
Owen berlari diantara kerumunan mengejar seseorang. Lalu di belakangnya disusul oleh Galuh yang juga ikut mengejar. Orang yang tengah dikejar oleh Owen tiba di gedung tua yang semalam ia datangin.
Pria tersebut masuk ke dalam bangunan tua tersebut dengan ketakutan. Owen kemudian mengikuti juga sambil menodong pistol pada pria tersebut.
“Ampuni aku tolong.”
“Di mana dia?”
“A..ku tidak mengetahui apa yang kau bicarakan?”
“Jawab, dimana dia?”
Tepat di balik pintu yang mereka masuki Galuh tengah mendengarkan percakapan mereka.
“Kau adalah salah satu anggota BIRDS, aku sudah mendapatkan info tentangmu. Sekarang aku bertanya dimana pimpinan mu berada?” tanya Owen yang masih saja menodongkan senjatanya. Raut wajahnya penuh amarah. Dirinya tidak sabar untuk segera menarik pelatuknya.
Pria tersebut tidak menjawab, seketika Owen kemudian membunuh pria tersebut dengan sekali tembakan. Galuh kemudian mendadak masuk dan secara bersamaan mereka berdua saling menodongkan pistol.
Mereka berdua saling bertatapan.
“Membunuh petunjuk sama saja kau menghilangkan jejaknya.” Kata Galuh yang masih menodong pistolnya dengan kedua tangannya.
“Itu lebih baik untuk membuka petunjuk lain.” Jawab Owen. “Ngomong – ngomong siapa kau?”
“Galuh, detektif.”
“Detektif?” tanya Owen.
“Aku mengetahui semuanya. BIRDS, mafia tingkat internasional yang telah hilang selama 23 tahun dan baru muncul sekarang.”
“Kau tidak akan pernah tahu siapa aku.”
“IAF, itu tempatmu berada?” tanya Galuh yang menurunkan senjatanya.
“Dari mana kau tahu?”
“Mobilmu Aston Martin DB5. Mobil tua yang hanya digunakan pada organisasi mata – mata tertentu. Aku dengar juga kabar IAF juga mengenakan kendaraan semula. Kedua kau orang asing yang bukan dari penduduk Akari asli dipastikan kau dari cabang Indonesia mungkin.”
“Apakah IAF telah kebocoran identitas?”
“Tidak juga,” jawab Galuh. “Tapi aku disini bersama APD siap menjalankan tugas untuk mengejar organisasi ini.”
“Baiklah detektif, apa langkahmu terhadap petunjuk didepan ini?”
“Karena dia sudah mati, kita hanya perlu mengecek barang – barang bawaannya. Seperti dompet dan identitas. Seharusnya kau lebih paham tentang hal ini ketimbang diriku.”
Galuh kemudian mengampiri mayat yang ada di depannya. Dia berjongkok kemudian merabah ke segala kantongnya lalu menemukan sebuah dompet dan passpor. Galuh kemudian membuka dompetnya.
“Terdapat KTP bernama John Flint, dia berasal dari Amerika. Dan juga passpor yang namanya juga sama.”
“Itu hanyalah samaran. Nama aslinya adalah Fred Hunt. Penyelundup narkoba ke berbagai negara. Dia juga memiliki jaringan kuat dan juga memiliki riwayat bekerja sama dengan BIRDS hingga kini.”
“Baiklah,” Galuh kemudian membuka buku paspornya. “Terakhir dia pergi ke Indonesia, Jakarta. Apa yang dia lakukan?”
“Entahlah,” jawab Owen.
Galuh kemudian melihat tangannya, terdapat sebuah lambang burung elang.
“Aku pikir memang BIRDS sedang berulah di Akari,” ujar Galuh. “Bukti yang kuat adalah setiap anggotanya mengenakan cincin burung. Sebelumnya burung merpati sekarang burung elang. Apa ada maknanya?”
“Aku tidak mengerti tentang simbol yang ada di cincin tersebut,” jawab Owen.
“Aku memiliki firasat jika yang dibunuh adalah orang yang terpenting.”
“Apa maksudmu?” tanya Owen.
“Anggota BIRDS tengah mengincar orang – orang terpenting. Salah satunya adalah pengusaha yang sangat kaya. Aku tidak tahu apa tujuan sebenarnya tetapi ini dari kasus sebelumnya yaitu kematian Linda. Hal ini terjadi karena orang tua mereka kemungkinan tidak ingin menandatangani perjanjian mereka.”
“Apa langkah berikutnya?” tanya Owen.
“Kita harus kembali ke TKP. Kemungkinan APD sudah mendapatkan otopsinya.”
