The Unidentified Project

The Unidentified Project
[FLIGHT TO LONDON] BAB 7



Hujan kembali turun, kini gedung – gedung di kota Akari mulai kebasahan. Galuh menatap hujan dari dalam gedung apartemennya. Hina tengah memasakkan sarapan untuk Galuh.


“Hina,” panggil Galuh.


“Ya?” tanya Hina.


“Besok kau mau pergi ke kuil Akari?” tanya Galuh.


Hina merasa aneh dengan Galuh pada hari ini. Tidak seperti biasanya yang cuek. Kini dirinya ingin mengajak Hina pergi ke Kuil Akari.


“Baiklah,” jawab Hina.


***


Pistol PK telah siap di tangan Owen. Bersama Clara, mereka mempersiapkan untuk menyusup masuk MI-6 yang dekat dengan sungai Thames.


“Semoga saja kali ini berhasil.” Kata Owen pada dirinya sendiri.


Mesin mobil DB5 menyala. Mobil tersebut bergerak ke jalanan raya kota London. Waktu malam telah tiba. Jalanan juga tidak terlalu ramai. Owen menyetir mobilnya sambil melihat GPS.


“Kau mungkin bisa parkir tepat di depan gedung SIS,” kata Clara. “Aku yang berjaga dan mengawasimu.”


“Kau yakin?” tanya Owen.


“Sangat yakin, aku sebenarnya pandai meretas. Semoga saja hal ini tidak terjadi kekacauan. Kau tahu SIS sangat susah untuk diretas.” Jawab Clara.


“Baiklah kalau begitu.”


***


Pagi telah tiba. Cuaca di luar hari ini masih berawan. Kemungkinan akan turun hujan lagi di kota Akari. Meski begitu, Galuh telah berjanji akan mengajak Hina ke Distrik satu.


Seperti biasanya, Galuh menunggu di depan Halte Bus seperti biasanya. Dirinya tengah menunggu Hina. Melihat ponselnya, ramalan cuaca hari ini hingga malam akan berawan. Meski paling akurat ramalan cuaca tersebut kadang bisa saja meleset. Tapi ini untuk persiapan saja.


Tak lama kemudian, Hina pun datang dengan membawa payungnya.


“Selamat pagi, Galuh.” Sapa Hina.


“Selamat pagi,” jawab Galuh.


Tepat pada waktunya, bus pun tiba. Mereka berdua menaiki bus tersebut menuju Distrik satu. Kota yang sangat moderen ini tidak memiliki MRT atau semacamnya. Karena akan sangat sulit dibangun. Beberapa tahun yang lalu sebelum terjadinya invasi, kota Akari sempat dibangun kereta bawah tanah. Namun hal itu gagal karena biaya pengeluarannya sangat banyak dan juga area untuk membangun MRT atau kereta bawah tanah memerlukan lahan yang luas. Mengingat kota Akari memiliki lahan yang tidak seluas Singapura.


Meski begitu walikota Akari tetap akan mengusahakan pembangunan Stasiun bawah tanah.


Bus pun berhenti tepat di Distrik satu. Tempat peribadahan bagi semua agama, Seperti Masjid untuk orang yang beragama Islam, Gereja untuk orang beragama Kristen, dan Gereja Katolik untuk mereka yang beragama Katolik, Hindu beribadah di Pura dan lain sebagainya. Bahkan penganut Agama Shinto pun ada di pulau ini. Sehingga tempat ibadahnya dibangun juga di Distrik satu. Hampir tidak pernah ada konflik agama di kota Akari ini.


Dalam hal beribadah, Galuh memang tidak memiliki keyakinan yang kuat. Namun karena dirinya lahir di Jepang maka dia meyakini bahwa dirinya penganut Agama Shinto. Hina pun juga begitu. Mereka pergi ke kuil untuk meminta permohonan.


Kuil Akari merupakan kuil yang berada di kota Akari sekaligus kuil tertua yang menjadi saksi berdiriya kota Akari. Di lihat dari tahunnya yang berdiri tahun 1980. Cukup tua hingga memasuki era tahun 2020.


Mereka memasuki kuil tersebut, gerbang Toori yang menjadi ciri khasnya yang sama persis dengan yang ada di Jepang. Meski sudah terputus dari Jepang dan kota ini berdiri tetap saja masih ada unsur – unsur Jepang yang tersisa.


Tepat di depan kuil mereka mengeluarkan koin dan melemparkannya ke sebuah kotak. Lalu Hina dan Galuh memohon doa kepada Dewa. Menepuk kedua tangannya dan memejamkan mata mereka.


Seusai beribadah, Galuh dan Hina kini kebingungan ingin pergi ke mana.


“Hina, Kau ingin pergi ke mana setelah ini?” tanya Galuh.


“Entahlah, aku juga bosan. Aku ingin melihat Pantai.”


“Baiklah, kita pergi ke Distrik tiga.”


Mereka menaiki Bus dan pergi menuju Distrik tiga. Hina kini banyak diam sehingga Galuh penasaran.


“Hina, ada apa?” tanya Galuh.


“Tidak ada apa – apa kok.” Jawabnya sambil tersenyum terpaksa.


