
Semua orang nampak mengalihkan padangan mereka kearah datangnya suara, dilihatnya sosok pria muda tampan yang usia nya tidak jauh dari Wawa, kulit putih bersih dengan raut wajah yang dingin serta tinggi yang sempurna mengenakan jas hitam yang dipadukan dengan kemeja putih didalamnya, pria itu berjalan kearah seluruh keluarga dan kedua mempelai dengan gaya cool nya, tidak sedikit para tamu wanita yang memnicarakan kedatangannya
"Bukannya itu Tio?" gumam Bevan
"Kau mengenalnya?" ucap Yaya
"Ya, dia orang kepercayaan Ardan" jawab Bevan
"Lalu untuk apa dia kesini? Apa untuk menyampaikan pesan Ardan?" tanya Faldi
"Entahlah aku pun tak tahu, Ardan tak pernah mengatakan apapun" balas Bevan
"Maaf sebelumnya jika saya langcang" ujar Tio sopan dengan nada datarnya
"Siapa kau?" tanya Fanni
"Sebelumnya anda tidak perlu tahu siapa saya, yang jelas saya orang yang baik" jawabnya
"Apa maksud kedatangan mu kesini?" tanya Fanni
"Sebelumnya saya datang kesini hanya untuk meluruskan kesalah fahaman yang terjadi, pria ini, dia telah berbohong" ujar Tio sambil menunjuk kearah Aryan
"A-apa maksudmu" ucap Aryan ketakutan "Yang ku katakan memang benar, buktinya pun sudah ada" lanjutnya gemetar
"Bukti apa yang kau bicarakan? Kalian percaya dengan bukti itu? dan apabila saya menunjukkan bukti apa kalian akan percaya?" ucap Tio "Tak hanya bukti bahkan saya mempunyai saksi yang kuat" lanjutnya
"Bukti apa yang kau miliki?" tanya Ardan penasaran
"Bukti yang akan membongkar semua kebusukan Anda" tegasnya, dia melirik kearah pintu, nampak ada sosok dua pria berbadan tegap dan besar, dengan seorang wanita yang sedang dijadikan sandra, wanita cantik berusia sekitar 19 tahun itu terlihat lusuh, bqnyak luka lebam diwajahnya, ia tak menunjukkan wajahnya, membuat semua orang penasarab dibuatnya, kedua pria itupun menyeret wanita itu menghadap kearah Aryan dan Tio
"Kau kenal siapa wanita ini?" tanya Tio, Aryan pun menggeleng "Tidak aku tak mengenalnya!" tegasnya, Wanita itupun perlahan mengangkat wajahnya menghadap kearah Aryan, dengan mata yang sembab karena lama menangis dan air mata yang masih menggenang
"TARI!" pekik Wawa, wanita itu menoleh kearah Wawa lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Aryan
"Kau tahu siapa dia?" tanya Tio lagi, Aryan nampak panik ketakutan, keringat dingin mengucur dipelipisnya
"Ti-Tidak!" jawabnya gugup
"Lalu kenapa kau gugup? Aku tanya sekali lagi apa kau mengenalnya?" ucao Tio dengan nada penuh tekanan
"Aryan, Aryan adikku aku mohon tolong akuu, mereka iblis-iblis ini mereka semua telah menyiksaku hiks" tangis Tari, semua kawan kawan Wawa termasuk Wawa nampak terkejut dengan penuturan Tari, Adik? Apa maksudnya? fikir mereka
"Kau dengar? Dia memanggilmu adik" ujar Tio
"Aku tak mengenalmu!" tegasnya sambil hendak berlalu, namun cekalan tangan Tio berhasil menghentikkan langkahnya
"Lepaskan aku!"
