The Unidentified Project

The Unidentified Project
BAB 13



“Galuh, bukannya aku sudah memperingatkanmu?” tanya Hana dengan sebal.


“Maaf, aku melupakan hal itu, kau tahu tadi siang ada seseorang yang tengah masuk ke dalam acara ritualmu,” jawab Galuh.


Suasana di tempat tersebut masih dalam pemadaman oleh beberapa pemadam kebakaran.


“Tunggu, kau bilang kau mengikuti seseorang yang masuk ke dalam ritual tadi siang?” tanya Hana.


“Iya seperti itu, kurang lebih.”


Seketika, ponsel Hana pun berbunyi. Hana mengambil ponsel tersebut dari saku jaket yang ia kenakan. Ia membuka ponsel dan hanya terdapat nomor tak dikenal. Hana melihat sekelilingnya.


“Apa boleh?”


“Tentu saja,” Galuh mempersilahkan Hana mengangkat telepon tersebut.”


Hana mengangkat telepon tersebut.


[Hana, kau merupakan anak dari perusahaan yang ikut serta dalam pembangunan kota Akari.] suara terlihat sangat berat.


“Siapa kau?” tanya Hana.


[Aku hanyalah warga biasa, sekarang kita beri dua pilihan, menyerahkan dirimu tanpa polisi atau distrik 5 akan hancur lebur.]


“Siapa kau dan apa maumu?”


[Aku sudah mengatakannya sebelumnya. Sekarang temui aku di distrik 4 Universitas Akari.]


Telepon kemudian terputus. Hana seketika ketakutan. Ia tidak menyadari akan terlibat sejauh ini.


“Apa yang terjadi?” tanya Galuh.


“Distrik 5 dalam bahaya, aku harus menyerahkan diri.”


“Tunggu, apa maksudmu?”


“Aku harus menyerahkan diri atau distrik 5 akan hancur.”


“Siapa menelepon, apa kita perlu polisi?” tanya Galuh sekali lagi.


“Tidak, kita tidak akan membutuhkan polisi. Aku harus kesana, jika kita membawa polisi, maka distrik 5 akan hancur,” jawab Hana. Dirinya ketakutan setengah mati saat mendapat nomor yang tidak dikenal tersebut.


Shirou pun mengampiri mereka yang tengah merundingkan sesuatu. Tugas yang dijalankan Shirou telah selesai. Tidak ada korban yang terluka dan kebetulan gedung pada hari ini kosong tidak ada orang satupun.


“Ada masalah apa?” tanya Shirou.


“Hana telah diteror oleh seseorang katanya dia akan menghancurkan distrik 5 jika Hana tidak segera bergegas diri,” ujar Hina.


“Apa?” tanya Shirou dengan tidak percaya.


“Kita akan mengantarmu.”


“Tidak,” potong Galuh. “Kita tidak bisa membawa polisi, aku punya rencana bawa seluruh polisi ke distrik 5 dengan begitu tidak akan ada yang terluka lagi. Tapi aku tidak tahu apakah rencana ini berhasil atau tidak.”


“Serahkan pada kami,” Kotarou tiba – tiba muncul dan merangkul Shirou.


“Tapi pak?”


“Tidak ada tapi – tapian Shirou, biasanya kau memanggilku senpai mengapa tiba – tiba berubah?” tanya Kotarou.


“Ehh, itu karena kemauan pacarmu kalau tidak salah.”


“Maksudmu Ina?” tanya Kotarou. “Kau tidak seharusnya mendengarkan dirinya, kedua dia bukan pacarku. Aku harap dia baik – baik saja di kampung halamannya.”


“Galuh, jangan tinggalkan aku.” Hina pun juga menyusulnya.


Mereka bertiga naik ke dalam mobil dan Galuh menyalakan mesinnya. Suara mesin tersebut terdengar sangat semangat.


“Aku pikir mobil ini sudah terbiasa,” kata Galuh saat memegang setir dan perseneling. “Yosh, ayo kita berangkat.”


