
Mobil polisi yang dinaiki oleh Kotarou tengah berjalan dengan sangat cepat menuju Universitas Akari. Informasi yang didapat oleh Shirou mungkin sedikit berguna agar dapat menunjukkan siapa pelaku yang melakukan pembunuhan tersebut. Sirine berbunyi, seluruh mobil mulai menepi. Kotarou sangat terburu – buru kali ini.
***
Masih di ruang organisasi, Galuh memeriksa data yang lainnya. Terdapat sebuah proyek pementasan puisi yang akan diselenggarakan pada pameran nanti.
Baiklah, apa yang kita dapat kali ini, kata Galuh dalam hatinya. Ia membalikkan kertas, dan di dalamnya terdapat sebuah analisis konsep.
‘Hidup dan mati tidak dapat ditentukan, Seseorang tengah mencari harta tersebut. Disisi gelap kota Akari terdapat ritual dan situs yang sangat kuno. Situs tersebut bertentangan dengan apa yang diyakini oleh warga kota Akari saat ini.’
Galuh terdiam sejenak saat selesai membaca konsep yang akan diangkat.
“Aku takut, jika ini kaitannya dengan sesuatu yang diyakini.”
“Kenapa?” tanya Hina.
“Sesuatu malah membuatku merasa ganjil. Aku pernah membaca buku semacam ini, namun kalau tidak salah buku tersebut ada di perpustakaan Fakultas.”
Galuh kemudian berlari keluar bersama Hina. Hana dan Shirou diminta untuk tetap berada di ruangan tersebut.
Setibanya di ruangan perpustakaan, Galuh dan Hana kemudian menempelkan kartu mahasiswanya ke papan absen perpustakaan. Ruangan perpustakaan tersebut sangat besar. Bukunya tertata dengan rapih. Suhunya begitu dingin. Tenang tidak ada suara. Para mahasiswa tengah membaca untuk pelajaran dan ada juga untuk penelitian.
Galuh dan Hina mencari huruf yang berkaitan dengan legenda kota Akari. Sisi gelap kota Akari kini mulai tampak kembali. Galuh mencari buku dari lemari satu ke lemari lainnya. Hina juga mencari disisi lainnya.
Tak lama kemudian, Galuh kemudian menemukannya. Dia kemudian mencari Hina.
“Hina, aku menemukannya.”
Mereka berdua kemudian mencari tempat duduk. Setelah mendapatkan tempat duduk, Galuh meletakkan buku yang super tebal tersebut di atas meja.
“Coba kita cari legenda itu.”
Galuh membuka buku tersebut dan melihat isi halamannya. Dia menunjuk satu – satu halaman tersebut. Setelah menemukannya, Galuh kemudian membuka halaman yang dituju. Dirinya kemudian membaca judul pada bab tersebut yaitu Situs kuno Akari.
Kemudian dirinya menemukan sebuah kalimat yang sama seperti yang dibacanya.
‘Hidup dan mati tidak dapat ditentukan, Seseorang tengah mencari harta tersebut. Disisi gelap kota Akari terdapat ritual dan situs yang sangat kuno. Situs tersebut bertentangan dengan apa yang diyakini oleh warga kota Akari saat ini.’
Namun terdapat lanjutannya. ‘Ketika berhasil ditemukan, kutukan akan melanda. Ilmu pengetahuan akan musnah. Biarkan ini menjadi sesuatu yang sangat sakral.’
Galuh kemudian menyandarkan badannya di atas kursi yang didudukinya. Dia merasa sedikit jenuh jika kaitannya sudah berhubungan dengan hal yang tak kasat mata.
“Mengapa begitu?, lalu apa kaitannya dengan mitos ini?” tanya Hina.
“Mitos adalah salah satu bagian dari budaya. Dan itu adalah salah satunya. Legenda kota Akari yang sangat tabu untuk dibuat cerita.”
Hina kemudian membaca sekilas kembali buku tersebut, lalu menutupnya. “Jadi orang ini sangat fanatik terhadap budaya Akari?”
“Bisa dibilang begitu, orang tersebut tidak ingin kutukannya melanda kota Akari. Aku tidak tahu bagaimana jalan pikiran sang pembunuh.”
***
Kotarou pun tiba di Fakultas. Ia kemudian turun dari mobil dan mencari Shirou untuk menerima data – datanya. Dirinya menemukan Shirou yang tengah berdiri di ruang organisai.
“Bagaimana perkembangannya?” tanya Kotarou.
“Ini agak sedikit konyol pak, namun percayalah, semua ini berkaitan dengan sisi gelap kota Akari,” ujar Shirou.
“Sisi gelap kota Akari?” tanya Kotarou dengan tidak percaya. “Percayalah, ini akan lebih buruk dari dugaanku. Berdasarkan beberapa bukti yang saya terima, Akari memiliki budaya yang dimana budaya tersebut sakral untuk diketahui oleh publik. Linda dibunuh atas dasar itu.”
Kotarou mengepal tangannya dengan sangat erat. Dia sudah jengkel dengan sisi buruk kota Akari. Namun semua pasti ada hikmahnya. “Sisi buruk kota Akari adalah sebuah harta karun itu kan?” tanya Kotarou.
“Itu benar.”
Galuh dan Hina kemudian berlari menuju ruang organisasi. Saat itu ada dua polisi yang tengah membicarakan sesuatu.
“Situasi seperti ini seharunya tidak terja-”
“Maaf pak polisi,” potong Galuh. “Ada situasi dimana memang ini bukanlah kesalahan sepihak. Tapi memang korban yang bernama Linda ini memang tengah membuka sisi gelap kota Akari. Yang dimana itu adalah sesuatu yang tabu untuk diceritakan ke publik.”
“Peraturan tetaplah peraturan. Ini bukanlah era kuno seperti dulu. Namun kemana petunjuk ini mengarah?”
Galuh kemudian membuka mulutnya. “Dimana tempat pelaksanaan perayaan hari jadi kota Akari?”
“Tahun ini akan diadakan di distrik dua, pusat pemerintahan.”
Kedua polisi tersebut berlari meninggalkan mereka bertiga. Galuh merasa semuanya sudah berakhir, kini dia hanya tinggal pulang ke apartemennya.
“Sudah berakhir, semua akan baik – baik saja.” Ujar Galuh.