The Unidentified Project

The Unidentified Project
[FLIGHT TO LONDON] BAB 2



“Maaf, tapi kita tidak bisa mengijinkan kalian untuk pergi ke London,” jawab Kotarou. “Data tersebut memang seharusnya jadi milik IAF dan kita tidak layak untuk ikut campur dengan hal tersebut.”


Kotarou tengah duduk di meja kerja dengan dikelilingi oleh Galuh, Hina dan Shirou. Pernyataan tadi memang ada benarnya. Sebaiknya mereka menyerahkan masalah ini pada Owen saja. Galuh juga akhir – akhir ini tidak mau melibatkan Hina dalam misi yang cukup bahaya lagi.


Hina dan Galuh kemudian berpamitan dan pergi meninggalkan kantor APD. Ya kali ini hanya perlu melakukan kegiatan – kegiatan yang sedikit bermanfaat. Semenjak saat itu Galuh tidak pernah bisa istirahat sejenak karena mimpi buruknya. Kesalahpahaman yang dilakukan oleh Owen seolah – olah hanyalah acting belaka.


“Jadi Hina di hari yang cerah ini mau ke mana?”


“Ke mana ya, aku inginnya ke mall. Kau tahu Mall yang ada di distrik 3. Aku belum pernah ke sana.”


“Kupikir kau sudah pernah ke sana, dilihat dari sikapmu menunjukkan jika kau sudah pernah kesana.”


Hina kemudian tertawa kecil. DBS pemberian Hana rusak parah sehingga kini Galuh akan lebih sering berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum. Perjalanan menggunakan bus sebelumnya sudah sering dilakukan oleh Galuh saat masih belum mendapatkan mobil tersebut.


Suasana yang sangat umum, tidak terlalu ramai untuk hari kerja begini di siang hari. Meski begitu terasa seperti hari libur. Hina hanya terdiam dan memandangi pemandangan kota.


“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Hina.


“Tidak ada, paling mengisi waktu luangku dengan menonton anime.”


“Tidak ada yang lain?”


“Tidak, jika APD membutuhkanku, aku pasti akan turun dan membantu mereka. Itu saja tidak ada hal lain lagi yang dapat aku lakukan dalam hidup ini.”


“Begitu ya…”


Bus pun tiba dalam halte. Galuh dan Hina turun dari bus. Tepat di hadapannya, mall terbesar di Akari menjulang tinggi dan besar. Cukup unik sebagai kota kecil yang memiliki mall terbesar.


“Satu – satunya mall di kota Akari.”


“Satu – satunya?” tanya Hina.


“Ya, satu – satunya, Akari Mall & Departement Store, Mall dengan fasilitas terlengkap di Akari. Bioskop, tempat berbelanja, tempat bermain dan lain – lain.”


“Ngomong – ngomong, bisakah kita mencari makan dahulu, aku sangat lapar.” Ujar Hina.


Galuh kemudian melihat jam yang ada di ponselnya. Waktu yang tepat untuk makan siang. Meski baru keluar dari rumah sakit, Galuh memang tidak dianjurkan untuk keluar rumah tersebut. Namun dirinya lebih suka melanggar karena tubuhnya sudah agak baikkan meski pada kecelakaan sebelumnya tidak ada yang patah.


Beruntung sekali dirinya masih hidup hingga kini. Namun itu tidak akan menghantuinya jika Galuh merasa sedikit trauma.


Memasuki mall yang begitu besar dan ramai dengan hall yang sangat luas. Banyak orang yang berlalu – lalang melewati mereka berdua. Ini juga pertama kalinya Galuh pergi ke mall bersama Hina.


Udara sejuk yang dikeluarkan oleh AC dalam mall tersebut sedikit mengurangi hawa panas yang ada diluar. Suhu terpanas kota Akari saat siang hari. Ini sudah resiko berada tempat tropis. Meski begitu terkadang Hina masih ingin melihat salju.


Hujan dan musim kemarau, dua cuaca ini menemani kehidupan sehari – hari kota Akari. Bagaimana pun juga Akari memang tempat yang terbaik untuk berlibur dan menjalankan bisnis.


Galuh kemudian menemukan sebuah restoran ramen saat mereka berkeliling di dalam mall terbesar tersebut.


“Selamat makan,” ujar keduanya saat ramen tiba di atas meja mereka.


Setelah selesai, Hina dan Galuh beranjak untuk naik ke lantai dua. Mereka berjalan sambil melihat beberapa toko – toko yang berjualan. Toko buku, toko pakaian, dan lain sebagainya. Saat asyik tengah melihat toko – toko tersebut, Galuh merasa ada yang janggal di sebelah kananya. Baru saja ada bayangan yang jatuh dari lantai atas. Galuh kemudian lari menuju pagar untuk melihat ke bawah. Seseorang tergeletak di lantai dan berceceran banyak darah. Orang – orang di bawah mulai mengerumuninya.


“Apa yang terjadi?” tanya Hina.


“Bunuh diri?”


***


Beberapa saat APD datang dan mulai membuat jarak dengan antara pengunjung dengan TKP. Shirou kali ini akan memimpin investigasi ini.


