
Nicko POV
Suasana di sebuah rumah masih diselimuti duka. Langit yang mendung dan hujan yang turun seolah menggambarkan perasaan para anggota keluarga tersebut.
Itu adalah rumahku. Suara isakan tangis masih terdengar mendayu. Beberapa orang melayat sudah mulai pergi. Mama masih terisak akibat kejadian itu. Papaku masih senantiasa membacakan ayat suci Al Qur’an.
Sedangkan aku?, aku masih duduk dalam barisan para pemuda yang masih ikut mendo’akan.
Aku melihat kakek gue yang telah terbaring kaku dengan pandangan kosong.
Hatiku masih terasa sesak. Tidak ada suara tangisan yang keluar dari mulutku. Hanya tetesan air mata dari sudut mata yang menggambarkan perasaanku saat ini. Padih, ngilu, sakit. Ah, enta kata apalagi yang bisa mengungkapkannya.
Benar kata orang, jika ada seseorang yang meninggal, maka yang paling merasa sedih adalah keluarganya.
Aku masih tidak terima kenyataan bahwa kakekku pergi secepat ini.
Semakin lama hanya terlihat air mataku sudah kering sedari tadi.
Dan sekarang masih terlihat bekasnya pada pipiku. Tapi gue harus tegar.
Kata kakek anak cowok nggak boleh cengeng dan gue berusaha untuk membuktikan itu di hadapan jasad kakek yang telah terbaring kaku.
Seseorang berjalan ke arahku tiba tiba.
“Yang sabar ya bray” kata Surya menenangkaku sambil menepuk bahu.
“Makasih bro” kataku sambil mencoba tersenyum.
“Gue tahu ini berat buat elo, tapi jalanin aja apa yang udah Allah takdirkan buat elo” kata Surya.
“Tumben elo tiba tiba bijak” kataku menggoda Surya.
“Lahhh ni anak kebiasaan. Dibilangin malah ngejek” kata Surya sambil berdecak. Aku lantas menyunggingkan senyum. Itu mungkin tak seberapa, tapi cukup untuk membuat hatiku terhibur walau sedikit.
“Kakak..... “ panggil adikku, Rara . Ia berjalan mendekat ke arahku. Aku terkejut dan berusaha membersihkan sisa air mata di pipi gue.
Rara berjalan dengan pelan dan hati hati sambil sesekali menoleh sekitarnya dengan bingung. Melihat semua orang di sekitarnya yang sedang khusuk membuat Rara merasa gundah, mungkin.
“Kakak habis nangis? “ tanya Rara polos. Aku mencoba tersenyum sebisa mungkin.
“Nggak kok, Kakak tadi habis kelilipan. Makanya matanya berair” kataku pedih. Andai tidak demi membuat adikku tenang, mungkin aku tidak akan berani bohong dengan adikku.
“Kakek kenapa Kak?” tanya Rara sambil menunjuk ke arah Kakek yang terbaring tenang. Aku bingung harus menjawab bagaimana. Aku menggigit bibir bawahku.
“Kakek lagi tidur “ kataku mencoba tenang.
“Kok lama? “ tanya Rara lagi.
“Kakek kecapean, makanya lama” kataku, lagi.
“Kalo kecapean kenapa cuma di tutupi pake jarit? “ tanya Rara.
“Nggak papa, Kakek sendiri yang minta Ra” jawabku. Aku tau, adikku terlalu kecil untuk tau apa itu perpisahan karena kematian.
“Aku mau main sama Kakek” kata Rara mengagetkanku.
DEG!!
Jantungku seolah berhenti sekejap. Aku bingung harus bilang apa pada adikku.
“Jangan ya, Kakek lagi istirahat” kataku berusaha menyembunyikan kesedihanku. Namun Rara tetap ngeyel ingin bermain dengan Kakekku. Tanpa memperdulikan perkataanku, dia berjalan mendekati Kakekku. Semua orang hendak mencegah, tapi tidak ada yang berani.
“Kakek.... Main sama Rara yuk” kata Rara membuat perasaanku semakin sesak. Rara mengguncangkan bahu Kakek pelan. Aku segera menghampiri.
“Kakek, ayo kita main. Jangan tidur terus” kata Rara lagi.
“Udah Ra, udah. Jangan ganggu Kakek “ kataku menahan tangis.
“Kakek kanapa nggak bangun bangun Kak?Kakek marah ya sama Rara? Makanya Kakek nggak mau main sama Rara” kata Rara mulai terisak.
Perasaanku jadi semakin sesak.
“Nggak Ra, nggak. Kakek nggak marah sama Rara. Rara kan tahu kalau Kakek sayang sama Rara” kataku mencoba menenangkan adikku.
“Trus kenapa wajah Kakek pucat? Kakek sakit apa Kak? Kenapa nggak bangun bangun? Kenapa tidurnya di tengah orang ngaji? “ tanya Rara mulai menangis.