Mereka berdua kembali ke TKP untuk melihat tubuh korban. Galuh menyapa Shirou dan mengembalikan pistolnya.
“Sama – sama.”
“Apa yang kau dapat?” tanya Galuh.
“Dia adalah anak dari pengusaha cukup terkenal di dunia. Namanya adalah Tersia. Dia adalah anak dari Yumi dan Peter. Perusahaannya bernama Peter Industry. Perusahaan yang dijalankan adalah perusahaan minyak bumi.”
“Bensin?” tanya Galuh.
“Tepat sekali.”
“Ada lagi?” tanya Galuh.
“Pisau. Pisau tersebut tertancap dipinggangnya dan juga ada tulisan di mata bilahnya.”
“Apa tulisannya?”
Shirou kemudian menunjukkan tanda bukti tersebut yang sudah di plastikan. Galuh membacanya dengan seksama.
“Jangan pernah mengikuti atau orang yang kau sayangi akan mati.”
Galuh kemudian memberikan pisau tersebut.
“Apa langkah selanjutnya?” tanya Shirou.
“Karena petunjuknya sudah hilang dan gara – gara orang ini dia yang menghapuskan jejaknya.” Galuh tengah menunjuk Owen.
Shirou kebingungan. “Apa yang sedang kau bicarakan?”
“Aku Owen,” dirinya kemudian berjabat tangan dengan Shirou dan berbisik di telinga Shirou. “Aku IAF.”
Shirou kemudian terkejut seketika. Tidak ada raut senang dan jika IAF berada di Akari berarti anggota organisasi tersebut masih di sini.
“Jadi…”
“Orang tua dari Tersia, itulah tujuan kita selanjutnya. Aku ingin Hina berada di APD karena ini akan membahayakan nyawanya.”
“Baiklah.” Jawab Shirou.
***
Di APD, seluruh orang berkumpul termasuk IAF untuk membahas lebih lanjut tentang organisasi BIRDS yang masih meneror kota Akari. Mereka berempat dikumpulkan dalam sebuah ruangan rapat. Galuh sangat mengenal ruangan rapat tersebut karena sebelumnya dirinya sudah pernah masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Baiklah kita mulai rapatnya.” Kotarou memulainya dengan menayangkan slide pertama dalam persentasi kasus ini.
“Anggota BIRDS masih berada di Akari. Mereka bisa menyerang siapapun disini. Korban yang mati karena pembunuhan organisasi tersebut adalah mereka yang keluarganya memiliki perusahaan yang cukup kuat.
“Untuk tujuan sendiri, kita masih belum mengetahui tujuan yang sebenarnya,” ujar Kotarou. “Ada yang ingin ditanyakan?”
Galuh mengangkat tangannya. “Apa kau masih menyimpan cincin sebelumnya yang pernah ku serahkan pada Shirou?”
“Tunggu sebentar.”
Kotarou kemudian mengampiri petugas yang sedang berdiri di belakang Galuh. Dia kemudian berbisik, lalu petugas itu keluar dan Kotarou kembali berdiri di samping proyektor.
“Cincin tersebut masih ada sebagai barang bukti. Apa kau tengah memiliki petunjuk berikutnya?” tanya Kotarou.
“Kemungkinan,” jawab Galuh. “Aku sempat merasakan kejanggalan.”
Owen juga mengangkat tangannya. “Beberapa data yang telah kalian berikan pada kami masih belum terlalu lengkap. BIRDS ada di mana – mana dan kita tidak tahu siapa pelakunya. Tapi anggota yang mati tadi dia berasal dari Indonesia dan mereka menyamarkan namanya.”
“Anggota BIRDS memang sebelumnya pernah meneror Indonesia tepatnya di jalan tol dekat dengan kota Jakarta. Itu terjadi 23 tahun yang lalu. Lalu organisasi ini lenyap dan tidak melakukan aksi. Pertanyaannya adalah dari mana datangnya organisasi ini dan apa tujuan mereka melenyapkan diri selama 23 tahun?” tanya Galuh. “Tapi bagaimana jika organisasi ini memang melanjutkan misinya setelah berakhir di Jakarta?”
Seketika ruangan mulai hening. Petugas yang tadinya diperintah oleh Kotarou kini membawa cincin sebelumnya. Galuh kemudian mengeluarkan cincin yang dia dapat tadi.
“Logo pertama adalah merpati dan logo kedua adalah elang. Sudah dipastikan jika BIRDS memiliki anggota yang dimana setiap cincinnya memiliki makna tersendiri.” Kata Galuh sambil membawa kedua cincin tersebut.
“Dua anggota BIRDS ada di Akari.” Kata Owen.
“Iya seperti itulah. Petunjuk selanjutnya adalah Peter Industry.”