
Sang mentari telah mengintip malu dari ujung timur. Pagi menyingsing dengan begitu indahnya. Seisi rumah sudah terbangun sejak jam empat tadi. Terutama bagi si kembar cilik, Gara dan Gera. Mereka sudah bangun lebih awal dan berbaik hati membangunkan seisi rumah. Lina masih sibuk memandikan Gera yang mengompol. Sedangkan Aka masih mencoba menenangkan Gara yang masih menangis. Entah ingin apa.
“Sayangnya kakak jangan nangis” kata Aka berusaha menghibur adiknya. Gara masih tetap menangis keras. Aka bingung harus bagaimana. Ternyata menenangkan seorang balita lebih sulit daripada menyelesaikan soal matematika. Dia salut kepada Mominya yang dapat mengatasi semua sendirian.
“Belum diem juga? ” tanya Nicko yang tiba tiba sudah masuk ke dalam kamar. Aka mengangguk perlahan.
“Biar gue yang coba” kata Nicko sambil mengambil alih Gara dari gendongan Aka. Aka memperhatikan bagaimana Nicko akan menenangkan Gara.
“Hey jagoan kecil, jangan menyusahkan istriku” kata Nicko sambil tersenyum manis ke arah Gara. Gara terdiam beberapa saat dan akhirnya tertawa dengan suara yang lucu.
Nicko melirik ke arah Aka seolah mengatakan “bagaimana? Hebat bukan? “
“Jangan membuat istriku susah lagi oke? “ kata Nicko ramah. Gara tertawa senang. Tangannya menepuk nepuk wajah Nicko seakan mengajaknya bermain.
“Ah, ternyata sudah diam. Sini Mami mandiin dulu. Nanti kalo udah selesai kalian sarapan kalian boleh bawa mereka jalan jalan pagi” kata Lina ramah. Nicko dan Aka mengangguk paham.
“Gue mandi dulu ya” kata Aka saat sampai di kamar.
“Mandi aja sana” kata Nicko tiba tiba cuek. Aka mendengus kesal.
“Lah elo? “ tanya Aka.
“Udah tadi subuh. Gue kan selalu wangi, nggak kayak lo” kata Nicko kembali menyulut emosi Aka.
“Ihhhh nyebelin banget si!!! Huh, biarin. Cewek kalo di bandingin cowok tuh belum mandi, lebih bau cowok” kata Aka bersungut sungut. Nicko juga ikut kesal sendiri.
“Buruan sana mandi” kata Nicko sambil mendorong Aka sampai kamar mandi.
Nicko memijit pangkal hidungnya jenuh. Ia heran kenapa dia selalu saja bertengkar dengan Aka. Nicko memilih turun ke lantai satu.
“Tata ito” panggil Gera yang ada di pangkuan Brian. Nicko tersenyum dan segera menghampirinya.
“Woahhh kangen aja nih sama Kakak” kata Nicko tersenyum. Ia segera ikut duduk di sebelah Brian. Brian juga ikut tersenyum.
“Pi, boleh Nicko.... “ ucapan Nicko terhenti.
“Oh silahkan” kata Brian sebelum Nicko sempat menyelesaikan perkataannya. Nicko tersenyum kikuk, lantas mengambil alih Gera dari tangan Brian.
“Gala uga au i angku” Gara yang datang bersama Lina.
“Jangan nakal ya sama Kakak Nicko, jangan ngompol juga” kata Lina sambil membelai kepala anak laki lakinya. Gara mengangguk patuh. Lina segera pergi hendak menyelesaikan tugasnya.
“Kamu jangan buat kayak gini dulu sama Aka” kata Brian berbisik pelan di sebelah Nicko. Sorot matanya terasa menghujam. Nicko menenguk ludahnya susah payah. Nicko segera mengangguk cepat. Suasana tiba tiba terasa mencekam kalau Brian dan Nicko di tempatkan dalam satu ruangan yang sama.
“Saya belum berani Pi. Kan Papi belum ngijinin” kata Nicko gugup. Nicko membasahi bibir bawahnya yang terasa kering.
“Kalo kamu berani ngapa ngapain Aka, saya pastikan kamu akan habis di tangan saya” kata Brian kembali. Nicko merasa udara di sekitarnya semakin menipis.
“Tid, tidak Pi” jawab Nicko kagok.
“Kamu baru boleh menuntut hak kamu saat Aka sudah menjadi sarjana” kata Brian dingin. Hati Nicko mencelos seketika.
