
Malam sehari sebelum festival Akari diadakan. Seseorang tengah berjalan menuju suatu gedung kuno yang berada di distrik tiga atau lebih dikenal distrik pariwisata. Gedung tersebut terlihat sangat tua dan rapuh. Langit – langit terbuat dari besi banyak yang karatan dan juga ada yang berlubang sangat besar sehingga cahaya bulan bisa menembus ke dalam.
Malam itu hanya terdengar suara ombak karena memang dekat dengan pantai. Seseorang tersebut merupakan wanita yang tengah membawa sebuah dokumen yang dibungkusi oleh amplop berwarna coklat.
“Cepat sekali datang.”
Suara tersebut terdengar berat. Seketika tepat dibawah cahaya rembulan seorang pria keluar dengan mengenakan baju kasual berjas dan berdasi serba hitam.
“Aku sudah menandatangi kontrakmu, apa kau sudah puas?” tanya wanita tersebut.
“Kontrakmu akan aku jalankan dengan baik serahkan dokumen tersebut.”
Wanita tersebut berjalan mendekati pria tersebut dan memberikan dokumennya.
“Organisasi kami akan sangat bangga dengan kerja sama anda.”
“Baiklah,” ujar wanita tersebut. “Tapi ada satu hal lagi.”
“Apa itu?” tanya seorang pria.
Seketika wanita tersebut mengambil sesuatu di dalam jaketnya dan mengeluarkan sebuah pistol.
“Anda di tangkap,”
Pria tersebut kemudian mengangkat tangannya.
“Dengan siapa kau bekerja, dan siapa pimpinanmu?” tanya wanita tersebut sambil membidik pria yang tengah berada dihadapannya.
Pria tersebut kemudian tertawa dengan keras.
“Kau tidak akan pernah tahu siapa aku, tapi aku justru mengenal nama aslimu. Kau bukan nyonya Linda tapi Clara, anggota dari agen IAF.”
Clara kemudian terkejut dan merasa ketakutan. Seketika terdapat banyak anggota tersebut keluar dari balik bayang – bayang. Clara kemudian memundurkan langkahnya.
“Jangan – jangan ini jebakan.”
[Clara tetap tenang.] Suara tersebut terdengar dari radio yang berada di telinga Clara.
“Owen dimana kau?”
[Sebentar aku sedang beraksi.]
Seketika salah satu anggotanya ada yang terjatuh tiba – tiba lalu menambah lagi. Seketika seluruh anggota dari pria tersebut menyerang ke segala arah dengan senjatanya yang berupa pistol.
[Clara, larilah!]
Clara kemudian berlari menuju pintu keluar yang tadi dia masuki. Sang pria tersebut kemudian sadar jika wanita tadi kabur.
“Kejar wanita tersebut.”
Clara terus berlari. Seketika sebuah mobil Aston Martin DB5 berhenti disamping Clara. Clara kemudian masuk dengan cepat. Dan pria yang sedang duduk dikemudi mobil kemudian menancap gasnya.
“Hampir saja.”
“Owen kau kemana saja?” tanya Clara.
“Aku tadi hendak membantumu, tapi tenang saja. Kita pasti aman, aku juga mendapat info dari IAF bahwasanya organisasi tersebut bernama BIRDS. Organisasi kejahatan tingkat internasional. Salah satu anggotanya adalah yang barusan kau temui.”
“Kemungkinan kematian ayahmu juga disebabkan oleh BIRDS.” Lanjut Owen. “Tapi tujuan kita adalah membantu polisi setempat untuk tetap menyelidiki kasus ini lebih lanjut.”
***
Galuh tengah memandangi keluar jendela sendirian. Terpantul bayangan Hina yang tengah mencuci piring. Dirinya tengah memikirkan sesuatu. Tidak seperti biasanya kali ini dia benar – benar sangat serius.
Hina memandangi Galuh. Dia sedikit khawatir dengan kondisinya yang akhir – akhir ini tidak seperti biasanya. Hina menutup kran dan mengelap tangannya yang basah. Dia kemudian mengampiri Galuh.
“Kau tidak apa – apa?”
“Entahlah, aku tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan.”
“Kau masih trauma tentang pembunuhan itu?”
“Aku tidak trauma, hanya saja ada yang menggangguku.”
“Apa itu?”
“Mungkin beberapa orang akan mengicar diriku. Terutama organisasi BIRDS.”
“Ngomong – ngomong bagaimana kau bisa tahu nama organisasi itu?” tanya Hina dengan penasaran sambil berjalan menuju sofa.
“Yah, kau tahu sebenarnya BIRDS sudah membuat ulah beberapa tahun lalu. Jika kau masih ingat, jalan tol yang berada di Jakarta 23 tahun lalu hancur dan meledak. Bisa dibilang tahun ini adalah tahun kebangkitan BIRDS.”
Hina masih terdiam dan meresapi kata – kata dari Galuh.