"Kau mau kemana?" tanya Tio
"Ini semua sudah selesai! Wawa tak ingin menikah denganku, dan aku tak akan memaksanya!" balas Aryan
"Ini belum berakhir, bukan Wawa yang tak mau menikah dengan mu tapi memang kau yang tak mau menikahinya, dan memang tidak salah Wawa memang terpaksa melakukan pernikahan ini, tapi walau begitu dia tak lari dari sini, justru kau! Kau yang nerencanakan semua ini?!" tegas Tio membuat semua orang terkejut "Dan lagipula apa kau tak ingin membantu kakak angkatmu ini bebas dari tahanan ku?" lanjutnya
"Apa, apa maksudmu aku tak mengerti! dan siapa dia? Aku tak mengenalnya" elak Aryan
"Kau tega padaku Aryan, kau sendiri yang mengatakan bahwa kau akan balas dendam pada Wawa" lirih Tari, mata Aryan terbelalak mendengar pernuturan itu
"Jaga bicaramu!" tegasnya " Balas dendam apa yang kau maksud hah?!" lanjutnya lantang
"Tentu balas dendam atas kegilaan yang dialami ibu Santi Herlambang" sahut Tio "Dan penghinaan yang dilakukan Ardan padamu tempo masa SMP dulu, betul bukan?" lanjutnya
"Aku tak mengerti! Kau tak mengenal kalian semua?" ucapnya bersikeras
"Cukup! Hentikan! Apa ini? Drama apalagi ini? Tadi Aryan datang dengan kondisi yang menyedihkan, dan sekarang kau datang dengan maksud apa? Sebenarnya apa tujuanmu datang kemari!" lerai Fanni yang mulai dibuat pusing dengan apa yang terjadi, Wawa sedari tadi diam ia masih bingung dengan semua ini, bagaimana bisa pria yang tak dikenal datang dengan membawa kesaksian tentang Aryan? Sekaligus membawa Tari bersamanya?
"Maksud kedatanganku kesini baik, aku hanya ingin menunjukkan sesuatu pada kalian, dan aku yakin, setelah ini kalian akan tahu siapa yang benar dan siapa yang salah" ucap Tio sambil berjalan kearah Wawa yang nampak kebingungan
"Kau tenang saja, aku tak akan membiarkan mu dipermalukan" ucapnya , Wawa menautkan kedua alisnya tak mengerti, sementara Tio, dia menghubungkan teleponnya pada layar proyektor tadi, ia menunjukkan sebuah vidio dimana Aryan dan tari sedang bertemu tempo hari, dan membicarakan perihal Wawa dan perjodohannya, tari pun menceritakan gangguan kejiwaan yang dialami sang ibu pada Aryan, dan mereka mulai menyusun straregi untuk membalas dendam pada Wawa, tak hanya itu, disana ada pula rekaman suara tentang pengakuan Tari selama dijadikan tahanan tentang kebeneran dan rencana yang sebenarnya mereka susun, Aryan nampak terkejut melihat vidio itu, bagaimana bisa ia memiliki bukti itu? fikirnya
"Kau masoh ingat bukan pertemuan pertamamu bersama kakak angkatmu ini setelah sekian lama tak bertemu?" ucap Tio dengan senyum penuh kemenangan "Dan satu hal lagi, vidio yang ditunjukkan Aryan tadi, itu tak sepenuhnya benar dan tak sepenuhnya salah pula, saat itu Wawa memang pergi ke bar dan aku melihatnya sendiri" lanjutnya, ia menjelaskan awal mula terjadinya sampai selesai
#Flash Back Off
Malam sebelum pernikahan
Waktu sidah menunjukkan pukul 20.00 nampak seorang gadis kecil sedang berjalan dengan gontai menusuri setiap sudut jalannan yang begitu sepi, tiba-tiba kangkahnya terhenti manik matanya menatap tempat yang akan dapat menjadi ketenangan nya, ia membawa langkah kakinya masuk kedalam sana dan duduk dimeja minuman, ia memesan satu gelas wine lalu diteguknya sampai habis
"Sanggupkah aku menerima pernikahan ini?" lirih gadis itu, matanya menelaah setiap sudut ruang bar itu, dentuman demi dentuman musik yang begitu keras membuat telinganya sakit sampai mengharuskannya menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan
"Ahh sial gue mau pipis" lirihnya, ia bangkit dari duduknya dan berlari kecil menuju toilet dibar itu, sesampainya ditoilet ia dikejutkan dengan nada-nada mesra yang menjadi erangan dari seorang wanita "Yaampun suara apa itu?" gumam, ia mencari celah untuk mengintip kedalam, matanya terbelalak kaget melihat pemandangan yang dilihatnya dimana pria yang begitu dikenalnya sedang bercumbu bersama wanita lain itupun dikamar mandi "A-aryan!" ucapnya spontan, kedua insan itu mengehentikkan aktivitasnya dan menatap keasal suara, mata Aryan terbelalak menatap Wawa, wajahnya dipenuhi amarah, dengan segera Wawa berlari namun usahanya gagal, Aryan berhasil menangkapnya dan mencekal tangan Wawa
"Bagaimana bisa aku melepasmu? Setelah kau melihat adegan tadi kau pasti merekamnya bukan? Kemarikan handphone mu!" ucap Aryan dengan tatapan tajam, Wawa segera menyembunyikan handphonenya, namun Aryan berhasil merebutnya, benar saja yang dikatakan Aryan, gadis itu merekam adegan panas Aryan kala itu "Kau tak memerlukan ini sayangku, lagi pula untuk apa ini? Kita akan menikah besok, kau ingin menghancurkan pernikahanmu sendiri dengan vidio ini?" ujar Aryan dengan senyum menyeramkan sambil membelai lembut dagu Wawa
"Lepas ih!" tegasnya
"Aku akan melepaskanmu, tapi ingat jangan katakan apapun jika kau tak ingin terjadi sesuatu padamu dan ibumu!" ancamnya, lalu melepaskan cengkraman tangannya
#Flash Back On
Plak....
