
Mobil berwarna abu – abu tersebut terparkir di parkiran perpustakaan. Tempat tersebut memang tidak pernah sepi. Mereka bertiga berjalan menuju pintu masuk. Disambut dengan senyuman oleh petugas perpustakaan. Mereka melihat dengan terkejut isi perpustakaan tersebut. Sangat besar dan terdapat banyak rak – rak buku.
“Oke, kita akan mencari buku yang berkaitan dengan Akari dan juga ritual tadi. Aku tahu kita tidak diperbolehkan masuk ke ruang arsip disini, jadi kita hanya perlu mengetahui teori dasarnya.”
Beberapa saat kemudian banyak sekali buku yang sudah mereka tumpuk. Buku tersebut sangatlah tebal. ‘Sejarah kota Akari edisi lengkap’
“Memang ada edisi yang kurang lengkap?” tanya Hana.
“Buku yang ada di fakultas kita adalah buku edisi lama. Meski sampulnya bertuliskan edisi lengkap.”
Galuh kemudian memulai membuka buku tersebut, ia membaca pada awal halaman. Awal halaman masih sama dengan edisi sebelumnya. Ia terus mencari halaman yang menceritakan ritual yang barusan diadakan.
“Aku menemukannya,” ujar Galuh. “Ritual bawah tanah, kota Akari. Secara hukum ritual ini sudah diresmikan oleh pemerintah.”
“Iya, aku juga tahu hal tersebut,” kata Hina. “Ritual tersebut memang sudah ada sejak jaman dahulu. Namun banyak membantah pada masanya.”
“Membantah karena Akari adalah sebuah pulau reklamasi?” tanya Hina.
“Lebih tepatnya begitu, tapi ini aneh. Aku baru saja mendapat gambaran tentang kehancuran desa ini di masa lampau.”
Hana dan Hina kemudian memandangi Galuh dengan penasaran. Raut wajah mereka terlihat begitu penasaran.
“Jadi, apa yang kamu lihat?” tanya Hina dan Hana secara bersamaan.
“Ehh, aku hanya melihat desa itu terbakar. Entah ini petunjuk atau memang itu adalah hasil lamunanku belaka aku tidak tahu.”
“Desa terbakar?” tanya Hina.
“Iya, sesuai dengan mural tadi, roh itu marah.”
“Yeps, dan itu juga merupakan sejarah dari kota Akari yang dimana tanah ini bukanlah tanah reklamasi.” Lanjut Hana.
“Namun pemerintah menutup fakta tersebut guna…” Galuh seketika terdiam dan mulai memikirkan kembali apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Ia teringat oleh suatu hal.
“Kota Akari pertama kali dibuka pada tahun 1978 dan mereka mengatakan bahwasanya kota Akari adalah kota yang dibangun di atas pulau reklamasi. Tapi bagaimana jika itu hanyala kebohongan publik?” tanya Galuh.
“Aku semakin tidak paham.” Ujar Hina.
“Bagaimana maksudmu?” tanya Hana.
Galuh tengah mengurutkan sejarah yang terjadi. Sebuah desa Akari sudah ada lama sebelum kota ini berdiri. Legenda sendiri mengatakan bahwasanya roh dari pulau ini marah dan menghancurkan desa tersebut. Lalu tanah ini mulai mengeluarkan kekuatannya yaitu cahaya. Tanah Akari dahulunya adala tanah yang bercahaya. Dimaksud cahaya karena kebakaran besar yang terjadi.
“Aku mengerti,” kata Galuh seketika dirinya kemudian berdiri dari tempat tersebut. “Akari bukanlah kota yang dibangun di atas pulau reklamasi yang artinya memang pulau ini sudah ada.”
“Maksudnya apa yang dikatakan oleh pemerintah adalah kebohongan?” tanya Hina.
