
Heyyo!!!! Belle lagi mau crazy up nieh. semoga suka♡♡♡
...Lo harus tau, bolos itu bukan hoby yang baik.
...
...Joshua Nickold...
Jam baru menunjukkan pukul 09.30, artinya jam istirahat pertama baru di mulai. Semua siswa segera keluar dari kelas dengan tertib. Ada yang pergi ke kantin, warsis, koperasi, gazebo, ke masjid untuk sholat dhuha, main ke kelas temen buat mabar, dan ada yang sekedar mampir ke klinik buat ngadem. Dikelas hanya tertinggal Aka yang masih duduk di dalam kelas dengan bosan.
“Jajan yuk. Nggak bosen lo dikelas? “ tanya Vanya mengajak Aka. Aka hanya mengerucutkan bibirnya kesal.
“Nggak asik, gue pingen cabut aja. Yuk buruan” kata Aka sambil mengambil tasnya. Vanya melongo tak percaya.
“Ini baru jam berapa Ka? Maen ngajak cabut aja. Lo tau nggak poin elo udah dapet berapa? “ tanya Vanya bingung dengan sikap Aka. Aka terlihat sedang mengingat ingat sesuatu.
“Ah biarin. Baru dikit kok. Udahlah yuk” kata Aka sambil mengecek ponselnya.
Vanya geleng geleng kepala heran menghadapi perilaku salah satu temannya ini.
Baru saja dia punya niatan jadi bener, ehhh malah di ajak jelek lagi.
“Sip lah, semuanya udah stand by. Buruan Vanya “ kata Aka.
“Tapi Ka, kita mau cabut ke mana? Kalo mau cabut di dalam sekolah udah nggak aman lagi” kata Vanya mengingatkan.
“Ya diluar sekolah seyenk ku. Masih aja nanya. Nanti tuh ya kamu keluar dulu dari gerbang. Izin mau beli apa gitu yang sekiranya di warsis sama koperasi nggak ada. Gue tau kok kalo bentar lagi pak satpamnya ganti shif jaga. Masalah tas elo gue yang ngurusin. Siniin tas lo” kata Aka memberitahu prosedurnya.
mohon jangan di tiru ya readers🙏🙏
“Ka, perasaan gue kenapa nggak enak ya? “ tanya Vanya tiba tiba. Aka mendelikkan matanya malas.
“Perasaan elo doang kalik. Gue ngerasa biasa biasa aja kok” kata Aka santai sambil memasukkan tas Vanya yang kecil ke dalam tasnya yang lumayan besar.
“Bukan gitu! Masalahnya yang bakalan kenapa napa tuh elo Ka!!!!! “ kata Vanya sungguh sungguh. Aka tersenyum geli.
“Lo dapet vision? Tiba tiba dapet penglihatan gitu? Halah jangan ikut ikutan ketularan si Lop. Jadi indigo tuh nggak enak” kata Aka yang menganggap perasaan Vanya hanya bualan belaka. Vanya mendelik kesal.
“Gue nggak bohong Aka!!! Lihat aja nanti kalo lo kenapa napa, jangan salahin gue“ kata Vanya memperingatkan Aka.
“Mana tuh, gue malah penasaran nih” kata Aka sambil tertawa samar. Vanya lantas pergi meninggalkan Aka. Aka bersiap hendak keluar kelas, tapi langkahnya terhenti saat melihat Olla sang ketua kelas memasuki kelas sambil mengerutkan dahi. Walaupun Aka sempat terkejut, Aka mencoba setenang mungkin.
“Lo mau kemana Ka? “ tanya Olla terheran.
“Biasa gue mau ganti. Gue pergi dulu ya? Keburu banyak anak cowok gue jadi malu nanti” kata Aka sambil menutupi belakang tubuhnya dengan tas.
“Gue anterin ya? “ tawar Olla. Sebenarnya itu cuma akal akalan Olla saja agar bisa mencegah Aka keluar untuk bolos, mungkin.
“Jangan!! Kayak anak kecil aja ke kamar mandi pake dianterin” kata Aka menolak.
Bisa gagal nih acara bolosnya kalo Olla ngikutin. Batin Aka.