“Yah, masih lama dong Pi” batin Nicko tak terima.
“Kalo sudah lulus SMA saja bagaimana Pi? “ tanya Nicko hati hati. Pasalnya dekat dengan Aka sangat menggoda imannya.
“Kamu mau merasakan kuburan?!!! “ tanya Brian penuh penekanan. Nicko menutup matanya ketakutan.
“Maaf Pi” kata Nicko sambil tertunduk. Brian hanya berdehem dengan penuh wibawa.
“Serius amat bapak bapak pada curhat” kata Aka yang tiba tiba turun dari tangga. Ia melipat tangannya di depan dada dengan tatapan penasaran. Nicko sempat kaget dengan kedatangan Aka.
“Dad~~” panggil Aka manja. Brian memutar bola matanya jengah.
“Gendong~~” kata Aka merengek manja. Tangannya menggapai gapai Papinya yang sedang duduk. Nicko mengulum senyum. Sekarang ia tahu kenapa Aka sangat suka di gendong.
“Kamu udah gede” kata Brian datar. Aka selalu saja manja. Ia mendengus kesal.
“Yaudah, Nicko gue gendong” kata Aka tak peduli. Nicko melotot seketika. Apa Aka berniat membunuhnya?
Brian melayangkan tatapan tak terima ke arah Aka. Aka mengacuhkannya.
“Gue pangku sekalian juga nggak papa kok “ kata Aka dengan entengnya. Nicko melirik cemas ke arah Brian.
Ternyata benar, Brian melotot marah ke arahnya.
“Ka, plis gue nggak mau mati muda” batin Nicko ketakutan.
“Jadi kalian sering begitu kalau lagi di rumah huh?!!!! “ tanya Brian mengintimidasi. Nicko meneguk salivanya susah payah.
“Um,Eeeee, nggak kok Pi, nggak, beneran saya nggak pernah ngapa ngapain Aka. Sumpah!!!!!! Saya nggak pernah mangku Aka. Jujur, ciuman aja nggak pernah. Aka masih suci kok Pi, belum Nicko apa apain. Kalo Nicko tidur aja, Aka yang meluk Nicko, bukan Nicko yang meluk Aka. Suwer deh Pi, Nicko nggak berani nyentuh Aka” kata Nicko gelagapan. Ia sempat jengkel dengan Aka yang hampir melemparnya ke mimpi buruknya.
“Ihhhhh, biasanya kan kita maen kuda kudaan sampai Aka sakit. Nicko kok nggak mau ngaku sih?!!!! “ kata Aka mendramatisir.
“Damn it!!!!!! “ Nicko berteriak dalam hati. Ia menutup matanya ketakutan.
“Ni bini demen banget fitnah lakinya?!!!! Gedem gue lama lama. Gue recokin beneran baru tau rasa lo” batin Nicko jengkel dengan perkataan Aka.
Aka melirik sekilas ke arah Brian yang wajahnya sudah merah padam.
“Nggak papa dong, yang penting Aka bisa tiap hari di gendong sama Nicko. Nggak kayak Papi, huuuuu. Iyakan sayang? “ kata Aka manja. Brian semakin geram.
“Aka, kamu benar benar...... “ kata Brian marah.
Aka melirik ke arah Papinya sekilas dan langsung meledakkan tawanya seketika.
“Ahahahahha!!!!!!! Sans Pi, sans. Aka Cuma bercanda kok. Aka tadi Cuma ngawur doang buat nakut nakutin Papi” kata Aka tanpa dosa. Brian mengatur nafasnya yang sempat memburu.
“Sini Papi gendong” kata Brian yang mulai tenang. Aka terkikik geli.
“Hihi, nggak jadi ah. Di gendong Papi nggak asik. Enakan di gendong Nicko. Iyakan sayang?? “ kata Aka manja. Ia bahkan mengedip ngedipkan matanya lucu.
Nicko hanya tersenyum canggung.
“Gala en ong ta' Ata” kata Gara tiba tiba. Aka tersenyum dan segera mengambil Gara dari pangkuan Nicko. Nicko menghela nafas lega. Walaupun tadi subuh dia sempat jengkel dengan suara kedua adik iparnya itu, tapi dia bersyukur mereka membebaskan Nicko dari aura intimidasi Brian.
“Mau jalan jalan? “ kata Aka menawarkan adiknya. Gara dan Gera mengangguk setuju.
“Ma, aku bawa mereka jalan jalan dulu ya” kata Aka. Lina mengiyakan.
