The Unidentified Project

The Unidentified Project
BAB 8



Para polisi sudah menyiapkan tim spesial untuk menyergap wilayah Distrik 2. Sebuah kantor pemerintahan sangat besar seperti Istana. Hampir seluruh wilayah Distrik 2 menyerupai satu istana penuh. Di dalam halaman istana pemerintahan tersebut terdapat beberapa gedung – gedung lainnya yang membentuk kotak dan saling berhadapan. Konsepnya hampir mirip dengan museum Smithsonian, yang membedakan adalah tidak ada sungai atau danau di tengah wilayah tersebut.


Kotarou dan Shirou siap bersiaga untuk memastikan tidak ada yang keluar atau pun masuk ke area Distrik 2.


“Kau yakin ada disini?” tanya Shirou.


“Anak itu telah menunjukkan jalannya.”


“Iya, tapi kita belum tahu siapa pelakunya.”


Mendengar hal tersebut Kotarou kemudian mematung. Ia terlihat sangat kebingungan ketika Shirou berbicara.


***


Galuh sangat menikmati dengan mobil yang dikendarainya. Dengan kecepatan penuh, mobil tersebut menyalip setiap mobil di jalan raya. Hina pun sampai ketakutan saat dirinya menyetir di jalan raya dengan ugal – ugalan.


Aku ingin muntah. Kata Hina dalam hatinya sendiri sambil menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Galuh selalu saja menaikkan dan menurunkan persnelingnya. Hal tersebut ia lakukan adalah selalu menjaga kecepatan di bawah rata – rata.


Setibanya di perbatasan distrik, mereka melihat polisi me – lockdown distrik 2. Galuh pun mulai kehabisan akal, bagaimana cara agar dirinya bisa masuk ke distrik 2. Satu – satunya cara untuk masuk adalah menghubungi orang dalam. Namun Galuh tidak memiliki nomor ponsel Shirou.


Hina masih terus menahan untuk muntah.


“Jika kau ingin muntah, segera muntahlah di luar sana.”


Hina membuka pintu mobil, lalu keluar dan pergi ke rerumputan. Ia merasa sangat mual.


Galuh membuka ponselnya untuk melihat beberapa berita. Kemungkinan yang ada dalam pikiran Galuh adalah para polisi berusaha menutup tempat ini agar pelaku tidak dapat kabur.


Galuh pun melihat keluar jendela. Terdapat seseorang yang tengah mengenakan tudung coklat yang menyatu dengan pakaiannya. Para ritual biasanya mengenakan seragam tersebut. Galuh kemudian turun dari mobil lalu mengampiri Hina.


“Hina, kau tunggu disini.”


Galuh pun pergi meninggalkan Hina dan mengikuti orang misterius tadi. Ia berjalan masuk melalui gang – gang kecil yang diapit oleh kedua gedung.


***


Shirou kebetulan lewat dan dirinya bertemu dengan Hina yang tengah menunggu di dalam mobil berwarna abu – abu tersebut. Kaca mobil tersebut tidak terlalu gelap, sehingga baik di dalam maupun di luar tetap kelihatan. Shirou kemudian mengampiri di mobil tersebut dan mengetuk kaca.


“Pak polisi.”


“Panggil saja Shirou, itulah namaku. Kita belum kenalan kan sejak tadi?”


“Ah iya, Hina,” jawab Hina sambil menundukkan kepalanya.”


“Dimana teman laki – lakimu?”


“Aku tidak tahu, tadi katanya dia hanya bilang menyuruhku untuk menunggu disini. Aku tidak tahu kemana dia pergi.”


Shirou pun merasa kasihan dengan Hina. Namun tiba – tiba saja melihat sebuah gang kecil dan gelap yang diapit oleh dua gedung tinggi.


“Kelihatannya aku tahu kemana temanmu pergi.”


Hina mendongakkan kepalanya. “Eh…”


“Temanmu sangat penasaran dengan kasus ini. Jadi aku tahu kemana dia akan pergi. Kemungkinan terbesar, dia tengah mencari petunjuk lagi. Namun aku takutnya jika dia sendirian…” Shirou pun terdiam sejenak. Dia memikirkan sesuatu yang buruk yang mungkin akan menimpa teman Hina.


“Dia sendirian bukan?” tanya Shirou.


“Iya sendirian.”


Shirou kemudian mengeluarkan pistolnya. “Kita akan mengejarnya, dia sedang dalam bahaya.”


***


Galuh melihat orang misterius yang mengenakan tudung kepala tersebut tiba – tiba saja hilang dari pandangannya. Gang tersebut sangatlah gelap. Kejahatan atau bahaya apapun dapat menimpa dan mendatangkan hal – hal yang tidak diinginkan.


Galuh kebingungan dan tidak dapat menemukan petunjuk di tempat tersebut karena sangat gelap. Namun tiba – tiba ia melihat sebuah pintu. Pintu tersebut tidak seperti pintu pada umumnya. Dia kemudian mengampiri untuk melihat pintu itu sejenak.


“Pintu, ini sangat kuno. Berbahan dasar dari kayu.” Sekali lagi, Galuh melihat pintu tersebut dengan seksama. Namun terdapat sebuah tulisan. “Pintu kuno gerbang Akari.”


“Apa ini pintu pandora?”