The Unidentified Project

The Unidentified Project
BAB 9



Shirou dan Hina pun masih berdiri di depan gang yang sangat gelap tersebut. Pantulan cahayanya begitu sedikit sehingga yang ada di depan mereka masih sangat gelap.


“Sangat gelap, biasanya tempat semacam ini layak untuk digunakan sebagai kejahatan. Namun yang satu ini lorongnya begitu berbeda,” kata Shirou sambil menggenggam pistolnya.


“Bagaimana kau bisa tahu ini berbeda?” tanya Hina.


“Aku sudah sering mengurusi hal seperti ini sebelumnya. Tapi lebih baik memang kau duluan yang masuk. Aku akan melindungimu dari belakang.”


Mereka berjalan perlahan. Tidak ada suara selain suara langkah sepatu. Shirou terus membidik untuk memastikan tidak ada orang yang mencurigakan untuk menyerang.


“Ngomong – ngomong, Hina. Apakah temanmu itu adalah sahabatmu atau pacarmu?” tanya Shirou.


“Sahabat, dia adalah sahabatku sejak SMP. Memang seperti itulah dirinya, selalu saja cuek dan tidak pernah memperhatikan sekelilingnya. Dia merasa tidak mempedulikan apa kata orang lain,” ujar Hina.


“Kau terlihat menyukainya.”


Hina pun terhenti dan menoleh ke belakang. Sosok Shirou itu gelap karena pantulan cahaya yang masuk membuat Shirou tidak terlihat dengan jelas.


“Ada apa?” tanya Shirou.


“Aku tidak menyangka ada yang bisa menebak sisi hatiku. Aku memang selalu menyukai dirinya. Namun entah mengapa dia tidak pernah memperhatikanku. Dia selalu saja memikirkan dirinya sendiri.”


“Maaf, aku tiba – tiba menanyakan hal ini. Tapi lebih baik mungkin kau hanya perlu berusaha lebih keras lagi.”


Mata Hina pun berbinar – binar saat mendengar nasihat dari Shirou. Hal ini mengingatkan pada dirinya sendiri saat masih SMA. Kisah cinta masa muda memang menyenangkan. Namun dirinya kini tidak bisa merasakan hal tersebut karena tugas berat yang kini mereka kerjakan. Setiap hari selalu saja ada kejahatan yang terjadi. Seandainya hal tersebut tidak ada, dunia ini akan damai untuk selamanya.


Mereka berdua melanjutkan jalannya.


***


Pintu pandora adalah pintu yang di dalamnya terdapat hal – hal yang buruk yang selalu menimpa umat manusia. Kata tersebut memang berasal dari kotak pandora. Pintu kuno gerbang Akari sendiri memang berbeda bentuk dari pintu lainnya. Namun yang membuat dirinya curiga adalah, mengapa pintu ini masih ada disini.


Galuh penasaran, dia ingin membuka pintu kayu tersebut. Ia kemudian mendorong pintu tersebut. Terbukalah pintu tersebut. Terdapat jalan menurun. Tidak ada cahaya, yang ada hanyalah kegelapan.


Saat berusaha masuk, tiba – tiba ada yang berteriak.


“Polisi Akari.” Suara tersebut tidak asing di telinga Galuh. Ia sangat kenal betul dengan suara tersebut. Suara yang berat dan menamakan dirinya polisi Akari.


“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Shirou.


“Tidak apa – apa, lupakan hal tersebut, aku memang berniat untuk memanggil polisi.”


Galuh kemudian membalikkan badannya. “Tempat ini sungguh unik.”


Shirou melihat ke dalam ruangan yang begitu gelap. Tidak terlihat dengan jelas apa yang ada di dalam sana. Yang ada hanyalah sebuah tangga menuju ke bawah.


“Apa kau tahu tempat ini?” tanya Galuh.


“Tidak, alangkah baiknya jika kau memanggilku Shirou.”


“Baiklah, aku Galuh.”


“Hina, keluarlah dia adalah temanmu.”


Sosok Hina kemudian muncul dari samping tempat sampah. Ia bersembunyi di sana karena ditakutkan akan ada hal – hal yang tidak diinginkan.


“Gelapnya.”


“Iya, ada satu cara untuk mengeceknya.” Ujar Galuh. “Kita akan masuk, lebih baik Shirou, kau menghubungi teman – temanmu. Aku merasakan sesuatu yang ganjal disini.”


Shirou kemudian berbicara melalu walkie talkienya.


“Galuh, bagaimana cara kamu mengetahui kalau tempat ini sangat mencurigakan?” tanya Hina.


“Pintunya, pintu ini adalah pintu kuno yang dulunya digunakan oleh penduduk Akari. Aku berani mengatakan kalau pulau ini bukanlah pulau reklamasi. Pulau Akari adalah sebuah pulau asli. Hanya saja mengapa hal tersebut ditutupi semua akan terungkap setelah ini.”


Shirou kemudian kembali kepada mereka. “Jadi, apa langkah selanjutnya?”


“Kita akan masuk.”


Galuh mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senternya. Sangat gelap sekali. Mereka bertiga kemudian turun memasuki tempat tersebut.