
"Gue balik duluan" ujar Wawa malas, setelah selesai memfitting baju pengantin bersama Aryan sambil hendak melangkah pergi, namun tangannya dicekal oleh Aryan
"Tidak, kita akan pulang bersama" ujar Aryan dengan nada dingin
"Lepas!" tegas Wawa sambil menepis tangan Aryan
"Woow, kasar sekali kamu sayang" goda Aryan dengan senyum liciknya sambil mencolek dagu Wawa
"Gausah sentuh-sentuh!" tegasnya lalu berlalu mendahului Aryan
"Lihat kejutannya besok sayangku" gumam Ardan dengan senyum liciknya, lalu mengikuti Wawa dari belakang.
Sesampainya mereka dirumah Fanni, Wawa langsung memasukkan dirinya kedalam kamar, sementara itu Aryan sedang berbincang dengan Fanni
"Maafkan Wawa ya nak Aryan" ujar Fanni merasa bersalah atas sikap yang ditunjukkan Wawa
"Sudah tak apa, mungkin dia malu tante, besok kan hari pernikahan kami" balas Aryan dengan senyum pura-pura tulus
"Kau anak yang baik, Wawa beruntung mendapatkanmu" ujar Fanni dengan senyum ramahnya, sementara Wawa yang sedari tadi diam dikamar mendengar percakapan sang ibu yang memuji Aryan, membuat gadis itu sangat lah kesal
"Baik dari mana? orang dia licik gitu disebut baik! mamsky gak lihat apa huh?!" gerutunya sambil melipat kedua tangannya didada dan mengerucutkan bibirnya seperti bebek, tiba-tiba fikirannya teringat akan Ardan, pria yang ia cintai, ia berjalan menuju tempat tidurnya dan meraih handphone yang berada diatas nakas, dibukanya kayar pinsel tersebut dan menekan menu galeri, dimana disana banyak foto-foto Ardan yang sengaja ia ambil diakun sosial medianya, gadis itu membelai lembut layar ponselnya dengan mata berkaca
"Kenapa lo tinggalin gue? hiks, lo gak mau memangnya perjuangin cinta lo? cinta kita? lo bilang lo cinta sama gue hiks, tapi apa buktinya? lo mau ngebiarin gue nikah dengan lelaki licik itu? kenapa Dan kenapa?" keluhnya disela tangisnya
"Apa gue telpon Ardan aja ya?" gumamnya, dengan segera ia mencari kontak Ardan dan menekan oanggilan telepon namun
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, atau berada diluar service area hubungi beberapa saat lagi" hanya itu suara yang keluar dari layar ponsel itu, berkali-kali ia mencoba namun hanya jawaban yang sama yang ia dapat, sampai ia dibuat frustasi dibuatnya "Arrrghhhh!" pekik Wawa
"Kenapa gak aktif sih? apa dia sengaja? kenapaaa? lo jahat Dan lo jahat!" umpatnya sambil membanting ponselnya, ia mendudukkan dirinya ditepi ranjang dengan tubuh yang lemas lalu memeluk kedua kakinya dengan kepala yang ditundukkan pada tumpuan kakinya, ia menangis tersedu, ia tak mampu lagi menahan semua ini, yang ada difikirannya saat ini hanyalah Ardan dan Ardan tak ada yang lainnya.
tok....tok....tok....
