
Kotarou tengah berada di distrik 2. Dirinya tengah memantau daerah tersebut. Dirinya menutup akses menuju distrik 2 karena ada orang yang mencurigakan, sesuai dengan perkataan Galuh tadi. Acara hari jadi kota Akari tahun ini diselenggarakan di pusat pemerintahan. Kemungkinan terburuk adalah pada distrik 2 ini akan ada kejadian yang lebih parah dari pembunuhan.
“Pak, kita mendapat pesan dari Shirou, beliau menemukan tempat persembunyian yang kemungkinan besar adalah tempat dimana pelaku pembunuhan berada,” kata salah satu polisi.
“Aku minta beberapa polisi mengikuti arahan dari Shirou. Aku yakin dia bersama anak itu, tengah menyelidiki petunjuk dari pelaku.”
“Baik pak.”
***
Galuh, Hina, dan Shirou memasuki tempat yang begitu gelap. Mereka masih menuruni tangga. Shirou siap siaga dengan pistolnya. Galuh tengah menerangi jalan yang ada dihadapannya.
“Menakutkan sekali tempat ini,” ujar Hina.
“Astaga, jika kamu ketakutan mengapa kamu mengikuti kami?” tanya Galuh yang tiba – tiba saja berhenti.
“Hmm, aku juga penasaran.”
“Tenang saja, aku dan Shirou akan melindungimu.”
“Baiklah, itu membuatku sedikit lega.”
Mereka bertiga berhasil menginjak lantai dasar. Tidak ada tangga yang turun lagi. Masih berbentuk lorong sangat gelap dan panjang. Seketika Galuh melihat ke dinding lorong. Terdapat banyak sekali lukisan yang tergambar pada dinding – dinding termasuk langit – langit.
“Sebuah mural?” Galuh bergumam saat memperhatikan dinding – dinding tersebut. Gambar – gambar tersebut berupa warga desa Akari yang tengah menyembah roh dari pulau ini. Cerita tersebut saling berkaitan. Di langit – langit hanya terdapat bintang – bintang.
Gambar – gambar tersebut seolah – olah hidup dari pandangan Galuh. Mengingat apa yang barusan ia lihat tadi siang. Akhir gambar juga menggambarkan kalau desa tersebut memang telah dilahap oleh api.
“Roh marah karena kesombongan warga Akari. Sangat masuk akal sekali.”
“Apa maksudmu?” tanya Hina.
“Warga Akari saat itu terlalu sombong karena karunia yang telah diberikan. Roh tersebut marah karena kesombongan tersebut yang dimana saat itu desa dilahap habis oleh api. Lalu tanah ini bercahaya. Tanah ini bercahaya karena kebakaran desa tersebut. Bisa dikatakan satu desa alias satu pulau ini terbakar. Karena satu pulau terbakar maka suburlah tanah ini, kota Akari memiliki harta karun dan harta tersebut adalah teknologi dan beberapa pengetahuan. Itulah mengapa kota ini maju dengan sangat pesat.”
Hina terus memandangi dinding tersebut. Dirinya kelihatan masih penasaran dengan cerita yang ada pada dinding tersebut. Dahulu kala desa Akari adalah desa yang paling makmur diseluruh dunia. Karena kesombongan warganya, desa tersebut terbakar.
“Galuh, apa kau yakin ini hanyalah sebuah legenda semata?” tanya Hina.
“Aku tidak tahu, ini legenda atau bukan, tapi yang pasti ini adalah ciri khas dari kota ini. Kita juga tidak tahu apa alasan pembunuh menyembunyikan ini. Jika ini sejarah maka invasi kota Akari beberapa bulan yang lalu adalah contoh bencana yang telah menimpa kota ini. Kita tidak tahu apa yang terjadi berikutnya. Kota ini memang selalu unik.”
“Galuh, jika aku boleh berpendapat. Bagaimana jika invasi kota Akari adalah sebuah permulaan. Rahasia kota ini sudah diungkap oleh seluruh dunia. Bisa saja akan ada perang dunia III dimulai. Selama ini kita tidak tahu berada dipihak mana.” Kata Shirou.
