
Bus melaju di atas aspal yang basah. Hujan turun semakin deras di luar. Rintik – rintik air menempel di jendela Bus. Hina tertidur di atas pundak Galuh. Sedangkan Galuh enggan untuk tidur. Dirinya terus melihat ke luar jendela. Seketika ponsel Galuh berbunyi. Dirinya mengeluarkan ponselnya yang diletakkan di saku celananya. Telepon tersebut berasal dari Shirou.
“Halo?”
[Galuh kau sedang di mana?]
“Seperti biasanya jalan – jalan yang tidak tentu arah.”
[Biar aku lacak kau berada di Distrik Tiga.]
“Seperti itulah, mengapa?”
[Kau bisa ke APD untuk saat ini?]
“Memangnya ada apa?”
[Ini tentang kasus pembunuhan yang ada di Bandara Akari. Kami telah menyelidikinya dan memang tepat sekali terdapat cincin yang tertinggal. Lalu juga terdapat simbol burung merpati. Aku rasa ini adalah BIRDS.]
“Mereka belum juga pergi rupanya?”
[Kurang lebih begitu.]
“Siapa yang terbunuh?”
[Pemilik Akari Airlines. Nyonya Neva.]
“Baiklah aku ke sana.”
Galuh kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lagi. Ia kemudian melihat jika Hina sudah terbangun.
“Ada kasus baru?” tanya Hina.
“Kurang lebih begitu, tapi aku akan mengantarmu…”
“Tidak aku ikut,” potong Hina.
“Tapi ini sangat berbahaya,” jawab Galuh. “Kau yakin ingin ikut?”
Hina menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, kau boleh ikut.”
***
Beberapa jam sebelumnya…
Sebuah pesawat bertipe Boeing mendarat di landasan pacu Bandara Internasional Akari. Seseorang wanita bernama Nyonya Neva kini telah tiba di kota Akari setelah sekian lama dirinya pergi ke luar negeri untuk kunjungan kerjanya.
Turun dari pesawat, tepat di luar Bandara dirinya sudah di sambut oleh pelayannya yang sekaligus merupakan sopir pribadinya yang bernama Harry.
“Harry, bisakah kau mengantarku untuk ke kantorku yang berada di kawasan sini?, aku memiliki bisnis dengan beberapa orang.”
“Baik nyonya.” Kata Harry.
Mereka berdua pun berjalan menuju mobil limosinnya. Mobil yang terpanjang untuk kalangan ke atas. Dalam mobil tersebut tersedia berkas pekerjaan dan juga mini bar. Mobil tersebut jarang digunakan kecuali jika ada tamu penting yang ingin mengajaknya ke dalam sebuah pertemuan.
Bagi Neva mobil ini seperti ruangan pribadinya. Terdapat TV dan juga laptop di dalam mobil tersebut.
Mesin mobil pun dinyalakan dan bersiap untuk berangkat. Sebuah SMS masuk dalam ponsel Neva. Dirinya mengeluarkan ponsel tersebut dan membaca pesan tersebut. [Pertemuan akan diadakan di kantor anda.] pesan tersebut masuk dari salah satu pegawainya.
Neva kemudian membalas pesan tersebut. [Apa dia sudah datang?]
[Sudah nyonya.]
Kemudian Neva mematikan ponselnya. Dirinya kemudian meminta Harry untuk segera mempercepat mobilnya.
Kantor Akari Airlines memang tidak jauh dari Bandara Akari. Perusahaan yang mengatur bisnis dunia penerbangan. Meski begitu terdapat dua perusahaan penerbangan dari Akari yaitu Akari Skylines dan Akari Airlines. Kedua perusahaan ini memang akur dan saling bekerja sama.
Setibanya di kantor Akari Airlines, Neva kemudian turun dari mobil dan disambut oleh pegawainya yang barusan mengirim pesan melalui ponsel.
“Siapa dia?”
“Tuan Ricky dia dari perusahaan yang berasal dari Serbia.”
“Baiklah berarti dia tamu kita dari luar, bisakah dia berbicara dengan bahasa kita?” tanya Neva.
“Katanya dia lahir di Akari,” jawab Pegawainya.
Setibanya di lantai empat yang merupakan ruangan khusus untuk dirinya sendiri. Seseorang tengah menunggu tuan Ricky pimpinan dari perusahaan yang berasal dari Serbia.
“Selamat sore, nyonya Neva. Saya Ricky dari perusahaan yang terletak di Serbia.” Sambutnya dengan sopan. “Maaf mengganggu anda yang baru saja menyelesaikan dinas di luar negeri.”
“Tidak apa – apa, ada perlu apa?” tanya Neva.
