The Unidentified Project

The Unidentified Project
[FLIGHT TO LONDON] BAB 3



Fubuki tengah duduk di meja kerjanya. Mengerjakan laporan tentang dua kasus sebelumnya. Telepon tiba – tiba saja berdering. Fubuki mendesah. Tugasnya kini semakin menumpuk. Beberapa laporan sebelumnya sudah selesai namun entah kenapa tiba – tiba tugasnya jadi menggunung.


“Akari Police.”


[Fubuki, maaf mengganggu, ini aku Shirou.]


“Apa yang kau butuhkan?”


[Aku membutuhkan beberapa data tentang korban. Akan aku kirim setelah ini.]


Telepon terputus. Seketika di layar komputernya ada sebuah notifikasi email yang masuk. Fubuki menekan notifikasi tersebut. Sebuah data identitas masuk. Fubuki kemudian mencari data – data tersebut melalui data bank milik APD.


***


Suasana bandara saat itu sangat ramai. Kotarou berdiri di tengah kerumunan yang begitu padat. Kota Akari memiliki bandara yang selalu saja ramai karena pariwisatnya. Dirinya terlihat sedang menunggu seseorang. Sesekali Kotarou melihat arlojinya.


“Kotarou,” panggil seseorang, Kotarou kemudian membalikkan badannya.


“Yo, Ina, bagaimana liburannya?” tanya Kotarou.


“Iya begitulah, kau tahu aku belum sempat mengambil cuti tahun sebelumnya. Tapi ini sangat menyenangkan.”


“…”


“Ngomong – ngomong ada kasus baru apa hari ini?”


“Kau ingin bekerja sekarang?”


“Tidak boleh kah?”


“Kau baru saja pulang dari kampung halamanmu, lebih baik beristirahatlah. Lebih baik besok saja kau bekerja.”


“Kalau begitu ceritakan padaku apa yang sedang terjadi akhir – akhir ini.”


Mereka berdua kemudian berjalan menuju mobil milik Kotarou. Dalam perjalanannya, Kotarou menceritakan tentang kasus yang bernama organisasi BIRDS yang memiliki sebuah data tentang The Unidentified Project. Konon data tersebut berisi tentang strategi yang akan menciptakan perang dunia ketiga. Semua ini berawal dari kasus pembunuhan anak dari orang tua yang memegang perusahaan Linda. Sedikit susah untuk diingat runtutannya namun tidak akan ada yang mempercayai tentang kasus tersebut.


Bermula dari pembeberan sejarah kelam kota Akari hingga semua itu hanyalah tipuan belaka. Pembedahan kasus tersebut memang sedikit rumit namun jalur yang digunakan sangat tepat dan sesuai. Entah kebetulan atau bagaimana Kotarou susah untuk memahaminya.


“Jadi begitu ya.”


Kotarou hanya bergumam saja. “Tapi yang unik adalah, semua sangat dekat dengan kejadiannya. Seperti distrik dua pernah dibom dan itu tepat sesuai dengan petunjuknya meski tidak menghasilkan apa – apa tapi itu sangat dekat sekali.”


“Kelihatannya kasus yang sangat rumit ya,” ujar Ina.


“Tidak sepenuhnya sulit, kita bekerja sama dengan anak itu.”


“Siapa?”


“Galuh, dia adalah orang yang turut serta mengusut kasus ini tanpa diminta. Tapi memang logika dan penalarannya tepat. Meski begitu mungkin dia merahasiakannya tujuan dari mengikuti jejak yang dimanipulasi tersebut.”


“Beruntunglah ada anak seperti itu.”


***


Galuh seketika bersin. Hina mulai sedikit khawatir dengan kesehatan Galuh.


“Kau tidak apa – apa?”


“Mungkin ada yang membicarakan diriku,” jawab Galuh. “Ngomong – ngomong Fubuki sudah mendapatkan petunjuknya?”


Lagi – lagi Galuh terlibat, namun kali ini adalah permintaan dari dirinya sendiri.


“Galuh, kau bisa ikut kami ke APD untuk menyelidiki barang buktinya.”


***


Pesawat Akari Skylines mulai mendarat di Bandara Internasional Heatrow, Britania. Owen dan Clara turun dari pesawat. Bandara yang cukup besar dan padat akan pengunjung baik itu turis dan warga setempat.