“Kau terlihat seperti sakit,” kata Galuh sambil melipat tangannya. “Jika kau merasa tidak enak badan lebih baik kita pulang saja.”


Hina kemudian menundukkan kepalanya. Setelah itu dirinya melihat ke luar jendela. Awan di langit masih menutupi. Cuaca masih berawan. Memang tidak tepat jika pergi ke pantai namun cuacanya sedang tidak cerah.


Galuh kemudian menggandeng tangan Hina. Wajah Hina kemudian memerah dan kebingungan saat tangan dirinya menyentuh tangan Hina.


“Galuh, kau…”


“Tidak apa – apa kok, ini sudah lebih baik.” Jawab Galuh.


Raut wajah Galuh juga memerah. Hina pun tersenyum melihat Galuh. Dirinya menggandeng tangan Galuh seolah tidak ingin melepaskannya.


Setelah selesai Hina puas ia kemudian duduk di samping Galuh yang tengah duduk di atas pasir putih. Melihat yang ada di hadapannya yang begitu muram.


“Cuaca memang tidak bersahabat ya…” ujar Hina.


“Memang seperti itulah alam, namun alam bisa bersahabat dengan kita. Selama kita tidak membuat onar saja.”


“Maksudmu?” tanya Hina.


“Seperti begini saja, jika kau memiliki teman dan bersahabat dengannya. Lalu bagaimana jika kau menjahilinya, bagaimana reaksinya?” tanya Galuh.


“Akan marah.”


“Sama halnya seperti alam. Alam bisa saja marah kepada manusia jika manusia sendiri selalu membuat onar dan kerusakan.”


Hina kemudian kembali menatap laut dengan langit yang masih abu – abu.


“Hina, kau masih ingat dengan invasi Akari beberapa bulan yang lalu?” tanya Galuh.


“Masih, memang mengapa?”


“Di sinilah tempatnya,” jawab Galuh. “Tempat penyerangan itu terjadi.”


“Apa maksudmu?”


“Kita mundur beberapa langkah saja,” Jawab Galuh. “Sekarang lihatlah ke laut lagi.”


Beberapa bulan sebelum kejadian BIRDS yang menyerang Akari, memang  terjadi invasi kota Akari yang dilakukan oleh Amerika. Pesawat terbang dari arah pantai Distrik tiga mulai membombardir gedung – gedung yang ada. Para angkatan laut pun mendarat di pantai tersebut dengan mengenakan kendaraan afimbi. Mulai menyerang kota Akari. Suara tembakan di mana – mana. Seluruh warga Akari ketakutan dan berlari kesana kemari. Cerita itu memang pernah terjadi.


“Aku bisa merasakannya,” jawab Hina. “Ketegangan saat perang terjadi.”


Galuh hanya menganggukkan kepalanya.


“Lalu siapa yang mengikuti perang tersebut, lalu bagaimana kota Akari bisa selamat?” tanya Hina.


“Kotarou, kau harus bertanya padanya, dialah dan rekan kerjanya Shirou yang menyelamatkan kota ini. Keputusan kota Akari lepas dari Jepang adalah karena invasi tersebut.”


Hina sekali lagi menatap Galuh. Dirinya sendiri tidak tahu mengapa Galuh menceritakan hal tersebut. Ketakutan akan peperangan memang wajar.


“Namun, mereka tidak mau menganggap diri mereka adalah pahlawan. Tidak banyak yang tahu tentang kejadian ini.” Jawab Galuh.


“Lalu mengapa kau menceritakannya padaku?” tanya Hina.


“Ini rahasia kita jangan pernah kau umbar kepada siapapun ya…” jawab Galuh.


Hina merasa aneh dengan kelakuan Galuh.


“Hina…”


“Iya?”


“Mungkin sudah waktunya, aku menyatakan ini…”


Hina terdiam saja. Degup jantungnya berdetak sangat cepat. Galuh kemudian menatap Hina. Hina pun juga menatap Galuh. Mata Galuh kini terlihat lebih serius dari biasanya. Wajah Hina perlahan memerah.


“Hina…, jadilah pacarku.”


Wajah Hina memerah semakin cepat. Dirinya kemudian memeluk lututnya dan menundukkan kepalanya. Dirinya kini diambang kebingungan. Hina merasa Galuh sangat bodoh sekali. Dirinya menyatakan disaat yang tidak tepat.


Hina kemudian mengangkat kepalanya.


“Baiklah…”


Hina kemudian memegang pipi Galuh dengan kedua tangannya dengan cepat dirinya memajukan kepalanya lalu mencium bibirnya dengan cepat. Kemudian Hina melepaskannya dan mengalihkan pandangannya.


Galuh hanya terdiam saja dan wajahnya makin memerah.


“Kurasa aku sudah tahu jawabannya.” Ujar Galuh. “Bolehkah kita lakukan sekali lagi?”


“Tidak, kau ini jika sudah dikasih malah meminta lebih.”


Hujan kemudian turun. Galuh merasakan air perlahan berjatuhan dari langit.


“Mungkin sudah saatnya kita pulang.” Kata Galuh saat dia tengah berdiri. Ia kemudian menjulurkan tangannya pada Hina.


Mereka pun berdua segera pergi menuju halte sebelum hujan makin deras.