“Proyeknya adalah perusahaanku akan membuat sebuah pesawat dengan inovasi baru. Super Jet seperti itu, kami memerlukan sponsor dari perusahaan anda demi proyek ini.”
Neva kemudian menatap pegawainya. “Bisakah kau menyebut nama perusahaanmu?”
“B.I.R.D.S, itulah nama organisasiku,” jawabnya.
Neva kebingungan saat mendengar organisasi tersebut. Mengingat juga saham belakangan ini anjlok gara – gara invasi beberapa bulan sebelumnya.
“Maaf tuan Ricky kami akan menghubungi anda. Tapi akan saya pertimbangkan lagi.”
“Baiklah.”
***
Galuh dan Hina pun tiba di APD. Kantor tersebut masih tetap sama dan terletak di Distrik Dua. Melihat Fubuki kali ini dengan temannya sedang bertugas sebagai pelayan.
Galuh dan Hina berjalan mengampiri mereka. Fubuki dan Ina tengah membicarakan kasus sebelumnya yang sempat membuat kacau kota Akari.
“Ah itu dia orangnya.” Kata Fubuki sambil menatap Galuh dan Hina yang tengah berjalan ke meja pelayanan.
“Selamat siang Fubuki,” sapa Galuh. “Shirou memanggilku kemari.”
“Tunggu sebentar.” Fubuki kemudian mengangkat telepon dan menghubungi Shirou.
Ina merasa tidak asing dengan perempuan yang berada di samping Galuh.
“Ano, kau Hina yang waktu itu bukan?” tanya Ina.
Hina kemudian melihat polisi yang tengah duduk tersebut. “Iya, jangan – jangan kau…”
“Yeps,” jawab Ina. “Jadi dia adalah orang yang kau tunggu saat itu.” ujarnya saat menatap Galuh.
“Kau mengenalnya?” bisik Galuh pada Hina.
“Dia Ina Sagisawa, polisi yang sebelumnya pernah menemaniku saat kau sedang sibuk,” jawab Hina.
Galuh kemudian menjulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Ina.
“Galuh Raymond.”
“Jadi, kau adalah orang yang memecahkan kasus beberapa waktu lalu?” tanya Ina pada Galuh.
“Iya, tapi ternyata diriku sudah tertipu.” Jawab Galuh
“Setidaknya kau sudah membantu, tidak salah jika Shirou pernah bercerita tentang detektif Galuh.”
Apa yang kau ceritakan Shirou, oh ya kalau dipikir – pikir sebelumnya juga dia menyebutku detektif Galuh. Kata Galuh dalam dirinya.
“Ah iya, itu tidak perlu dibesar – besarkan, aku hanya membantu.” Ujar Galuh.
“Ternyata memang benar kau mirip Kotarou,” kata Ina.
“Apa maksudnya?” tanya Galuh.
“Ah tidak apa – apa.”
Fubuki kemudian menutup teleponnya. “Bisakah kau tunggu sebentar, Shirou akan turun setelah ini.”
APD masih selalu sama tanpa adanya renovasi. Suasananya pun masih sama. Galuh dan Hina duduk di bangku antrian. Galuh merasa dirinya kini lebih sering berkunjung ke APD. Meski pekerjaan ini sangat menyenangkan, namun tetap saja Galuh harus menahan diri dan menyelesaikan kuliahnya. Jika kuliah sudah berakhir, dirinya bisa bebas untuk bekerja.
Setelah menunggu hampir satu jam Shirou pun muncul dan keluar dari lift yang berada di samping pelayanan.
“Maaf menunggu,” ujar Shirou.
“Tidak apa – apa, kali ini ada kasus apa lagi?” tanya Galuh.
“Nyonya Neva yang baru saja aku ceritakan tewas di dalam ruangannya sendiri. Beberapa barang bukti sudah dikumpulkan dan memang salah satunya adalah cincin yang berinisial anggota BIRDS. Sidik jari tidak ditemukan kemungkinan pelaku tidak pernah memakainya.”
“Lalu apa lagi?”
“Ada trik aneh dalam TKP. Kini TKP tersebut masih diawasi dan kita tidak bisa memecahkannya. Jejak tersebut hilang tepat di depan jendela, tapi kalau di analisis kemungkinan penjahat melepas sepatunya dan membawanya turun. Dan juga ada lubang kecil seperti bekas tembakan sniper, tapi saat melakukan pengotopsian tidak ada peluru yang menyangkut di tubuhnya dan malah yang ada adalah bekas tikaman.”
“Menarik, bisakah aku ke TKP untuk saat ini?” tanya Galuh.
“Tentu saja.”