
Malam harinya Aka segera menyiapkan bahan bahan untuk memasak nasi goreng. Tanpa memberi tahu Bi Tuti dan Bi Esih, ia langsung menuju dapur untuk membuat semuanya sendiri. Ia membuatnya dengan hati hati, sama persis seperti waktu di ajarkan Maminya dulu sebelum ia tinggal bersama Nicko. Ia mulai membuat semuanya, menakar porsi untuk orang banyak, menumbuk bumbunya, memotong bahan bahannya dan menggoreng nasinya. Semua ia lakukan dengan teliti.
“Alhamdulillah udah jadi” kata Aka ketika semuanya sudah jadi. Aka segera mengintip ke jendela. Melihat apa yang sedang dilakukan Nicko. Ternyata Nicko sedang berenang ke sana kemari.
“Apa nggak kedinginan berenang malam malam kayak gini?” tanya Aka dalam hati. Aka segera menghampiri Nicko dengan membawa susu jahe setelah menata meja makan.
“Masih lama? “ tanya Aka sambil menyunggingkan senyum khasnya. Nicko menoleh dan mendapati Aka mendekatinya. Nicko segera berenang menepi.
“Nggak, bentar lagi selesai” kata Nicko datar. Hidung Nicko mencium sesuatu yang tidak asing.
“Makan yuk kalo udah selesai “ ajak Aka.
Nicko tetap dalam ekspresi datarnya walau dalam hatinya ia bertanya tanya dari mana datangnya aroma yang enak ini?. Nicko sempat ragu, namun ia segera naik ke daratan karena tidak tahan dengan tuntutan perutnya yang tidak bisa di ajak kompromi.
Aka terpaku sesaat ketika melihat Nicko menyugar rambutnya ke belakang. Baginya itu pemandangan yang sangat langka. Cewek mana sih yang nggak terpesona kalo ada cowok seganteng dan segagah Nicko habis berenang lagi gitu?. Pasti tangannya pada gatel pengen bantuin ngeringin rambutnya kan?.
Nicko menyadari kalau Aka mematung memperhatikannya, ia segera berdehem untuk menyadarkan Aka. Bukannya sadar Aka masih tetap menatap Nicko tanpa berkedip. Nicko mengulurkan tangannya menyentuh pipi Aka dengan tangannya yang lembab. Aka tersentak seketika ketika pipinya di sentuh tangan lembab Nicko yang dingin.
“Lo sakit? “ tanya Nicko. Suaranya terdengar berat setelah berenang. Aka segera merunduk malu. Ia takut kalau ia ketahuan terpana melihat Nicko.
“Nggak kok” kata Aka sambil mengalihkah tangan lebar Nicko untuk menerima gelas yang ia bawa.
“Ada yang buat nasi goreng? “ tanya Nicko sambil menerima susu jahe dari Aka.
“Iya, baru mateng tadi” kata Aka berusaha menyembunyikan ekspresinya. Nicko baru sadar kalau hidung dan pipi Aka memerah. Nicko segera meneguk susu jahenya.
“Lo kedinginan? “ tanya Nicko sambil mendekatkan wajahnya ke arah Aka. Aka kaget seketika karena jaraknya dengan Nicko sangat dekat.
“Ih Nicko basah!!! jangan dekat dekat “ kata Aka sambil mendorong dada Nicko menjauh. Tangan Aka hampir tergelincir ketika mendorong Nicko.
“Lagian elo malam malam berenang. Aneh!!! “ kata Aka sambil kembali masuk rumah. Ia sudah tidak bisa menahan debaran jantungnya lagi. Bisa bisa ia kena serangan jantung akibat ulah Nicko.
TINGGGG TONGGGGGGG
Suara bel rumah berbunyi nyaring. Nicko segera ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya.
“Silahkan masuk” kata Bi Esih mempersilahkan sang tamu masuk ke rumah.
“Siapa Bi? “ tanya Nicko yang telah selesai mandi. Ia masih memakai mantel mandi.
“Temannya tuan” jawab Bi Esih sopan.
“Woy bro apa kabar” sapa Dodi ramah. Nicko menanggapi dengan ekspresi datar.
“Bro elo baru habis junub? Barusan mandi lagi” goda Edo yang ada di belakang Dodi.
