The Unidentified Project

The Unidentified Project
BAB 5



Kotarou kembali ke kantor polisi untuk melihat beberapa barang bukti yang didapat dari TKP. Ruangan pemeriksaan tersebut hanya berupa ruangan kotak sedang dan terdapat satu meja yang diatasnya terdapat barang bukti. Bersama seorang patner perempuan yang memiliki rambut berwarna hitam dikuncir satu seperti ekor kuda. Fubuki, nama tersebut terpampang pada seragamnya.


“Jadi, inilah barang – barang yang ditemukan di TKP, hanya jam tangan dan kunci kamar,” ujar Fubuki.


“Hanya dua saja berarti.”


“Ada satu lagi, yaitu kunci ruangan organisasi.”


“Dimana kunci tersebut?” tanya Kotarou.


“Masih dianalisis.”


“Baiklah, aku mengerti. Jika sudah selesai hubungi aku lagi, aku masih harus kembali ke TKP untuk memeriksa hasil dari Shirou.”


Kotarou berjalan ke pintu, namun Fubuki kemudian mengejarnya. Ia menangkap tangan Kotarou.


“Kotarou, Shirou masih sedikit depresi tentang kejadian invasi kota Akari. Jadi aku rasa dia harus beristirahat terlebih dahulu,” kata Fubuki.


“Aku sudah menyuruhnya untuk tetap beristirahat, namun dia tetap saja melawan saja dan ingin memecahkan kasus ini, aku sudah berusaha sebaik mungkin.”


“Tolong jangan paksa dia.”


“Semua akan baik – baik saja.”


***


Galuh mencari di tanaman di depan ruang organisasi. Ia tidak menemukan apa – apa. Mereka semua berpencar ke daerah sekitar.


“Apa kau yakin ada disini?” tanya Galuh pada Hana.


“Cari saja, pokoknya ada di sekitar sini.”


Ada satu tempat yang belum diperiksa Galuh yaitu sebuah guci sedang. Galuh penasaran apakah ada kunci di dalam sana. Galuh pun berjalan menuju guci tersebut yang terpampang di samping tanaman yang barusan ia periksa.


Galuh memasukkan tangannya ke dalam guci tersebut. Ia merapa sesuatu seperti besi, ia kemudian menariknya. Sebuah kunci terangkat dari tangan Galuh.


“Aku menemukannya.”


Galuh kemudian berjalan menuju pintu dan memasang kunci tersebut pada lubang bawah gagang pintu. Pintu tersebut kemudian terbuka. Ruangan begitu gelap. Jendela ditutup oleh gorden. Kertas berantakan diatas meja yang bertuliskan meja Linda. Terdapat empat bangku yang lainnya begitu rapih tidak ada kertas satu pun.


Kertas berserakan diatas meja bertuliskan ‘proyek pameran’. Galuh kemudian membukanya. Isi dari kertas tersebut adalah rencana dan juga peta acara pameran. Sangat detail gambaran tersebut.


“Tidak ada, ini hanya sejenis proposal,” ujar Galuh saat membolak – balikkan kertas.


Galuh kemudian meletakkan kertas tersebut, dan mengganti kertas yang lainnya yang bertuliskan ‘konsep drama teater’. Galuh kemudian membalikkan kovernya. Terdapat tulisan yang digaris bawahi oleh Linda.


‘Sebuah penampilan yang mengungkapkan sisi gelap kota Akari. Dimana dulu terdapat keyakinan yang sangat fanatik. Ini sebuah kunci legenda kota Akari. Tanah yang penuh dengan kesengsaraan. Memang sebuah reklamasi namun ketika itu tanah ini bercahaya terdapat harta karun yang menjadikannya sumber kehidupan di kota Akari.’


Galuh kemudian memperhatikan sekitarnya. “Apakah ini legenda sungguhan?”


“Bisa dibilang begitu,” kata Hana. “Linda adalah salah satu mahasiswa yang merupakan warga asli kota Akari.”


“Kau bercanda bukan?” tanya Galuh sekali lagi.


“Tidak,” jawab Linda. “Apa yang didalam tersebut adalah sebuah peta, yang akan menuntun kita kepada harta karun di kota Akari.”


“Aku tidak paham, kota Akari memiliki sejarah yang begitu kelam didalamnya. Ini bukan semacam novel The Da Vinci Code atau Inferno. Tapi mengapa Linda membahas hal yang tabu?”


“Hal yang seharusnya tidak boleh diumbar dihadapan publik?” tanya Hina.


“Itu benar. Berarti musuh kita tidak hanya satu.”


Shirou yang dari tadi hanya menyimak apa yang mereka bicarakan. Ia sangat memahami betul suasana yang ada di sekitarnya.


“Jadi maksudmu, adalah –”


“Itu benar, Linda bisa disebut sebagai sumber masalah. Sang pembunuh berupaya untuk menyembunyikan semua ini dari hadapan publik karena sang pembunuh tahu jika hal ini diumbar ke publik. Maka tidak ada harapan lagi, perang kembali terjadi memperebutkan pulau reklamasi,” ujar Galuh.


“Perang seperti apa yang kau maksud?” tanya Shirou.


“Aku pernah membaca buku tentang sejarah kota ini. Dahulu kala kota ini sering menjadi perebutan setiap negara. Kota ini memiliki hal yang sangat misterius seperti contoh adalah harta karun. Harta karun kota Akari adalah dia memiliki banyak informasi dan kekuatan pengetahuan yang dapat membuat kekacauan disekelilingnya.” Jawab Galuh. “Jadi kesimpulannya bahwasanya terdapat ilmu pengetahuan yang banyak di kota ini sehingga menjadi perebutan setiap negara. Eksperimen di kota ini juga fasilitasnya sangat memadai.”


“Jadi begitu,” jawab Shirou. “Lalu apa yang kita lakukan?”


“Aku takut orang ini fanatik, tapi kita harus menemukan orangnya sesegera mungkin.”