
Beberapa saat kemudian, Shirou pun kembali ke ruangan barang bukti. “Lalu apa lagi yang kau temukan?”
“Lipstik berwarna pink di jam tangannya.”
Shirou kemudian mendekatkan jam tangan milik Ferdinand tersebut ke matanya. Memang terlihat bercak darah dan juga lipstik.
“Aku rasa Ferdinand adalah buaya darat.”
“Apa maksudmu?” tanya Shirou.
“Kelihatannya dia memiliki lebih dari satu wanita.”
Sektika pengumuman pun terdengar dari speaker yang dipasang di ruangan tersebut. [Panggilan ditujukan pada Shirou harap menuju ke ruangan otopsi.]
Shirou kemudian mengajak Galuh ke ruangan otopsi. Dokter tengah mengecek kembali data – data yang ada pada korban tersebut.
“Ah kalian sudah datang,” ujar dokter.
“Apa yang kami dapatkan dok?” tanya Shirou.
“Yah, kelihatannya sebelum terjatuh dia disiksa terlebih dahulu oleh pelaku. Terdapat bekas tikaman pada punggungnya dan juga peluru pada dadanya. Hanya itu saja yang bisa kita dapatkan saat ini.”
Galuh berpikir sejenak. Dia berusaha membuat gambaran tentang bagaimana kejadian tersebut terjadi. “Dengan apa pisau jenis apa tuan Ferdinand dibunuh?”
“Jika kau bertanya mungkin tikamannya bukan sejenis pisau pembunuh. Sayatannya sangat kecil namun…”
“Cutter,” jawab Galuh. “Ferdinan disiksa dengan cutter, senjata yang bisa masuk ke mall adalah cutter, tidak mungkin kita membawa pisau dapur atau semacanya ke mall karena pasti akan ketahuan oleh pengawas.”
“Lalu bagaimana dengan peluru? Bukannya senjata tajam tidak boleh masuk ke mall?” tanya Shirou.
“Itulah yang akan menjadi pertanyaan kita selanjutnya.”
***
Hina sedang duduk di lobi. Dirinya tengah menunggu Galuh selesai dalam memecahkan misterinya. Seseorang mendekati Hina yang tengah duduk di ruang lobi.
“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tanya Ina.
“Ah, tidak ada. Aku sedang menunggu seseorang.”
“Begitu rupanya, bolehkah aku bergabung denganmu? aku juga tengah menunggu seseorang.”
“Tentu saja.”
Ina kemudian duduk di samping Hina yang tengah membawa minuman soda.
“Ngomong – ngomong siapa yang sedang kau tunggu?” tanya Ina.
“Bisa dibilang teman, tapi…”
“Tapi kenapa?”
Hina pun kebingungan saat ingin menjawab. Raut wajahnya sedikit berubah. Kesedihannya akan dirinya sendiri. Sebelumnya memang Galuh sudah menyatakan perasaannya. Tapi tetap saja, dirinya terabaikan oleh Galuh.
“Aku sangat menyukainya,” jawab Hina sambil menundukkan kepalanya. Menatap minuman yang dipegangnya.
“Aku pun juga sama seperti itu.” Ina menjawab dengan senyuman. Merasa dirinya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Hina. “Sebelumnya namamu?” tanya Ina.
“Hina, Hina Claire,” jawab Hina.
Hina menganggukkan kepalanya.
“Jadi begitu ya, umur kita rupanya tidak terlalu jauh juga. Umurku 23 tahun dan aku bekerja di APD. Sifatku juga seperti anak – anak makanya tidak ada yang percaya dengan umurku.”
“APD, jadi kau polisi ya.”
Hina menatap wajah Ina. Memang kalau dilihat – lihat sekali lagi wajahnya masih seperti anak kecil.
“Ada yang aneh?” tanya Ina
“Tidak juga, ngomong – ngomong wajahmu sangat imut juga ya.”
Wajah Ina memerah. “Terima kasih.”
***
“Kita bisa merekap ulang lagi kejadian yang tadi,” ujar Galuh.
Dirinya kali ini sudah menyiapkan sebuah teori yang cukup masuk akal tapi ini masih kemungkinan saja. Galuh meruntutkan kembali kejadian. Penglihatannya akan kasus sebagai ilustrasi mulai terbentuk.
“Pelaku membunuh korban bernama Ferdinand dengan senjata cutter dan juga pistol. Kemungkinan korban tidak diculik tetapi pelaku mengadakan janji temu dengan korban di lantai paling atas.
“Kalau dipikir kembali, tidak mungkin tuan Ferdinand mengangkat telepon atau menjawab SMS dengan nomor yang tidak dikenal. Dan tuan Ferdinand adalah buaya darat.”
“Tunggu, buaya darat?” tanya Shirou.
“Itu memang benar, orang yang memiliki lebih dari satu wanita dan belum menikah biasanya disebut buaya darat,” jawab Galuh. “Bukannya aku sudah memberitahumu sebelumnya?”
“Dari mana kau bisa mendapatkan spekulasi seperti itu?” tanyanya.
“Lipstik pink, dia kemungkinan memiliki lebih dari satu wanita. Mungkin playboy bisa dibilang seperti itu, jika kau ingin bahasa halusnya.”
“Bagaimana dengan peluru dan cutternya?”
“Cutter adalah senjata yang dapat diterobos masuk ke dalam mall. Memang pada awalnya akan diperiksa, bisa saja pelaku adalah pekerja di mall tersebut. Lalu dengan pistol, dia mengambilnya dari dalam gedung.”
“Begitu ya,” ujar Shirou.
Tak lama dari itu, Fubuki kemudian datang dengan membawa data – data yang ia dapatkan tadi.
“Aku berhasil melacak isi ponsel tersebut,” kata Fubuki. “Ponselnya itu tertuju pada lebih dari lima orang itu termasuk dengan akhir – akhir ini yang sering ia hubungi.”
“Siapa saja?” tanya Galuh.
“April, Hani, Rina, Shuvi, dan Putri.”
“Tidak – tidak yang beberapa hari sebelum tuan Ferdinand meninggal.”
“Hani, April, Rina.”
Galuh dan Shirou saling menatap satu sama lain. “Petunjuk berikutnya…”