
Hujan turun sangat deras, membasahi seluruh jalanan dan gedung – gedung tinggi. Seorang pria tengah duduk di halte untuk menunggu bus yang akan lewat pada malam hari. Hanya ada dirinya dan petugas keamanan di halte tersebut. Suasana sangat dingin sekali. Untungnya pria tersebut mengenakan jaket tebal.
“Hari ini dingin sekali,” kata petugas keamanan bus tersebut.
“Iya, suhu terendah di kota Akari.”
“Kau masih mahasiswa kan?” tanya petugas tersebut.
“Seperti itulah.” Jawab pria tersebut.
Petugas keamanan itu kemudian melihat sesuatu dibalik bayang – bayang yang gelap yang ada dihadapannya.
“Kelihatannya kita kedatangan tamu lagi.” Ujar petugas tersebut.
Seseorang tengah berlari menuju halte bus ditengah hujan. Suara gemericik air begitu jelas. Namun akhirnya dia tiba di halte tersebut. Pakaiannya basah, sepatunya juga basah. Dia menutupi kepalanya dengan tas berwarna coklat yang ia bawa.
Dia adalah seorang wanita yang masih muda kira – kira berumur 20 tahun. Pria yang duduk di kursi melihat wanita tersebut lalu mengalihkan pandangannya lagi.
“Maaf pak, apa masih ada tiket?” tanya wanita tersebut pada petugas keamanan.
“Masih ada, tapi bus sedang dalam masalah, jadi mungkin akan memakan sedikit waktu lama. Apa kau tergesa – gesa?” tanya Petugas keamanan.
“Tidak.” Jawabnya.
Wanita tersebut kemudian duduk di sebelah pria tersebut. Dia membenahi rambutnya lalu membuka ponselnya. Namun isi tasnya tiba – tiba basah. Dan kertas – kertas proyeknya juga jadi rusak.
Wajah wanita itu jadi sebal karena kesialannya pada hari ini. Lalu dia menutup tasnya. Dia kemudian melihat kiri – kananya. Pandangan wanita tersebut berhenti pada pria yang ada di sebelahnya. Namun wanita tersebut tiba – tiba merasa tidak asing dengan pria yang ada di sebelahnya.
Pria itu merasa terkejut karena wanita yang ada disebelahnya mengetahui namanya. Suasana kemudian yang semula sepi menjadi menyenangkan dan berwarna bagi wanita itu. Galuh kemudian menoleh ke arah wanita yang ada di sebelahnya.
“Apa kita pernah bertemu?” tanya Galuh.
“Hee, masa kamu lupa?, aku Hina teman SMP dan SMAmu.” Jawabnya.
“Oh, aku lupa. Maafkan.”
“Iya tidak apa – apa, kamu memang pelupa.”
Mereka pun memulai basa – basi di halte bus sambil mengingat masa lalu mereka yang begitu indah.
Awal kenalan mereka dimulai sejak SMP kelas satu. Saat itu Galuh duduk disamping Hina. Awalnya Hina biasa saja saat duduk disampingnya. Keduanya saling diam, menyapa pun juga tidak. Namun ketika Galuh mengeluarkan manga dengan judul A Certain Scientific Railgun. Hina pun langsung terkejut.
“Hee, itu manga keluaran terbaru ya?” tanya Hina.
“Ah iya, kau juga menyukainya?” tanya Galuh kembali.
Hina menganggukkan kepalanya. “Aku juga cukup mengikutinya.”
“Begitu ya.”
Saat itulah persahabatan mereka dimulai dan pada saat itulah Hina mulai dekat dengan Galuh. Sifat kedua orang tersebut sangat berbanding terbalik. Hina lebih aktif dan Galuh cenderung pasif. Meski begitu mereka jarang sekali untuk berkelahi atau bertengkar. Hal itu kadang membuat teman satu kelas mereka salah paham.
Galuh tidak mempedulikan ejekan yang dilakukan teman sekelasnya. Namun hal tersebut lama kelamaan tertutup dengan kercedasan Galuh saat dirinya mengerjakan soal matematika dan fisika. Tidak hanya itu saja, hampir semua mata pelajaran ia kuasai semua. Namun karena sikap dan kecerdasannya tidak sebanding. Hal itulah yang membuat dirinya berbeda dan dikucilkan dari teman – temannya.