
“I come from London Italy, Hongkong to Brazil, I segye eodiseolado nan nolaehali, el mariachi, el mariachi........ “ Aka mengulang apa yang dia dengar. Suara dari earphone benar benar membuatnya larut dalam dunianya sendiri. Kepalanya sampai bergerak kekanan dan kekiri mengikuti lantunan lagunya.
“Ka, udah siap belum? Kitakan mau ke....... “ Nicko terbelalak seketika. Mulutnya sampai melongo lebar. Ia tak habis fikir dengan Aka yang masih santai di lantai. Padahal sejak tadi Nicko sibuk menyiapkan segala sesuatu yang akan di bawa piknik.
“Ka!!!! “ panggil Nicko keras. Aka bergeming mengabaikan. Kepalanya masih bergerak sesukanya.
“Fine me and i gonna hit it go, eiiiyooooo kachowwa bring the pain on yeyyyy.... Eiiiyooooo.......... “ Aka masih sibuk sendiri. Nicko memijit pangkal hidungnya jenuh. Gadis itu memang over kalau sedang asik sendiri.
Nicko mendengus kesal. Ia berjalan mendekati Aka. Dengan perlahan, ia duduk di depan Aka. Nicko memasang wajah datar saat melihat Aka sedang memejamka mata sambil menikmati alunan musik yang ia dengarkan. Tanpa belas kasihan, Nicko menarik earphone di kepala Aka dengan kasar.
“Jichiji ana got no limit. Shimjangeun kungkung keep drumming..........“ Aka terkejut seketika. Tapi yang lebih membuatnya terkejut, Nicko menatapnya tajam. Aka meringis konyol.
“Nungguin ya? “ tanya Aka ramah. Ia tidak tahu kalau Nicko sedang dalam mode marah besar.
“Bagus ya, kemarin baru sembuh sakit giginya, sekarang udah nyanyi pake bahasa nggak jelas” kata Nicko dingin. Aka kembali meringis konyol.
“Seru tauk” kata Aka tanpa dosa. Nicko segera menggeret tangan Aka agar mengikutinya.
“Kita berangkat sekarang “ kata Nicko dingin. Aka hanya bisa pasrah saat Nicko menarik tangannya. Ia bahkan tidak peduli dengan ponsel dan tas selempangnya yang ketinggalan.
Nicko melajukan mobil dengan kecepatan pelan. Aka menggigit bibir bawahnya ketakutan. Ia benar benar nevous berada di dekat Nicko yang sedang dalam keadaan mode marah.
Aka masih menggigit bibirnya sambil menutup mata. Dalam hati ia berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada dirinya.
Nicko ternyata melihatnya. Saat lampu merah, Nicko menarik dagu Aka pelan. Aka terlonjak seketika saat giginya tidak menggigit bibirnya lagi.
“Jangan di gigit nanti berdarah” kata Nicko datar. Aka kembali mematung. Ia bingung harus bilang apa dalam situasi canggung ini.
Aka hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Nicko tersenyum sekilas tanpa di lihat Aka. Ia kembali fokus menyetir agar segera sampai di taman.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Mereka berjalan beriringan dengan santai menuju jantung taman itu. Nicko menggenggam tangan Aka dengan tangan kanannya. Tangan kirinya sibuk menggenggam pegangan keranjang piknik.
“Bentar gue gelar karpet dulu” kata Nicko saat menemukan tempat yang cocok untuk berpiknik. Aka menahan tangan Nicko. Nicko menoleh, meminta penjelasan dari tindakannya.
“Jangan disini, panas. Gue takut sun band” kata Aka merengek. Nicko menaikkan sebelah alisnya.
“Lo udah item, nggak usah kebanyakan gaya takut sun band” kata Nicko mencibir. Ia tersenyum tipis, sengaja mengejek Aka.
Aka mengerucutkan bibirnya kesal. Dia bahkan menejejak-jejakkan kakinya ke tanah dengan keras.
“Enak aja!!!!! Gue nggak item ya!!!! Nggak guna dong gue pake skin care” kata Aka sebal. Nicko hanya bisa mendengus sabar jika harus menghadapi gadis 15 tahun ini.