“Iya, itu bisa saja terjadi, perang dunia III bisa dikatakan sebagai perang nuklir yang dimana nantinya umat manusia akan menemui kepunahan bagi mereka yang tidak bisa bertahan hidup. Bahkan kita tidak tahu, setiap orang punya penilaian terhadap masalah mereka masing – masing. Ini adalah masalah sepele bagi kita tapi tidak bagi mereka.” Ujar Galuh.
***
Setibanya di kantor polisi, Kotarou kemudian pergi ke meja kerjanya. Dirinya menyalakan komputernya lalu mencari informasi tentang legenda tersembunyi di data bank. Namun data bank hanya membatasi dengan password tertentu. Password tersebut tidak diketahui oleh Kotarou.
“Apakah sangat rahasia sekali untuk mencari data di data bank?”
Kotarou kemudian mematikan komputernya lalu berjalan menuju parkiran. Setibanya di parkiran, Kotarou menaiki mobilnya lalu menyalakan mesin. Kali ini dia berniat pergi ke perpustakaan pusat yang berada di distrik 4.
Hari pun sudah menjelang sore dan kasus ini pun masih belum tuntas.
***
Galuh, Hina, dan Shirou terus berjalan setelah sekian berhenti di depan mural (gambaran yang berada di dinding sejak jaman dahulu). Namun setelah sekian lama berjalan mereka menemukan tempat yang begitu luas dan terpasang obor di dinding kiri dan kanan dan juga terdapa satu pintu kayu tua tanpa ada yang menjaga.
“Aku paling benci jika dibalik pintu ini terdapat orang banyak,” kata Galuh.
Mereka berdua pun berjalan perlahan menuju pintu tersebut. Setibanya di depan pintu, Galuh membuka pintu itu perlahan lalu mengintipnya. Terdapa banyak sekali orang yang berdiri melingkar di dalam ruangan tersebut.
“Mungkin kita harus menunggu beberapa polisi terlebih dahulu.” ujar Shirou.
***
Di dalam tempat yang berbentuk kotak tersebut setiap orang masuk ke dalam lingkaran tersebut yang dimana di tengahnya terdapat sebuah sajian berupa bahan – bahan mentah. Mereka memutari sajian tersebut dengan menyanyi.
Seketika, pintu pun terdobrak.
“APD!, angkat tangan kalian semua!” seru Shirou sambil menodongkan pistolnya. Bersama pasukan polisi yang lain mereka semua masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Ada apa ini?” tanya salah satu orang yang mengenakan jubah cokelat.
“Aku harap kalian untuk tenang,” ujar Shirou.
Galuh kemudian teringat dengan sesuatu hal. Dirinya tiba – tiba tersenyum saat melihat orang – orang yang tengah melakukan ritual tersebut.
“Tenang dan maaf kami mengganggu.” Ujar Galuh saat dirinya berjalan maju. “Kami sungguh minta maaf telah mengganggu ritual kalian. Aku akhirnya mengerti mengapa semua ini terjadi, benar kan Hana?” Galuh kemudian menoleh pada salah satu anggota ritual tersebut. Seketika Hina pun juga terkejut jika Hana masih hidup.
“Ya, setidaknya memang aku anggota dari ritual ini, tapi aku disini membantu kalian, tidak mungkin aku mengajak kalian masuk kesini.” Jawab Hana.
“Tapi bagaimana bisa?”
“Aku menyadarinya saat melihat di toilet, itu hanyalah sebuah manekin. Hana sengaja memberimu sebuah kunci agar kita dapat mengikuti petunjuk dirinya. Lalu kedua saat itu kau tengah ketakutan dan menganggap Hana benar – benar telah meninggal. Wajar saja polisi dan ambulance tidak datang karena memang ini adalah bentuk permainan dan drama. Menarik sekali idemu Hana.”
“Maaf, anggota – anggota, aku tidak bermaksud menuduh kalian semua,” kata Hana. “Aku disini hanya menyampaikan bahwasanya di luar sana ada orang meninggal dan mengatasnamakan kita sebagai pembunuhnya. Kita disini hanya melanjutkan adat dari nenek moyang kita, bukan untuk mengacaukan apa yang ada dihadapan kita. Jadi aku harap kalian semua mengaku dan menyerahkan diri pada polisi.”