“Jangan bolos lo ya!!!! “ kata Olla memperingatkan.
“Nggak Olla ku sayang. Tenang aja, Aka udah tobat jadi nggak bakal bolos lagi” kata Aka sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
“Gimana cara gue buat percaya sama lo? “ tanya Olla tak yakin.
“Gini deh, nanti kalo gue lama nggak balik balik. Elo susulin aja di UKS, palingan nanti gue ketiduran di sana” kata Aka meyakinkan. Aka segera melenggang pergi sambil melambaikan tangan. Sesampainya di tempat yang di tuju, Aka di sambut teman temannya.
“Tumben lo paling telat sendiri, biasanya yang paling duluan” kata Emi heran.
“Biasa lah, ngibulun bu ketu dulu” kata Aka. Teman temannya hanya bisa ber O ria.
“Jadi girls, kita mau kemana nih? Kalo di sini aja nggak seru. Bisa ketahuan lagi” kata Missel.
“Gue beberapa hari yang lalu pesen tempat di Wisma Raya. Gimana kalo kita kesana aja? “ tanya Aka memberi usul.
“Ajib tuh. Aka paling pinter deh kalo kayak gini” kata Gissel sambil tersenyum.
“Iya, Aka paling mantul pokoknya” kata Bella sambil mengacungkan dua ibu jarinya. Ketujuh sahabat itu segera menjauh dari area gerbang sekolah. Mereka bejalan di trotoar sambil menceritakan pengalamannya masing masing.
“Eh tapi gue denger denger SMA Permadani Besi pulgas lo. Kita ke jalan yang lewat sana yuk. Sekalian cuci mata lihat cowoknya” kata Chiara sambil tersenyum sendiri. Teman temannya menyoraki, kecuali Aka. Wajahnya tampak pucat.
“Lo tuh kebiasaan cari cogan mulu tapi nggak keburu dapet pacar terus” kata Missel membuat semuanya tergelak keras menertawakan nasib Chiara, binar wajah Aka malah semakin memucat mendengar usul Chiara.
“Jangan lewat sana ya” kata Aka takut. Aka tau kalau Nicko sekolah di SMA Permadani Besi. Bukan hanya gagal bolos, Nicko pasti akan memarahinya habis habisan dan akan mengadukannya ke orang tuanya. Selama ini Aka memang terkenal suka bikin ulah di sekolah. Tapi belum pernah sekalipun orang tuanya di panggil ke sekolah. Itu karena semua kenakalannya tertutupi dengan kecerdasannya, jadi walaupun Aka kehabisan poin untuk membayar ketidak tertibannya, Ia mungkin masih selamat karena nilai dan prestasinya yang sering mengharumkan nama sekolahnya. Para guru dan karyawan sekolah pun tidak memiliki alasan untuk mengeluarkan Aka karena itu.
“Emangnya kenapa? Ada musuh lo? Atau.... “ Gissel mengantungkan perkataannya. Teman temannya mendekat penasaran kecuali Aka.
“Doi lo orang sana? Cie..... Asek pacarnya anak Permadani Besi tuh. Pasti keren dan cakep banget kan? “ tanya Gissel menggoda Aka. Teman temannya ikutan mengejek.
“Ih Aka curang banget sih?, pacaran sama anak sana nggak ngajak ngajak” kata Chiara yang heboh sendiri.
“Oh begitu toh. Pantesan kemaren waktu Devi ngajak elo ke Tokyoland elo nggak ngikut” kata Vanya membeberkan pengalamannya. Teman teman Aka yang lain segera menyoraki Huuu sambil menutup mulutnya dengan genit. Pipi Aka memerah sendiri.
“Bukan siapa siapa kok” kata Aka malu.
“Kalo bukan siapa siapa kenapa pipi elo merah gitu? “ tanya Missel mengejek.
“Elo lupa? Baby kecil kita itu emang yang paling putih kulitnya. Kalo diomongin kayak gitu dikit pasti bakal langsung tersipu. Eits gue lupa, sekarang Aka nggak boleh di sebut baby kecil lagi, kan udah punya pacar” kata Emi ikut menggoda Aka.
