The Magical Of Love

The Magical Of Love
Donor Mata



Seminggu sudah berlalu semenjak kejadian Ardan di Bar dan mengamuk dirumahnya, kini semua nampak terlihat baik-baik saja, hari ini hari yang sangat senggang baginya, karena ia tak perlu bersekolah karena ini hari minggu, ia memilih bersantai dibalkon kamarnya sambil menikmati secangkir teh, pandangannya memandang jauh kedepan menatap langit cerah, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada satu oanggilan masuk, tertera disana nama Tio asisten sekaligus sahabatnya, segera ia meraih ponsel itu, dan menekan tombol hijau disana, panggilan pun tersambung


"Hallo, ada apa?" ujar Ardan


"Hallo bos, saya sudah menemukan orang yang terbaik" balas Tio disebrang telpon


"Gak usah terlalu formal!" sahut Ardan datar


"Sory bro" balasnya


"Jadi gimana?" tanya Ardan


"Gue udah nemuin orang yang cocok dan terbaik!" seru Tio santai


"Oh? Iyakah?" tanya Ardan "Lo gak lagi bercanda?" lanjutnya


"Gua serius bos, orangnya pun udah sama gue, sekarang gue antar dia kesana" ujar Tio meyakinkan


"Gak usah! langsung bawa aja ketempat yang harusnya!" titah Ardan lalu memutuskan ponselnya secara sepihak, lalu kembali menyeruput tehnya, ada ukiran senyum dibibir manis Ardan kala setelah mendapat telpon dari tio.


Sementara itu, dikediaman Fanni, ia nampak sedang bersantai emnikmati hari minggunya dengan menonton televisi, dering dari ponselnya pun mengharuskan ia mengalihkan pandangannya dan mengangkat telpon masuk tersebut


"Iya hallo dokter" ujar Fanni saat mengangkat telponnya yang berdering


"....."


"Apa dok?! dokter gak bercanda kan?" ujarnya tak percaya


"....."


"Baik, baik dok saya akan segera kesana!" balasnya, sambil memutuskan panggilannya dan berlari kearah kamar Wawa senang


"Wawaaaa! Wawaaa!" pekik Fanni tak sabar sambil mencari cari keberadaan Wawa dikamar itu


"I-iya mamsky?" sahut Wawa mencari asal suara, Fanni pun segera menghampiri Wawa dan memeluknya erat "Mamsky kenapa?" tanyanya heran


"Mamsky seneng bangeet sayang, akhirnya kamu akan bisa melihat" ujar Fanni dengan tawa haru


"Apa? mamsky serius?" ujarnya meyakinkan


"Iya! mamsky serius, tadi dokter bilang dia dapet donor mata buat kamu" balas Fanni


"Mamsky, ini suatu kebahagiaan bagi Wawa mamsky" ujarnya bahagia


"Mamsky juga bahagia sayang, sekarang kamu bersiap ya, kita pergi kerumah sakit!" titah Fanni, tanpa berfikir Wawa pun langsung mengiyakan dan mengganti pakaiannya.


****


"Hai tante" sapa Jejes, setelah ia dan kawannya sampai dirumah sakit


"Kalian?" balas Fanni


"Tante udah lama disini?" tanya Caca


"Nggak kok, tante baru aja lima belas menit yang lalu" jawabnya


"Operasinya udah dimulai ya tan?" tanya Yaya


"Belum, Wawa masih diperiksa apa dia hari ini boleh langsung operasi atau nanti, tergantung kondisi kesehatan Wawanya aja" jawab Fanni "Kita do'ain aja ya" lanjutnya, tak lama kemudian, Wawa keluar dari ruangan dokter ditemani oleh seorang suster disampingnya, mereka yang melihat langsung beranjak dari duduknya


"Bagaimana sus?" tanya Fanni antusias


"Baik kepada ibu Fanni, diharapkan untuk masuk kedalam" ujar suster tersebut, Fanni pun menurut dan masuk keruangan dokter tersebut


