
Mereka berempat berlari menuruni tangga untuk menghindari para komplotan mafia tersebut. Galuh tidak menyangka akan terlibat sejauh ini. Karena pintu masuk sudah dikepung, tidak ada cara lain untuk memutar. Galuh mengeluarkan pistol yang dia ambil. Ia memastikan pelurunya masih banyak.
“Kau yakin bisa menggunakannya?” tanya Hina dengan tidak yakin.
“Tenang saja, aku pandai dalam melakukan hal ini. Karena dulu aku pernah berlatih tembak sungguhan,” jawab Galuh dengan tersenyum dan melihat pistol yang berada di tangannya. “Jenis pistol ini P99.”
Kau bahkan sampai mengetahuinya. Batin Hina.
Mereka kemudian berjalan menelusuri lorong gedung utama Fakultas yang begitu gelap. Mereka berjalan dengan perlahan untuk memastikan para mafia tersebut tidak mendengar langkah kaki mereka.
Meski mereka berempat berhasil keluar dari gedung Fakultas, tetap saja mereka susah mengakses menuju mobil.
“Tadi, kau bilang mobil itu anti peluru kan?” tanya Galuh pada Hana.
“Iya, itu benar,” jawab Hana. “Okelah kalau begitu waktunya chaos.”
Galuh kemudian berjalan perlahan melalui area yang tidak terdeteksi oleh penglihatan para mafia tersebut. Dirinya menyelinap dibalik bayang – bayang tengah membawa pistol untuk berjaga – jaga. Ketika dirinya berhasil meraih mobil, Galuh membuka pintu mobil dengan perlahan. Keberuntungan yang tidak terduga karena tidak ada mafia yang menatap mobilnya. Dirinya kemudian masuk dan menyalakan mesin. Lalu mobil tersebut bergerak menabrak dua mobil lain yang terpakir.
Seketika senjata yang dibawa oleh para mafia itu mulai menembaki mobil Aston martin. Untungnya tidak ada peluru yang tembus. Kemudian, Aston tersebut memutar balik dan mengampiri mereka bertiga. Setelah tiba, Galuh kemudian membuka pintu dan menyuruh mereka bertiga untuk segera bergegas masuk. Galuh kemudian menancap gasnya dan berhasil kabur dari tempat tersebut. Mereka kini akan segera berangkat menuju ke Distrik 5.
“Galuh, ada satu hal yang tidak ku pahami,” ujar Hina. “Bom tersebut, katanya kau melihat sebuah peringatan untuk segera bergegas pergi ke Distrik 2 karena ada bom disana dan bagaimana bisa Hana mengetahuinya?”
“Simpel, biarkan aku saja yang menjelaskannya,” jawab Galuh. “Manekin yang ada di kamar mandi perempuan itu milik Hana. Hana kemudian membuat sebuah pesan bahwasanya akan ada bom di distrik 2. Namun sebelumnya, Hana mendapat pesan yang tidak lain dan tidak salah pesan tersebut berasal dari Leo. Mungkin saat itu terjadi perdebatan yang sangat hebat. Leo kemudian mengunggah rencana mafia tersebut. Alhasil mereka mengincar Hana yang dimana keluarga Hana dan keluarga Linda adalah pengusaha dan sudah menjalin kerja sama. Mau tidak mau Hana harus menuruti Leo.”
“Iyap itu semua benar,” jawab Leo. “Setelah itu aku diculik, karena mereka mengetahui jika aku membocorkan rencana mereka. Tapi bagaimana kau bisa tahu aku membuat alurnya?”
“Karena di ruangan organisasi Linda pasti suka merapihkan dan tidak mengacak mejanya. Kau telah masuk ke dalam ruang organisasi dan membuka data festival sebagai jalurnya,” jawab Galuh.
“Tapi jika kau tahu bom, mengapa kau mengikuti orang misterius?” tanya Hina.
“Aku teralihkan. Pada saat itu semua mengalihkannya sebenarnya jalan kita sebenarnya sudah dibelokkan oleh mafia tersebut.”
“Jadi selama ini kita…”
“Yak, kita dimanipulasi. Tapi untungnya cepat terungkap,” jawab Galuh. “Tolong telepon Shirou, kita sudah menemukan pelakunya.” Pintanya.
Hana mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Shirou.
[Halo?”]
“Shirou, segera temukan bomnya, kami akan kesana. Kami telah menemukan pelakunya.”
[Ah baiklah, tapi kita tengah mencari bom tersebut. Akan ku kabari pada Kotarou.]
“Baiklah.”
Hana mematikan ponselnya.
“Para kepolisian tengah mencari bomnya.”
Galuh menganggukkan kepalanya.
“Ada yang ingin kau tanyakan lagi, Hina?”
“Sebenarnya masih ada yang mengganjal,” jawab Hina. “Kalau tidak salah berita yang lalu bukan yang akhir – akhir ini sedang trend. Tapi bagaimana kau bisa mengungkapkannya dengan mudah.”
“Saat aku berada di gerbang bawah tanah, aku sempat membuka ponsel. Saat itu kalian belum datang. Aku mendapat sebuah notif dari seseorang yang tidak dikenal. Aku pikir itu adalah hal iseng ternyata aku pun membukanya. Dirinya menunjukkan kabar tentang keluarga Linda karena kehilangan putrinya. Aku akhirnya iseng untuk mencari berita tersebut di internet dan alhasil. Aku membuat ini agar kita tetap ikuti alurnya.”