Hatiku terasa ngilu luar biasa dengan keadaan saat ini. Sampai tak sadar aku merundukkan kepala, menahan rasa perih yang menghujam di hatiku.
“Apa Kakek udah nggak ada? “ tanya Rara tiba tiba . Seisi rumah langsung kalut mendengarnya. Semua merasa pilu mendengar pernyataan dari Rara.
“Kakek, kakek nggak boleh gini. Bangun Kek, bangun!!!” kata Rara mulai terisak setelah lama tak mendapat respon dari Kakek.
Tanpa menunggu waktu lama, aku bergegas memeluk Rara erat.
“Udah Ra, udah. Kakek udah pergi. Kita harus sabar” kataku sambil ikut terisak.
“Hu... Tapi hekh, kenapa hekh, harus gini Kak.... hekh, hekh, hekh. Aku nggak mau Kakek pergi. Tadi malem kan Kakek masih sama kita” kata Rara semakin keras tangisannya.
Aku baru ingat tadi malam Kakek memintaku menemaminya tidur. Ketika tengah malam, Kakek terbangun untuk shalat tahajjud bersama. Tapi aku menolak dengan alibi masih sangat mengantuk dan hanya meminta Kakekku untuk mengambilkan air minum.
Setelah mengambilkan air minum, Kakek pergi untuk shalat tahajjud. Aku menyesal, kalau saja tadi malam aku mau menemani Kakek, aku mungkin masih mempunyai waktu lebih banyak dengan dengan Kakek. Bahkan mungkin saja kalau aku tidak membiarkan Kakek tidur lagi, mungkin Kakek masih ada sampai sekarang. Ah, tidak ada yang bisa kembali dari penyesalan. Walau di sesali seperti apapun tetap saja tak membuahkan hasil apapun. Karena yang menentukan akhir hidup seseorang hanyalah Allah SWT saja.
💜💜💜
“Eh ngomong ngomong, elo lihat nggak tu cewek yang duduk di pojok sana?, dari tadi gue lihat, dia merhatiin elo terus tauk!! “ kata Surya agak berbisik. Aku mengarahkan pandanganku ke arah yang di maksud Surya. Gue melihat seorang gadis yang berumur lebih muda dariku yang sedang tersenyum malu malu sambil curi curi pandang ke arahku.
“Bukannya itu anak yang selalu rangking 1 di kelas A? “ tanya Surya.
“Mana gue tau” kataku tak acuh.
“Ish ni anak!!!. Elo lupa? Itu anak kan yang dulu tau bikin sekolah kita heboh gara gara dia kelewat pinter. Harusnya dia kan baru masuk kelas VIII, tapi gara gara dia kelewat pinter dia jadi seangkatan sama kita. Wahhh parah lo bray, kalo gue jadi elo. Pasti langsung gue pacarin tuh cewek. Udahlah terima aja, dia kan udah nunjukin tanda tanda kalo dia welcome sama elo. Nunggu apa lagi coba?! “ kata Surya sambil bersungut sungut. Aku memutar bola mata jengah.
“Kalo elo mau, pacarin aja sono. Nggak usah tawarin gue” kataku cuek.
Surya sempat tertegun.
“Mana mau cewek kayak gitu sama gue? “ kata Surya sambil cemberut.
“Heh gue bilangin ya! Tu cewek emang pinter, cantik, manis, dan perfect. Tapi elo harus inget!! Dulu dia sering mampir ke BK gara gara kebanyakan ulah” kataku dengan jelas memberi isyarat penolakan.
Surya senlat terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Kalo kayak gitu, pacarin aja bray!!! Gue tau pasti elo bisa ngerubah tu cewek” kata Surya yang membuatku terkejut.
Surya melihatku yakin sambil menganggukan kepala.
Aku mencoba mencerna lagi kata kata Surya.
Pacaran.... Sebuah kata yang terdengar asing bagiku.
💜💜💜
**Utututu gimana readers, masih kuat baca? Mon maap ni ya, gue awalnya nggak mau sih buat cerita yang prolognya sedih. Tapi yah..... Mau gimana lagi, kan dari awal gue udah bilang, ini hasil karya dari kestresan gue waktu nggak ada ide buat ngelanjutin Oh my pegasus. Dari pada gue dikirain buat cerita plagiat dari novel lain, mending gue buat sendiri walaupun masih acak acakan kan? Kalian tau kenapa prolognya gue pake kakeknya yang meninggal? Itu sih gue kepikran aja waktu nenek buyut gue meninggal. Hiks......... Pray for my grand grandmother.
Ups sorry ya, gue masih kepikiran soalnya hehe.
Eh kenapa gue jadi curhat ya?, sekali kali lah, nggak papa kan? 😊😊😊
Tbc**