The Unidentified Project

The Unidentified Project
BAB 7



Galuh kemudian meninggalkan Hina dan Hana. Dirinya berjalan menjauh dari mereka. Hina kemudian menarik tangannya.


“Galuh?, ini belum berakhir kan?” tanya Hina.


“Sudah, semua sudah berakhir.” Jawab Galuh dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana.


Hina berdiri terpaku setelah mendengar nada Galuh yang biasa saja. Nada tersebut berbeda dari biasanya. Kemungkinan dia sebal karena yang ada dihadapannya adalah sebuah kasus masa kelam Akari yang dimana Galuh tidak mau membahas hal tersebut.


“Galuh, jika kau merasa ini sudah berakhir, kau boleh pulang. Maaf sudah melibatkanmu selama ini.”


Galuh masih terus berjalan seolah dia sedang mendengar apa yang dikatakan oleh Hina.


Setibanya di Apartemennya, dirinya pergi ke kamar dan menjatuhkan badannya di atas kasur. Dirinya hanya memandangi langit – langit kamarnya. Tiba – tiba dia melihat sebuah bayangan, Sebuah kalimat yang berulang kali disebut oleh dirinya. Bayangan yang dilihatnya sebuah kejadian di masa lalu kota Akari. Banyak sekali pertumpahan darah pada saat itu. Desa Akari tempat dimana disebut sebagai tempat kedamaian. Semua berubah ketika banyak sekali negara yang memperebutkan kota ini.


Api dimana – mana, melahap habis desa tersebut. Sebuah roh jahat muncul dari tanah desa tersebut. Asal muasal kota Akari adalah dari roh tersebut yang menyinari tanah landasan ini.


Sang roh tersebut mengucapkan sebuah kalimat, “Sebuah penampilan yang mengungkapkan sisi gelap kota Akari. Dimana dulu terdapat keyakinan yang sangat fanatik. Ini sebuah kunci legenda kota Akari. Tanah yang penuh dengan kesengsaraan. Memang sebuah reklamasi namun ketika itu tanah ini bercahaya terdapat harta karun yang menjadikannya sumber kehidupan di kota Akari. Hidup dan mati tidak dapat ditentukan, Seseorang tengah mencari harta tersebut. Disisi gelap kota Akari terdapat ritual dan situs yang sangat kuno. Situs tersebut bertentangan dengan apa yang diyakini oleh warga kota Akari saat ini. Ketika berhasil ditemukan, kutukan akan melanda. Ilmu pengetahuan akan musnah. Biarkan ini menjadi sesuatu yang sangat sakral.”


Galuh kemudian terbangun dari kasurnya. Dia berusaha merangkai kata – kata tersebut yang membuatnya menjadi satu paragraf. Seluruh kalimat tersebut adalah pesan. Pesan yang dimana sesuatu yang benar – benar rahasia tidak boleh diungkapkan dihadapan publik.


Roh tersebut menyinari tanah ini sehingga Akari memiliki arti cahaya. Akari kini diyakini sebagai pulau reklamasi, namun nyatanya bukan.


Tiba – tiba saja ponsel Galuh berdering. Galuh bergegas dan melihat nama yang sedang menelepon dirinya. Hina, menelepon Galuh, berarti ada sesuatu yang tidak beres.


“Halo”


[Galuh, kau dimana?, ada kabar buruk disini.]


“Ada apa?” tanya Hina.


[Hina dibunuh di toilet. Mayatnya terbari di depan wastafel.]


“Baiklah aku akan kesana.”


Galuh, bergegas mengambil jaket dan sepatunya. Dia berlari keluar dari apartemennya. Mengapa kasusnya menjadi tambah rumit. Pikir Galuh saat tengah berlari di tangga menuju lobby. Ia kemudian memanggil taksi, menaiki bus bukanlah waktu yang tepat untuk saat ini.


Setibanya di kampus, Galuh menghubungi Hina. Namun teleponnya tidak diangkat. Galuh kemudian berlari menuju lokasi dimana kasus pembunuhannya terjadi. Setibanya di toilet perempuan, dia melihat Hina sedang ketakutan.


“Polisi belum datang?” tanya Galuh.


Galuh kemudian masuk ke toilet perempuan. Dirinya melihat Hana terbaring dengan terlentang. Darahnya berceceran dibawah. Dia pasti ditikam. Namun anehnya ada sebuah petunjuk di cermin yang bertuliskan.


‘Pergilah ke Distrik 2, rahasia terbesar akan terungkap. Bom akan meledak.’


Galuh memiliki hal yang tidak baik. Distrik 2 adalah pusat pemerintahan kota Akari. Dia kemudian keluar dari toilet. Hina tengah berdiri ketakutan di depan pintu toilet.


“Kita harus ke distrik 2. Terjadi pengepungan besar – besaran disana,” kata Galuh. “Tapi bagaimana kita ke sana?”


“Tadi Hana menitipkan aku kunci mobil. Aku harap kau bisa mengemudikannya.”


Hina, mengeluarkan kunci mobil tersebut dari kantung roknya. Lalu memberikannya pada Galuh.


“Baiklah.”


Galuh dan Hina berlari mencari mobil Hana yang terpakir di pakiran mobil Fakultas. Parkiran tersebut ada dua. Satu di basement dan satu lagi di dekat halaman.


Mereka berlari ke halaman lalu Galuh menekan remote yang berada di kuncinya. Sebuah alarm mobil berbunyi.


“Itu mobilnya.”


Mobil berwarna abu – abu, bermerk Aston martin tipe DBS.


“Aku tidak menyangka akan menaiki mobil sport ini,” kata Galuh saat duduk di belakang kemudi.


“Kau tahu tipe mobil ini?” tanya Hina.


“Mobil ini pernah tayang di satu film yang melegenda dan bertahan hingga sekarang.”


“Film apa itu?”


Galuh menyalakan mesinnya dan menginjak kopling beserta tangan kanannya memegang persneling dan memidahkannya ke satu. Lalu dirinya menoleh ke Hina.


“007, James Bond,”


Mobil berwarna abu – abu itu mulai bergerak. Dan melesat menuju jalan raya. Mobil yang mereka kendarai kini sedang melajut melesat menuju distrik 2.