Mereka segera keluar rumah. Aka menunggu Nicko mengambilkan Baby stroller di garasi.
“Baby stroller nya yang ini” tanya Nicko sambil mendorong Gera yang duduk di alat itu. Aka mengangguk.
“Itu aja punya gue waktu kecil. Papi ngiranya gue tuh lahirnya kembar gara gara perut Mami besar banget. Eh taunya guenya aja yang terlalu gemuk” kata Aka. Nicko menahan tawanya.
“Malah ketawa!! Apanya yang lucu?!! “ kata Aka ketus sambil melotot tak terima. Nicko malah meledakkan tawanya seketika. Tanpa memperdulikan tatapan Aka, Ia malah mengambil alih Gara dari gendongan Aka. Mereka segera meninggalkan area rumah.
Di tengah perjalanan mereka membahas pengalaman masing masing. Namun, hanya saja Aka yang mendominasi.
“Ko, gue kemarin lihat mobil lamborgini bagussss banget waktu searc materi pelajaran “ kata Aka mengawali. Nicko mengarahkan pandangannya ke arah Aka seketika.
“Oke, besok kita beli” kata Nicko enteng. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Aka melebarkan matanya seketika.
“Eh, buk, bukan!!! Gue nggak minta di beliin kok” kata Aka mencegah. Nicko menghadap Aka kembali.
“Kalo ada cewek nyeritain sesuatu, tandanya minta di beliin” kata Nicko datar.
“Gue nggak minta di beliin!!!!!! “ kata Aka mengelak. Bisa bisanya Nicko nekat seperti itu.
“Lo emang nggak minta di beliin. Tapi mau kalo di beliin” kata Nicko dengan tampang cool.
“Nggak perlu!!!! Boros banget sih lo” kata Aka. Wajahnya memerah tanpa di komando.
“Kalo yang lo takutin gue bangkrut atau gimana, tenang gue masih punya tabungan saham banyak kok” kata Nicko enteng. Aka melebarkan matanya kembali. Ternyata Nicko sepintar itu.
“Buat apa nanem saham banyak banyak? “ tanya Aka penasaran.
“Buat masa depan kita. Kalo punya banyak anak kan nggak masalah” kata Nicko dengan entengnya.
“Anak mulu yang di bahas” kata Aka tak peduli.
“Haha, emang kenapa? Kalo pemerintah nyuruh dua anak lebih baik, prinsip gue banyak anak lebih baik” kata Nicko kembali.
“Lo mau ngadopsi anak banyak? “ tanya Aka heran.
“Lo masih nggak paham? “ tanya Nicko gemas. Aka menggelengkan kepala tanda tak tahu.
“Gue nggak bakal ngadopsi anak siapa siapa” kata Nicko santai.
“Lah kok? “ tanya Aka kebingungan. Nicko menyerigai, ia segera berjalan mendekati Aka.
“Karena gue mau punya banyak anak dari lo” kata Nicko tepat di sebelah telinga Aka. Dengan reflek Aka segera mendorong wajah Nicko menjauh darinya.
“Dasar kelainan!!! “ kata Aka ketus. Nicko malah nyengir tanpa dosa.
“Hahaha, itu cita cita Ka. Bukan kelainan. Sekalian nanti kita bikin timnas kesebelasan ya? “ kata Nicko kembali memajukan kepalanya ke arah Aka.
Aka segera menimpuk kepala Nicko keras.
“Buat sendiri, hamil sendiri, susuin sendiri “ kata Aka ketus.
“Haha, ampun deh ibu negara marah lagi. Takut gue kalo tidur di luar kamar” kata Nicko sambil terkekeh geli. Aka melayangkan tatapan mematikan ke arah Nicko. Bukannya takut, Nicko malah semakin melebarkan senyumnya.
“Sans lah, gue masih bisa nunda sampai lulus SMA kok” kata Nicko tanpa beban. Aka mendelik seketika.
“Mesum!!!!!!! “ kata Aka judes.
“Ilah, pahala Ka kalo sama istrinya sendiri “ kata Nicko santai.
“Bodo!!!!! “ kata Aka kembali ketus.
“Jangan marah dong, gue nggak tahan kalo lo tambah seksi” kata Nicko sambil terkekeh renyah.
“Ihhhh, omez!!!! “ kata Aka semakin jengkel.
“Emang, kan sama lo doang” kata Nicko tanpa beban. Aka hendak lari, Namun Nicko tiba tiba menangkup wajah Aka tepat di depannya.