Aka sebal dan akhirnya berjalan mendahului ke enam teman temannya. Sampai suara motor di blayer mengagetkannya.
“Mau kemana lo? “ tanya pengendara motor itu membuat Aka kembali terkejut. Suaranya terdengar sangat familier. Aka menutup kuat kuat matanya. Ia berdoa semoga orang ini segera pergi.
Karena tidak di respon, si pengendara segera melepas helmnya dan segera turun dari motor ninja hitamnya.
“Oh jadi sekarang lo jadi pura pura budek ya?! “ tanya Nicko sarkas.
“Jangan ganggu gue, gue mau pergi” kata Aka sambil berdecih kesal.
“Terus gue bakal ngebiarin lo keluar sekolah waktu jam pelajaran masih dimulai gitu? Jangan ngimpi!! “ kata Nicko sambil tersenyum licik.
Teman teman Aka segera menghampiri Aka yang di cegat seorang cowok. Biasa lah namanya aja shohib, kebanyakan kepo kan wajar.
“Astaga Joshua Nickold!!! “ teriak Vanya histeris. Tak berapa lama teman teman Aka segera mengeluarkan ponselnya. Suara kamera menangkap gambar berbunyi bertubi dari ponsel teman teman Aka. Seakan akan mereka hanya mengalami momen itu satu kali seumur hidup.
“Ampun deh, kenapa temen temen gue pada nge-fans beruang kutub ini?!!! “ batin Aka frustasi. Aka memijat keningnya pening.
“Gila!!! Lo hebat banget bisa jadian sama Joshua Nickold Ka? “ kata Emi tak menyangka.
“Gue bangga banget punya temen kayak lo Ka” kata Vanya dengan mata berbinar. Aka mengernyit heran.
“Siapa juga yang bangga punya cowok kayak gini” batin Aka sebal.
“Boleh minta tanda tangannya nggak? “ tanya Gissel heboh. Yang lainnya segera mengikuti sambil mengeluarkan bolpen dan bukunya. Nicko tersenyum tipis melihat tingkah teman teman Aka.
“Aka boleh gue pinjem? “ tanya Nicko sambil menggandeng tangan Aka. Semua teman Aka langsung mengangguk antusias. Mata mereka masih menunjukkan tatapan kagum ke arah Nicko. Tanpa membuang waktu, Nicko segera menarik Aka ke tempat yang memungkinkan temannya tidak bisa mendengar.
“Lo kenapa buat ulah lagi? “ tanya Nicko dingin.
“Suka suka gue lah” kata Aka jutek.
“Oh gitu ya sekarang. Gimana kalo gue bilang suka suka gue bilangin ke Mami Papi? “ tanya Nicko mengancam. Aka membulatkan matanya sempurna.
“Kenapa sih lo suka ngaduin gue ke ortu gue? Kalo gue bikin kesalahan kenapa? Nggak ngaruh juga kok buat lo” kata Aka ketus sambil menahan amarahnya.
“Ada!! Karena gue suami lo!!! Apapun kesalahan elo itu jadi kesalahan gue juga” kata Nicko berapi api. Aka segera menempalkan jarinya ke depan bibirnya, mengintruksikan Nicko agar pelan pelan bicaranya. Nicko tersenyum miring.
“Oh jadi elo nyuruh gue diem gitu? Bagus ya udah berani nyuruh suami lo sendiri. Kita lihat kali ini siapa yang bakalan nurut “ kata Nicko segera mendekat ke arah Aka. Aka mengambil ancang ancang waspada.
“Lo, lo mau apa?! “ tanya Aka khawatir. Nicko segera berjalan ke arah Aka. Aka berjalan mundur agar tidak menabrak Nicko. Namun gerakannya terkunci setelah punggungnya menempel pada dinding sebuah bangunan. Aka membelalakkan matanya begitu Nicko mendekatkan wajah ke arahnya. Aka hendak lari, tapi tangan Nicko lebih dulu mengurungnya di tembok bangunan. Aka memejamkan matanya kuat kuat dan segera menutup mulutnya hingga tidak terdapat sedikitpun celah. Bahkan Aka mengulum bibirnya ke dalam mulut. Sesuatu yang kenyal tiba tiba menyentuh permukaan pipinya, tepat di sudut bibirnya. Detak jantung Aka terdengar cepat. Ia terkejut tiba tiba tubuhnya terangkat ke udara dan ketika membuka mata ia mendapati Nicko sedang menggendongnya seperti anak kecil.
