, ASW~, K**t*l” jeritannya membahana. Nafasnya kembali terengah engah. Matanya memerah memancarkan dendam.
“Gue bakal bikin lo hancur Nicko!!!!! Gue bakal bikin lo ngerasain apa yang gue rasain!!!!! “ kata Rangga kembali. Ia benar benar kesal dengan Nicko sekarang.
“Lo udah ngerebut Aka dari gue, gue pastiin hidup lo nggak bakal tenang!!!!! “ teriak Rangga. Emosinya semakin memuncak. Ia sudah berkali kali memecahkan benda yang ada di ruangan itu, tapi tetap saja tidak mengurangi amarahnya. Perasaannya benar benar kalang kabut. Ia sangat kecewa dengan apa yang dikatakan Aka beberapa hari yang lalu. Kenapa Aka lebih memilih cowok itu daripada dirinya?!!! Dia benar benar bingung harus meluapkan kekesalannya pada siapa sekarang.
Suara ringtone ponsel berdering keras. Menjeda amarah Rangga untuk sementara.
“Halo!!! “ kata Rangga sarkas.
“Ga, anak kita kehabisan popok. Gue minta uang ya” kata orang diseberang sana dalam nada ketakutan.
Rangga mengeraskan rahangnya geram. Orang ini pasti jadi sasaran kemarahan Rangga selanjutnya.
“Cari uang lo sendiri buat anak itu. Gua udah bilang lo harus gugurin anak itu. Kenapa pake lo rawat segala?!!!! Jangan telfon gua lagi. Itu anak lo bukan anak gua” kata Rangga sarkas. Si penelfon menjadi sasaran kemarahan Rangga saat ini.
“Tap, tapi Rangga, ini anak kita bersama. Lo juga punya kewajiban ngerawat dia” kata orang itu. Suara terdengar bercicit pelan.
“Gue nggak perduli!!!!!! Lo yang bikin gue ngelakuin itu. Sekarang lo juga yang harus ngerawat sendiri.” Kata Rangga. Ia segera memutuskan sambungan telfon secara sepihak.
Ia benar benar frustasi. Setelah kejadian yang menimpanya dengan Frezy, dia benar benar diliputi penyesalan yang tak berkesudahan. Ia benar benar menyesal telah tidur dengan Frezy.
“Sialan!!!!!! “ teriaknya memecahkan keheningan ruangan yang lenggang.
...••••••••••••••••••••••••••••••••••••...
“Lain kali kita kesini lagi ya” kata Lily. Teman teman Aka pulang pukul setengah enam sore.
Aka tersenyum mengiyakan. Ia menyongsong teman temannya sampai ke beranda rumah. Teman temannya melambai sambil mengucapkan salam. Mereka pulang kerumah masing masing.
“Mom, Aka tidur sini” kata Aka menghampiri Lina di dapur. Lina masih memakai apron. Ia menyeka keringatnya menggunakan sapu tangan yang terselip di saku apronnya.
Lina mengerutkan kening, terheran.
“Kamu lagi nggak marahan kan sama Nicko kan? “ tanya Lina memastikan. Ia ingat betul, terakhir kali Aka pulang ke rumah, hubungannya dengan Nicko sedang tidak baik.
Aka tertawa seketika. Ia menggeleng pelan.
“Nggak mom, Aka cuma lagi pingen tidur di rumah. Mumpung tiga hari kedepan libur, Nicko juga ngijinin kok kalo Aka di sini dulu” kata Aka. Lina mengangguk paham.
“Tapi, kamu yakin Nicko nggak bakal ikut nginep juga? “ tanya Lina lagi. Ia merasa janggal, tidak biasanya Nicko memperbolehkan Aka menginap tiga hari di rumahnya. Aka terlihat tegang.
“Umm, nggak tau, mungkin nggak” kata Aka ragu. Lina tersenyum. Ia tahu apa yang akan terjadi, tapi tidak akan memberitahukannya kepada Aka. Diluar hujan mulai turun rintik rintik.Membasahi jalanan yang tadi siang sempat kepanasan. Memberikan kesejukan bagi pohon pohon di setiap beranda rumah.