Nicko akhirnya mengalah dan mencari tempat yang lebih sejuk. Ia segera menggelar karpetnya.
“Duduk” kata Nicko yang melihat Aka masih melipat tangannya kesal.
“Seharusnya kan gue yang marah. Kenapa jadi Aka yang marah?” batin Nicko jenuh.
“Skin care lo gue juga yang beliin” kata Nicko pelan. Aka mendelik kesal.
“Mentang mentang lo tajir jangan boros jadi orang. Gue nggak mau di anggep cewek matre sama orang lain” kata Aka kesal. Sebenarnya itu hanya inisiatif Aka saja agar merasa tidak menjadi benalu bagi Nicko.
Nicko tersenyum tipis. Dia menarik tangan Aka hingga pemiliknya terduduk di tanah. Hampir, hampir, saja terjatuh di pangkuannya kalau Aka tidak mencegah.
“Ka, lihat gue” kata Nicko. Aka memalingkan muka.
“Nggak mau. Lo jelek” kata Aka ketus.
“Hilih giyi li biling gii jilik, nyitinyi li jigi siki kin simi gii? “ kata Nicko. Aka memutar bola matanya jengah.
“Najong!!!” kata Aka sarkas. Nicko terkekeh seketika.
“Gue serius. Lihat gue” kata Nicko lagi. Aka berdecak kesal.
“Apaan sih?!!! Sok serius lo” kata Aka jengkel.
“Plis Ka, apa susahnya sih lihat gue doang?. Iyadeh gue ngaku kalau gue itu jelek. Udah ya?, sini bentar lihat gue” kata Nicko masih membujuk Aka.
Aka menghela nafas pelan. Ia akhirnya mengalah dan menghadapkan wajahnya ke arah Nicko.
“Lo istri gue, lo minta apa aja sama gue nggak ada orang yang berani ngelarang” kata Nicko serius.
“Sok deh lo” kata Aka mencoba membuyarkan suasana yang Nicko buat serius ini.
“Gue serius Ka” kata Nicko penuh penekanan.
“Lo nggak usah sungkan minta apa aja dari gue” kata Nicko lagi.
Aka mendengus lelah. Walau bagaimanapun, Nicko selalu lebih realistis daripada dirinya.
“Gue tau itu. Tapi gue juga nyadar. Posisi gue itu istri lo. Bukan adik lo apalagi anak lo yang bisa minta seenaknya sendiri sama sesuatu yang gue suka. Jadi plis, biarin gue jadi lebih dewasa. Gue mau jadi istri yang baik. Maaf ya kalo gue sering labil, sering kekanakan sama lo” kata Aka lirih.
Nicko tersenyum seketika.
“Nggak papa Ka, itu udah jadi konsekuensi buat gue nikahin lo di waktu muda. Gue juga nyadar kalo gue masih jauh dari sempurna buat lo. Tapi, gue janji, gue bakal bahagiain lo. Cuma lo yang pertama dan terakhir buat gue” kata Nicko.
Aka menatap Nicko penuh. Ahh, bola mata itu sangat teduh membuat Aka betah berlama lama menatapnya. Hanya saja itu akan menjadi pengecualian jika Nicko sedang dalam mode menggodanya.
“Lo nggak perlu jadi sempurna buat bahagiain gue Nicko. Selagi kita masih bersama, itu udah cukup buat gue bahagia sama lo” kata Aka sambil tersenyum manis. Nicko juga ikut tersenyum melihatnya.
“Iya Ka, makasih” kata Nicko lirih.
“Lo jangan cari bini yang lebih bohay!!!!! “ kata Aka tiba tiba. Nicko tergelak seketika. Aka benar benar gadis yang unik. Buktinya dia bisa membuat suasana yang serius menjadi cair dengan kata kata luar biasanya.
“Gue nggak minat sama cewek manapun, yang di depan gue aja bisa gue bikin jadi bohay” kata Nicko sambil tetap tersenyum menawan ke arah Aka.