"Bagaimana dok, apakah operasinya bisa dilangsungkan hari ini?" tanya Fanni


"Tentu bisa dokter Fanni, hasil dari tes kesehatan Wawa juga sangat baik, jadi sangat mendukung untuk melakukan operasi cangkok mata hari ini" jelas dokter Davin


"Ah syukurlah" ujarnya lega


"Suster tolong ambilkan surat persetujuan keluarga" titah David, dan kangsung dituruti oleh suster itu "Ini dokter, anda hanya perlu menandatangani ini" ujarnya menyerahkan selembar kertas pada Fanni, tanpa fikir panjang Fanni pun menandatangani berkas itu.


"Baiklah, kami akan segera melakukan operasi pada putri anda" ujar David yakin


"Terimakasih dok" balas Fanni sambil neranjak dari duduknya lalu menjabat tangan Davin.


****


"Gimana Tante? operasimya udah mulai?" tanya Aryan yang baru saja datang


"Operasinya sedang berlangsung, ini sudah lebih dari tiga jam" jawab Fanni


"Tante tenang ya, kita do'ain aja semoga cangkok matanya berjalan lancar" ujar Yaya sambil menyentuh bahu Fanni, tak lama kemudian ruang operasi itu menyala hijau, menandakan operasi telah selesai, seorang dokter yang tak lain adalah Davin keluar dari dalam ruang operasi


"Bagaimana dok?" tanya mereka bersamaan


"Kalian tenang saja, operasinya berjalan dengan lancar" jawab David dengan senyum tulus, semua orang namoak menghela nafas bahagia dan lega akhirnya orang yang mereka sayangi dapat melihat kembali.


Wawa pun dipindahkan keruang perawatan VVIP dengan balutan perban dimatanya dan selang infus ditangannya, jauh di ruang sana ada dua sosok mata yang memperhatikan gerak-gerik mereka sedari tadi, orang itu menyungginggkan senyum tulus nya kala mendengar operasinya berjalan dengan lancar, lain hal nya dengan Aryan, ia nampak gelisah kala tahu operasi mata Wawa berjalan dengan lancar.


"Kondisinya baik, hanya saja ia masih lemas pasca operasi, ini sudah biasa bukan pada pasien yang baru menjalankan operasi? kita hanya perlu menunggu Wawa sadar, dan seminggu lagi perban dimatanya akan dibuka" jelas dokter David


"Apakah benar dok, dia akan bisa melihat?" celetuk Aryan, yang langsung mendapat tatapan bingung dari Fanni dan yang lainnya


"Maksud lo apa!" sewot Faldi sambil mencengkram kerah baju Aryan


"Fal udah Fal! ini rumah sakit!" ujar Yaya sambil melerai Faldi


"Maksud gue, maksudnya eum euh apa bener itu pendonor yang baik, dan matanya apakah sehat? atau rabun? bukannya jika rabun ia tetap gak bisa melihat dengan jelas ya?" jawabnya berbohong


"Ahaha, anda tidak perlu khawatir, insya allah semua akan baik, karena sebelum melakukan operasi kami juga melakukan pemeriksaan pada si pendonor" jelas dokter David "Baiklah kalau begitu saya pamit undur diri dahulu, permisi" pamitnya sambil sedikit menoleh pada Caca, lalu pergi melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan Wawa.


#Seminggu kemudian.....


