The Unidentified Project

The Unidentified Project
[FLIGHT TO LONDON] BAB 9



Dalam perjalanan menuju TKP, Shirou memberi beberapa foto yang baru saja diambil oleh polisi.


“Ini adalah foto kematian nyonya Neva,” ujar Shirou. “Dia terbaring, darahnya tidak terlalu terlihat, karena karpetnya berwarna merah. Lalu juga ada bekas tikaman di punggungnya.”


Galuh memperhatikan dengan teliti. Sesuatu terlihat mengkilap tepat sebelah kepala korban. “Apa sesuatu yang mengkilap itu?”


“Itu cincinnya,” jawab Shirou. “Tapi cincin itu hilang?”


“Kau pasti bercanda,” ujar Galuh. “Kau bilang barang bukti sudah diambil semua?”


“Iya, tapi tidak dengan cincin itu.” jawab Shirou.


“Lalu dari mana kau tahu ini bergambar Merpati?” tanya Galuh.


Shirou kemudian mengambil kaca pembesar dan memberikan pada Galuh. Galuh kemudian mengambilnya dan melihat cincin itu. Ternyata memang benar cincin tersebut bersimbol merpati.


“Seseorang tengah mengambilnya, apa dia ingin mempermainkan kita lagi?” tanya Galuh pada Shirou.


“Aku tidak tahu.”


Mobil polisi yang mereka naiki tiba di kantor Akari Airlines. Galuh dan Shirou turun dari mobil mereka. Dengan dikawal oleh polisi mereka.


“Kau sudah naik pangkat?” tanya Galuh pada Shirou.


“Tidak, tapi Kotarou memberikan kepercayaan sekali lagi padaku untuk menyelesaikan kasus ini. Mengingat kasus sebelumnya diriku berhasil memecahkan kasus tersebut dengan dirimu.”


“Syukurlah kalau begitu.” Kata Galuh. “Siapa merekomendasinya?”


“Aku yang merekomendasikan dirimu, kau tahu jika Kotarou yang memimpin kasus ini dia tidak akan ingin membawamu kemari.”


Mengingat dengan kasus kematian Linda, dirinya dan Hina saat itu menerobos TKP tanpa sepengetahuan para polisi. Kotarou hanya mempercayakan hal tersebut saat Galuh berhasil membuka jalan untuk polisi tersebut.


Mereka kemudian menaiki Lift menuju lantai empat. Pintu lift terbuka, ruangan pribadi milik nyonya Neva. Galuh memperhatikannya terutama pada jendelanya yang berlubang.


“Sniper?”


“Mungkin tapi kita tidak menemukan peluru di bagian tubuhnya.” jawab Shirou.


Galuh kemudian melihat ke bawah. Memang terdapat jejak sepatu lalu menghilang begitu saja. Tidak mungkin pembunuh melompat begitu saja. Galuh kemudian melihat sesuatu yang berwarna merah kecil.


“Shirou, kau bawa kaca pembesar?” tanya Galuh.


“Ah iya, tunggu sebentar.”


Shirou kemudian memasukkan tangannya ke dalam kantong jasnya. Dirinya kemudian mengeluarkan kaca pembesarnya. Lalu memberikannya pada Galuh.


“Terima kasih,” jawab Galuh. Ia kemudian melihat dengan kaca pembesar tersebut. Sebuah darah yang kemungkinan jatuh.


“Penjahat ini sangat amatiran sekali, dia melepas sepatunya.” Kata Galuh.


“Apa?” tanya Shirou.


“Kau bisa melihat bintik ini merupakan tetesan darah. Seseorang tidak sengaja jika ia menginjak darah yang masih segar. Aku tidak tahu apa alasannya, tiba – tiba penjahat tersebut ke jendela.” Jawab Galuh.


“Mungkinkah kita masih diserang?” tanya Shirou.


“Iya, menurut beberapa karyawan nyonya Neva pergi ke ruangan ini bersama salah satu asistennya.”


“Di mana asistennya?” tanya Galuh.


“Kami tidak dapat menemuinya.”


***


Telepon yang berada di APD berdering. Fubuki mengangkat telepon tersebut.


“Halo?”


[Ah syukurlah ada yang mengangkat, aku kini dalam bahaya.]


“Di mana posisimu?” tanya Fubuki.


[Aku tidak tahu.]


“Baiklah, kami akan melacakmu segera.”


Ina yang duduk di sebelahnya tampak kebingungan. “Ada apa?”


“Kita butuh personil.”


Fubuki kemudian mengotak – atik komputer yang ada dihadapannya. Ia berusaha melacak nomor telepon tersebut. Fubuki berhasil mendapatkannya.


“Baiklah, aku berhasil mendapatkannya.” Ujar Fubuki.


Kemudian Ia berdiri dan berbicara di dengan microphone.


“Perhatian ada korban dalam bahaya di Distrik tiga. Ada korban dalam bahaya.”


Para personil polisi kemudian bergegas masuk ke dalam mobil polisi dan menyalakan sirine beserta mesinnya.


“Distrik tiga katamu tadi?” tanya Ina.


“Ah iya, memang mengapa?”


“Apa jangan – jangan?”


***


Galuh sejak tadi menatap jendela tersebut. Tanpa sengaja, dirinya kemudian melihat ke bawah. Sebuah mobil polisi lewat dengan menyalakan sirinenya. Mobil tersebut tidak jauh dengan gedung yang dianggap TKP. Mobil itu berhenti tepat di ujung lorong.


“Kita mendapatkan petunjuk baru.” Kata Galuh.


“Di mana petunjuk tersebut?” tanya Shirou.


“Polisi sudah menemukannya.”