The Unidentified Project

The Unidentified Project
BAB 19



Saat berada di tempat parkir Owen langsung mengampiri Galuh.


“Hey, aku akan menyelidiki dari sisi lain. Pastikan semua aman,” ujar Owen.


Galuh menganggukkan kepalanya dan Owen bergegas ke Aston Martin DB5. Semoga kau berhasil menemukannya.


Galuh menaiki Aston Martin DBS bersama Shirou yang kini menjadi asisten sekaligus pengawas dalam investasi kasus ini.


“Kau sudah siap?” tanya Shirou.


“Aku selalu siap, hanya saja aku mengkhawatirkan Hina saja.”


“APD akan aman, Kotarou akan melindunginya.”


Mobil tersebut mundur dan melaju menuju jalan raya. Mereka menuju Distrik 4 yang menjadi tempat perusahaan Peter berada.


“Apa orang tuanya sudah tahu?”


“Pihak kepolisian sudah menghubungi kedua orang tuanya. Tapi yang menerima adalah pembantunya saja.”


Galuh sedikit terkejut dengan pernyataan dari Shirou. Kini dirinya memiliki firasat buruk terkait kasus ini.


***


Hina hanya duduk dan melihat ke luar jendela. Matahari sudah berada di barat. Warna langit pun juga sudah berubah menjadi oranye.


“Hina?” panggil Fubuki yang berdiri di belakangnya dengan membawa minuman yang baru saja ia beli. “Boleh ku bergabung?”


Hina menganggukkan kepalanya. Fubuki kemudian mengampirinya dan duduk di sebelah Hina.


“Bukannya kau ada pekerjaan?” tanya Hina.


“Kotarou tiba – tiba saja menyuruhku untuk menemanimu. Jadi pekerjaanku akan diserahkan ke anggota lainnya.”


Hina kemudian tersenyum kecil.


“Memang kenapa?” tanya Fubuki.


“Sudah satu bulan aku bersamanya. Setiap malam aku memasakan makan malam dan sarapan untuknya,” kata Hina. “Aku tidak tahu lagi.”


Raut wajah Hina tiba – tiba berubah. Fubuki kini mengerti apa yang dirasakan oleh Hina. Fubuki hanya terdiam saja. Ingin dia berbicara tetapi tidak bisa. Masalah yang sangat sulit jika menyangkut perasaan.


“Tenang saja,” ujar Fubuki sambil menepuk pundaknya. “Galuh pasti sadar, hanya saja kini terlihat hebat menangani kasus seperti ini.


“Jika kau ingin melihat kasusnya akan aku perlihatkan selama tidak ketahuan. Aku tahu apa yang kau inginkan. Kau ingin bersama dengannya kan?”


***


Dalam perjalanan menuju Peter Industry, Galuh hanya terdiam saja dalam perjalanan. Shirou yang duduk di sampingnya sedikit khawatir dengan keadaan Galuh yang berbeda dari sebelumnya.


“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Shirou.


“Tidak ada, aku hanya memikirkan kasus ini saja. Tidak ada yang lain.”


“Baiklah, aku rasa memang benar, kau menyukai dia. Tapi kau tidak berani untuk mengungkapkannya,” kata Shirou. “Dia mungkin akan senang jika kau memberitahu perasaanmu.”


“Bukan seperti itu yang ku maksud.” Galuh memelankan suaranya. “Aku khawatir jika dia dalam bahaya. Kau tahu aku sudah terlibat dalam masalah ini. Mungkin suatu saat, organisasi itu pasti akan tahu identitasku dan mereka akan mengincar orang yang ada di sekitarku.”


“Jadi hanya karena itu?” tanya Shirou.


Galuh terdiam saja. Kemudian dirinya melihat gedung yang menjulang tinggi dari kaca mobilnya.


“Itu dia perusahaannya,” ujar Shirou.


“Ya kau benar,” jawab Galuh. “Aku harap Owen menemukan sesuatu yang lebih penting kali ini.”