“Haha sekarang kita tahu kan siapa yang bungkam? kalo lo masih nggak mau balik ke sekolah, jangan salahin gue kalo nanti lebih parah dari pada ini. Juga.......
“ kata Nicko sengaja menggantungkan kalimatnya sambil menatap intens bibir Aka dengan penasaran. Aka segera menutup bibirnya memampunya. Ia mencium sesuatu yang tidak beres dari tatapan Nicko kepadanya.
“Gue juga nggak keberatan kok kalo “itu” sekalian. Cuma di bibir kan nggak bakal ketahuan” kata Nicko sambil menyipitkan matanya. Aka memukul bahu Nicko agar menurunkannya. Ia benar benar ketakutan dengan introgasi Nicko saat ini.
“Turunin gue!!! “ teriak Aka sambil memukul dada Nicko keras.
“Lo harus tau, bolos itu bukan hobby yang baik” kata Nicko dingin.
“Iya gue tau. Cepet turunin gue!!!! “ kata Aka.
“Oh, tapi lo balik lagi ke sekolah “ kata Nicko memerintah.
“Iya!!! Buruan!!!!! “ kata Aka ketakutan.
“Gue anterin? “ tanya Nicko kembali.
“Terserah” jawab Aka singkat.
“Itu temen gue gimana? “ tanya Aka.
“Biar pulang sendiri. Pasti lo yang ngajakin kan tadi? “ tanya Nicko. Aka menggapinya dengan gumanan. Nicko segera tersenyum jahil dan menurunkan Aka.
“Ikut gue” kata Nicko sambil menggandeng tangan Aka ke motornya tadi.
“Kalian balik juga ke sekolah, gue nggak mau punya fans yang suka bolos sekolah kayak gini “ kata Nicko sambil menuliskan tanda tangannya ke kertas para fansnya. Mereka mengagguk setuju dan segera berjalan kembali ke arah sekolahnya. Nicko lantas menarik tangan Aka agar duduk di jok belakang. Aka hanya bisa menurut pasrah dari pada bibir sucinya menjadi taruhan. Nicko segera menyalakan mesin. Tak berapa lama, motornya segera melesat di jalanan yang lenggang.
“Akasia Violetta Joshua” kata kata itu muncul begitu saja dari mulut Nicko.
“Ngapain lo ganti nama gue? Nama gue tuh Akasia Violetta Brian, nggak ada Joshuanya! Paham?! “ kata Aka lantang diantara angin yang lewat bersama laju motor Nicko.
“Kan itu udah jadi nama lo sekarang ini. Nona Akasia Violetta Joshua istrinya tuan muda Joshua Nickold “ kata Nicko sambil terkekeh samar.
“Ihhhhh geli gue dengernya!!! Kayak cerita istrinya CEO di dalam novel aja!!! “ kata Aka sambil berdecih sebal.
“Kan emang elo istrinya CEO muda nan ganteng ini” kata Nicko dengan kepedean berlibat lipat.
“Bukannya elo paling seneng ya cerita istri CEO kalo lagi baca novel? Apa lagi kalo CEOnya oppa oppa Korea “ kata Nicko mengejek Aka.
“Sok tau banget sih lo?! Lo tau apa tentang korea? Kenapa lo sebel banget sih sama Korea? “ tanya Aka sambil masih memajukan bibirnya sebal.
“La elo kenapa sebel sama gue?” tanya Nicko kembali melempar pertanyaan Aka.
“Ihhhh nyebelin banget sih lo?! Tuhan segeralah pisahkan hamba dari mahluk narsis ini!!!!“ kata Aka terlihat berdoa.
“Jangan kabulkan Tuhan, biarkan dia selalu tersiksa denganku” kata Nicko sambil tersenyum.