“Pulang yuk, bikin sekarang. Nanti kita jadi young parents” kata Nicko pelan. Aka mengeraskan rahangnya semakin geram.
“Ogah!!!!!!! “ kata Aka menjerit keras. Tangannya meronta ronta mencoba terlepas dari genggaman Nicko.
“Widih cople charming dateng nih bro” kata Dodi. Teman teman Nicko malah datang mengganggu acara jalan jalan mereka berdua. Edo mengangguk setuju. Nicko segera menjauhkan dirinya dengan Aka.
“Ealah baru berapa lama udah punya anak aja” kata Dodi sambil berjongkok mendekati Gera yang ada di Baby stroller. Aka melayangkan tatapan tak terima.
Sebagai pengingat, author sudah bilang kalau hanya Denis teman Nicko yang waras.
“Gila lo. Ini adiknya Aka bukan anak gue sama Aka” kata Nicko jengkel. Ia lantas menjitak kepala Dodi dengan kesal. Mereka selalu saja bisa menghancurkan suasana.
“Ini bukan couple charming, tapi couple savage” kata Edo datar.
“Sadis banget” kata Dodi yang masih meringis kesakitan. Dodi mencoba mengabaikan rasa sakitnya.
“Hay cantik, main sama om yuk” kata Dodi sambil merentangkan tangannya. Ia mencoba melupakan rasa sakit di kepalanya. Bukannya menyambut, Gera malah memalingkan muka. Dodi langsung manyun seketika.
“Behhhh gue bener bener percaya kalo ini adek iparnya Nicko” kata Edo sambil tertawa geli. Ia menertawakan Dodi yang baru saja di abaikan seorang balita.
“Ganggu banget sih kalian?!!!! Pergi sana” kata Aka ketus. Dodi menggeleng tak percaya sambil berdecak.
“Ck, ck, ini baru pasangan paling swag tahun 2020” kata Dodi sambil bertepuk tangan dengan gaya bangga. Aka dan Nicko menatap datar ke arah dua mahluk aneh bin ajaib ini.
“Nicko, temen lo nemu di mana sih? “ tanya Aka berbisik di sebelah telinga Nicko.
“Gue nggak nemu. Mereka aja yang ngikut” kata Nicko membalas Aka dengan bisikan juga.
“Hayo....... Ketahuan lagi bisik bisik manjahhhhhh” kata Dodi mulai alay. Aka dan Nicko memutar bola matanya jengah.
“Guys, this is my friend. Please don't be blasphemed, I'm really ashamed ” kata Nicko kepada para pembaca.
“Oy, kalian mau jalan jalan pagi nih? “ tanya Edo mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Nggak, mau nyantet orang” kata Nicko asal.
Blo'onnya kebangeten tingkat dewa. Batin Nicko sambil melirik sinis ke arah dua mahluk aneh itu.
“Pletakkk” Aka segera menjitaknya. Nicko menekuk wajahnya masam sambil memegang kepalanya yang terasa sakit. Jitakan Aka cukup kuat juga.
“Kalo ngomong yang bener dikit!!!Adek gue disini. Kalo lo bikin adek gue ikut ikutan ngomong yang nggak bener, malah elo yang gue santet” kata Aka ketus.
“Yah jangan dong. Gue nggak mau mati muda” kata Nicko sambil merangkul bahu Aka. Aka segera menepisnya, tapi lebih dulu Nicko mengeratkan pelukannya. Jadilah Aka terkungkung dalam pelukan Nicko saat ini. Debar jantungnya segera muncul.
Edo memutar bola matanya jengah. Lagi lagi Nicko akan pamer kemeseraan di depannya.
“Bubar bubar. Mr Charming mau mesra mesraan” kata Edo sambil mendorong Dodi menjauh. Nicko melirik jahil ke arah mereka.
“Kerjain sekalian yuk” Nicko berbisik pelan. Aka segera menjauhkan wajahnya. Dekat dengan Nicko tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
“Semua yang lo rencanain nggak ada yang beres” kata Aka menolak tegas. Nicko malah semakin mengeratkan pelukannya. Nicko membalik tubuh Aka agar berhadapan dengannya. Aka memerah seketika.
“Ole au ama” kata Gera sambil bertepuk tangan. Gara mengikuti kembarannya. Ia juga ikut bertepuk tangan.
Nicko malah tiba tiba merundukkan wajahnya hingga hidungnya menempel pada hidung Aka. Nicko membelai pipi Aka perlahan.