Mereka berdua tiba di gedung perusahaan Peter. Galuh dan Shirou turun dari mobil. Mereka memasuki gedung tersebut. Pintu otomatis terbuka saat mereka berdua mendekati pintu. Gedung yang seperti perkantoran pada umumnya. Mereka menuju ke Lobby.


“Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan yang sebagai pelayan pelanggan.


Pelayan tersebut merasa kebingungan. Lalu perempuan tersebut mengangkat telepon dan menghubungkannya ke ruang Peter.


***


Seseorang mengenakan baju kasual dan dasi tengah duduk menghadap ke jendela. Melihat laut yang begitu terlihat dari gedungnya. Telepon berbunyi, Peter mengangkat telepon tersebut.


“Halo?”


[Ada pihak APD ingin menemui anda.]


“Baiklah, silahkan mereka masuk.”


Beberapa saat kemudian, Galuh dan Shirou telah tiba di depan ruangan Peter. Shirou kemudian mengetuk pintu tersebut.


“Silahkan masuk.” Terdengar suara dari dalam. Mereka berdua kemudian masuk.


Tuan Peter kemudian membalikkan kursinya yang semula menghadap jendela di ruangannya. Ruangan tersebut terdapat dua rak buku yang terletak di dua sisi ruangan dan satu meja yang terdapat komputer dan satu kursi yang tengah diduduki oleh Peter.


“Selamat sore,” sapa Peter. “Ada apa kalian kemari?”


“Selamat sore juga, kami di sini turut berduka cita atas meninggalnya putri anda Tersia.” Kata Shirou.


“Iya, terima kasih. Tapi ada apa kalian ke sini. Apa ada berita bagus?” tanya Peter.


“Kami menemukan pelakunya. Salah satu dari anggota BIRDS telah melakukan kerjasama dengan perusahaan anda.”


Peter kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Dua hari yang lalu ada orang ke sini dengan alasan mereka ingin melakukan kerjasama. Kalau tidak salah orang tersebut bernama Fred Hunt atau semacamnya.”


Shirou dan Galuh saling menatap. “Lalu juga tidak lama ada salah satu karyawanku ke sini keesokan harinya. Dia meminta tanda tangan sebuah proyek untuk diserahkan pada organisasi tersebut.”


“Siapa nama karyawan anda itu?” tanya Galuh.


“Clara, dia baru saja bergabung dua hari yang lalu. Ya karena kalian telah menemukan pembunuhnya, aku ingin kalian segera menangkapnya. Kami memang sudah menyetujuinya tapi mengapa organisasi ini menghianatiku?”


“Baiklah, aku akan sampaikan lagi kabar berikutnya,” ujar Shirou. “Terima kasih.”


Mereka berdua kemudian pamit dari ruangan tersebut. Mereka menuju lift.


“Clara adalah salah satu anggota IAF. Dia juga mungkin sedang melakukan pencegahan. Tapi terlihat triknya salah.” Kata Galuh.


“Apa maksudmu?” tanya Shirou.


“Clara saat ini sedang mengincar anggota BIRDS juga dan dia menyamar sebagai pegawai baru di sini. Itu artinya, saat malam kemarin mereka berdua bertemu. Clara dan Owen melakukan penyerangan secara bersamaan.”


Tiba – tiba saja ponsel Galuh berbunyi. Terdapat nomor yang tidak dikenal. Galuh kemudian mengangkatnya.


“Halo.”


[Galuh, aku memiliki kabar buruk.]


“Siapa ini?” tanya Galuh.


[Owen. Temanmu dalam bahaya dan kita terjebak di sini. Terdapat bom waktu juga aku membutuhkan bantuanmu. Jangan panggil polisi.]


Telepon kemudian terputus. Galuh merasa syok. Dia menjatuhkan ponselnya. “Hina, ada di sana.”


“Di mana?” tanya Shirou.


“Distrik 3.”


Pintu lift kemudian terbuka dan mereka berdua berlari menuju Aston Martin DBS. Galuh menyalakan mesinnya lalu menjalankan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi.


“Aku harap Owen dan Clara masih bertahan di sana.”