“Diem lo!!!” kata Aka sarkas. Aka memutuskan untuk diam. Ia sudah jenuh berdebat dengan Nicko. Nicko tersenyum sendiri. Ia sudah menduga kalau Aka akan marah padanya.
“Jangan bolos lagi” kata Nicko setelah sampai di depan gerbang sekolah Aka. Aka tak menggubrisnya dan segera masuk ke dalam gerbang.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••
“Kita kemana? “ tanya Aka ketus saat menjemputnya pulang sekolah.
“Resto Wisma. Mubazir kan kalo elo udah pesen tempat tapi nggak ke pake. Atau jangan jangan elo pesen kamar sekalian. Sengaja mau nginep kan? “ tanya Nicko membuat Aka menjadi emosi.
“Bukan urusan lo!!!! Pulang aja ke rumah!!!!!! “ kata Aka jengkel dengan sikap Nicko. Aka mencengkram pinggang Nicko kuat, berharap Nicko akan kesakitan.
“Jadi mau dirumah aja nih? Tapi gue mau di Resto Wisma. Nggak masalah kan istriku tercinta??? “ tanya Nicko yang membuat Aka mual.
“Kagak!!!!! Buruan pulang atau gue turun disini? “ tanya Aka mengancam. Nicko tiba tiba menepikan motor dan berhenti tepat di sebelah trotoar.
“Silahkan kalo mau turun” kata Nicko sambil menaikkan sebelah alisnya. Aka melongo tak percaya. Ia benar benar tak habis pikir dengan sikap Nicko yang selalu tak terduga. Aka segera turun dan berjalan pergi.
“Hati hati kalo ada begal. Udah jam segini biasanya rawan” kata Nicko menakuti Aka. Aka berhenti. Tunggu, ia hampir lupa dengan waktu. Aish!!!!! Nicko benar benar cowok yang menyebalkan. Ingin sekali rasanya Aka mengikat Nicko dengan posisi terbalik di bawah jembatan selokan. Biar tau rasa Nicko dengan wajahnya yang sok sok an tidak punya dosa!!!!. Aka segera berbalik. Ia tidak punya pilihan lain selain pulang dengan Nicko. Dari pada ia pulang sendiri tanpa uang, siapa yang bisa menjamin keselamatannya? Lagi pula kenapa Nicko sengaja menurunkannya di jalanan yang rawan ini?!.
“Nggak jadi pulang sendiri?” kata Nicko mengejek karena Aka tiba tiba duduk di belakangnya. Aka hanya terdiam, ia benar benar malas berbicara dengan Nicko. Nicko menyunggingkan senyum kemenangan. Ia segera melajukan motor menuju rumahnya sebab tadi ia menerima pesan dari orang tuanya kalau mereka akan menginap di rumahnya. Bisa mati dia kalo ia pulang tanpa membawa Aka.
♡♡♡♡♡♡♡♡
“Den Nicko, Non Aka, tuan besar dan nyonya kesini” kata Bi Elis hormat ketika Nicko dan Aka sampai di rumah. Nicko mengangguk sekilas dan segera berjalan ke ruang tengah. Aka mengekor di belakangnya.
“Halo anakku sayang” sambut Sarah, Mama Nicko saat mereka datang. Sarah melebarkan tangannya hendak memeluk. Saat Nicko sudah dekat darinya, bukannya memeluk Nicko, ia malah memeluk Aka yang ada di belakangnya. Nicko mendengus kesal.
“Kamu sehat kan? “ tanya Sarah ramah pada Aka. Nicko kembali jengkel.
“Sehat Ma” jawab Aka santun sambil membalas pelukan Sarah.
“Mama jahat, Nicko masak di cuekin?! Kesini niatnya mau nengokin anaknya apa mantunya sih? “ tanya Nicko ketus. Sarah tersenyum kecut.
“Kalo cuma mau nengokin mantu Mama gimana? “ tanya Sarah menantang.
“Tuh pelukan sama Papa kamu aja” kata Sarah. Nicko mendekat ke arah Papanya.
