
Di malam yang tengah hujan tersebut seorang mahasiswi masih mengerjakan beberapa tugas di ruang organisasi. Ruangan tersebut terlihat sangat sepi dan tidak ada orang sama sekali. Hanya dirinya seorang yang berada di ruangan tersebut.
Sesuatu tengah datang di lorong ruangan fakultas yang begitu gelap. Terdengar suara langkah sepatu. Lantai pun terlihat sangat basah.
Mahasiswi tersebut langsung merasa tidak enak dengan hawa sekitar. Raut wajahnya ketakutan. Terdapat papan nama di jaket almamaternya yang bertuliskan Linda. Ia mengambil jaket tersebut dan pergi dari ruangan tersebut.
Saat keluar dari ruangan tersebut, sesosok orang tengah berdiri jauh di kananya. Ia kemudian mengunci pintu dan berjalan dengan sangat cepat. Sosok tersebut mengikuti mahasiswi tersebut.
Dengan cepat sosok tersebut mengeluarkan pisau belati dan menusuk mahasiswi tersebut tepat di depan halaman Fakultas. Mahasiswi itu terjatuh, darahnya berceceran dimana – mana. Hujan seketika tengah berhenti juga tepat pukul 00.00.
“Seandainya kau mau mendengarkan proyekku, kau mungkin masih hidup hingga saat ini.”
Sosok manusia yang mengenakan tudung itupun pergi meninggalkan mayat mahasiswi tersebut yang bernama Linda.
***
Keesokan harinya…
Kaca pada apartemen Galuh berembun. Ini efek karena semalam hujan sangat deras. Galuh masih teringat apa yang terjadi tadi malam. Tidak banyak berpikir dia bergegas ke kamar mandi. Setelah itu ia menyalakan TV dan membuat sarapan.
[Terjadi pembunuhan di Universitas Akari. Korban bernama Linda. Mayat Linda sendiri ditemukan di halaman Fakultas oleh mahasiswa bernama Randri-]
Mendengar kabar tersebut Galuh kemudian menghentikan mengaduk teh yang ada dihadapannya.
[Pembunuhan ini kemungkinan besar terjadi saat malam hari, kini polisi masih menyelidiki kasus kematiannya.]
Galuh kemudian mengabaikannya dan kembali mengaduk tehnya. Setelah itu ia bergegas menuju kampus. Saat tiba di depan Fakultas Seni dan Budaya. Galuh sedikit terkejut melihat apa yang ada dihadapannya. Banyak sekali polisi dan wartawan. Seketika Hina pun muncul dan menarik tangan Galuh.
“Kau sudah dengar beritanya?”
“Aku baru saja mendengar, aku pikir ini terjadi di Fakultas lain.”
“Kau mengenalnya?”
“Tidak, tapi aku tahu siapa Linda ini.”
“Kau tidak berniat untuk membantunya?”
“Maaf, tapi aku bukan detektif. Tapi aku hanyalah seorang mahasiswa.”
“Tapi kecerdasanmu mungkin bisa digunakan untuk hal semacam ini. Kau tahu polisi kesusahan untuk mencari siapa pelakunya.” Kata Hina.
***
Dua orang polisi memasuki TKP. Mereka berjalan dengan gagah. Pakaian seragamnya berwarna biru dan di sabuknya terdapat pistol berjenis p99. Polisi satunya lagi mengenakan jaket kulit, kemungkinan dia adalah seniornya.
“Kau tahu bagaimana dia bunuh?” tanya Kotarou pada polisi setempat.
“Sepertinya dia ditikam dibagian belakang pak, saya melihat lukanya berada di punggungnya pendarahannya tidak berhenti, itulah yang membuatnya tidak terselamatkan.” Jawab salah satu polisi setempat.
“Lalu dimana mayatnya?” tanya Kotarou.
“Sudah di rumah sakit, sekarang sedang ada pengotopsian.” Jawab polisi yang bertugas menjaga disitu.
“Junior, Shirou aku minta kau untuk menanyakan orang sekitar. Korban ini bernama Linda.”
“Baik pak!”
Shirou pun kemudian mencari informasi tersebut di area Fakultas.
Kotarou pun bergegas ke mobilnya dan berjalan menuju rumah sakit untuk memeriksa mayat Linda. Cukup menyusahkan hal ini bagi Kotarou. Beberapa bulan yang lalu sempat terjadi invasi besar – besaran terhadap kota Akari. Namun hal itu berhasil dihentikan oleh Kotarou. Semoga saja kejadian beberapa bulan lalu tidak terjadi kembali. Itu yang diharapkan oleh Kotarou.
***
“Jadi, seberapa banyak informasi yang kau dapat?” tanya Galuh pada Hina.
Saat ini mereka sedang berada di kafe luar Universitas. Galuh menuruti permintaan Hina karena paksaan dan kebetulan juga Hina mengenal siapa Linda ini. Bisa dibilang teman dekat.
“Tidak banyak, aku sudah menanyai beberapa teman – temannya. Katanya semalam memang dia berada di kampus saat hujan tengah turun,” jawab Hina. “Dirinya katanya sedang mengonsep untuk acara besar.”
“Acara?”
“Aku tidak tahu acara apa yang akan digelarnya ini. Tapi yang pasti ini adalah sebuah konsepan acara.”
“Dimana dia mengonsep hal ini?”
“Di ruangan organisasi. Tapi kita tidak dapat masuk ke ruangan tersebut. Karena kunci dari ruangan tersebut telah ditahan oleh pihak APD (Akari Police Departement).”
Galuh pun mulai memikirkan bagaimana cara mendapatkan kunci tersebut. Yang pasti tidak memiliki cadangan. Kunci itu hanya dibawa oleh ketua organisasi Fakultas.
Galuh menyandarkan dirinya pada kursi yang dia duduki. Seketika pesanan mereka berupa coklat panas dan kopi datang. Galuh masih tidak bisa memikirkan hal ini. Ruangan di kafe tersebut memang sangat dingin namun sempit. Hal ini membuat Galuh susah berpikir.
Dirinya pun berdiri dari bangku kemudian keluar dari kafe tersebut. Hal ini terjadi ketika dirinya memang benar – benar tertekan.