“Sungguh konyol juga jika mereka mencari rahasia kuno kota Akari. Aku tidak paham dengan pikiran dari organisasi yang satu ini.”
***
Keesokan harinya…
Distrik 3 penuh dengan masyarakat kota Akari baik itu pendatang atau asli. Suasana penuh sesak mengampiri festival hari jadi kota Akari.
Melihat sekelilingnya yang begitu ramai susah untuk dicari. Clara tenga mencari minuman karena cuacanya cukup panas. Setelah Clara kembali. Owen kemudian berdiri.
“Clara tunggu disini dan pantau jika ada keanehan. Aku ingin mencari orang yang tengah terlibat dalam organisasi BIRDS.”
Clara menganggukkan kepalanya. Owen kemudian berjalan menuju ke kerumunan.
***
Galuh memakirkan mobil Aston Martinnya di samping Aston Martin DB5. Galuh seketika kagum dengan mobil yang ada di sampingnya.
“Aston Martin DB5…”
“Mobil tersebut pernah dipakai dalam film 007,” potong Hina. “Benarkan, aku semalam menghabiskan waktu untuk menamatkan Casino Royale.”
“Aku tidak percaya jika kau menonton film tersebut.”
Mereka berdua kemudian turun dari mobil. Melihat pemandangan yang ada dihadapannya yang sangat ramai membuat Galuh sedikit lesu.
“Kalau ini namanya di luar ekspetasi.”
Hina kemudian menarik tangan Galuh. Mereka berdua mengantri untuk membeli tiket masuk. Saat mengantri, Hina hanya menundukkan kepalanya saja. Galuh kebingungan dengan tingkah Hina yang sangat aneh.
“Ada apa?”
“Tidak apa – apa, aku hanya merasa ini baru pertama kalinya kamu mengajakku,” ujar Hina dengan nada pelan.
Galuh mengingat sekali lagi. Kalau dipikir – pikir memang Galuh tidak pernah mengajak Hina. Kehidupan seorang otaku yang menyedihkan.
Mereka kemudian masuk ke dalam acara tersebut. Begitu ramai terdapat banyak yang menjual makanan. Hina terlihat senang sekali. Seketika dirinya melihat ada stan yang menjual Takoyaki. Mata Hina berbintang – bintang saat melihat Takoyaki.
“Galuh, aku ingin Takoyaki.”
“Baiklah, aku akan menunggu.”
“Tapi sebenarnya, aku tidak membawa uang. Boleh kan aku meminjam uangmu.” Dengan rayuan Hina seperti kucing yang meminta makanan, akhirnya Galuh luluh dengan rayuan Hina. Dirinya menghela nafas.
“Baiklah, tapi tidak usah dikembalikan ya…”
Wajah Hina berubah menjadi senang, karena ditraktir oleh Galuh.
“Terima kasih, Galuh.”
Aku memang berniat untuk mentraktirmu. Pikir Galuh dengan tersenyum saat melihat wajah senang Hina. Hina kemudian mengantri untuk membeli Takoyaki.
Tak lama dari itu, Shirou kemudian datang bersama perempuan yang kemungkinan umurnya lebih tua setahun.
“Galuh, selamat siang.” Sapa Shirou dari kejauhan.
“Shirou…”
“Perkenalkan dia adalah seniorku, Fubuki.”
“Galuh, salam kenal.” Kata Galuh.
“Dimana temanmu?” tanya Shirou.
“Dia sedang mengantri untuk membeli Takoyaki.” Jawab Galuh.
Selesai Mengantri, Hina kemudian mengampiri Galuh yang tengah berbicara dengan temannya Shirou. Tiba – tiba saja Hina merasa tidak asing dengan orang yang bersama Shirou.
“FUBUKI!” Hina kemudian berlari mengampiri mereka dengan berteriak.
Galuh sedikit terkejut jika Hina tengah memanggil nama dari perempuan yang berada di samping Shirou.
“Hina, jadi kalian berpacaran?” tanya Fubuki.
“Tidak,” jawab Galuh dan Hina secara bersamaan.
“Padahal kalian sangat cocok,” ujar Fubuki.
Shirou kemudian menarik tangan Galuh. “Sebentar aku ada urusan dengan cowok ini. Ini masalah pria jadi aku akan membawanya.”
“Eh tung..”
Mereka berdua meninggalkan Hina dan Fubuki.
“Kau masih sama saja. Jadi…”
“Apa ini urusan kasus?” tanya Galuh.
“Bukan, oh ya kalian berdua sangat cocok mengapa kalian tidak berpacaran saja?” tanya Shirou.
“Entah, aku memang menyukainya. Tapi…
Seketika seseorang berteriak. Galuh dan Shirou mengampiri sumber suara tersebut. Seseorang telah mati dan berlumuran darah. Galuh kemudian melihat seseorang tengah berlari masuk ke dalam kerumunan.
“Shirou tunggu disini dan jaga TKP. Aku melihat pembunuhnya.”