Tamparan keras dari sang ibu mendarat dipipi kiri Aryan, ia menatap tajam putranya dengan air mata yang mengakir deras
"Apa yang kau lakukan?! Kau sangat menjijikkan! Apa ini didikanku yang selama ini aku ajarkan hah?!" sentak sang ibu
"Ma, maafkan aku ma, maaf" lirihnya memohon
"Maaf katamu? Kau ingin menghancurkan hidup gadis tak berdosa demi memenuhi keninginanmu balas dendam? Kau tahu apa yang kau lakukan? Kau tak ingat? Mama mu ini juga seorang wanita!" tegasnya
"Kau tega memfitnah ku didepan semua orangkan? Sekarang kau lihat, lihat kan siapa disini yang dipermalukan, aku merasa jijik pernah hampir menikah denganmu, untung saja pernikahan ini tak terjadi aku sangat bersyukurr" ucap Wawa
"Kau tega memfitnah putriku? Apa salahnya padamu? Kau ingin balas dendam pada putriku atas gangguan jiwa yang dialami Santi? Kau tahu itu bukan kesalahannya" lirih Fanni sambil menatap jijik Aryan
"Maafkan aku, maafkan aku tante, aku salah, aku salah aku khilaf tante" lirihnya
"Sudah saya tak ingin melihamu disini lagi! Pergi kamu! Pergii! " langangnya sambil mendorong tubuh Aryan keluar, Aryan pun terpaksa pergi bersama aibnya dirumah itu
"Maafkan kami atas semua yang terjadi, kami tak menyangka Aryan putra kami akan berbuat begitu pada putrimu Adzwa, sekali lagi aku minta maaf" ucap Ibu Aryan
"Sudahlah tidak perlu ada yang dibahas lagi, semua kini sudah gagal, aku akan menganggao semua yang telah terjadi ini semua penghinaan putramu yang ditujukannya pada putriku akan aku anggao angin lalu saja, hembusan nafas yang tak pernah terdengar, dan pada seluruh tamu undangansaya selaku tuan rumah meminta maaf yang sebesar-besarnya dengan apa yang telah terjadi dihadapan kalian tadi, dan dengan berat hati saya terpaksa membatalkan acara pernikahan ini" ucap Fanni, semua tamu undangan pun membubarkan diri sambil tak ada hentinya bergunjing, sementara itu para sahabat Wawa menghampiri Wawa untuk memberinya semangat
" Lo yang sabar ya Wa, gua ngerti kok perasaan lo kalo ditinggal pas mau akad" celetuk Jejes yang langsung memdapat hantaman dari Yaya dengan menjitak kepalanya
"Wa udah ya, sekarang jangan sedih lagi" ucap Yaya
"Apaan sih lo pada" ucap Wawa, pandamgannya ia alihkan pada sosok pria yang telah menyelamatkannya dari pernikahan paksaan ini lalu berucap "Terima kasih berkat kau aku tidak jadi menikah dengan pria brengsek itu, siapapun kau dan darimanapun kau aku sangat berterima kasih". Tak ada balasan dari Tio, ia malah langsung pergi begitu saja meninggalkan tempat itu.
"Waah songong banget tuh cowok!" umpat Faldi sambil menunjuk-nunjuk kearah perginya Tio
"Ih udah sih diem!" ucap Yaya "Wa dia itu orang suruhannya Ar-" ucapannya terhenti kala Bevan menggenggam tangannya sambil menggelengkan kepalanya
"Kenapa Ya? lo kenal?" tanya Jejes, Wawa memalingkan wajahnya kearah Yaya menunggu jawaban darinya
"Euh, G-gue mana mungkin lah gue kenal, lo aja gak kenal apalagi gue" elaknya
"Oh" sahut Wawa dan Jejes bersamaan.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Lama banget ya aku gak up(
Males banget tau mau up nya soalnya like sama Vote nya gak naik😢
Apa karena cerita aku yang membosankan ya? dan gak menarik? maaf ya😢
Aku moohoooon bangeet sama kalian naikkin Vote sama Like nya aku😢