“Ngawur lo. Mau apa ke sini? “ tanya Nicko ketus. Kedua temannya memang suka seenaknya sendiri kalau bicara.
“Biasa lah, mau makan sama wifinan” kata Edi seenaknya sendiri. Dodi mengiyakan.
“Lo nggak punya rumah? Ngapain nyasar kesini? “ tanya Nicko ketus.
“Yah elo bro sama sohib sendiri kayak gitu “ kata Dodi pura pura merajuk.
“Nicko buruan makan “ kata Aka sambil menghampiri Nicko. Aka kaget melihat kedua teman Nicko didalam rumah. Teman Nicko membelalakan matanya kagum, terpana melihat Aka.
“Widih cantik bener sepupu elo Nicko. Jahat bener lo nggak ngenalin ke kita kita” kata Dodi sambil mendekati Aka. Aka melangkah mundur dengan waspada.
“Hay cantik. Namanya siapa? Kenalan sama abang dong. Nggak usah malu malu, abang baik kok. Nggak bakal gigit” kata Dodi genit. Aka semakin takut. Tiba tiba bahunya ditarik ke belakang dan berujung memeluk si penarik.
“Nggak usah gangguin dia” kata Nicko dingin. Aka terkejut luar biasa.
“Gue nggak gangguin bro, gue cuma mau ngajakin kenalan doang. Eh ngomong ngomong lo meluk masih pake mentel mandi apa nggak takut lo kalo punya lo yang udah jinak tiba tiba jadi ganas lagi? Kan kasihan tuh cewek “ kata Dodi sambil terkekeh. Nicko menahan amarahnya agar tidak meledak. Aka bingung dengan yang di bicarakan Dodi, ia tidak paham.
“Lo kalo ikut makan silahkan, tapi habis ini bayar” kata Nicko ketus. Dodi jadi bergidik sendiri. Nicko membawa Aka menjauh dari jangkauan Dodi dan Edo.
“Nggak usah ngurusi mereka. Mereka sinting” kata Nicko saat sampai di ruang tengah.
“Mereka ngomong apasih? Kamu punya peliharaan? Kok tanyanya jinak jinak gitu? “ tanya Aka mengungkapkan kebingungannya. Nicko menghela nafas perlahan.
“Jadi bener Nicko punya peliharaan? Lucu nggak? Liatin ke Aka dong” kata Aka sambil menatap Nicko dengan penuh antusias. Nicko hampir saja meledakkan tawanya karena itu.
“Mau lihat? “ tanya Nicko mengetes rasa penasaran Aka. Aka mengangguk setuju. Nicko mendekatkan bibirnya ke telinga Aka.
“Lo masih kecil, nggak kuat lihat. Kalo lo udah besar baru gue lihatin” kata Nicko pelan. Ia takut ART nya mendengarnya dan mengadukannya ke Mamanya.
Nicko berdehem singkat. Ia khawatir Aka akan terpengaruh dengan suara seraknya.
“Jangan kan lihat, lo pegang aja boleh kok” kata Nicko sambil tersenyum tipis.
“Kalo di gendong? “ tanya Aka lagi. Ia benar benar tidak tahu apa yang Nicko maksud sebenarnya. Nicko kembali tersenyum.
“Gue nggak pernah gendong. Gue juga nggak yakin kalo dia mau di gendong” kata Nicko. Ia benar benar diambang rasa sabarnya. Aka telah membuatnya merasa sangat geli dengan sifat polosnya.
“And, one more, cuekin mereka. Mereka tuh cuma curut selokan. Untung temen gue, kalau kagak udah gue cabut tuh lidah mereka “ kata Nicko berusaha mengalihkan perhatian Aka. Aka jadi merinding sendiri.
“Gue tungguin di dapur ya? “ tanya Aka. Nicko mengangguk dan segera naik ke kamarnya untuk ganti baju. Selain mantel mandi, ia hanya memakai celana pendek selutut. Nicko segera menuju ke dapur setelah berganti pakaian.
“Temen temen lo nggak di ajak sekalian? “ tanya Aka karena Nicko tiba tiba duduk di seberang mejanya.
“Buat apa di ajak, nanti juga kesini” kata Nicko datar sambil menyendok nasi ke piringnya.