“Ma aku jagain Gara sama Gera ya” kata Aka sambil menuju ke kamar Mominya. Lina tersenyum, memperbolehkan. Setidaknya tugasnya sedikit terbantu dengan adanya Aka. Keluarganya memang tidak memperkerjakan ART atau sejenisnya. Mereka hanya memperkerjakan sopir, tukang kebun, serta satpam. Lina beranggapan rumahnya tidak terlalu besar, jadi ia bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri. Walau begitu, jika dia mau, sebenarnya Brian bisa saja memperkerjakan lima orang ART sekaligus di rumahnya. Lina bukanlah wanita karir khas perkotaan. Ia memilih menjadi ibu rumah tangga, mengurus urusan rumah dengan lihai, Itu sudah cukup untuknya daripada harus berkutat dengan komputer setiap hari dan harus dikejar target yang melelahkan.
“Hay sayang, kakak datang” kata Aka pada kedua adik kembarnya. Mereka masih balita, sangat menggemaskan. Seolah tau apa yang dikatakan Aka, mereka segera merangkak menghampiri Aka. Aka mengangkat Gera ke pangkuannya. Sedangkan Gara mencoba berdiri tertatih tatih memegang bahunya. Aka tertawa senang. Adik adiknya selalu bisa membuatnya tertawa lepas. Aka mengambil beberapa squishy dan mulai mengajak adiknya bermain.
Suara mobil dengan klakson khasnya membuyarkan keseruan Aka. Matanya memicing, telinganya mendengarkan dengan lamat lamat, jeli. Ia memastikan kalau yang ia dengar tidak salah.
Itu suara mobil Nicko. Kenapa berhenti di rumahnya? Apa Nicko hendak menjemputnya? Bukankah Nicko memperbolehkannya menginap? Kenapa dia menyusul kemari?
Belasan pertanyaan menggantung di kepala Aka. Hujan mulai turun dengan lebat. Memberikan sensasi dingin yang menggigit kulit.
Aka meletakkan kedua adiknya di lantai. Ia bergegas menuju pintu depan.
Saat sampai ia segera membuka pintunya setengah.
Ia melihat Nicko yang basah kuyup. Pakaiannya jelas terlihat menempel membentuk gesture tubuhnya. Aka meneguk ludahnya susah payah. Apa dia dosa melihat konten nyata seperti ini?
Eh tunggu, ini kan suaminya, sah sah saja dong. Emang surga dunia ya punya suami boy goals banget kayak Nicko. Tiap hari bawaannya di suguhin pemandangan kayak gini. Bikin meleleh ampe jantung jedag jedug nggak karuan.
Nicko mengacak rambutnya, menjatuhkan tetesan air. Nicko tersenyum ke arahnya begitu sadar pintu telah dibuka.
“Assalamualaikum sayang” kata Nicko ramah. Aka segera membuka daun pintu lebih lebar.
“Wa’alaikum salam” jawab Aka sambil tersenyum kikuk. Ia merasa aneh di panggil Nicko seperti itu.
“Siapa yang datang sayang? “ tanya Lina sambil membawa nampan di tangannya.
“Ahh, Nicko ternyata. Masuklah” kata Lina. Ia meletakkan nampan di atas meja. Ia berjalan mendekati mereka berdua.
“Aka, suamimu di sambut dong. Kok malah berdiri disini. Tuh kasihan nanti dia kedinginan” kata Lina tepat di samping Aka. Aka malu sendiri mendengarnya. Ia segera mengambilakan handuk untuk Nicko daripada menjadi bulan bulanan Momynya.
“Nih” kata Aka sambil menyodorkan handuk kering ke arah Nicko. Nicko menerimanya dengan senang hati.
“Aka, kok ketus sih bilangnya. Yang manis dikit dong. Sama suaminya sendiri juga” kata Lina.
“Nggak masalah Mom, Aka udah biasa kayak gitu sama Nicko” kata Nicko ramah.
“Ya nggak bisa gitu dong!!. Kalo di biarin bakal kayak gitu terus” kata Lina sewot. Huh Aka benar benar malas dengan situasi seperti ini. Dia malas jika harus dekat dengan Nicko yang sering membuat jantungnya berdebar tak karuan.
Aka segera beranjak pergi, namun Lina menahannya. Aka menoleh dengan malas.
“Kamu anterin Nicko dulu. Momy mau lihat ayamnya udah mateng belum” kata Lina. Ia menarik Aka lebih dekat dengan Nicko. Aka menghela nafas lelah. Ia segera menarik Nicko agar mengikutinya.
“Jangan lama lama, aku tungguin” kata Aka. Nicko tersenyum simpul.
“Takut kangen ya? “ tanya Nicko menggoda Aka. Aka mendengus kesal.
“Pede banget” kata Aka ketus. Ia segera mendorong Nicko ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dari luar.
...•••••••••••••••...
...Kasih konflik lagi nggak yah? kasih aja ya?, biar seru hehe
...