Galuh kemudian mengampiri Shirou yang sedang berjalan menuju TKP.


“Shirou,” panggil Galuh.


“Kita bertemu lagi rupanya,” jawab Shirou.


“Kelihatannya dia bunuh diri, aku melihatnya dia terjatuh dari lantai atas.”


“Baiklah. Itu akan berguna ada lagi yang ingin disampaikan?”


“Tidak ada.” Jawab Galuh.


“Kau ingin melihatnya?” tanya Shirou.


“Jika kau membutuhkan bantuan.”


Galuh kemudian mengikuti Shirou berjalan dengan diikuti oleh Hina. Korban terbaring dan berceceran darah. Matanya terbuka dan tidak tertutup. Shirou kemudian berjongkok dengan Galuh.


“Bau alkohol?” tanya Galuh.


“Aku juga menciumnya, dia pemabuk.”


“Adakah yang lain?”


Shirou kemudian meraba korban tersebut untuk mencari bukti yang bisa dijadikan petunjuk. Dirinya kemudian menemukan sebuah dompet di dalam kantongnya.


“Ferdinand, pemilik Akari Mall.” Ujar Shirou. “Apa ini ada kaitannya dengan BIRDS?” tanyanya.


“Tidak,” jawab Galuh. “Orang ini terjatuh dari lantai atas. BIRDS tidak mungkin melakukan atraksi konyol dihadapan publik ini.”


“Lalu apa yang kau pikirkan?”


“…”


“Jika ini bukan ulah BIRDS lalu ulah siapa lagi?” tanya Shirou.


“Biarkan aku berpikir sejenak,” jawab Galuh. “Lebih baik kita tanyakan pada keluarganya.”


“Dia berstatus belum menikah.”


“Karyawannya, karyawannya yang sangat dekat dengan orang ini, kita juga bisa melihat lantai paling atas. Kemungkinan dia terjatuh dari lantai paling atas.”


“Lantai sembilan?”


“Bisa jadi, selama aku tidak salah menebak.”


Galuh dan Shirou kemudian berdiri dan beranjak menuju lantai paling atas.


“Galuh,” panggil Hina.


“Bolehkah aku ikut?” tanyanya.


“Tentu saja.”


Mereka bertiga kemudian menuju lantai paling atas. Setibanya di lantai delapan, tiba – tiba saja eskalatornya menuju lantai sembilan tidak berfungsi. Dan juga terdapat sebuah tulisan ‘dilarang masuk’.


“Maaf tuan tapi lantai atas masih tahap renovasi.” Jawab salah satu petugas yang muncul di belakang mereka.


“APD,” jawab Shirou. “Bosmu telah meninggal karena bunuh diri. Namun saya pastikan dia sedang tidak bunuh diri.”


“Silahkan kalian naik ke lantai atas, akan saya antar.”


Lantai sembilan memang benar – benar sedang direnovasi. Lantainya masih berupa semen yang belum dipasang keramik. Udara sangat pengap dan berdebu. Tidak ada karyawan atau pekerja yang sedang bekerja di lantai sembilan ini.


“Pekerja hari ini sedang libur. Ini perintah dari bos Ferdinand,” kata petugas keamanan tersebut.”


“Alasannya?” tanya Shirou.


“Tidak tahu.”


Galuh melihat sebuah pagar pembatas rusak. Terlihat seperti triplek yang patah. Dia juga melihat bekas darah yang berceceran namun tidak terlalu banyak dan juga seretan. Korban diseret lalu terjatuh. Begitu yang ada di kepala Galuh. Lalu juga terdapat jejak yang baru.


“Menurutmu apa ini?” tanya Galuh pada dirinya sendiri.


Sebuah jejak sepatu seperti sepatu perempuan. High heels, terlihat seperti sepatu tersebut. Satu titik di belakang dan berbentuk agak memiliki ruang di depannya.


“Hina.”


Hina kemudian mengampiri Galuh yang sedang melihat jejak tersebut.


“Kau mengenal jejak ini?” tanya Galuh.


“Seperti High heels, satu titik tapi ada berbentuk di depannya.”


“Sudah kuduga.”


“Apa maksudmu?”


“Ini masih perumpamaan saja,” Galuh melihat ke arah pagar yang rusak tersebut. “Pembunuhnya dipastikan adalah wanita. Mungkin bisa saja teman atau kekasih, aku tidak tahu pasti tapi yang jelas pembunuh kenal dekat dengan pria tersebut.”


Shirou kemudian selesai untuk mewawancarai petugas keamanan yang mengantar mereka.


“Apa yang kau dapat, detektif?”


Galuh kemudian menjabarkan apa yang dia bicarakan dengan Hina. Begitu Shirou memahaminya. Berarti tersengkanya adalah perempuan teman dekat tuan Ferdinand.


“Bisa saja, dia mantan istri atau sebagainya yang memiliki dendam dengan tuan Ferdinand,” ujar Galuh. “Yang aku inginkan adalah mencari tahu siapa pelakunya. Kalau bisa hubungi seluruh wanita yang pernah dekat dengan Ferdinand.”


“Masuk akal, aku akan menghubungi Fubuki di kantor pusat.”