“Stop woy!!! Stop!!!!! Hadeh hadeh kebangetan nih. Mohon ya para pasutri geje paling savage 2020, jangan tebar romantis di sini. Harap hargai kami para jomblo yang masih mencari cinta” kata Edo sambil memalingkan muka. Pemandangan ini benar benar membuatnya iri setengah mati. Nicko melirik jahil ke arah mereka berdua.
“Makanya cari gebetan sono jangan ngejomblo mulu. Jadi bujang lapuk gue sukurin lo” kata Nicko sambil terkekeh renyah.
“Serah lu ah. Cabut aja yuk, males gue jadi obat nyamuk di sini” kata Dodi sambil menyeret leher Edo pergi. Aka dan Nicko menghela nafas lega. Akhirnya dua kadal tadi pergi. Merekapun melanjutkan perjalanan.
“Katanya ngebolehin gue nginep di rumahnya Mami Papi, kenapa lo juga nginep? “ kata Aka. Ia memang sudah greget ingin menanyakan itu kepada Nicko sewaktu Nicko sampai di rumahnya. Nicko menghela nafas sebentar lantas mengarahkan pandangannya pada gadis itu.
“Salah ya? “ tanya Nicko.
“Nggak juga sih, Cuma ganggu privasi gue aja” kata Aka sekenanya.
“Privasi bini kan privasi lakinya juga” kata Nicko sambil melirik ke arah Aka. Ia ingin mengetes reaksi gadis itu.
“Maksud lo? “ tanya Aka bingung. Nicko tersenyum miring lantas mendekatkan wajahnya ke arah Aka. Nicko berbisik pelan.
“Gue emang nggak bisa jauh dari lo. Gue terlanjur nyaman sama lo. Jadi, apapun yang terjadi, kalau itu memungkinkan gue bisa sama lo, gue bakal terus di samping lo. Bahkan tidur di tengah gurun pasir sekalipun, asalkan lo tidur di sebelah gue, itu udah lebih dari cukup buat gue nyenyak” kata Nicko pelan dan penuh penekanan. Aka mematung seketika. Nicko tersenyum dan kembali memajukan wajahnya. Membuat hidung mereka bersentuhan.
“Dasar sok puitis” kata Aka sambil memundurkan wajahnya. Nicko tersenyum geli.
“Kenapa?, takut gue cium? “ tanya Nicko menahan geli. Pipi Aka bersemu seketika.
“Buk, bukan, siapa juga yang takut lo cium? “ kata Aka gugup. Nicko menaikkan sebelah alisnya penasaran. Tangannya yang memegang pendorong baby stoller ia lepaskan dan beralih memegang dagu Aka dengan cepat. Aka terhenyak kaget, semua Nicko lakukan dengan tiba tiba.
Gara dan Gera seolah mengerti situasi, mereka segera menutup mata mereka dengan kedua tangan mungil mereka.
“Gak papa nih kalo gue cium? “ tanya Nicko sambil menatap Aka intens. Aka jadi nervous sendiri. Apa maksud Nicko?!!!
“Lepasin!!! “ kata Aka sambil mencoba menepis tangan Nicko.
“Gue lepasin setelah gue cium” kata Nicko lembut. Aka melotot seketika.
“Lepasin, gue mau ke kamar mandi” kata Aka kembali meronta.
“Cium gue dulu baru lo boleh ke kamar mandi” kata Nicko. Itu adalah sebuah perintah. Aka mendengus kesal. Dengan segala keberaniannya ia mencium pipi Nicko singkat. Nicko tersenyum mendapatinya.
“Jangan lama lama sayang, gue tungguin disini” kata Nicko. Aka segera berlalu pergi.
Nicko mendorong baby stoller nya menepi. Ia juga sempat gerah sudah berjalan lumayan jauh. Keringat mulai bermunculan di keningnya. Nicko menyekanya dengan punggung tangan.
“Pake ini aja bang” kata seseorang sambil menyodorkan tissu ke arah Nicko. Nicko menegakkan kepalanya agar bisa melihat orang yang menyodorkannya tissu.
Nicko tiba tiba memejamkan mata setelah tau apa yang dia lihat. Dua orang tante tante dengan make up tebal dan pakaian minim berdiri tepat di depannya.
“Tuh kan jeng, eike bilang juga apa, pasti ni masih brondong cyin” kata tante yang memakai baju merah.
