
Polisi, memberi garis kuning dan menutupi gerbang masuk. Polisi berjaga di tempat tersebut dengan sangat ketat. Distrik 2 masih ditutup tidak akan ada yang membuka akses jalan tersebut hingga ada perintah lebih lanjut.
Galuh tengah memperhatikan anggota – anggota tersebut. Tidak ada sesuai dengan ekspetasi Galuh.
“Aku rasa tidak ada anggota yang bersalah disini,” kata Galuh.
“Bagaiamana kau tahu?” tanya Shirou.
“Tidak ada, mereka hanya menjalankan ritual sederhana.”
“Tunggu dulu.” Hana tiba – tiba memotong pembicaraan. “Ketua, apakah ada salah satu dari kita tidak hadir dalam kegiatan ini?”
Sang ketua yang paling tua diantara pengikutnya berdiri dari tempat duduknya. “Sebenarnya ada satu, yaitu Remy. Dia satu – satunya anggota yang tidak pernah hadir dalam kegiatan ini. Tapi dia selalu saja mempengaruhi orang lain dengan ajaran yang tidak sesuai. Kami semua berniat untuk mengeluarkan dirinya. Namun ada beberapa peraturan yaitu anggota kami lebih mengandalkan pada hak masing – masing.”
“Remy?” tanya Shirou. “Maksud anda Remy…”
“Iya, walikota Akari.” Jawab ketua tersebut.
Shirou kemudian membubarkan para polisi dari tempat tersebut. Galuh, Hina, dan Hana keluar dari tempat tersebut.
“Jadi kau sudah mencoba mobilku?” tanya Hana.
“Sungguh menarik mobilmu, aku sangat kagum.”
“Terima kasih, kau boleh memilikinya.”
Galuh kemudian menghentikan langkahnya karena tidak percaya apa yang didengar oleh dirinya. “Kau serius?” tanya Galuh.
“Tentu saja, aku membeli mobil itu dengan usahaku sendiri.” Hana terus melanjutkan langkahnya.
Galuh dan Hina kemudian saling bertatap muka dan masih tidak percaya yang sedang terjadi saat ini.
***
Kotarou tiba di perpustakaan distrik 4. Perpustakaan tersebut sangatlah besar dan memiliki ruang arsip yang dimana ruangan tersebut hanya orang – orang tertentu saja yang boleh masuk. Perpustakaan ini juga merupakan perpustakaan umum bagi pengunjung. Buku – buku yang tersedia juga lengkap termasuk juga arsip. Dari luar, gedung tersebut mirip dengan bangunan kastil Versailles. Kastil yang berada dibawah pimpinan Raja Louis ke 13.
Kotarou berjalan menuju pintu masuk. Dirinya disambut dengan senyuman oleh petugas perpustakaan yang sangat cantik dan tampan. Perpustakaan itu ramai namun tenang. Kebanyakan juga ada yang mengerjakan tugas atau membaca buku dan novel. Seorang pria kemudian menyadari Kotarou masih mengenakan lencana pada sabuknya.
“Anda pasti sedang mencari sesuatu?”
“Ah, iya aku ingin mencari data bank di arsip bawah tanah. Bisakah aku mengaksesnya?” tanya Kotarou.
“Tentu saja, mari saya antar.”
Mereka berdua berjalan menuju pintu masuk arsip bawah tanah. Kotarou melihat perpustakaan ini memliki banyak sekali rak buku.
“Seperti biasa, ramai namun tenang,” kata Kotarou yang tengah melihat sekelilingnya.
“Iya, namun akhir – akhir ini terjadi penurunan pengunjung semenjak invasi beberapa bulan yang lalu.”
“Iya, saat invasi terjadi, hanya distrik 4 yang selamat dari serangan. Pengawasan sungguh ketat di distrik 4 ini.”
“Seperti itulah, karena kita juga menyimpan beberapa dokumen dan arsip yang tidak boleh diambil oleh sembarangan orang. Dari situlah Distrik 4 selalu memperketat keamanannya. Namun saat kasus pembunuha tadi pagi itu sedikit membuatku syok.”
“Aku pun begitu dan juga sebelumnya pernah terjadi hal serupa. Mungkin aku akan memberikan saran agar polisi selalu mengawasi seluruh Distrik di kota Akari.”
“Itu saran yang bagus pak,” jawab petugas perpustakaan. “Kita sudah sampai.”