“Mengapa?”
“Karena jika kita mengikuti alur sang pengirim kita akan terbunuh, bukan begitu kah Leo. Sejak siang tadi kami sudah diincar?”
“Yaps, itu benar. Kalian diincar sejak siang.” Jawab Leo.
“Aku sungguh kagum, kau tidak dibunuh.”
“Iya, aku sebelumnya sempat membuat perjanjian. Aku disuruh untuk mengungkapkan kematian Linda dan menyerahkan diri pada polisi.”
“Yak, itu tepat sekali.”
“Sial, memang ada berapa mafia di kota ini?”
Galuh menginjak maksimal gasnya dan mobil tersebut melaju sangat cepat. Jalan raya kota Akari kembali rusuh dengan mobil – mobil mafia yang dimana penumpangnya mulai menembaki Aston martin.
Memindahkan gigi dua dan menginjak rem sedikit lalu berbelok hingga posisi badan mobil ikut berbelok. Roda ban kemudian berbelok ke arah berlawanan. Drift ditikungan sedikit membuat para mafia terkecoh karena belokannya yang mendadak.
Galuh berusaha memancing para mafia tersebut ke distrik 5. Rencana ini hanya beradasarkan logika yang dibuat oleh Galuh. Polisi juga sedang menutup akses kesana.
Kejar – kejaran makin membuat suasana kota kacau. Para penduduk pun mulai menunduk untuk menghindari tembakan – tembakan dari dua mobil mafia tersebut.
“Galuh, mungkin lebih baik kita...”
“Tenang saja Hina, semua sudah ku rencanakan. Bukan saatnya ragu – ragu sekarang.”
Di perbatasan distrik 2 dan distrik 5 polisi tengah berjaga. Namun mereka kemudian melihat mobil yang berada di depannya menuju ke arah mereka.
“Perlukah kita menghentikannya?” tanya polisi pada temannya.
“Mungkin…”
Mereka melihat mobil tersebut bukan melambat tapi malah semakin cepat. Ketika mobil tersebut mendekat kedua polisi tersebut segera melompat untuk menghindari tabrakan. Galuh berhasil menabrak perbatasan. Dirinya turun sendirian dan bersembunyi dibalik pintu mobil. P99 kemudian dikeluarkannya dan mulai menembak penjahat tersebut.
Seketika juga Kotarou pun datang dengan Shirou dan mulai menyerang para mafia tersebut dengan pistolnya. Kedelapan Mafia tersebut berhasil dilumpuhkan. Seluruh teman – teman Galuh ketakutan di dalam mobil dan merasa sedikit lega.
“Jadi, apa yang kau dapat nak?” tanya Kotarou.
“Apa kalian sudah menemukan bomnya?” tanya Galuh. “Bom tersebut masih ada disini.”
“Belum, bagaimana denganmu?”
“Mafia tersebut adalah pelakunya. Linda tidak terlibat dengan legenda tabu tersebut,” ujar Galuh.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Kotarou.
“Sangat konyol sekali jika ada orang yang mau menunjukkan budayanya malah dibunuh. Lagipula ini karena mafia tersebut dendam dengan perusahaan yang dipegang oleh orang tua Linda. Maka dari itu anaknya yang dibunuh sebagai rasa kesal tersebut.”
“Lalu bagaimana kau bisa mengikuti alurnya padahal ada beberapa legenda dikaitkan dalam kasus dan analisimu?”
“Itu karena Leo.”
Leo turun dari mobil dan mulai menjelaskan kejadiannya. Akhirnya polisi mulai paham dengan cerita yang terjadi.
Seketika walkie talkie Shirou berbunyi. [Kami berhasil menemukan bomnya.]
Mendengar kabar tersebut Shirou kemudian melaporkan pada Kotarou. Galuh dan lainnya kemudian lega setelah mendengar kabar tersebut.
“Syukurlah kalau begitu,” kata Kotarou. “Jadi siapa pelakunya?”
“Kemungkinan merpati tidak, Birds. Itulah nama organisasinya,” jawab Galuh.
“BIRDS?” Kotarou terkejut saat mendengar nama tersebut.
“Mengapa?” tanya Shirou.
“BIRDS adalah nama organisasi mafia internasional. “Aku tidak menyangka jika organisasi ini berani berbuat ulah disini.”
“Baiklah, kasus ini akan ditutup. Kalian bisa beristirahat.”
Galuh kemudian melihat ponselnya yang sudah menunjukkan jam empat pagi. Seketika dirinya melihat matahari mulai terbit. Hina kagum saat melihat matahari mulai terbit. Warnanya menyinari kota Akari. Menandakan hari baru di kota Akari.
“Jadi, kalian tidak ikut?” tanya Galuh pada Hana dan Leo.”
“Tidak, rumah kami dekat.” Jawab Hana.
“Baiklah, Leo, kau sudah bebas.”
Leo menganggukkan kepalanya. Galuh kemudian naik mobil bersama Hina. Dirinya melihat Hina dengan tersenyum. Lalu mobil Aston tersebut berjalan dan mulai memasuki area distrik 5.