“Bro ijin ikut makan ya? “ tanya Edo memelas. Nicko hanya melirik tajam, membuat nyali Edo menciut, Dodi yang ada di belakangnya juga tidak beda jauh dengannya.
“Lo kalo mau makan pake nasi putihnya aja, jangan makan nasi goreng. Lo berdua kan alergi pete” kata Nicko memperingatkan mereka berdua.
“Iya bos Nicko “ kata mereka patuh. Mereka segera duduk di sebelah Nicko.
“Jangan ada yang liatin dia, apa lagi gangguin dia. Kalo kalian masih berani, jangan salahkan gue kalau mata sama lidak elo udah nggak ada di tempatnya “ kata Nicko memperingatkan. Mereka hanya bisa mengangguk ketakutan. Aka mencoba menyembunyikan rasa gelinya melihat tingkah kedua teman Nicko.
Mereka makan dengan tenang. Aka tersenyum setelah memperhatikan Nicko yang sedang makan. Nicko sepertinya benar benar menyukai masakannya. Lihat saja dari makannya sangat lahap. Dalam hati Aka bersyukur kalau Nicko menyukai masakannya. Sementara Nicko belum tau siapa yang memasakkannya.
Ringtone suara ponsel berbunyi. Dodi segera mengambil ponselnya.
“Halo, oh iya om. Saya ada di rumah seberang jalan. Iya saya nggak papa. Lagian om sih maen ninggal Dodi sama Edo. Iya iya, hmm? Oh bentar lagi om. Kita lagi makan barusan. Ok ok. Tunggu sebentar. Walaikum salam” kata Dodi di sambungan telfon. Nicko tiba tiba tertawa terbahak bahak.
“Hahahhah ternyata lo pada ketinggalan? Hahahahah” kata Nicko sambil tertawa. Mereka merundukkan kepalanya malu.
“Bro kita pamit dulu ya? “ tanya Edo setelah selesai makan. Aka naik ke lantai dua terlebih dahulu.
“Hmm, tau pintu keluarnya kan? Jadi gue nggak usah repot repot nendang kalian” kata Nicko ketus. Edi dan Dodi bisa memakluminya. Walaupun Nicko itu orangnya ketus dan sering dingin sama semua orang, tapi dibalik sifat dinginnya itu, dia adalah orang yang setia kawan dan selalu membantu orang lain yang kesusahan, kecuali dalam hal untuk memberi contekan saat ujian.
“Tenang bro, kita udah tau. Makasih ya makanannya. Sebenernya kita tadi mau nyobain nasi goreng buatan bini lo, kayaknya enak banget tuh. Tapi gara gara kita alergi sama pete, nggak jadi. Mungkin lain kali aja, tapi lo suruh bini lo jangan kasih pete lagi ok? “ kata Dodi seenaknya sendiri. Nicko mengernyit heran. Tunggu, dia hampir lupa! Jadi siapa yang masakin nasi goreng tadi? Masak iya Aka? Kenapa bisa lebih enak dari buatan Mamanya?. Belasan pertanyaan menggantung di fikiran Nicko.
“Bini gue yang masakin? Maksud lo? “ tanya Nicko bingung.
“Ni anak kebiasaan pura pura ****! Ya cewek tadi kan bini lo! Gimana sih?! Barengan berapa hari udah maen lupa aja? Wah kebangetan lo bro! Itu bini lo ****! Yang masakin juga pasti bini lo tadi nasi gorengnya!!!!! Huh dasar!!! Mentang mentang lo nggak pernah pacaran, tau tau udah nikah sama cewek nggak ngasih kabar lagi sama kita, bisa bisanya kayak gitu. Lo kira kita nggak tau bro?! Kita tau lah. Sekarang gini deh, lo nggak pernah pacaran, tau tau dirumah nyimpen cewek. Apa lagi kalo nggak bini lo? Nggak mungkin kan elo punya kepribadian ganda? Kelihatannya alim banget, eh di rumah nyimpen cewek, itu nggak mungkin!!!!! Gue kenal banget sama lo. Elo kan normal” kata Edo panjang lebar. Nicko terdiam. Beneran yang masak nasi gorengnya beneran Aka?.
“Ngomong ngomong gimana nih malam pertama kalian kemarin? Seru nggak? “ kata Dodi mulai timbul sifat keponya. Nicko tersenyum sinis.