“Apa kabar pa? “ tanya Nicko. Bukannya hendak memeluk. Papa Nicko hanya mengulurkan tangannya untuk di cium Nicko. Nicko kembali jengkel. Sarah malah tertawa.
“Itu dia sayang, Nicko sama Papanya nggak ada bedanya. Kalo buatin cucu jangan kayak mereka ya? Mama udah jenuh punya alien es dua ekor di rumah. Jangan kasih lagi ya? “ kata Sarah. Aka membalasnya dengan senyuman manis.
“iya Ma “ jawab Aka agak canggung.
“Mama nginep sini ya? Nanti Mama tidur sama kamu” kata Sarah membuat Aka lega. Akhirnya ia malam ini bisa terbebas dari Nicko.
“Jangan lah Ma, Aka kan maunya tidur sama Nicko “ kata Nicko khawatir. Ia takut kalau Aka akan mengadukan semuanya pada Mamanya.
“Apaan sih?! Mama tanyanya sama menantu kesayangan Mama, bukan anak alien es Mama. Gimana Aka? Kamu mau kan? “ tanya Sarah tiba tiba bersikap manis ketika dengan Aka. Aka tersenyum senang.
“Iya Ma. Aka malah seneng kok kalo tidur sama Mama” kata Aka sambil tersenyum manis.
“Tuh, menantu Mama aja mau kok. Nanti kamu tidur sama suami alien Mama yang nggak bisa di banggain” kata Sarah sambil melirik ke arah Vino. Vino hanya melirik sekilas dan kembali menghadap ke depan.
“Akhirnya gue bisa bebas dari si Nicko!!!! “ kata Aka bersorak dalam hati.
“Tapi kan Ma, Aka maunya tidur sama Nicko “ kata Nicko kembali. Sarah segera melotot marah.
“Nicko ini anak orang ya!!! Kamu jangan macem macem sama dia!!!!Kamu kenapa sih dari tadi nggak bolehin Mama tidur sama dia? Emang kenapa?! Kami mau buatin cucu sekarang?! “ tanya Sarah mencibir.
“Iya!!!!Lagian sekarang dia udah jadi istri aku kok. Sah sah aja kan?! “ jawab Nicko ketus sambil memalingkan muka.
“Jangan macem macem kamu!!!! “ kata Sarah memperingatkan.
“Salahnya siapa pake di nikahin segala” cibir Nicko pelan. Sayangnya Sarah masih bisa mendengarnya.
“Apa kamu bilang?! “ kata Sarah mulai naik pitam.
“Nggak papa, Nicko cuma lihat monyet lewat sambil ngomong” kata Nicko sambil memandang ke atap. Sarah segera menarik telinga Nicko ke atas.
“Kamu itu udah keterlaluan ya!!!!! “ kata Sarah geram. Nicko meringis kesakitan.
“Awww Ma sakit” rintih Nicko. Aka berusaha menahan tawanya agar tidak meledak.
“Istri tengil jangan ketawa!!! “ kata Nicko yang melihat Aka tersenyum sambil menggigit bibir.
“Coba bilang lagi!!!! “ kata Sarah mengeram. Nicko kembali merintih.
“Sekarang kamu berani ya ngatain menantu Mama yang tercinta tengil?!! “ kata Sarah sinis. Lama menjewer Nicko, Sarah menjadi tak tega. Ia akhirnya melepaskan tangannya dari telinga Nicko. Nicko mengusap telinganya yang mulai memerah. Vino masih saja memberi tatapan datar. Sedatar kaset DVD. Sarah mencoba menurunkan amarahnya. Ia berjalan ke meja patri untuk mengambil minum.
Tanpa sepengetahuan Aka, Nicko mendekat kearahnya.
“Jangan seneng dulu!!! Tunggu pembalasan gue!!!! “ kata Nicko mendesis sinis tepat di telinga Aka. Aka tersentak kaget dan langsung menjauhkan wajahnya.
“Apaan sih” kata Aka merinding dengan aura yang dikeluarkan Nicko saat ini.
“CUP” Nicko tiba tiba mencium sudut bibir Aka singkat. Aka menegang seketika.
“Rasain lo!!!! “ kata Nicko tersenyum penuh kemenangan.