“Ya, pada tahun 1978 Akari di bangun oleh Takeshi Kamijou yang merupakan seorang pengusaha kaya dari Jepang. Dia lari dari Jepang karena merasa tidak kuat dengan peraturan yang ada pada saat itu. Dia ingin balas dendam dan pergi dari Jepang dengan menggunakan kapal pribadinya. Perjalanan menuju samudra pasifik dan disana dia menemukan pulau ini. Pulau yang belum terjamah sama sekali. Bisa dikatakan sebagai pulau yang hilang. Dia kemudian memulai dari nol dan jadilah kota yang benar – benar super maju pada beberapa bulan yang lalu, status kota Akari masih milik Jepang. Namun setelah invasi besar – besaran yang nyaris membawa malapetaka perang dunia III akhirnya Akari melepaskan diri dari Jepang dan membentuk sebagai kota tanpa negara. Mungkin lebih tepatnya bisa dibilang negara Akari.”
“Lalu apa hubungannya dengan kasus pembunuhan Linda?” tanya Hina.
***
Malam telah tiba, kota Akari mulai memancarkan cahaya dari gedung – gedung. Pemandangan inilah yang menjadi ciri khas kota Akari. Shirou tengah menjaga perbatasan bersama dengan polisi lain. Seketika juga, gedung – gedung yang berada di distrik 1 meledak. Polisi yang berada di dekat gedung terluka. Shirou juga merasa terkejut dengan kejadian tadi.
Dari kejauhan, seseorang memegang walkie talkienya.
[Bagaimana keadaanya?] tanya seseorang yang mengeluarkan suara dari walkie talkienya.
“Beres bos, area distrik 2 sudah diledakkan, sekarang apalagi rencananya?”
[Untuk memastikan agar rahasia tidak terungkap di publik, aku ingin kau segera menghabisi detektif mahasiswa tersebut yang bernama Galuh dan juga Hina yang merupakan patnernya. Jangan lupa juga dengan anak pengusaha yaitu Hana. Kita sangat memerlukan dirinya.]
“Baik bos.”
Kemudian, walkie talkienya tersebut diletakkan di sabuk belakangnya. Dirinya kemudian berjalan untuk menuruni tempat tersebut.
***
Kotarou kemudian mendapat SMS dari Shirou. Terjadi ledakan di area distrik 1. Kotarou kemudian berdiri dari tempat duduknya dan segera berterima kasih pada petugas perpustakaan tersebut. Dirinya kemudian berlari menuju mobil polisi. Menyalakan mesinnya lalu menancap gasnya dengan kecepatan penuh keluar dari area perpustakaan.
Galuh kemudian membuka ponselnya dan membaca berita ‘Distrik 2 dibom oleh teroris’. Dirinya sedikit syok apa yang tengah dipikirkan pelaku hingga menghancurkan distrik dua. Kini kasusnya semakin rumit dan kacau.
“Teman – teman kelihatannya kita harus kembali lagi ke distrik 2.”
“Eh mengapa?” tanya Hina.
“Distrik 1 tengah dibom, kawasan distrik 1 hancur lebur. Kita harus kesana. Pelaku tidak akan lari dari zona tersebut,” jawab Galuh.
Mereka bertiga berlari menuju mobil. Mobil tersebut melaju sangat kencang di jalanan pada malam hari.
“Aku tidak menyangka akan memakan waktu seharian penuh,” keluh Galuh saat dirinya sedang mengemudi.
“Kalau tidak diselesaikan hari ini, lalu kapan?” tanya Hana.
“Baiklah, aku sudah membolos banyak mata kuliah hari ini.”
***
Setibanya di perbatasan distrik 2, tiba – tiba saja mobil mereka dicegat oleh beberap polisi yang sedang mengamankan area tersebut.
“Tunggu – tunggu,” Shirou keluar dari perbatasan dan mengampiri mobil tersebut.
“Dia adalah patner kami, jadi dia memiliki akses untu keluar masuk.” Kata Shirou kepada polisi yang mencegat mobil Galuh.
“Baiklah.” Jawab polisi tersebut dan menyuruh polisi lainnya untuk membukakan akses jalan untuk mereka.
Mobil mereka kemudian masuk ke kawasan distrik 2. Galuh melihat gedung yang berada di distrik 2 terbakar karena ledakan. Kini dirinya teringat sesuatu hal. Sebuah bom tersebut sudah diperingatkan saat kejadian tadi siang. Bagaimana dirinya bisa selupa itu. Kelihatannya kasus ini bagi Galuh semakin lama semakin rumit.