“Beneran lo pingen tau? “ tanya Nicko menggoda Dodi. Dodi jadi merinding sendiri.
“Ah nggak usah lah bro takut gue. Gue tau lo pasti ganas banget kan? “ tanya Dodi yang pikirannya sudah kemana mana.
“Asik bro kalo habis nikah. Mau tidur nggak sendirian lagi. Nggak bakal ada kata bosen peluk si doi sebelum tidur. Tiap hari minta jatah di cium juga nggak masalah. Dan yang paling greget, kalo gue sama dia di bawah selimut, ***** bro!!!! Anget banget cuks, sumpah” kata Nicko mulai menggoda iman kedua temannya.
“Ah yang bener lo? Lo ngapain aja? “ kata Dodi penasaran. Terkutuklah Dodi yang mengikuti hasutan Nicko. Nicko tersenyum licik. Ternyata mengerjai temannya sangat seru.
“Kemarin tuh gue sama dia.......... “ kata Nicko terhenti karena Edo membekap mulutnya.
“Jangan di lanjutin bro. Lo tau kan, hormonnya Dodi gampang naik” kata Edo mengingatkan. Nicko segera menepis tangan Edo.
“Biarin! Biar sekalian bocor!!!! Hahaha!!!! “ kata Nicko terbahak bahak. Dodi benar benar segera mengontrol otaknya agar tidak nyasar kemana mana. Nicko malah berjalan mendekat ke arahnya.
“Waktu itu dia bilang........ “ kata Nicko menggantung. Sengaja membuat mereka penasaran setengah mati. Edo dan Dodi menutup telinganya kuat kuat sambil menutup mata, walau dalam hati mereka penasaran dengan lanjutan omongan Nicko.
“Nicko stop!!!! Jangan lanjutin omongan lo!!!! Jangan tunjukin sifat sangek elo!!!! “ kata Dodi takut. Lain di ucapan, lain pula dihati. Dodi sebenarnya sangat penasaran!!!!!!
“Dia bilang......... Ahhhhhhhhhh Nickoooooo........... “ suara Nicko melengking pelan. Nicko menggantungkan kembali perkataannya, bahkan suaranya ia buat sedemikian rupa untuk mengerjai kedua temannya. Dodi dan Edo saking ketakutannya, takut kalau kadar hormonnya naik segera berjongkok sambil menutup telinganya kuat kuat. Mereka menggigit bibir.
“Shhhhhhhhhh Ahhhhhhhhhh..........please................ “ kata Nicko yang di buat semirip mungkin dengan suara perempuan. Membuat kedua temannya harap harap cemas agar Nicko tidak melanjutkan omongannya.
“Buruan....... Jangan lama lama.......... Shhhhhhhhhh, emmmmmmmm, ahhhhhhhhh,........ “ Nicko semakin gentar mengerjai teman temannya. Sedangkan Dodi dan Edo hanya bisa duduk bersimpuh sambil menutup telingan mereka kuat kuat
“Lo bisa geser nggak? “ kata Nicko tiba tiba. Dodi dan Edo melongo seketika. Sekejap suasana berubah menjadi cair dengan gelak tawa kedua temannya yang membahana.
“Hahaha ***** lo bro bikin kita deg deg kan. Jadi lo sama cewek lo cuma tidur sebelahan doang gitu?” tanya Dodi yang tak bisa menahan tawanya.
“Yaiyalah, orang mertua gue ngelarang gue ngelakuin itu sekarang” kata Nicko agak jengkel. Ia merutuki dirinya yang sedang menjadi bulan bulanan kedua temannya saat ini.
“Hahaha!!!!! Itu gara gara dilarang sama mertua lo, apa gara gara elo impo bray? Hahaha, kalo gue jadi elo mungkin gue nggak bakal tahan. Salahnya siapa di nikahin. Hahaha “ kata Edo ikutan mengejek.
“Kan itu lo bukan gue” kata Nicko dengan ekspresi datar.
“Wuuuuuu jadi beneran nih elo impo? Gue heran, masak elo masih tahan walaupun tidur sebelahan?” kata Edo dan Dodi serempak.
