
Samudra yang luas membentang. Sebuah pulau kecil dengan gedung tertinggi terlihat sangat jelas dari puluhan kilometer. Gedung utama dari pulau dimana kota Akari berdiri.
Sebuah alarm berbunyi. Tangan Galuh meraba meja lalu mematikan alarmnya. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Dirinya mengucek mata dan melihat langit – langit di kamarnya. Dia tinggal seorang diri di sebuah apartement.
Sudah sebulan semenjak kasus kematian Linda. Dirinya kembali seperti biasa. Seketika Galuh mencium bau sesuatu yang berasal dari luar kamarnya. Dia kemudian melompat dari kasur dan berlari untuk melihat apa yang terjadi di dapur.
Seorang perempuan cantik tengah memasak sesuatu. Hina namanya, setiap pagi dirinya yang membuat sarapan untuk Galuh.
“Sejak kapan kau disitu?” tanya Galuh.
“Sudah sejak pagi,” jawabnya dengan tersenyum.
“Jadi begitu, lalu bagaimana kau masuk?”
“Jangan pura – pura lupa kemarin kau memberikan kunci cadangan kamar apartementmu.”
Dirinya kemudian mengingat – ingat kembali kejadian kemarin. Galuh akhirnya mengingatnya. Dia pun berdiri menuju ruang keluarga untuk menonton televisi dengan mengenakan piyama yang berwarna biru.
Galuh menyetel TVnya, sebuah berita muncul kembali.
[Kasus pembunuhan sebulan yang lalu, menyebabkan kekacauan pada keluarga dari sang korban bernama Linda. Diperkirakan hal ini dilakukan oleh komplotan mafia tingkat internasional yang bernama BIRDS. Organisasi BIRDS kini tengah diincar para anggotanya dengan bantuan pihak Amerika dan Inggris.]
“Lagi – lagi organisasi itu berulah,” kata Hina yang tengah menyiapkan nasi.
“Dari kasus yang semula kecil menjadi bahasan internasional. Luar biasa sekali,” ujar Galuh dengan kagum. “Kapan hari jadi kota Akari?”
“Sebenarnya sudah terlewat, namun karena semenjak kasus Linda tersebut yang menyebabkan distrik dua kacau. Akhirnya acara tersebut diundur. Rencananya kalau tidak salah pada bulan ini lebih tepatnya sabtu besok,”
Galuh kemudian menoleh ke arah Hina.
“Sabtu besok kau kosong kan?” tanya Galuh.
“Eh, itu benar, aku sabtu besok kosong. Memang kenapa?” tanya Hina.
“Baiklah, aku akan mengajakmu kesana.”
Hina terdiam sejenak. Lalu wajahnya mulai memerah sepenuhnya karena malu. Baru pertama kalinya dirinya diajak oleh Galuh. Biasanya dia tidak pernah mengajak.
“Baiklah.”
Hina kemudian menundukkan kepalanya.
“Ngomong – ngomong terima kasih sudah membuatkanku sarapan,” kata Galuh dengan pelan.
Hina kemudian tersenyum. “Tidak apa – apa lagian juga aku butuh teman saat sarapan.”
***
Seusai sarapan mereka berdua menuju ke mobil Aston Martin pemberian dari Hana karena turut serta dalam mengungkapkan kasus kematian Linda. Suara mesin tersebut masih sama. Galuh kemudian menjalankan mobil tersebut menuju Universitas Akari.
“Hina?” panggil Galuh.
“Ya?”
“Tidak, memang kenapa?”
“Aku ingin mengajakmu ke kantor polisi. Kau tahu aku dipanggil kembali.”
“Baiklah.”
Hari menjelang sore. Mobil Aston Martin melesat di jalan raya yang tengah pergi menuju distrik 2. APD, kantor polisi Akari. Gedung tersebut sangat tinggi namun tidak setinggi gedung pusat. Kantor tersebut terletak di perbatasan distrik 2 dan distrik empat.
“BIRDS, adalah organisasi kriminal kelas dunia,” ujar Kotarou saat tengah menjelaskan apa itu organisasi BIRDS tersebut dihadapan Hina, Hana, dan Leo.
Ruangan persentasi tersebut sangat kecil. Biasanya diperuntukan orang yang terlibat dalam sebuah kasus kriminal. Namun kali ini mereka antusias mengikuti perkembangannya.
“IAF atau singkatan dari Intelligence Agents Force telah mengambil kasus ini sebagai sebuah tindakan. Organisasi ini ternyata dahulu pernah tidak terdengar kabar anginnya namun karena kini organisasi tersebut menyerang Akari jadi kita memiliki beberapa rencana.
“Rencana yang pertama adalah APD tidak akan ikut campur kecuali jika organisasi tersebut menyerang Akari. Rencana kedua, IAF cabang Akari akan mencari tahu dan berusaha mengejar pimpinan dari organisasi ini dengan dibantu oleh MI-6 dan CIA. Hanya ini saja tindakan yang akan diambil.” Ujar Kotarou. “Ada pertanyaan?”
Galuh mengacungkan tangan dengan cepat.
“Jadi ini adalah hasil simpulan, mengapa kalian memanggil kami?”
“Kalian termasuk salah satu korban meski kalian sebenarnya membantu tetap tujuan ini akan sangat rahasia. Aku ingin kalian semua ikut turut membantu menyelesaikan kasus ini. Cepat atau lambat kasus ini akan berakhir. Sebenarnya ini sudah permintaan dari walikota Akari dan kalian masuk ke dalam rencana pertama. Bersama polisi, kalian akan ikut mengusut tuntas kasus ini.”
Hina kemudian juga mengacungkan tangan.
“Lalu mengapa harus kami?, kami disini hanyalah mahasiswa. Jika kalian melibatkan kami dalam kasus ini…”
“Kuliah kalian juga akan mendapatkan bonus. Masuk atau tidak saat kelas. Kalian akan tetap dianggap ada, jadi kalian hanya perlu fokus belajar dan menyelesaikan kasus ini.” Jawab Kotarou.
“Lebih baiknya begini, kalian boleh meminta bantuanku atau kita semua. Selama kalian merasa kesulitan dalam memecahkan kasus. Ini adalah negosiasiku. Jadi bagaimana?” tanya Galuh.
Kotarou menganggukkan kepala tanpa berpikir panjang. Rapat pun berakhir, mereka semua keluar dari ruangan tersebut. Hana dan Leo memilih untuk pulang terlebih dahulu.
“Galuh?” panggil seseorang. Suara tersebut tidaklah asing di telinga Galuh.
“Shirou kan?” tanya Galuh. Dirinya kemudian memutar balik badannya. “Kupikir kau masih dinas.”
Mereka berdua kemudian bersalaman.
“Iya sudah selesai,” jawab Shirou. “Kau mau ikut besok sabtu. Festival hari jadi kota Akari.”
“Boleh, tapi bukannya kau bertugas?”
“Iya, tapi aku memilih cuti sementara disamping itu juga aku akan bertugas.”
“Baiklah, aku juga akan kesana bersama Hina.”
“Dimana dia?”
“Katanya dia masih ada urusan dengan temannya yang berada disini.”
“Oke, kalau begitu aku harus menyelesaikan dokumenku,” kata Shirou. Dirinya kemudian meninggalkan Galuh.