The Unidentified Project

The Unidentified Project
BAB 14



Setibanya di pintu gerbang Universitas Akari yang sangat megah. Mereka melihat Universitas itu kosong dan tidak ada orang sama sekali. Suasananya begitu sepi. Lampu jalanan berkedip – kedip. Galuh memperlambat kecepatan mobilnya di jalanan yang sepi itu.


Seketika ponsel milik Hana berbunyi kembali dengan nomor yang sama seperti sebelumnya. Hana mengangkatnya.


[Kau sudah sampai?]


“Pintu gerbang dimana kau?”


[Jika kau mau tahu tepatnya berada di Fakultasmu. Disanalah aku berada. Tempat yang sungguh sepi bukan?]


“Baiklah aku akan kesana.”


Hana kemudian menutup teleponnya.


“Kemana?” tanya Galuh.


“Fakultas Seni dan Budaya, mereka disana.”


“Semakin jelas, jika semua ini hanyalah pengalihan semata,” kata Galuh. “Pengalihan yang sangat masuk akal.”


“Apa maksudmu?” tanya Hana.


“Mereka masih ingin mengambil berkas tersebut. Hal terparahnya adalah mengapa berkas dengan proyek yang belum jelas, mereka masih mengincarnya.”


Galuh kemudian menambah kecepatannya menuju Fakultasnya. Setibanya di depan Fakultas, mereka tidak melihat ada seseorang sama sekali di dalam sana. Salah satu cara untuk mengeceknya adalah masuk ke dalam Fakultas tersebut.


Galuh memakirkan mobilnya, lalu mereka bertiga turun dari mobil. Sangat mencurigakan bagi Galuh. Dirinya masih memikirkan ada sesuatu yang terlewatkan. Mereka kemudian berjalan ke dalam Fakultas dengan perlahan. Suasananya begitu mengerikkan. Suasananya benar – benar sepi. Tidak ada seorang pun.


“Apa yang membuat para penjahat itu tertarik menggunakan lokasi ini?” tanya Galuh.


“Entahlah, apa fakultas ini memiliki sesuatu yang belum terungkap sehingga mereka menggunakan Fakultas ini sebagai jebakan?”


“Aku tidak tahu, mungkin ada lagi yang lain.” Ujar Galuh.


Mereka berjalan menuju lobby, Tiba – tiba ponsel Hana bergetar dan mengeluarkan notif dari nomor yang tidak dikenal tersebut.


[Pergilah ke rooftop.]


Karena perintahnya begitu, mereka akhirnya mencari tangga yang menuju rooftop. Tempatnya fakultas saat malam memang sedikit menyeramkan. Tidak salah jika kebiasaan para mahasiswa suka menyebarkan rumor horror. Setibanya di rooftop, mereka bertiga melihat seseorang yang mengenakan tudung cokelat.


“Aku sudah disini apa maumu?” tanya Hana pada orang tersebut.


“Kau tahu cara memecahkan kodenya?” tanyanya.


“Tidak, aku tidak tahu, itu adalah rahasia kelam kota ini yang tidak boleh diketahui oleh publik.”


“Begitu ya,” pria tersebut kemudian membalikkan badannya. Dirinya membuka tudungnya. Seketika Galuh tiba – tiba mengenal pria tersebut.


Semua juga kebingungan dan tidak percaya apa yang dilihatnya. Seseorang yang begitu terkenal dan merupakan satu organisasi dengan Linda.


“Tidak mungkin…”


Galuh kemudian tertawa lepas dengan apa yang dilihatnya. Tidak mungkin penjahat sungguhan akan menggiring mereka ke Fakultas. Hina dan Hana kebingungan saat Galuh tertawa.


***


Para polisi tengah mengamankan distrik 5. Mereka membentuk barikade dan memblokir para pejalan kaki dan juga kendaraan.


“Shirou, anak tersebut bilang jika ada bom di distrik ini, aku ingin kau mencari bom tersebut. Dimana pun berada, bom tersebut harus segera dicari.”


“Baiklah.”


Shirou menghubungin informasi tersebut kepada seluruh polisi yang bertugas di distrik lima maupun yang tengah mengamankan. Ini sebagai antisipasi saja agar tidak akan ada lagi kesalahan yang sama seperti sebelumnya.


***


Beberapa hari sebelumnya, saat rapat pelaksanaan festival di Akari, Leonard memperhatikan isi rapat yang dibahas Linda saat itu tengah menjelaskan materi yang akan disampaikan terkait dengan festival tersebut. Setelah berakhir, Leo tidak sepakat dengan hasil rapat tersebut.


