
Beberapa hari yang lalu, Sebuah ruangan aula yang tidak begitu luas yang hanya terdapat satu mimbar dan aula tersebut dipenuhi oleh banyak mahasiswa. Hana tengah mempresentasikan sebuah proyek seni terbaru dihadapan para mahasiswa.
“Sebuah proyek seni yaitu berupa pameran dan beberapa acara panggung, salah satunya adalah penampilan teater dan juga musik,” kata Hana saat dirinya sedang mempresentasikan konsep dasar tersebut.
“Untuk pelaksanaanya kapan?” tanya salah satu mahasiswa.
“Untuk pelaksanaannya sendiri akan dilaksanakan pada hari jadi kota Akari. Mengapa saya memilih waktu yang bertepatan dengan hari jadi kota Akari adalah pada saat itu banyak sekali festival – festival yang bermunculan pada waktu satu minggu penuh.”
Linda berdiri di belakang panggun dan merasa senang jika konsepnya dijelaskan dan didengar oleh mahasiswa. Proyek pameran seni adalah satu – satunya proyek yang diadakan sekali dalam setahun. Namun kali ini proyek tersebut bertepatan dengan hari jadi kota Akari.
Selama mengonsep hal tersebut, terjadi banyak sekali masalah yang mulai bermunculan salah satunya adalah tidak ada ruang dalam proyek tersebut untuk diselenggarakan satu minggu hari jadi kota Akari.
Linda terus berdebat dan bersikeras untuk mengadakan pameran disalah satu hari pada hari jadi kota Akari. Hana yang menjadi salah satu perancang tersebut mulai menenangkan seluruh anggota organisasi agar tetap tenang dalam ruang yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil.
Meski hal tersebut sangat ricuh dan sampai membuat berantakan ruangan organisasi. Seluruh anggota ada yang sepakat dengan hal tersebut ada juga yang menolak. Hal ini sangat wajar, ricuh dalam rapat. Hana pun memilih tetap berada dipihak Linda. Beberapa orang mungkin tidak setuju, namun Linda akan merombak seluruh rencana proyeknya agar didengar oleh panitia acara hari jadi kota Akari.
***
“Seperti itu ceritanya, mengapa proyek tersebut menjadi sesuatu yang sangat penting,” ujar Hana pada Shirou yang saat ini masih duduk di kantin.
Angin berhembus dengan perlahan membuat sebuah suara ranting berbunyi. Suasana tersebut dapat menenangkan Shirou sedikit. Dibalik pekerjaannya yang merepotkan ini, sebenarnya dia masih sangat depresi dengan beberapa alasan salah satunya adalah kejadian invasi kota Akari beberapa bulan yang lalu.
Kota Akari kini masih dalam pemulihan penuh. Jika pemulihan fisik sudah selesai namun ini adalah pemulihan mental para warga kota Akari. Korban jiwa saat itu banyak sekali yang berjatuhan.
Masa – masa yang buruk dalam hidup Shirou sebagai polisi APD.
***
Galuh dan Hina berjalan menuju kantin. Galuh terus memandangi cincin tersebut saat tengah berjalan menuju kantin. Apa yang dilakukannya tadi mungkin adalah hal yang melanggar peraturan, karena telah mengambil barang bukti kepolisian. Kemungkinan besar mereka berdua bisa dipenjara.
“Galuh, kamu terus – terusan memandangi cincin tersebut, apa kau tidak bosan?” tanya Hina dengan raut cemburu.
“Aku sangat penasaran.”
Setibanya di area kantin, tiba – tiba dirinya melihat polisi yang sedang berbicara dengan salah satu mahasiswi.
“Itu Hana.”
“Hana?”
“Iya, dia adalah salah satu temanku.”
“Apa?”
“Kau tahu, bukti tersebut lebih baik kau serahkan pada polisi, mungkin dia mau membantu untuk memecahkan kasus ini.”
“Kau benar, ini bukan cincin pertunangan,” ujar petugas polisi. “Tapi kau dapat ini darimana?”
“Di TKP tadi aku menerobos masuk.”
“TKP?, jadi kau yang menerobos masuk TKP?” tanya Shirou.
Galuh dan Hina menganggukkan kepalanya.
“Aku tidak mengerti bagaimana disana ada sebuah cincin. Apakah polisi melupakan bukti yang satu ini?”
“Bukti?”
“Iya, tadi pagi tidak ada bukti semacam ini. Dan seharusnya aku berterima kasih padamu karena telah menemukan ini.”
Galuh hanya menganggukkan kepala dan terdiam saja.
“Tapi bagaimana jika ini adalah bukti yang ditambahkan?” tanya Galuh.
“Maksudnya?”
“Tidak itu sangat mustahil sekali. Tapi aku yakin jika ini adalah bukti yang tertinggal. Kini aku sedang mencari cara bagaimana cara menerobos masuk ruang organisasi tersebut. Disana ada salah satu petunjuk yang ditinggalkan oleh Linda bukan?” tatapan Galuh mengarah pada Hana.
“Ah iya aku juga berpikiran seperti itu.”
“Seharusnya aku tidak boleh mengijinkan kalian untuk masuk. Tapi karena kalian semua bisa menjelaskan kasusnya, maka akan kuberi ijin kalian masuk.”
Shirou pun mengambil walkie talkienya yang terletak di celana belakang. “Ijin saya mendapatkan sebuah bukti katanya di dalam ruang organisasi terdapat beberapa bukti. Bisa ijin untuk memeriksanya, ganti?”
“Maaf, tapi kunci tersebut berada di kantor pusat.”
Shirou pun menghela nafasnya dengan lesu.
“Maaf, tapi kunci tersebut berada di kantor pusat.” Ujar Shirou.
Hana kemudian ingat dengan sesuatu hal. Dia memegang dagunya dan mengingat hal tersebut.
“Ngomong – ngomong, kalau tidak salah ada kunci di sekitar ruang organisasi. Kunci tersebut adalah kunci cadangan.”
Kekecewaan yang dilanda Galuh kini berubah, karena ada kunci cadangan yang tersedia. Galuh kemudian berdiri dari kursinya dengan semangat.
“Semakin kita cepat, semakin kita dapat menuntaskan kasus ini.”