“Gila lo pada!!! Kita lihat aja nanti siapa yang impo. Besok lo pada baru gendong anak satu, gue nanti udah gandeng anak lima” kata Nicko bersungut sungut. Ia juga tak tau kenapa ia bisa bicara seperti itu.
“Nicko ganas ya ternyata?” kata Dodi pura pura blo’on.
“Kenapa nggak sekalian buat anak sebelas bro? Sekalian nanti bisa buat tim kesebelasan sepak bola, nanti anak lo pada tanding bola. Kita sama anak kita nonton. Kan kita nggak bisa ikutan main gara gara anak kita satu doang. Hahahaha” kata Edo masih mengejek. Nicko semakin geram dengan kedua temannya.
“Buruan pada pulang sono!!! Awas kali kalian pada ember ya!!!! “ kata Nicko memperingatkan.
“Iya iya, tenang, kita bakal diem kok. Sekalian kita mau nunggu anak lo yang sebelas kapan keluarnya. Emm Do, kira kira habis ini Nicko mau buat nggak ya? Kan mumpung lagi malam jum'at” kata Dodi bertanya pada Edo.
“Ya nggak lah bro. Habis SMA lah buatnya. Nanti dimarahin papa mertua lagi. Dia kan udah mapan, udah punya pekerjaan pasti, nggak kuliah kan nggak masalah. Habis lulus langsung bikin...... Hahahaha” kata Edo.
“Buruan keluar!!!! “ kata Nicko mengusir kedua temannya. Keduanya terdiam seketika.
“Iya bro. Kita pulang dulu ya? Assalammualaikum “ kata Dodi dan Edo bersamaan.
“Wa’alaikumussalam” jawab Nicko sambil menuju kamarnya.
Saat sampai di kamarnya, Nicko melihat Aka masih duduk di meja belajar dengan meletakkan kepala di atas meja. Nicko segera menghampirinya karena teringat Aka tadi siang minta di ajari pr geografi. Saat Nicko sampai di delan meja, Nicko terheran. Pr geografinya sudah dikerjakan semua dan tidak ada yang salah menurutnya. Nicko baru sadar kalau Aka ketiduran setelah mengerjakan pr. Saat Nicko baru mengangkat tubuh Aka, Aka terjaga sambil menyipitkan mata karena silau. Mereka sama sama terdiam sampai Nicko meletakkan tubuh Aka di atas kasur.
“Thanks ya nasi gorengnya” kata Nicko pada Aka yang masih mencoba membuka matanya samar.
“Hmm” jawab Aka dengan gumanan.
“Itu buat permintaan maaf gue tadi ngotorin jaket lo” kata Aka serak serak tidak jelas tapi masih bisa didengar Nicko.
“Nggak usah segitunya” kata Nicko merasa tidak enak sendiri.
“Lain kali bisa buatin lagi? “ pinta Nicko, mungkin Aka tidak bisa mengingat sisi lainnya dengan keadaan setegah sadar seperti ini.
“Hmm” jawab Aka dengan gumanan. Aka tiba tiba menarik tangan Nicko, membuat pemiliknya jatuh di sampingnya.
“Lo harus jadi guling kalo mau gue buatin lagi. Lo tau? semua gulingnya baru di cuci sama Bi Elis. Jadi nggak ada guling buat gue tidur” kata Aka masih serak. Aka memeluk Nicko dan kemudian. Nicko menghela nafas pendek dan segera ikut terlelap.
“Apa gue mulai tergila gila sama ini cewek? “ Nicko saat hendak menutup matanya.
Nicko berusahan memejamkan matanya,
•••••••••••••••••••••••
Hay hello para readers, gimana? Suka nggak? Kalo suka komennya mana nih? Jangan lupa like and rate nya yah!!!!!. Kalian tau nggak? Aku buat part ini dalam waktu dua hari loh. Itu aja aku kerjain sebelum tidur. Buat yang baca ini sebelum tidur meet bobo yah.....Guyonannya garing ya? Maaf deh. Nggak tau mau bikin apa. Otak gue baru hanggg gitu. Eh ada yang penasaran nggak sama yang nelfon Aka tadi? Kalo boleh tau kalian suka tokohnya siapa? Aka atau Nicko? Semisal di dunia ini ada cowok yang kayak Nicko kalian mau nggak? Hehe cari sendiri ya? Aku bukan agen jodoh.
See you bye bye
Tbc