
Ruangan yang sangat gelap. Seseorang tengah mengunduh sesuatu melalui komputer tersebut. Setiap folder ia buka satu per satu. Setelah menemukan datanya yang bernama anggota BIRDS, Owen kemudian mengunduh file tersebut dan disimpan dalam flashdisk. Kemudian dirinya menghapus file tersebut. Setelah semua selesai, Owen kemudian mematikan komputer tersebut dan pergi dari ruangan tersebut.
***
Galuh duduk di bangku kantin bersama Hina yang sedang asik memakan kuenya. Kue tersebut merupakan produk terbaru dari menu di kantin Fakultas Seni dan Budaya.
“Mau sampai kapan kau memakannya terus?” tanya Galuh.
“Entah rasanya sangat enak sekali ini,” jawab Hina. “Kau mau mencobanya?”
Galuh hanya memandangi Hina lalu mengalihkan pandangannya. Tak lama dari itu ponsel Galuh tiba – tiba saja berbunyi. Sebuah pesan masuk yang berisi.
[Galuh, bisakah kau menemuiku sebentar? -Kotarou]
Merasa menyesal menjadi dirinya sendiri. Padahal mereka sudah membuat keputusan untuk tidak melibatkan warga sipil dan mengapa kini mereka malah melibatkannya kembali. Dirinya kemudian menidurkan kepalanya di atas meja.
“Ada apa?” tanya Hina.
Galuh terdiam sejenak. Apakah Hina perlu tahu jika aku dipanggil oleh APD lagi. Ia kemudian memutuskan untuk dia karena keluhannya tentang beberapa kasus belakangan.
“Tidak ada apa – apa kok.”
Kali ini apa yang akan direncanakan oleh APD. Hal ini sudah membuat Galuh muak dengan keadaan yang sekarang ini.
***
Hari menjelang sore, Galuh memakirkan Aston martinnya diparkiran APD. Dirinya turun dan berjalan menuju kantor APD. Seperti biasa pintu yang dilaluinya merupakan pintu otomatis. Dirinya kemudian berjalan menuju loby yang kini petugasnya adalah Fubuki.
“Fubuki, bisakah aku menemui Kotarou?” tanya Galuh.
“Ah, Galuh sudah lama tidak bertemu. Bukannya kau tidak ingin terlibat lagi?”
“Kotarou yang memanggilku, aku tidak tahu apa lagi yang akan diperbuat oleh dirinya.”
Seketika juga Owen kemudian muncul dari samping. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Owen, aku dipanggil oleh Kotarou.”
“Ah baiklah, Fubuki aku akan kembali ke hotel.”
“Baiklah.” Jawab Fubuki.
“Aneh sekali,” ujar Galuh.
“Apa yang aneh?” tanya Fubuki.
Tiba – tiba sirine gedung berbunyi. Peringatan data APD ada yang hilang. Galuh mulai merasa ada yang tidak beres. Ia kemudian berlari keluar dari gedung dan menaiki mobilnya.
Ia tahu Owen telah menghapus file tersebut. Kini ia berencana untuk mengejarnya.
***
Owen dengan santainya mengemudi. Dirinya kemudian melihat ke spion tengah. Sebuah mobil DBS. Mobil tersebut menyusulnya. Owen tahu mobil DBS tersebut milik siapa.
“Jadi kau sudah menyadarinya,” kata Owen.
Owen menambah kecepatannya dan melaju dengan sangat cepat di jalan raya. Galuh kemudian juga menambah kecepatannya untuk mengangkap Owen. Kedua mobil yang saling mengejar tersebut kemudian memasuki jalan tol. Tepat setelah belokan, Owen kemudian membanting stirnya memutari segitiga yang berada di pucuk jalan. Galuh mengikutinya juga.
Mereka kini melawan arus dengan mobil – mobil yang sangat cepat. Saat berada di sisi Owen, seketika truk bensin muncul dihadapan Galuh sehingga Galuh harus membelokkan mobilnya ke kanan. Seketika DBS tersebut terbalik dan menabrak pembatas jalan. Mobil tersebut jatuh mengenai jalan yang ada di bawahnya.
Owen kemudian mengerem mobilnya dan memutar balik mobilnya menuju lawan arah yang sebenarnya.