Nampak semua orang terdekat Wawa berkumpul didalam ruangannya, hari ini pelepasan perban dimata Wawa, hari ini pula penentuan apakah Wawa bisa melihat atau sebaliknya, kini dokter dan seorang susternya pun telah mempersiapkan segalanya, gadis itu duduk diranjangnya dengan dikerumuni orang-orang terbaik dalam hidupnya yang selama ini menjadi alasannya untuk tetap hidup menghadapi hinaan hinaan dari tetangganya, tangan dokter mulai bergerak menggunting perban mata Wawa, perlahan perban dibuka sampai akhirnya akhir putaran pembukaan perban, tak lupa dokter itu juga melepas kapas di kedua mata Wawa sampai akhirnya kedua matanya tak terbungkus apapun


"Sekarang kamu buka matanya perlahan ya"  ujar David, Wawa pun menurut, ia mulai membuka matanya perlahan, menyempurnakan pandangannya yang kabur, semua orang nampak sangat penasaran akan hasilnya, Wawa menoleh kesekelilingnya menatap satu-persaru wajah orang yang kini sedang mengeremuninya, tersirat senyuman manis dibibirnya kini, penglihatannya sudah mulai normal


"Mamsky" ujarnya pertama kali dengan senyum tulusnya, semua orang nampak tersenyum lega, ada bahagia, juga haru kala melihat kini Wawa dapat melihat kembali, Fanni pun segera memeluk putrinya itu erat, sambil sesekali menciumi puncak kepalanya


"Akhirnya perjuangan kamu menahan semua hinaan orang-orang terbalas nak" ujar Fanni haru, sambil melepaskan pelukannya dan beralih menangkup kedua pipi gadis itu


"Wa? lo gak inget sama kita?" celetuk Yaya


"Yaya? Jejes? Caca?" ujarnya bahagia, lalu segera memeluk mereka penuh kebahagiaan


"Gue? lo gak inget?" miris Faldi, Wawa pun menoleh padanya dengan tatapan bingung


"Siapa?" tanya Wawa


"Jadi lo bener gak inget gue?" ujar Faldi kecewa


"Gak usah dijelek-jelekkin sih mukanya udah jelek juga!" celetuk Wawa "Sini gue peluuk lo curuut kesayangannya guee" lanjutnya sambil merentangkan kedua tangannya dan langsung disambut hangat oleh Faldi


"Akhirnyaaa, kaleng rombeng guee balik jugaaa" ujar Faldii


"Ekhem ekhem" dehem Fanni, menatap kearah Aryan


"Eh maaf tante lupa haha, kelepasan soalnya, eh keenakan maksudnya" ujar Faldi sambil melepaskan pekukannya


"Aryan?" ujar Wawa menoleh lada Aryan


"Hai, akhirnya kamu bisa lihat juga ya" ujar Aryan


"Maksud dia apa si? apa dia gak mau kalau gue bisa lihat lagi ya?" batin Wawa


"Wa, kamu kenapa?" kaget Fanni sambil menyentuh bahu Wawa


"Ah? nggak kok mamsky" jawabnya " Iya Yan, akhirnya gue bisa lihat" lanjutnya sambil tersenyum terpaksa


"Dok, terima kasih ya, selama ini anda sudah menjadi dokternya anak saya" ujar Fanni sambil menjabat tangan David


"Ah, dokter tidak usah berlebihan begitu, itu memang sudah kewajiban saya sebagai dokter, baiklah, karena semuanya sudah baik, saya pamit undur diri ya" balas dokter itu, lalu melangkah keluar diikuti sister dibelakangnya


***


Wawa menatap sekitar yang terlihat bahagia mendengar Wawa bisa melihat kembali, namun entah mengapa ada yeng mengganjak dihatinya, seakan ada sesuatu yang hilang darinya


"Disini udah banyak orang kok, semua ada disini, orang yang gue cinta Aryan juga ada disini, tapi kok gue ngerasa kayak ada yang aneh ya? kayak ada yang kurang gitu, ada yang hilang disini?" batin Wawa.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


Jangan lupa Tinggalkan jejak ya, maf kalo ceritanya gak menarik, soalnya aku gak terlalu pandai berimajinasi, maaf banget


Jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like, komennnn, vote, sama ratenya aku masih butuh banyak bangeet support dari kalian❤


Happy Reading😚❤