“Cukup ramai juga bagi negara Britania.”


Owen dan Clara tiba di lobi. Banyak taksi yang tengah menunggu penumpang. Owen memanggil salah satu supir taksi dengan bahasa inggris. Setelah mendapatkannya, mereka berdua segera menaiki taksi berwarna hitam yang menjadi ikon unik British tersebut.


Perjalanan yang sangat jauh dari pusat kota.


“Sebenarnya apa yang sedang terjadi?” tanya Clara.


“Aku sudah bilang sebelumnya kan,” ujar Owen. “Salah satu anggota MI-6 ada yang mencurigakan. Aku melihat data tersebut dalam folder The Unidentified Project, tak disangka ternyata MI-6 berkhianat.”


Dengan suara yang sangat kecil sehingga supir taksi tidak perlu mencurigai mereka. “Kemungkinan besar akan terjadi masalah yang akan menimbulkan kekacauan. Semoga saja hal itu cepat teratasi.” Owen kemudian membuka ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada pusat IAF.


Hotel The Savoy, berlokasi sangat dekat dengan sungai Thames, London. Hotel tersebut yang akan menjadi tempat peristirahatan sekaligus tempat menyelidiki beberap orang yang mencurigakan dalam MI-6. Lokasi mereka sangat dekat sekali dengan gedung SIS (Secret Intelligence Service).


Kamar yang dipesan tidak terlalu luas namun sangat sederhana. Terdapat sebuah kursi sofa tepat di samping kasur.


“Baiklah, kau beristirahat dulu,” ujar Owen.


“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Clara.


“Aku ingin keluar sebentar. Aku ingin mencari udara.”


Owen kemudian keluar dari kamar. Berjalan menuju luar lobi. Udara sangat begitu dingin. Untung dirinya kini mengenakan jaket yang tebal. Mengingat suhu mulai turun menjelang desember. Berbeda dengan Akari yang memiliki dua musim saja.


Di atas jembatan Vauxhall, terlihat sangat jelas gedung SIS alias MI-6. Owen menatapi gedung tersebut. Semua orang berlalu lalang tanpa ada yang mempedulikan dirinya. Owen mengambil foto gedung tersebut lalu mengirimkannya pada IAF pusat.


***


Kantor APD adalah markas dari kepolisian Akari. Galuh tengah melihat beberapa barang bukti. Korban sedang diotopsi jadi itu akan memerlukan waktu yang lama.


Sebuah dompet, ponsel, jam tangan. Semua barang bukti tersebut terkumpul tepat di hadapannya. Galuh mengambil plastik yang berisikan ponsel. Ia kemudian mengeluarkan ponsel tersebut dari plastiknya. Tidak lupa juga dirinya mengenakan sarung tangan agar sidik jarinya tidak terbaca.


“Kelihatannya ponsel ini sudah rusak,” ujar Galuh saat memutar ponsel tersebut. Melihat adanya keretakan pada layarnya.


Lalu dia membuka bagian belakang ponsel. Ponsel jenis lama yang di mana pada bagian belakangnya berupa baterai dan kartu memo. Galuh membongkar isinya. Ternyata dugaannya benar, terdapat kartu memo di dalamnya dan juga kartu nomor telepon.


“Shirou,” panggil Galuh. “Mungkin ini bisa dijadikan petunjuk.”


Shirou kemudian mengampiri Galuh dan menerima kartu memo dan kartu telepon. “Aku akan menyerahkannya pada IT terbaik di APD.”


“Baiklah,” jawab Galuh. “Bagaimana dengan Fubuki?”


“Wanita yang sangat dekat dengan Ferdinand sangatlah banyak, mungkin setelah terungkap kemana arah nomor telepon ini, kita akan segera mengetahuinya.”


Galuh menganggukkan kepalanya lalu melihat kembali barang bukti yang ada. Jam tangan, barang bukti kedua yang akan dikeluarkan dari plastik. Jam tangan lumayan bagus. Namun ada bercak darah dan juga lipstik. Galuh kemudian mendekatkan jam tangan tersebut.


“Sebuah lipstik berwarna pink?” tanya Galuh pada dirinya sendiri.