
Polisi Kotarou pun tiba di rumah sakit. Dokter tengah mempersiapkan beberapa data hasil dari pengoptosian. Data tersebut terletak pada dalam map yang berwarna coklat. Dokter Gina memberikan berkas tersebut pada polisi Kotarou.
Kotarou pun membaca data tersebut.
“Pak polisi, saya rasa korban memang benar kehabisan darah. Dan tidak ada racun dan sebagainya di dalam tubuh korban.”
“Baiklah, saya tahu itu. Apa ada data lain?” tanya Kotarou yang tengah menutup map coklat tersebut.
“Untuk saat ini tidak ada. Hanya ada luka tikam saja yang mungkin anda sudah ketahui,” kata dokter Gina.
“Ini sudah cukup bagiku.”
***
Asisten Kotarou yang bernama Shiro tengah memasuki bagian dalam area Fakultas. Dia tengah mencari orang yang dapat mengenal sang korban. Ruangan tengah Fakultas begitu luas dan ber-AC. Hanya ada satu loket yang terbagi menjadi dua bolongan pada kaca. Ruangan tersebut begitu senyap. Terdapat pula dua kursi yang bejajar disebrang loket. Mading yang begitu terawat, kacanya sangat bersih tidak ada debu sama sekali.
Seandainya aku kuliah sekarang. Pikir Shirou yang ternyata juga takjub melihat ruangan loby Fakultas Seni dan Budaya. Seketika dirinya melihat ada mahasiswi yang lewat. Shirou pun mengejarnya.
“Permisi,” panggil Shirou.
Mahasiswi tersebut berhenti dan memutar balik badannya sambil membawa buku kesenian. Mahasiswi itu berambut hitam dan panjang, pakaiannya berwarna putih lengan panjang dan rok se-lutut.
“Iya ada apa pak?” tanya Mahasiswi tersebut.
“Apakah kau mengenal korban yang terbaring di halaman Fakultas ini?” tanya Shirou.
***
Galuh dan Hina masih berada di Kafe. Mereka berusaha memikirkan siapa yang membunuh Linda. Coklat yang diminum oleh Hina tersisa setengah sedangkan kopi yang dipesan Galuh masih utuh. Panas kopi tersebut sudah mulai memudar. Hina sedikit jengkel saat melihat hal tersebut.
“Hina?” panggil Galuh saat dia memegang cangkir kopi yang dipesannya. “Bagaimana kita bisa masuk ke TKP?”
“Eh, kenapa, kalau tidak salah nanti siang pada pukul 12.00 adalah waktu istirahat para polisi.”
“Baiklah, kita akan menunggu waktu tersebut.” Ujar Galuh dengan tersenyum. “Karena jika satu bukti kuat saja tidak bisa kita dapat, kita bisa mengambil beberap bukti kecil. Seperti TKP, kita pasti dapat petunjuk disitu dan aku yakin itu.”
“Wow, tidak kusangkan kau bisa menjadi detektif.” Kagum Hina saat mendengar analisis yang masuk akal dari Galuh.
“Itu hanyalah analisis biasa, kau tidak perlu membesar – besarkannya,” kata Galuh. “Lagipula, aku memiliki ini karena berkah dari Tuhan. Namun pada dasarnya aku tetaplah manusia biasa.”
“Heh, ternyata seorang otaku pun bisa berbicara seperti itu,” ujar Hina. “Tapi ingat, itu bukan berarti aku suka padamu ya.”
Wajah Galuh pun berubah yang awalnya datar semakin menjadi lebih parah dari itu. “Tapi kalau kalau hal itu terjadi, aku tidak bisa menolongnya.”
“Heh, apa maksudnya?”
“Lupakan.”
“Ayolah.”
“Tidak akan,” jawab Galuh. “Suatu saat pasti kau akan memahaminya kok.”
“Lagipula aku juga sudah punya pacar.” Ungkap Hina.
Galuh hanya terdiam saja setelah mengetahui fakta tersebut. Entah itu hanya kebohongan atau bukan Galuh tetap saja tidak mempedulikannya. Biarkan saja hal yang tidak penting itu menjadi rumor belaka saja.
***
Shirou tengah mengajak mahasiswi yang tadi ia panggil saat di lobby Fakultas. Mereka berdua pergi ke kantin untuk membahas hal yang berkaitan dengan Linda. Kantin tersebut terletak di belakang Fakultas, pepohonan menghiasi kantin tersebut. Rindang dan dapat menuangkan imajinasi.
“Sebelumnya, namaku Shirou, kau?” tanya Shirou pada mahasiswi berambut hitam nan panjang tersebut.
“Namaku, Hana.”
“Baiklah, Hana, aku tidak akan menuduhmu sebagai pelaku pembunuhan tapi aku akan menanyakan hal yang berkaitan dengan kematian temanmu Linda.”
“Baiklah.”
“Pertama, apa yang dilakukan Linda semalam disini?” tanya Shirou.
Mereka berdua duduk tepat dibawah pohon yang paling tua di Fakultas. Hana mengamati pohon itu dengan cermat.
“Sebenarnya, Linda memiliki sebuah proyek,” ujar Hana. “Aku tidak tahu proyek apa yang akan dibuat oleh dirinya. Aku juga sering berdebat dengan dirinya tentang masalah proyek ini.”
“Jadi dia semalam membahas proyek?”
“Kurang lebih seperti itu, dan aku tidak tahu pasti proyek apa yang akan ia buat, akhir – akhir ini dia selalu saja menyendiri tidak tahu mengapa.”