“Tapi sayangnya udah duda ya cyin. Punya dua anak lagi. Pasti ditinggalin yang cewek setelah lahiran, trus nggak mau ngurusin. Yey sama kita aja yuk. Kita juga nggak masalah kok ngurusin anaknya yey” kata tante yang memakai baju berwarna kuning. Nicko menghela nafas perlahan. Di kerumuni dengan dua tante tante kurang belaian ini memang membuatnya kesulitan bernafas. Dia bingung harus mengusir kedua orang ini. Gara dan Gera cemberut sendiri. Mereka juga jengkel di dekati dua wanita ini.
Aka menghela nafas lega setelah keluar dari kamar mandi. Diapun segera mencari keadaan suami kampret dan kedua adiknya. Aka membelalakkan matanya kaget saat melihat Nicko di ganggu oleh dua orang tante tante. Aka hampir saja meledakkan tawanya melihat ekspresi Nicko yang pucat pasi.
“Pingen ketawa, takut dosa. Pingen nolongin tapi masih pingen liatin. Dilema gue” batin Aka sambil mengulum bibirnya.
“Ka, lo dimana? Tolongin gue” batin Nicko seolah bisa bertelepati dengan Aka.
“Ih yey diem diem aja, ngomong dong” kata tante baju merah.
“Ah, ei tau. Kalo kayak gini kan kalem. Tapi kalo di kamar kan nggak bisa diem” kata tante baju kuning sambil terkikik. Nicko mendengarnya saja semakin merinding. Bisa bisanya mereka berfikiran sampai sana. Dia saja belum pernah berfikir ingin melakukan itu bersama Aka sampai saat ini.
“Halo tante tante” sapa seseorang. Mereka menoleh seketika dan melihat seorang gadis dengan celana olahraga tersenyum manis. Nicko membuka matanya perlahan. Ia tersenyum seketika. Itu Aka!!! Dia pasti menyelamatkannya.
“Maaf ya tante kalo aku ganggu. Tapi aku buru buru nih mau pergi “ kata Aka sambil tetap tersenyum manis. Ia tahu harus bagaimana. Mereka mendelik sambil memasang tampang songong.
“Emang situ siapa? Adiknya ini brondong? “ tanya tante baju kuning. Ia mendelik dengan sinis ke arah Aka. Aka kembali tersenyum manis. Sepertinya mengerjai kedua tante ini akan menyenangkan.
“Mama~~~” keduanya terbelalak seketika.
“Mama, mama” Gara dan Gera tiba tiba bersuara. Aka menatap keduanya penuh kemenangan. Nicko tersenyum bangga.
“Oh, aku istrinya” kata Aka dengan enteng. Keduanya melebarkan matanya tak percaya. Aka segera berjalan mendekati Nicko.
“Sayang, pulang yuk” kata Aka sambil bergelayut manja di lengan Aka. Aka melayangkan tatapan kemenangan ke arah mereka berdua.
“Ih si eike bohong, sok sok an ngaku ngaku istrinya si bro” kata tante baju merah.
“Brondong dari mana, sama gue aja mudaan gue” batin Aka geli.
Nicko tersenyum bahagia. Aka benar benar menggemaskan dalam mode seperti ini. Nicko menarik pinggang Aka agar lebih dekat dengannya.
“Kita kerjain sekalian dua tante edan ini” kata Nicko berbisik di telinga Aka. Itu bukan permintaan, lebih tepatnya perintah.
“Lo mulai dulu aja” kata Aka gugup. Sebenarnya dia sama sekali tidak berniat mempermainkan kedua tante tante ini. Sudah author bilang kan kalau Nicko selalu mendapatkan apa yang dia inginkan?.
Nicko perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Aka yang sudah duduk di lengan bangku. Nicko mengusap pipi Aka pelan. Aka tau, ini akan segera di mulai. Dengan perlahan ia memegang pipi Aka tepat di sebelah bibirnya dengan tangan kanan. Nicko mendekatkan kembali wajahnya seakan akan hendak mencium Aka. Aka memejamkan matanya perlahan, berusaha sebaik mungkin agar kelihatan jika dia sedang di cium Nicko. Nicko juga memejamkan matanya perlahan.
“Gue nanti bakal ngasih intrupsi ke elo kalau udah” bisik Nicko pelan. Aka masih bisa mendengarnya dengan jelas walaupun menutup matanya.
Nicko menyampingkan kepalanya seakan semakin menyesap setiap inci bibir Aka. Aka meresakan jantungnya semakin berdebar. Kedua tante itu semakin histeris.
Aka tersentak kaget begitu merasakan tangan lebar Nicko mulai membuka kausnya. Oh tunggu, tepatnya menyusup ke dalamnya. Aka tegang seketika. Ia masih berusaha menahan rasa geli yang semakin bergejolak.
