The Unidentified Project

The Unidentified Project
[FLIGHT TO LONDON] BAB 5



Seluruh personil polisi ditugaskan untuk mencari nama – nama yang masuk dalam daftar pencarian APD karena telah dijadikan tersangka atas pembunuhan tuan Ferdinand. Mobil polisi sebanyak tiga buah berpencar di perempatan kota Akari yang menghubungkan lima distrik sekaligus.


Jalan tersebut memang berada di jalan tol yang digunakan sebagai akses tercepat pergi ke berbagai distrik.


Galuh berdiri menghadap ke jendela, dirinya melihat ke berbagai gedung yang sangat tinggi. Dirinya membawa kopi dan berdiri tengah memikirkan sesuatu.


Langit sudah berubah menjadi oranye. Selalu ada – ada saja dengan kota yang begitu maju ini. Dirinya juga tidak mengetahui apakah Owen bisa mengakhiri semua ini.


Hina berdiri di balik bayang – bayang. Melihat Galuh yang terlihat agak depresi karena akhir – akhir. Kemungkinan ini memang kesalahan Hina karena telah melibatkan dia dalam kasus ini. Seharusnya dia tidak meminta tolong pada Galuh.


Merasa bersalah, Hina pun menangis di balik bayang – bayang tersebut. Hina menganggap dirinya yang paling bersalah. Mengajak orang seenaknya saja untuk memecahkan kasus – kasus sebelumnya. Ia kemudian menundukkan kepalanya dan merenungkan perbuatannya.


Setelah itu, Hina mendongakkan kepalanya lagi. Sosok Galuh menghilang begitu saja. Namun saat memutar balik badannya Galuh sudah berdiri tepat di hadapannya.


“Mengapa kau menangis?” tanya Galuh.


“Galuh?”


“Kenapa?”


“Mengapa kau ada di sini bukannya kau sebelumnya di sana?”


“Aku mendengar suara tangisan tadi,” ujar Galuh. “Karena aku merasa penasaran aku pun mengampirimu. Jadi ada masalah apa sebenarnya?”


“Tidak ada.”


“Kau berbohong kan?” tanya Galuh. “Bukankah orang menangis itu sudah pasti ada masalah? Kau tahu hal tersebut dan juga kau pernah mengatakan hal tersebut pada saat SMP. Aku menangis karena teman sekelas dan hanya kau saja yang menghiburku. Dan kata – katamu yang selalu kuingat adalah ‘bukankah orang menangis itu sudah pasti ada masalah?’


“Lagipula sudah dipastikan kau pasti memiliki masalah bukan?”


Hina pun tersenyum.


“Mungkin lain kali saja akan aku ceritakan.”


Hina kemudian berjalan melewati Galuh begitu saja. Kau ini ada – ada saja rupanya. Galuh berpikir dan menganggap perasaan Hina sangat susah untuk ditebak.


***


Ketiga tersangka telah dibawa ke kantor polisi, Hani, April, dan Rina merupakan tersangka yang membunuh tuan Ferdinand.


Galuh dan Shirou memasuki ruangan introgasi dan akan menanyai ketiga wanita tersebut. Wanita pertama yang akan ditanyai adalah Hani, wanita berambut pirang dipastikan dia adalah orang luar.


“Namamu Hani?” tanya Shirou.


“Iya,” jawabnya.


“Bisakah jelaskan hubunganmu dengan tuan Ferdinand?”


“Apa ini berkaitan dengan kematiannya?”


Galuh yang duduk di belakang Shirou mulai mencurigainya. Ia mengambil buku catatannya yang berada di sakunya.


“Iya itu benar sekali,” jawab Shirou.


“Tuan Ferdinand adalah patner kerjaku. Perusahaanku bekerja sama dengan pemilik Akari Mall tersebut.”


“Kami tahu bahwasanya terakhir menghubungi tuan Ferdinand, nyonya.” Kata Shirou.


“Iya kemarin dia hanya ingin menandatangani perjanjiannya, di sebuah restoran kalau tidak salah itu terjadi beberapa hari yang lalu.”


“Baiklah itu saja.”


Nyonya Hani pun berdiri dari tempat duduknya. Galuh memperhatikan sepatunya saat ia berdiri. High Heels. Ia menuliskannya dalam buku catatannya.


Wanita kedua yang memasuki ruangan tersebut adalah April.


“Namamu April?”


“Iya,” jawabnya.


“Coba ceritakan hubunganmu dengan tuan Ferdinand.”


