
Aston Martin melaju sangat cepat di atas aspal kota London, Inggris. Mobil bertipe DB5 tersebut dikemudikan oleh Owen yang merupakan mata – mata dari IAF. Dengan patner kerjanya, Clara, mereka diberi tugas untuk menyelidiki anggota BIRDS yang ada menyusup MI-6.
Mobil tersebut kemudian berhenti di hotel The Savoy di dekat lobi. Owen turun dari mobilnya dan bergegas masuk menuju hotel untuk menemui Clara.
“Lama sekali?” tanya Clara.
“Aku menyelidiki bagian luar gedung MI-6 namun tiba – tiba saja mendapatkan panggilan jika DB5 sudah tiba di sini.”
“Lalu apa berikutnya?” tanya Clara.
“Kemungkinan besok kita baru bisa masuk ke dalam gedung itu.”
“Kau ingin menyerang langsung MI-6?”
“Mungkin saja.”
***
Galuh dan Shirou pergi ke ruang kesehatan untuk menemui salah satu staff yang mejadi korban. Staff keamanan yang berada di ruangan kesehatan tengah berbaring. Ia masih tertidur. Namun sesaat kemudian dia membuka matanya.
“Polisi?”
“Shirou dan detektif Galuh.” Jawab Shirou.
“Ah kalian ke sini pasti ingin menanyakan perihal yang terjadi pada tadi siang.”
“Iya itu benar.”
“Aku sedikit lupa mungkin detektifmu pasti bisa memecahkannya.”
Shirou menatap Galuh. Dirinya menganggukkan kepalanya.
“Sebelumnya kami ingin bertanya, siapa namamu?”
“Frank,” jawabnya.
“Baiklah Frank coba ceritakan sekali lagi kejadian tadi siang!” pinta Shirou.
Galuh mulai membuka buku catatannya.
“Kejadiannya aku mungkin agak sedikit lupa. Saat itu ada wanita yang mengenakan pakaian berwarna merah dengan sepatu hak tinggi. Aku penasaran mengapa wanita itu pergi ke lantai atas yang sedang direnovasi. Namun saat aku mengikutinya tiba – tiba wanita itu tidak ada dan secara tidak kusadari wanita itu memukulku dari belakang hingga aku tak sadarkan diri.”
“Hanya itu saja?” tanya Shirou.
“Bagaimana dengan pistolnya?” tanya Galuh.
“Aku seharian ini tidak memegang pistol, memang mengapa?”
“Di mana pistolmu tersebut?” tanya Galuh.
“Tepat di belakangmu.”
Tepat di pintu terdapat sebuah gantungan dan sebuah sabuk dengan sarung pistol. Shirou kemudian berdiri dan mengambil sarung tersebut.
“Frank, bolehkah aku membawa ini sebagai tanda bukti?”
“Tentu saja, silahkan.”
Galuh dan Shirou kemudian kembali lagi ke APD untuk memeriksa sidik jari yang ada di pistol Frank.
“Lalu bagaimana dia bisa masuk?” tanya Shirou.
“Kita harus kembali ke TKP,” ujar Galuh. “Pasti ada bukti yang kulewatkan.”
Mereka berdua menuju mall lagi. Kini mall tersebut semakin ramai, mengingat bahwasanya setiap malam mall yang megah tersebut selalu saja ramai. Menuju lantai paling atas dengan ditemani Frank yang merupakan korban. Cukup gelap untuk lantai paling atas karena masih tahap renovasi. Hanya cahaya – cahaya yang terpantul dari bawah.
Galuh menuju TKP dan melihat pagar yang rusak tersebut lalu juga bercak darah masih ada di tempat tersebut. Namun dekat dengan sebuah ruangan yang gelap.
“Apakah kau melihatnya dari sini Frank?” tanya Galuh.
“Iya,” jawab Frank.
Galuh kemudian memasuki ruangan yang begitu gelap. Dirinya menyalakan senter dari ponselnya. Ruangan tersebut merupakan tangga darurat. Namun ada dinding yang rusak dan berlubang. Terlihat seperti baru saja dipecahkan.
“Wangi?” tanya Galuh.
“Apa maksudmu?” tanya Shirou.
“Aku pernah mencium parfum ini saat kita sedang mengintrogasi. Parfum ini berbau mawar. Itu artinya pembunuh mengenakan parfum ini.”
“Iya, siapa yang kau maksud?”
“Jika pembunuhnya menyepelekan hal ini maka dia sangat amatir,” jawab Galuh. “Menurutmu siapa?”
“Berbau mawar, Hani?”
“Tepat sekali,” jawab Galuh. “Biar aku perjelas, Hani merupakan pelaku pembunuhan yang sangat dekat dengan tuan Ferdinand. Memang pada sehari sebelum kematian tuan Ferdinand ada tiga wanita yang meneleponnya yaitu Hani, April, dan juga Rina. Kemungkinan ada yang disembunyikan oleh Hani, salah satunya adalah Hani dan April merupakan teman dekat.”
“Tunggu dulu, bagaimana kau bisa mengetahuinya?” tanya Shirou. “Apa buktinya?”
“Jika kau bertanya bukti, aku sempat melihat mereka akrab saat dibawa ke ruangan Introgasi. Mereka sangat dekat sekali dipastikan memang ini rencana milik Hani.”
“Ok ok lalu apa lagi?”
“April tidak menolaknya,” ujar Galuh. “Hani ingin melindungi April, berarti memang mereka memiliki masalah yang tidak beres. Kita harus kembali ke APD dan memanggil ketiga tersangka ini. Dan Frank, terima kasih atas kerja samanya.”
Dengan penjabaran jawaban dari Galuh. Semua mulai terungkap. Hani kemudian mengakui jika dirinya lah yang membunuh tuan Ferdinand. Hal tersebut juga menyebabkan April tidak percaya dengan pengakuan Hani.
Hani memberikan jawaban yang sebenarnya mengapa ia membunuh tuan Ferdinand. Karena dirinya sudah muak dengan tuan Ferdinand. Meski tidak berpengaruh pada bisnis mereka, tetapi lagi – lagi masalah percintaan yang dibahas. Bisa dikataka, Hani merupakan mantan dari tuan Ferdinand. Dirinya juga mengakui jika melarang April untuk menikahi tuan Ferdinand. April dan Hani memang berteman. Pertemanan mereka dimulai ketika Hani sudah cerai dengan Ferdinand.
Galuh berdiam diri berdiri dibalik bayang – bayang melihat Hina yang masih menunggunya sejak tadi. Kini ia mengerti cukup satu orang saja. Dirinya kemudian mengampiri Hina.
“Hina!” panggil Galuh.
“Sudah berakhir?” tanyanya.
Galuh menganggukkan kepalanya. “Ayo kita pulang!” ajaknya.
Hina kemudian berdiri dan tersenyum. “Jadi kau ingin makan apa?”
“Ya karena sudah larut malam, kita akan memesan, dan makan di apartementku.” Ujar Galuh.
Hari – hari yang melelahkan tersebut akhirnya selesai.