“Ihhhh dasar” Aka jadi malu sendiri. Nicko mulutnya memang tidak bisa dikondisikan
“Haha, udahlah. Kita kesini mau piknik, mau happy happy. Bukan mau adegan sinetron mellow” kata Nicko mengingat niatnya dari awal.
Aka mengangguk. Nicko mengambil sandwich dan mulai memotongnya menjadi bagian kecil. Yah, walaupun Aka itu makannya banyak, tapi mulut gadis itu begitu kecil. Nicko tidak mau membuatnya tersedak.
“Ko~~” panggil Aka tiba tiba. Nicko masih fokus dengan sandwichnya.
“Hmm” Nicko hanya berdehem singkat.
“Ko~~” panggil Aka lagi.
“Apa sih Ka? Gue baru motong roti nih” kata Nicko agak gemas.
“Tuh” kata Aka sambil menunjuk ke arahnya. Nicko mengernyit dahi.
“Apaan? Mau di cium? “ kata Nicko spontan. Pasalnya Aka menunjuk ke arahnya, tentu saja Nicko mengira Aka ingin di cium.
PLAKKKK!!!
Nicko meringis kesakitan saat lengannya di tampar keras dengan telapak tangan Aka.
“Tuh gue mau batagor. Pikiran lo bibir ketemu bibir mulu” kata Aka jengkel.
Nicko meringis tanpa dosa.
“Mang Ucup, sini mang” panggil Nicko. Mang Ucup segera menghampiri mereka berdua sambil mendorong gerobaknya.
“Pedes neng? “ tanya Mang Ucup saat menyiapkan bumbu batagornya.
Aka mengangguk antusias.
“Iya mang, banget!!! “ kata Aka seketika. Nicko melebarkan matanya.
“Hehhhh!!!!! Setengahan aja Mang pedesnya. Ni anak kalo sakit perut gue yang dimarahin sama emaknya” kata Nicko melarat.
Aka memanyunkan bibirnya kesal.
Aka memakan eclairs coklatnya selagi Mang Ucup membuatkan batagornya.
“Lo mau? “ tanya Aka sambil menyodorkan sepotong eclairsnya yang lain. Bukannya memakan eklairsnya, Nicko malah memperhatikan telunjuk Aka yang terkena lelehan coklat.
Nicko meraih tangan Aka dan menjilat jarinya dengan perlahan. Aka meneguk salivanya seketika. Dia malah salfok sendiri dengan bibir dan tatapan Nicko yang tajam ke arahnya. Nicko menyerigai seketika.
“Jangan salfok” kata Nicko sambil terkekeh renyah. Wajah Aka sudah pias kemerahan. Aka mengalihkan pandangannya seketika.
Ketika jarak dua jengkal, Nicko segera mengikis jarak mereka. Jantung Aka semakin berbenar kencang. Aka meneguk salivanya susah payah. Nicko semakin mendekatkan wajahnya. Ia juga tidak tahu dari mana datangnya gejolak ini.
Saat wajah mereka semakin dekat, Aka hanya bisa menutup mata gugup. Nicko juga menutup matanya. Debaran di dadanya semakin menggila.
Cup
Nicko segera menyatukannya.
Bukannya bahagia, Nicko malah mengerutkan keningnya bingung.
Testur bibir Aka terasa dingin, keras, dan rata. Apa ini rasanya berciuman?. Benarkah ini bibir Aka?. Mana mungkin bibirnya yang selalu kenyal bak jelly saat di pegang dengan jemari Nicko bisa serata ini saat di sentuh dengan bibir?.
Nicko segera memastikan kebanarannya saat rasa ingin tahunya tidak bisa di toleransi. Dengan perlahan ia membuka mata.
Nicko dengan reflek menjauhkan wajahnya saat melihat Mang Ucup tersenyum tanpa dosa ke arahnya sambil memegang mangkuk putih bergambar ayam jago yang baru saja dia cium. Sedangkan Aka sudah tertawa terpingkal pingkal didepannya sambil memegang perutnya.
Wajah Nicko merah padam seketika. Dia benar benar malu sekarang. Mang Ucup terkekeh geli.