“Hwaaaaa!!!!!! “ tiba tiba Aka menangis histeris. Nicko kebingungan.
“Perasaan cuma nempel doang. Ngapain sampai nangis nih anak??” Batin Nicko bertanya tanya. Suara tangisan Aka mulai mengeras. Sarah langsung menghampirinya.
“Aka ada apa? “ tanya Sarah khawatir sambil memegang bahu Aka. Aka masih menangis sampai air matanya tumpah kemana mana. Aka tak menjawab dan hanya memegang bibir bawahnya. Sarah yang tahu maksudnya langsung melirik tajam ke arah Nicko. Tanpa mengucapkan apapun, Sarah segera membawa Aka masuk ke kamarnya untuk menenangkannya.
“Nicko, kamu benar benar sadis “ kata Vino mendramatisir . Ia mengintrupsi Nicko agar mengikutinya. Nicko tertunduk dan segera mengikuti langkah Papanya.
“Habislah” batin Nicko merutuki dirinya sendiri.
Sementara itu, di dalam kamar Sarah masih sibuk menenagkan Aka yang tengah menangis kesegukan.
“Udah sayang udah, jangan nangis lagi” kata Sarah prihatin.
“Hwaaaaa!!!!! “ Aka masih saja menangis. Bahkan sekarang tangisannya semakin kencang hingga bahunya bergetar hebat. Sarah hanya bisa membiarkan Aka menangis sepuasnya.
“Ma..... “ panggil Aka yang masih kesegukan.
“Iya sayang? “ jawab Sarah antusias. Ia lega Aka akhirnya mulai tenang.
“Aku mau pulang ke rumah Mami Papi” kata Aka sambil mencoba mengontrol agar tangisannya tak meledak lagi. Ia sebenarnya malu kepada dirinya sendiri yang tiba tiba menangis tanpa henti di hadapan mertuanya. Sarah tersenyum manis.
“Tentu kamu bisa pulang ke Mami Papi. Kamu mau pulang kapan? “ tanya Sarah perhatian.
“Sekarang ya Ma? “ tanya Aka dengan mata sembabnya.
“Iya nggak papa, Mama akan antarkan kamu kesana” kata Sarah.
“Kamu ganti baju dulu ya? “ tanya Sarah baik. Aka mengangguk dan segera menuju kamar mandi untuk sekalian mandi. Sarah menunggunya hingga selesai.
Sementara itu, di dapur Vino sedang memarahi Nicko habis habisan.
“Papakan sudah bilang, kamu itu jangan macam macam sama dia!!! Kamu harus tau dong, kalian itu masih kecil. Belum pantas kalo mau kayak gitu!!! “ kata Vino berapi api. Nicko hanya bisa tertunduk menyesali perbuatannya.
“Pa, kunci mobilnya mana? Mama mau nganterin Aka ke rumah Lina dulu” kata Sarah saat turun tangga. Vino segera menyodorkan kunci mobilnya. Nicko keheranan dengan Aka yang membawa kardus. Entah isisnya apa.
“Loh Ma, Aka kenapa di ajakin ke rumah Papi Mami? “ tanya Nicko keheranan. Sarah hanya memandang datar.
“Masih tanya kenapa? “ kata Sarah sambil menunjuk Aka dengan dagunya.
“Aka mau pulang ke rumah orang tuanya. Mama harap seminggu ini kamu tidak menemuinya dan tidak mengaggunya” kata Sarah tegas. Nicko segera beranjak dari tempat duduknya.
“Nggak bisa gitu dong Ma “ kata Nicko mencegah. Entah mengapa ia seperti tidak terima kalau Aka pergi, walau itu hanya seminggu saja.
“Pa, urus anak kamu. Mama mau mengamankan putri kita dulu” kata Sarah sambil mengambil kunci dari tangan Vino. Vino mendelik heran.
“Anak Papa gimana? Ini anak kita loh Ma, kenapa cuma di sebut anak Papa doang? Buatnya bareng kok cuma di akui anak Papa? “ kata Vino mulai kambuh sifatnya. Astaga!!! Sekarang Aka bisa tau kalau sifat Nicko menurun dari Papanya. Benar benar sangat mirip, bukan lagi copy paste atau KW KW an nggak jelas. Klop banget dah mereka berdua.