Nicko semakin melancarkan aksinya dengan begitu lihai. Tanpa sadar, telapak tangannya semakin dalam menyusup ke dalam kaus Aka. Nicko dapat merasakan Aka mulai menegang dan bergerak seperti kegelian. Apa dia sudah keterlaluan?.
“Nicko gue geli!!! “ kata Aka berbisik. Ia masih menutup mata.
“Udah ya, gue geli beneran. Badan gue pada merinding semua” lanjut Aka. Nicko menghentikan tangannya tepat di punggung Aka.
“Sekarang gantian lo” kata Nicko pelan. Aka segera menjauhkan wajahnya.
“Udah ya, malu tuh di liatin tante tante” kata Aka menahan malu. Nicko jadi merasa bersalah sendiri. Ia tiba tiba menggendong Aka seperti biasa. Aka tentu saja tersentak kaget, ia biasanya di gendong seperti itu di dalam rumah, itu saja tidak ada yang melihat. Tapi sekarang, Nicko malah menggendongnya terang terangan di depan umum. Kedua tante tadi semakin panas. Aka harus mengusai suasana. Ia kembali tersenyum.
“Duluan ya tante” kata Aka tenang. Ia mengalungkan lengannya dengan manja di leher Nicko. Nicko menggunakan tangan kanannya untuk menopang badan Aka, sedangkan tangan kirinya untuk mendorong baby stoller. Nicko tersenyum puas. Ia segera membawa Aka dan kedua adiknya pergi.
“Kalo kayak gini, gue nggak masalah kalo tiap hari harus di godain tante tante atau cewek cewek fangirl” kata Nicko sambil tersenyum puas. Aka memukul dadanya keras.
“Kenapa? “ tanya Nicko bingung. Apa Aka marah?
“Lo mau buat gue kayak gitu terus?!!! “ tanya Aka ketus. Pipinya mulai memerah. Nicko melongo seketika.
“Lo nggak suka kalo kita ngerjain orang kayak tadi? “ tanya Nicko. Aka menggeleng tegas.
“Trus? “ tanya Nicko lagi. Nafas Aka semakin memburu.
“Gue nggak suka lo seenaknya pegang pegang gue. Gue bener bener geli. Gue tuh sensitif kalo di pegang kayak tadi!!! “ kata Aka. Astaga!!! Nicko ingat!!!! Ia awalnya hanya berniat membelai pinggang Aka yang tertutup kaus. Namun kenyataan yang terjadi dia malah menyusupkan telapak tangannya ke dalam baju Aka sampai merasakan tekstur kulit punggung Aka. Nicko merundukkan pandangannya ke arah sepatu. Ia lantas menurunkan Aka.
“Gue minta maaf. Gue kehilangan kendali. Seharusnya gue nggak sampai kayak tadi. Oke, gue tarik kata kata gue yang dulu. Kalau boleh jujur, waktu gue lihat lo pake pakaian minim, jantung gue berdetak lebih kencang, ada sesuatu di dalam tubuh gue yang bergejolak. Gue nggak tau apa itu. Mungkin hasrat, tapi mungkin juga itu hanya pikiran kotor gue. Gue jujur Ka, waktu gue deket lo, gue selalu ngerasain kayak gitu. Gue nggak pernah ngerasa kayak gitu sebelumnya ke cewek lain. Maaf Ka kalau gue udah kelewatan. Gue harusnya nyadar. Kita masih kelas 11, kita nggak boleh ngelakuin ha kayak gitu. Maaf ya lo pasti takut kalau dekat dekat gue. Gue emang brengsek ya? Seharusnya gue minta dinikahin sama lo waktu kuliah atau lo udah siap aja. Bukan di waktu kayak gini” kata Nicko menyesal. Aka mematung seketika.
“Jadi, perjodohan itu? “ tanya Aka memastikan. Nicko mengangguk tegas. Tidak ada yang harus ia sembunyikan lagi. Aka harus tau semuanya.
“Itu ide gue” kata Nicko jujur. Aka membelalakkan matanya tak percaya.
“Se, sejak kapan? “ tanya Aka. Air matanya hendak menetes turun. Nicko menghela nafas berat.