Petugas tersebut kemudian melihat pintu yang berada di depannya. Pintu tersebut tersebut terbuat dari besi dan nomor kode sekaligus penggesek kartu.
“Silahkan tuan anda bisa menggesek kartu atau memakai kodenya.”
[Akses teridentifikasi, Kotarou Azusagawa.]
Pintu kemudian terbuka. Petugas kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut diikuti oleh Kotarou. Setelah mereka berdua masuk, pintu kemudian tertutup secara otomatis. Mereka kemudian menuruni tangga menuju arsip bawah tanah.
“Apakah ini baru pertama kali bagi anda?” tanya Petugas tersebut.
“Iya, ini baru pertama kalinya bagiku.”
“Disini, terdapat dua database yaitu berbentuk online dan buku.”
Seketika lampu arsip bawah tanah kemudian menyala. Terdapat satu komputer raksasa dan juga berbagai macam buku.
“Buku di arsip bawah tanah ini sangat banyak, bahkan seseorang pun sangat gemar mencari berbagai buku yang tidak ada pada online.”
“Jadi, tidak semua data berada di komputer?” tanya Kotarou.
“Iya, tidak semua, salah satunya adalah legenda kota Akari. Data itu tidak terdapat dalam komputer,” ujar Petugas. “Buku apa yang anda cari?”
“Data legenda kota Akari, itulah yang sebenarnya ku cari.”
“Biar saya cek dulu di komputer.”
Petugas kemudian berjalan menuju komputer raksasa. Komputer terbesar yang pernah ada. Dengan data yang terlengkap di Akari. Meski begitu komputer ini baru saja dibuat.
“Komputer ini masih belum memiliki data lengkap karena baru saja dibuat. Harapannya suatu saat nanti, komputer ini akan menjadi komputer yang sangat lengkap diseluruh dunia.”
“Yeps, dan setiap hari kita selalu kedatangan musuh baru, orang – orang di luar sana selalu saja membuat ulah di Akari. Seharusnya mereka bisa melakukan inovasi di negaranya sendiri.”
“Aku pun juga sependapat dengan mu. Tapi inovasi di kota kita ini sangatlah cepat dan lebih maju dibandingkan negara lain. Wajar saja jika kita setiap saat selalu mendapat serangan dari luar.”
Petugas tersebut kemudian mengetik data bank [Legenda Akari]. Layar kemudian memberikan nomor lemari dan juga judul buku.
“Kelihatannya kita memiliki banyak sekali buku yang tersimpan disini.”
Mereka berdua kemudian mencari rak buku sesuai dengan nomor yang ditentukan. Mereka kemudian menemukan rak tersebut. Terdapat banyak sekali buku tentang kota Akari.
“Aku akhirnya paham mengapa mereka meletakkan buku ini di arsip bawah tanah,” ujar Kotarou.
“Mengapa?”
“Karena mereka benar – benar menyimpan harta karun kota Akari, ilmu pengetahuan dan juga legenda tentang roh Akari. Ada yang mengatakan pulau ini sebenarnya bukan pulau reklamasi. Tapi jika itu benar, maka tidak ada salahnya jika kita menyebarkan rumor ini.”
“Iya sebenarnya hal tersebut sudah ditanamkan dipikiran kita terkait sejarah kota ini. Kecuali jika pendahulu kita memang sengaja menyembunyikan ini semua untuk kepentingan warganya.”
“Itu patut dicurigai juga, tapi, kita bisa memulainya dari legenda paling dasar dulu. Jika kau ingin membantu akan aku naikkan pangkatmu disini karena sudah membantu tugas polisi,” kata Kotarou yang tengah mengambil buku. “Termasuk anak itu juga.”
***
Mobil Aston Martin DBS melesat dengan cepat, langit sudah mulai berubah menjadi oranye. Sore pun tiba, kasus ini masih tak kunjung tuntas sejak pagi tadi.
“Jadi, kemana tujuan kita sekarang?” tanya Hina.
“Aku tidak tahu. Mungkin ke perpustakaan, ada beberapa hal yang mengganjal.”
“Perpustakaan kampus?” tanya Hana.
“Tidak, kita ke perpustakaan yang begitu lengkap disini. Pernyataan kedua adalah aku tidak bisa menyatakan jika walikota Akari seratus persen salah. Kemungkinan ada pelaku dibalik semua ini.”