“Hubunganku dengan tuan Ferdinand tidak ada, kami memang menghubunginya sebelumnya. Dan dia katanya ingin bertemu. Apa yang dibahas adalah dia ingin aku menikahinya. Aku menolaknya.”


“Setelah itu?”


“Aku sudah tidak dengar kabarnya lagi. Saat polisi memberitakannya saat aku dibawa ke sini, aku sedikit bersedih. Dia memang sangat baik.”


“Untuk sementara itu dulu yang kami tanyakan,” kata Shirou. “Anda bisa keluar jika ada kemajuan kami akan menanyai anda lagi.”


“Baiklah.”


April berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan. “Bagaimana, kau menemukan petunjuk?” tanya Shirou pada Galuh yang duduk di belakangnya.


“Tidak ada, tapi aku memperhatikan mereka semua mengenakan sepatu High Heels,” ujar Galuh. “Tapi aku tidak tahu jika tersangka ketiga juga mengenakan sepatu yang sama.”


Tersangka terakhir bernama Rina. Dia masuk ke dalam ruangan tersebut. Terlihat sangat muda. Mungkin berumur dibawah 20 tahun. Lebih mudah dari Hina bagi Galuh.


“Rina, coba jelaskan apa yang terjadi antara dirimu dengan tuan Ferdinand!”


“Baiklah, opsir Shirou, tuan Ferdinand adalah pamanku sekaligus patner kerjaku dalam sebuah perusahaan.”


“Jadi hanya patner dan kau adalah keponakan dari tuan Ferdinand?”


“Iya, namun karena dia meninggal pada hari ini itu juga membuatku sedikit lebih bahagia.”


“Baiklah kita menemukan pembunuhnya,” ujar Shirou sambil menoleh ke belakang.


Galuh menggelengkan kepalanya. Pertanda bukan itu pembunuhnya.


“Tunggu apa maksud anda saya pembunuhnya?, saya tidak pernah membunuhnya dan baru tadi pagi saya tiba di Akari.”


Galuh pun berdiri dari tempat duduknya dan mengampiri Shirou. “Shirou, tidak mungkin dia pembunuhnya. Lagipula kau mengambil kesimpulan secara tergesa – gesa.”


Galuh kemudian menatap Rina. “Jadi apa yang membuatmu bahagia jika pamanmu tewas?”


“Itu karena pamanku selalu saja memaksa. Sekarang diambang kebangkrutannya. Aku memang memiliki sebuah perusahaan yang cukup sukses. Namun pamanku selalu saja memaksaku untuk melakukan kerja sama.”


“Baiklah itu sudah cukup nyonya Rina,” kata Galuh. “Kau boleh pergi.”


Galuh dan Shirou kemudian saling bertatap muka.


“Terlalu tergesa – gesa,” kata Galuh. “Seharusnya kau tidak perlu menangkapnya langsung. Lagipula penjahat macam apa yang mau mengakui perbuatannya.”


“Mungkin kau benar,” jawab Shirou. “Dia pakai High Heels juga?”


“Iya, aku melihatnya. Pernyataanku tentang tuan Ferdinand adalah buaya darat mungkin salah besar. Tapi kita bisa melihatnya, dua orang bekerja sama dalam perusahaan dan satu adalah keponakannya dan satu lagi adalah kekasihnya. Cukup rumit juga rupanya.”


“Apa tahap selanjutnya?” tanya Shirou.


“Akari Mall, semoga saja teoriku tentang senjata yang dicuri dari penjaga itu benar.”


***


Hari mulai menjelang malam. Shirou dan Galuh pergi ke Akari Mall untuk menemui staff penjaga di mall tersebut.


Setibanya di Akari Mall, Galuh dan Shirou kemudian mencari kepala penjaga untuk memastikan. Ruangan kepala penjaga berada di basement. Ruangan itu sangatlah kecil dan tidak besar.


Shirou dan Galuh memasuki ruangan kepala penjaga tersebut.


“Selamat malam,” sambut kepala penjaga. “Nama saya Rudi, saya kepala penjaga Akari Mall. Ada yang bisa saya bantu?”


“Kami dari APD,” jawab Shirou, “Saya Shirou dan yang ada di belakang saya adalah detektif Galuh, saya ingin bertanya tadi siang ada salah satu staffmu yang terluka?”


“Apa ini ada kaitannya dengan pembunuhan tuan Ferdinand?” tanya Rudi.


“Iya,” jawab Shirou.


“Dia berada di ruangan kesehatan.” Jawab Rudi.