“Sejak kita pertama ketemu. Waktu ulang tahun kakek lo. Waktu itu gue masih tujuh tahun. Jujur, gue emang gila waktu itu. Gue bener bener jatuh cinta sama lo dalam pandangan pertama. Agak aneh juga sih ya. Gue hanya ingin bisa sama lo lagi. Untuk itu gue sengaja ngomong lo harus jadi istri gue besok. Lo yang masih kecil cuma bisa nurut. Dan sebagai bukti bahwa kita bakal ketemu lagi, gue ngasih jepit rambut ke elo. Jelek sih kalo dibilang, tapi gue nggak tau harus kasih apa lagi. Sorry ya mungkin dulu gue masih polos banget. Ya kali suka sama cewek nembaknya pake jepit rambut. Bener bener norak, lucu nggak sih? ” kata Nicko sambil terkekeh hambar.
“Jadi, itu dari elo? “ tanya Aka tak percaya.
“Masih lo simpen? “ tanya Nicko memastikan.
“Masih lah, lo tau alasan gue agak sensitif sama lo itu gara gara gue kebayang terus sama itu. Gue takut gue ngehianatin cinta anak cowok itu dengan nikah sama lo. Eh nggak taunya itu lo sendiri” kata Aka sambil terkikik pelan. Ia menyeka air matanya.
“Gue nggak salah pilih lo waktu itu. Nggak sia sia penantian gue selama 9 tahun” kata Nicko sambil tersenyum manis. Ia meraih tangan Aka untuk di genggam.
“Selama itu kah lo cinta sama gue? “ tanya Aka tak percaya. Hatinya merasa haru.
“Iya Ka, dan perasaan itu selalu sama di hati gue” kata Nicko sambil mengecup punggung tangan Aka pelan. Aka mengulum senyum malu.
“Lo mau bahagia sama anak cowok itu? Ehm maksudnya gue? “ kata Nicko sambil menatap Aka intens. Aka tersenyum manis.
“Jelas gue nggak punya pilihan buat bilang nggak” kata Aka sambil tersenyum memukau. Nicko sampai mematung seketika.
“Koko sayang Cium” kata Nicko pelan. Aka tersenyum senang.
Nicko kembali mendekatkan wajahnya.
“Ehem” Gara dan Gera bersuara bersamaan. Nicko berhenti seketika. Aka terkikik geli. Nicko ikut tersenyum melihat Aka.
Nicko berjongkok di sebelah Gera.
“Kalian sengaja ganggu suasana kakak Nicko ya? “ kata Nicko sambil tersenyum gemas.
“Tata Ata unya ita” kata Gera tegas. Nicko kembali terkekeh.
“Kakak Aka punya aku” kata Nicko. Gara mendelik seketika.
“Enda!! tata Ata unya ita. Utan unya ta ito” kata Gara bersungut sungut. Nicko melebarkan matanya kesal.
“Apa lo bocah?!!!! Kakak lo udah jadi bini gua!!!! “ kata Nicko sambil berdiri. Ia segera merangkul Aka sambil menciumi kening gadis itu. Aka berusaha keras untuk melepaskannya.
Gara segera melebarkan mata lucunya.
“Enda!! Tata Ata unya ita!! “ kata Gara keras. Suara kecilnya sampai melengking. Gera melipat tangan di depan dada.
“Tata ito, nda oleh sama tak Ata. Nda oyeh!! “ kata Gera sinis. Walau dengan ekspresi sinis, tetap saja dia tetap terlihat lucu. Nicko malah mengeraskan rahangnya seketika.
“Apa lo berdua?!!! Suka suka gua lah” kata Nicko ikut ngegas.
“Udahlah Nicko, masak beratem sama anak kecil? Malu ah sama pembaca” kata Aka mengingatkan. Ia segera melepaskan rangkulan lengan Nicko. Ia benar benar malu sekarang.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
knp gw tumben update malem2 begini, yahh cuma lagi pengen aja.
btw, besok Belle UTBK nih. minta doanya nyak biar lancar Dan dapat nilai sempurna buat masuk di Universitas
Sorry aja ni ye, author bikin waktu lagi nggak mood. Jadi kalo kurang bagus, maklumin aja nih ye. Namanya juga masih SMA, banyak tugas sekolah. Aku bikin aja harus nyolong waktu belajar bentar. Jangan di tiru ya, kalo punya kewajiban harus yang fokus, jangan kayak author. Inget tuh, kakak kakak adek adek yang lagi baca, atau emak emak yang lagi rehat ngurusin rumah.
Kira kira mau update lagi kapan ya? Jadi bingung nih. Buat yang belum follow, vote, koment, share. Silahkan di laksanaken dulu. Ketemu lagi sama author minggu depan. See you....
Tbc