Mobil DBS tersebut rusak parah. Galuh tak sadarkan diri. Ambulance dan Pemadam kebakaran datang ke lokasi kecelakaan.
***
Hina berada di apartemen Galuh sedang memasak makan malam untuk Galuh. Kemudian TV menyiarkan sebuah berita tentang kecelakaan DBS yang terjadi di jalan tol. Korban kemudian selamat. Saat melihat mobil tersebut Hina terkejut. Dirinya kemudian mematikan kompornya dan juga televisinya. Dirinya menghubungi Shirou.
[Halo?]
[Apa?]
***
Shirou kemudian menjemput Hina di depan apartemen Galuh.
“Bagaimana dia kecelakaan?”
“Aku tidak tahu, kita akan tahu setelah ini.”
Mereka berdua tiba di rumah sakit. Hina berlari menuju lobi untuk menanyakan kondisi Galuh. “Suster, apa saya bisa menemui Galuh untuk saat ini?”
“Dia sedang istirahat, untungnya tidak terlalu parah.”
Hina kemudian diantar oleh Suster menuju kamar pasien Galuh. Begitu memasuki kamar tersebut, Hina kemudian menangis dan mengampiri Galuh.
Galuh membuka matanya sejenak. “Hina?”
“Bodoh,” jawab Hina sambil menangis. Dirinya kemudian memegang tangan Galuh. “Kau sungguh bodoh.”
Shirou kemudian datang juga. Galuh melihat wajah Shirou.
“Hai, sudah lama kita tidak bertemu.”
“Hanya empat hari saja kita tidak bertemu.” Shirou kemudian mengambil tempat duduk untuk Hina dan dirinya sendiri. “Jadi apa yang kau kejar?”
“Apa aku perlu cerita?” tanya Galuh.
Shirou menganggukkan kepalanya. Hina mulai kebingungan dengan situasi yang ada.
“Owen mengambil data APD, data tersebut merupakan data yang hilang. Anggota BIRDS yang akan menuntunnya ke London.”
“Jadi itu yang kau kejar?” tanya Shirou.
“Kotarou juga memanggilku. Aku juga belum sempat bertemu dengannya.”
“Seharusnya APD tidak melibatkan warga sipil lagi. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh mereka.”
“Setidaknya aku akan ikut ke London, musuh kita adalah mata – mata.”
“Tunggu,” potong Hina. “Kalian ingin ke London?”
“Itu benar sekali. Ini misi negara, Kotarou tidak akan pernah memanggilku jika tugasnya sangat berat tentu saja dia tidak setuju dengan surat perjanjiannya.”
***
Di atas langit, sebuah pesawat Akari Skylines menembus langit yang begitu gelap. Owen membuka laptopnya untuk melaporkan tugas yang baru saja ia kerjakan.
Clara terus memperhatikan Owen yang begitu serius dalam mengerjakan laporan tersebut. “Kau terlihat kelelahan?”
“Ini sudah biasa, untungnya petunjuk selanjutnya ada di London. Aku melihat salah satu data bahwasanya dalam MI-6 terdapat anggota dari BIRDS. Anggota inilah yang harus kita incar.”
“Ya, setelah kau membuat kekacauan dengan Galuh saat di jalan Tol. Kau nyaris saja membunuhnya.”
“Itu sangat biasa, jika ada orang yang menghalangi kita bunuh saja.”
“Bukannya kau sendiri pernah bilang meski kita punya lisensi untuk membunuh bukan berarti kita bebas membunuh. Kau membunuh orang yang pernah membantumu.”
Owen terdiam sejenak. Dia menutup laptopnya dan memandang luar jendela. Dirinya kini seolah munafik. Semua apa yang pernah ia ucapkan hanyalah kemunafikan belaka. Tiba – tiba saja dia teringat sesuatu di masa lalunya yang begitu kelam. Owen selalu saja sendirian semasa hidupnya.
“Mungkin kau benar.”
Clara kebingungan dengan ucapan Owen. Sekarang semua semakin rumit saja. Meski begitu, ini bukan masalah dendam di masa lalu. Ini adalah misi yang melibatkan seluruh negara.
“Aku juga mendengar jika BIRDS bisa jadi pemicu perang dunia ketiga. Itulah alasanku kabur. Karena aku tahu Galuh memiliki orang – orang yang disayanginya. Fakta menariknya Galuh tidak tewas, tidak ada luka – luka.”