Sarah memandang Vino dengan tatapan datar.
“Ayo sayang kita tinggalkan dua alien es dari planet neptunus ini” kata Sarah sambil mengandeng Aka keluar rumah.
“Papa gimana sih?! Bukannya nolongin malah tambah buruk kan!! Tuh istri aku barusan di ajak pergi Mama “ kata Nicko meracau.
“Kamu kira istri kamu doang yang pergi? Itu istri Papa juga baru pergi sama istri kamu “ kata Vino mulai tak jelas.
“Tapi kan istri Papa nanti balik lagi. Sedangkan istri aku seminggu nanti di rumah istrinya Papi Brian!!! “ kata Nicko ikut ikutan tak jelas.
Wes tho mulai rak jelas wong loro iki 😒😒😒😒.
Mereka berdua akhirnya diam setelah lelah berdebat. Pikiran Nicko menerawang. Apa Aka benar benar marah padanya karena kejadian tadi?
“Perasaan tadi nggak kena bibir deh. Ni author yang bikin sekate kate aja. Nggak jelas!!! Padahal kan tadi gue cuma nyium pipinya doang. Kenapa dikira nyium bibir?!! . Hadehhh!!!! Tau gitu mending di sosor sekalian aja kalau tau bakal marah. Eh tunggu, jangan deh. Nanti gue bakal dengerin pengajian yang bakal di isi langsung sama Ustadz Papa sama Ustadzah Mama, dan yang lebih membosankannya, yang jadi anggota jamaah cuma gue” batin Nicko sambil menggeleng gelengkan kepalanya kuat. Ia tak sanggup membayangkannya.
Sementara itu Vino sibuk dengan pikirannya sendiri. Kenapa istri gua nyalahin gua ya? Tuh kan gue bilang juga apa. Kalau nyidam tuh jangan ngidam es batu balokan. Udah dilarang masih aja ngeyel. Keluarnya jadi gini kan. Gitu kok yang di salahin gue. Dikirain waktu bikin sama nyetak salah posisi lagi. Nasib nasib punya bini kayak gitu. Ni anak juga, ngapain juga ikut ikutan sifat gue. Nggak kreatif banget. Waktu di alam rahim nggak punya cita cita jadi normal apa?. Ehhhh malah ikut ikutan gue. Kan kalo gini gue yang di salahin. Untung adiknya normal. Kalo nggak. Hehhh bisa dimarahin sama si Sarah gini “Papa!!! Mulai besok kita buatnya di sauna aja!!! Kalau kita buatnya di tempat biasa, nanti keluarnya kayak alien es semua kayak gini” Behhhh kapok gua. Batin Vino sambil memijit kepalanya.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Yuhu temen temen. Gimana ceritanya? Tambah uhuy kan?!!!!! Kalian tau nggak? Aku pertama kali nulis This Crazy mulai liburan tahun baru 2020 yang liburnya Cuma 10 hari sampai sekarang loh. Oh ya ngomong ngomong kapan ya virus korona pulang ke kampungnya?. Yuk kita berdoa aja biar bumi kita kembali ke sedia kala. Maaf juga nih ya kalo author updatenya nggak konsisten. Baru bisa update kalo ada ide aja. Terima kasih udah setia nungguin. Eh btw kalo Aka sama Nicko di jadiin pasangan paling savage gimana setuju nggak? Kalo nggak setuju, gue aja nih yang sama Nicko, Aka sama orang lain. Gimana? Pada setuju kan?. Emm gue mau curhat dikit boleh nggak? Gue tuh waktu nulis ni cerita kayak ngerasa bukan diri gue sendiri. Gue ngerasa kalo novel ini tuh yang nulis bukan gue. Gue aja nggak nyangka bisa bikin novel kayak gini. Percaya nggak ? Gue malah jadi mendalami kedua tokoh utamanya gara gara nulis novel ini. Sekian dulu ya? Pasti udah nggak sabar nungguin page selanjutnya kan?😘😘❤❤❤😊