Galuh memajukan perseneling tersebut ke angka satu. Dan dirinya melepas kopling dan menancap gasnya. Mobil tersebut melesat dengan cepat keluar dari distrik 2.


Kotarou melihat mereka bertiga teringat seperti dulu. “Rasanya menyenangkan sekali, mereka sangat bersemangat sekali.”


“Siapa yang kau maksud?” tanya Shirou.


“Mereka bertiga. Baiklah kita juga harus mengamankan distrik 5. Karena disana terlalu banyak penduduk. Jika bom disana meledak bisa – bisa gawat kita nanti.”


“Baiklah, senpai.”


***


Mobil Aston Martin melaju dengan sangat cepat di jalanan malam hari.


“Jadi kemana kita akan pergi?” tanya Hina.


“Universitas Akari,” jawab Galuh. “Disitulah akan ada petunjuk yang muncul. Semoga saja begitu.”


Hana kemudian melihat ke spion tengah. Ia merasa ada mobil aneh dibelakangnya. Kemudian dirinya menoleh ke belakang. Sebuah mobil yang tidak diketahui tengah mengikuti mereka.


Seketika keluar seseorang dari kaca dan mengeluarkan senjata dengan tipe AK-47. Lalu membidik pada mobil mereka.


“Kurasa kita kedatangan tamu.”


Galuh melihat ke spion kirinya dirinya melihat seseorang tengah akan menembak mobilnya.


“Kau pasti bercanda kan?”


Mobil yang berada di belakang Aston Martin tersebut mulai menembak. Peluru tersebut melesat hingga Aston Martin tersebut kehilangan kendali. Namun anehnya tidak ada pecahan kaca.


“Anti peluru?” seketika Galuh langsung menanyakan pada Hana.


“Iya, aku memasangnya untuk berjaga – jaga saja.”


“Aku tidak mengerti apa yang ada dipikiranmu.”


“Daripada kalian ribut, sekarang bagaimana caranya agar menghindari orang yang sedang mengejar kita?” tanya Hina dengan panik.


Galuh kembali memikirkan sesuatu. Ia kemudian menambah kecepatannya hingga menembus angka 100 mph. RPM masih diatas tanda peringatan. Cukup aman untuk menambah kecepatan lagi.


Terjadi sebuah kejar – kejaran antar mobil di jalan raya kota Akari. Kedua mobil ini seketika membuat kekacauan di jalan raya. Namun karena keadaannya darurat jadi wajar saja jika kekacauan terjadi. Melewati satu persatu mobil dan menghindar. Galuh sudah cukup mahir dalam mengemudikan mobil berkecepatan tinggi.


Terdapat perempatan di depan. Galuh menambah kecepatannya tangan kirinya memegang handrem dan mulai menariknya. Ia membanting stirnya ke arah kiri dan memastikan seluruh badan mobilnya sudah berputar ke arah kiri. Lalu dirinya membanting stirnya ke kanan dengan cepat. Drift pertama kali dilakukan oleh Galuh seketika berhasil.


Mobil yang berada dibelakangnya sektika mengguling. Mereka bertiga berhasil lolos dari musuh.


“Sudah tidak mengejar lagi kan?” tanya Galuh.


Galuh kemudian menghentikan mobil dengan handremnya. Mobil sedikit berputar dan berhenti di tengah jalan. Galuh turun dari mobil dan mengampiri mobil yang terbalik tersebut.


Hina dan Hana menetap di mobil. Galuh sudah mendekati, dirinya langsung berjongkok. Untungnya korban masih belum menyadarkan diri. Namun terdapat sebuah sentaja api P99. Galuh memungutnya dan memasukkannya ke dalam jaketnya. Dirinya kemudian kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanannya menuju Universitas Akari.


“Apa yang kau temukan?” tanya Hina.


“Tidak ada, hanya sebuah senjata api. Aku mengambilnya sebagai perlindungan. Karena kemungkinan terbesar, kita akan dijebak disana. Tapi aku juga tidak mengharapkannya juga. Dan yang pasti pimpinan mereka tahu jika anggotanya ada yang gagal dalam menangkap kami.”