“Ini tempat umum den, banyak anak kecilnya. Jangan bikin konten nggak layak” kata Mang Ucup.
Nicko memalingkan wajahnya kesal. Aka akhirnya berhenti tertawa dan hanya terkikik geli.
“Udah lama Mang jualannya?” tanya Aka mencoba menghilangkan atmosfir awkward ini.
“Aka!!!! Jangan tanya tanya!!!! Gue cemburu!!!“ kata Nicko tidak jelas.
“Biarin wleee” balas Aka tak menghiraukan rasakan aneh Nicko.
Mang Ucup terkekeh geli. Ia benar benar terhibur dengan kelakuan dua remaja ini.
“Baru sebulan lah neng jualannya. Amang mah Cuma bantuin ibu doang” kata Mang Ucap seadanya.
“Nggak kuliah Mang? “ tanya Aka semakin penasaran.
“Kuliah lah neng, Amang aja baru S2” kata Mang Ucap menjelaskan.
“Wah keren dong, emmm maaf ya mang. Kalau boleh tau, apa nggak sia sia S2 nya kalo cuma jadi pedangan batagor. Wajah mang Ucup lumayan juga loh kalo jadi artis. Jadi player lah, youtuber lah, vloger lah, bloger, atau instagramer gitu yang mecin dikit”
Mang Ucup terkekeh geli.
“Nggak perlu neng, Amang Cuma sementara doang kok bantuin ibu jualan. Lagian amang Cuma gantiin para pekerja yang nggak masuk”
“Oh gitu, jadi ibu mang Ucup pengusaha batagor? “
“Yah, kurang lebih gitu lah neng”
“Eh mang, udah punya istri belum? “
“Emang eneng mau ngantri biar amang lamar? “
“Boleh tuh”
“Haha, amang baru seminggu lalu nikah neng”
“Yah, pupus deh harapan Aka buat jadi istrinya mang Ucup”
“Haha, neng bisa aja”
“Aka!!!!!! Gue besok bakal nikahin lo!!!! “
“Paan sih, diem deh lo!!! “
“Eh mang, namanya masak ucup sih mang? “
“Nggak ucup sih neng. Nama asli mang ucup tuh Muhammad Yusuf, tapi biar pada gampang bilangnya sering dipanggil mang ucup sama anak anak yang jadi langganan saya”
“Ohhh begitu”
“Aka!!!! Gue cemburu!!!!!! “
“Ck, nggak usah malu maluin lah Nicko!!! “
“Maaf ya mang, orangnya emang sering kayak gini”
“Santai den, saya udah punya istri di rumah kok. Nggak bakal nambah lagi. Jaga Neng Aka baik baik ya den. Jangan di rusak dulu. Inget, kalo belum muhrim jangan kelewatan pacarannya. Jangan sampai di ajakin ke kamar”
“Tiap hari selalu masuk kamar kok”
“Ih, nge-halu aja lo. Maaf ya mang, kalo lagi PMS emang suka gini”
“Lah, elo yang PMS gue yang di salahin”
“Hahaha, aduh aduh. Heran deh sama kalian berdua, biasanya kalo orang pacaran tuh manis manisan, bucin bucinan, sayang sayangan, lah kalian malah berantem kayak Voltdemord ketemu Harry Potter”
Nicko melirik sinis.
“Kita kan limited adicion mang, sayang sayangan kita pake baku hantam. Kayak orang bilang, cewek galak kan seksi”
“Diem lu!!!! Gue tabok sini biar ko’it”
“Haha, emang benar kok den. Istri mang aja sebelas dua belas sifatnya kayak neng Aka. Tapi nggak papa den, punya istri galak tuh malah langgeng rumah tangganya”
“Kok bisa mang? “
“Nggak bakal ada yang berani ganggu. Baru mau spik ehhh, udah ngacir duluan orangnya”
“Haha iya mang. Gimana Ka? Lo mau gue seriusin sampai pelaminan kan? “
“Diem lu!!! Geli gua dengernya”
“Mang batagornya dong”
“Eh iya, bentar ya”