Linda kecewa dengan seluruh anggota yang kebanyakan tidak setuju dengan konsep tersebut. Kemudian, dirinya menyendiri di ruang rapat. Leo datang mengampirinya.


“Linda, seharusnya kau mengubah konsep mu itu, kau tahu di luar sana tidak akan senang dengan acara yang akan kau selenggarakan. Lebih baik kau harus menelusurinya lebih dalam.”


***


Galuh kemudian tersadar kembali, semua rangkaian yang selama ini diselidiki memang berkaitan dengan legenda yang tabu itu.


“Jadi begitu rupanya, Leo,” kata Galuh. “Kau memang sengaja menyuruh Linda untuk menelusuri sisi gelap kota Akari yang dimana hal itu sangat tabu. Kau memang pintar sekali. Tapi setidaknya apa yang dijelaskan oleh Linda itu sebuah kode. Kode yang akan mengantarmu ke sisi kelam kota Akari.”


“Ada satu hal yang kau lupakan, mengapa aku membunuhnya. Karena dia memang tidak setuju dengan konsep tersebut. Maka dari itu aku membunuhnya. Konsep tersebut sudahlah menarik tapi mengapa tidak ia buka lebih dalam lagi.”


“Hanya orang bodoh lah yang akan membunuh temannya karena hal sepele. Kau akan ditangkap pada hari ini karena kau telah membunuh Linda dan alasanmu memang tidak berkelas sama sekali. Kode tersebut memang ada yang menuju pada kisah kelam kota Akari. Namun kau sangat bodoh jika kau tidak mengetahui lebih dalam konsep tersebut. Kata – kata yang terdapat dalam konsep tersebut sudahlah menjadi harta karun yang tak boleh diungkapkan. Alasan yang sungguh konyol. Kedua ini pasti bukan ulahmu, pasti ada atasanmu yang menyuruhnya melakukan hal ini.”


Seketika Hana, Hina, dan Leo terkejut dengan ungkapan Galuh. “Aku tahu itu bukan kamu Leo. Namun, ini adalah ulah ******* tersebut. Pengakuanmu tadi pasti hanyalah sebuah akting cerita yang konyol. Sebenarnya Linda dibunuh bukan karena proyek tersebut.”


“Apa maksudmu?” tanya Hina.


“Hana, kau dan Linda sudah berteman kan?” tanya Galuh.


“Ah, iya. Memang begitu, kami sudah teman kalau tidak salah sejak kecil itupun karena kedua orang tua kami kebetulan sudah saling mengenal.”


“Lihatkan, sebenarnya kita selama ini sudah membelokkan fakta.”


“Aku tidak paham.” Ujar Hina sekali lagi yang pusing harus mengingat kembali kejadian hari ini.


“Baiklah akan ku mulai ulang kejadian hari ini. Berawal dari sebuah cinci perak merpati. Cincin tersebut bukanlah sebuah cincin pertunangan. Kedua simbologi yang selama ini kita ikuti memang menuju pada jalannya dan aku memang sudah mengira kalau semua ini sudah disiapkan sejak awal. Artinya Leo lah yang menunjukkan jalan tersebut. Kau pasti telah melihatnya pada malam itu. Malam kematian Linda karena dibunuh oleh orang misterius. Mungkin kau melihat kejadian tersebut saat Linda sudah terbaring. Lalu kau berusaha membuat pingsan pelaku tersebut dan kau mengambil cincinya. Kau juga membuat skenario tentang petunjuk kemana jalan pikiran penjahat tersebut melalui berbagai alur. Alur yang kau ambil adalah jalan simbologi. Ilmu tentang simbol dan juga beberapa bait. Apa itu benar?, kau memang sengaja untuk membuat semua ini. Dan alasannya Linda dibunuh karena orang tuanya tidak mau bekerja sama dengan komplotan mereka.”


“Semua itu benar, tapi aku juga sekarang ini dalam keadaan bahaya. Aku diancam oleh para penjahat tersebut karena telah membuat bukti yang kuat. Mereka juga akan mengancam akan membunuhku saat ini.” Jawab Leo.


“Mereka siap membunuhku jika kau tidak memanggil polisi. Dan misi mereka selanjutnya adalah Distrik 5.”


Sektika terdengar suara decitan ban mobil dibawah sana. Galuh melihat dari pagar tersebut. Terdapat dua mobil yang di dalamnya terdapat empat orang. Mereka turun dengan membawa senjata thompson.


“Siapa mereka?” tanya Hina.


“Merpati perak, organisasi mafia tingkat internasional,” kata Galuh. “Kita harus keluar dari sini.”