The Unidentified Project

The Unidentified Project
BAB 3



Hina dan Galuh melihat TKP dari kejauhan. TKP tersebut masih dipasang oleh garis kuning. Namun di sekitar TKP tersebut tidak ada petugas yang menjaga. Galuh dan Hina pun berlari menuju TKP tersebut. Mereka menerobos garis kuning.


Masih ada bercak darah yang tersisa di tempat tersebut. Ini baru pertama kalinya, Galuh dan Hina melihat darah manusia. Sungguh kejam. Pikir Hina dan berusaha menjauh dari bercak darah tersebut.


“Kemungkinan memang dia ditikam dari belakang dan saat itu, Linda mungkin sedang berlari menuju tempat parkir.”


“Memang benar, lalu apa lagi?”


Galuh masih melihat bercak darah tersebut. Lalu Galuh melihat sekelilingnya. Terdapat sesuatu yang berkilau. Galuh kemudian membungkukkan badannya dan berusaha mengambil sesuatu yang berkilau.


“Sebuah cincin?”


Galuh kemudian memperhatikan cincin tersebut yang berwarna perak. Terdapat logo burung merpati pada cincin tersebut .


“Sebuah cincin pernikahan?”


Masih tidak percaya pada apa yang dilihat, Galuh kemudian memberi cincin tersebut pada Hina. Hina pun juga mulai merasa janggal dengan lambang burung merpati pada cincin tersebut.


“Iya, ini adalah cincin pernikahan,” kata Hina. “Tapi memang Linda sudah menikah?”


“Aku tidak tahu, tapi memang jika ini adalah cincin pernikahan, mengapa hanya ada satu merpati?”


“Memang apa bedanya?” tanya Hina.


“Cincin pernikahan biasanya terdapat dua burung merpati. Kedua hal itu melambangkan kesetiaan dan keromantisan. Namun ini adalah sebuah cincin yang dikenakan Linda tetapi burung merpati itu hanya ada satu dan tidak mengepakkan sayap. Jadi bisa disimpulkan bahwasanya ini bukan cincin pertunangan ataupun pernikahan.


“Yang selalu membuatku ganjil adalah apakah Linda punya pacar?”


Hina kemudian terdiam dan mulai mengingat kembali saat dirinya bertemu dengan Linda beberapa hari yang lalu.


“Tidak.” Jawab Hina.


“Baiklah, ini adalah petunjuk kita yang pertama kita.”


Kemudian salah satu petugas pun datang ke area TKP. Dirinya melihat Galuh dan Hina masuk ke dalam TKP. Polisi tersebut kemudian berlari untuk menangkap mereka.


“Hey, apa yang kalian lakukan disana?”


Galuh menarik tangan Hina untuk kabur. Mereka pun berhasil keluar dari TKP. Polisi tersebut kemudian berhenti di TKP dan melaporkan apa yang dilihatnya barusan.


Mereka berdua berhasil masuk ke dalam gedung Fakultas.


“Kau tahu ruangan organisasi?”


“Dari lobby ini, belok kanan.”


Galuh kemudian berjalan sendirian dan tidak mengajak Hina.


“Galuh, tunggu, aku masih kelelahan.”


“Aku lupa kalau kau punya fisik yang lemah.”


“Bagaimana kau tahu?” tanya Linda.


Galuh kemudian menyandarkan dirinya di dinding. Ia melipat kedua tangannya dan melihat kelangit – langit.


“Itu terjadi saat SMA, ibumu menceritakan tentang fisikmu yang lemah.”


“Kapan?” tanya Hina.


“Pada saat hari kelulusan kita.”


***


Bunga sakura bermekaran di halaman SMA. Banyak siswa dan orang tua datang ke tempat tersebut. Melihat anak – anaknya sudah lulus dengan sempurna diakhir studi di SMA.


Galuh saat itu membawa gulungan, kemudian ibu Hina datang mengampiri Galuh yang saat itu sendirian dan tengah mencari orang tuanya.


“Kau temannya Hina?” tanya sang Ibu.


“Iya,”


“Jika kau temannya, tolong jaga Hina. Dia mempunyai fisik yang sangat lemah. Jika kecapekan, dia akan pingsan dan kemungkinan terbesar adalah meninggal.”


Mendengar keinginan sang Ibu tersebut, membuat Galuh sedikit terkejut. Pupil matanya mengecil dan raut wajahnya sedikit ketakutan dan memucat. Tidak percaya apa yang ia dengar dari permintaan orang tua Hina.


Beberapa bulan kemudian, Galuh sudah sangat jarang sekali menghubungi Hina. Bukan karena kesibukannya, tapi saat itu Hina tidak bisa dihubungi. Ingatan terakhir saat bersama Hina adalah…


“Aku ingin kuliah di Universitas Akari, katanya disana adalah Fakultas seni dan budaya yang fasilitasnya sangat lengkap.”


Kebetulan Galuh juga menyukai hal yang berbau kesenian dan kebudayaan, Otaku hanyalah sebuah hobinya saja. Sejak saat itu, Galuh mencari informasi tentang Universitas Akari. Syaratnya, ia perjuangkan tanpa takut, dia semakin giat belajar dan mengurangi hal yang berbau anime.


Setelah lulus seleksi dan hari pertama masuk di Universitas tersebut, Galuh tidak menemukan Hina sama sekali. Padahal namanya ada dalam tabel kelulusan.


***


Galuh teringat hal tersebut hingga sekarang. Dirinya bertemu dengan Hina saat di halte bus semalam.


“Hina, bagaimana jika kita ke kantin, kamu kelelahan kan?” tanya Galuh. “Aku yang traktir.”


Hina kemudian tersenyum saat mendengar permintaan Galuh. “Baiklah.”