Ketukan suara pintu terdengar dari kuar, namun tak ada jawaban dari dalam, berkali-kali Fanni mengetuk pintu kamar Wawa namun tak kunjung gadis itu membukanya
"Wawaaa" pekik Fanni sambil terus menggedor pintu, ia pun merasa penasaran, lalu menyentuh knop pintj dan mencoba membukanya, ternyata memang pintu kamarnya tak terkunci "Wa, mamsky masuk ya" ujarnya sambil menyelonong masuk kedalam kamar, kamar itu nampak gelap, hari bahkan sudah malam, namun lampu kamar itu tak dinyalakan, ada apa dengannya? fikir Fanni, ia pun mencari stopkontak lampu dan menyalakannya sampai akhirnya lampunya terang, matanya menelaah setiao celah ruangan itu, sampai akhirnya ia temukan satu titik, sosok yang ia cari, dengan segera ia menghampirinya dan menyentuh bahunya
"Wa" ujar Fanni pelan, merasa terpanggil dan ada seseorang yang menyentuhnya gadis itu mendonggakkan kepalanya, ia terkejut tatlala yang ia lihat adalah sang ibu, dengan segera ia menghapus air matanya dan merekahkan senyum oalsu dibibirnya
"Ada apa mamsky?" tanyanya
"Kamu kenapa nak?" ujar Fanni sambil membelai lembut rambut Wawa
"Wawa, eum Wawa gak papa kok, emang Wawa kenapa?" balasnya
"Wa, apa kamu tak bahagia dengan pernikahan ini" tanya Fanni, Wawa terdiam membisu nendengar pertanyaan itu, apakah ia jarus menjawabnya dengan jujur? bahwa ia sebenarnya tak pernah bahagia dengan pernikahan ini
"Wawa, Wawa bahagia kok" jawabnya dengan senyum dipaksa
"Kamu yakin?" ujar Fanni
"Sudahlah mamsky tak perlu membahas tentang kebahagiaan Wawa, toh sekarang tidak ada gunanya kalau pun Wawa tidak bahagia ini sudah terlambat untuk mengatakan, besok adalah hari pernikahan Wawa" ujar gadis itu datar
"Maafkan mamsky ya sayang" ujarnya sambil membawa putrinya dalam dekapannya dan memeluknya erat
"Sudahlah mamsky tidak perlu meminta maaf begitu, ini bukan salah mamsky kok" balas Wawa
"Tapi mamsky yang memaksa kamu menerima perjodohan ini" lirihnya
"Sudahlah mamsky, ini sudah larut Wawa harus istirahat, karena besok adalah hari bersejarah bagi Wawa" ujarnya sambil tersenyum getir
"Semoga mimpi indah" lanjutnya lalu berlalu meninggalkan kamar Wawa
"Aku harap keputusan ini tidaklah salah, kuharap ini akan menjadi awal kebahagiaanku, semoga semua akan membaik seiring dengan berjalannya waktu aku telah merelakan semuanya bahkan cintaku" lirih gadis itu "Dan bagi kamu cinta pertama ku, aku harap aku tidak akan selamanya hidup dalam belenggu masa lalu yang akan menghantuiku kelak, aku harap aku akan secepatnya bisa melupakanmu, dan memulai hidup baruku, begitupun kau, aku harap kau tak akan terus hidup dalam belenggu cinta ini yang nantinya hanya akan menyiksamu" lanjutnya, perlahan setetes demi setetes air mata mengalir dari mata gadis itu
****
Kini Ardan tengah melakukan penerbangan, ia tengah duduk sendiri dalam kursi penumpang dengan melipat kedua tangannya diatas perut dan menyenderkan kepalanya dijok jet pribadinya tersebut, matanya menatap kaca yang menampakkan langit yang mulai menggelap, fikirannya begitu kosong, ingatan bersama Wawa seakan roda film yang berputar difikirannya
"Wa semoga kau bahagia bersama pria yang kau pilih, bukan maksud ku untuk meninggalkanmu, hanya aku ingin menghargai segala keputusanmu, aku harap kau akan segera melupakanku dan dapat meneruskan hidupku, jangan jadikan cinta kita sebagai belenggu diantara hubunganmu kelak, anggao kita tak pernah bertemu sebelumnya, semoga takdir membawa kebahagiaan bagimu" lirih Ardan, ia meraih ponselnya dan menyalakannya terlihat jelas foto Wawa diwalpaper layar depan ponsel tersebut, pose yang sangat lucu menurut Ardan, ia tersenyum getir kala menatao foto itu
"Jaga dirimu, dan tetaplah bahagia ku mohon Wa, jangan menyiksa dirimu hanya karena cinta ini" batin Ardan, kini air mata yang ia tahan keluar deras, ia tak mampu lagi menampung air matanya lagi, rasanya kini hatinya ingin sekali menjerit dan turun dari atas kapal untuk loncat mendarat kebawah, namun itu hanya akan terlihat seperti orang bodoh
"Jika nanti aku diberikan kesempatan untuk memilikimu dan mendpatkanmu tidak akan pernah lagi aku sia-siakan waktu itu, tidak akan pernah aku biarkan kau terlepas dariku walau hanya sesaat, kini aku cukup merasa menderita kehilanganmu, tapi nanti dikehidupan yang selanjutnya ku harap kita akan bosa bersama selamanya" ujarnya lenuh keyakinan "Tunggulah aku nanti" lanjutnya sambil memejamkan matanya, tak berselang lama akhirnya iapun tertidur dengan posisi yang masih sepertu tadi.
"Tunggu akuĀ Wa, Tunggu" ngigaunya
"Aku akan datang, nanti dikehidupan berikutnya, aku tidak akan membiarkanmu menjadi milik orang lain" racaunya dengan mata yang masih terpejam.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Min kok lama ya reviewnya? apa karena kejadian tempo hari ya? maaf ya min, aku lupa(
Aku mohon dong, terima lagi up cerita aku inii:(
Dan untuk para pembaca nanti, aku harap kalian mau menerima karya karya aku, aku mohon bantuan like nya dari kalianš¢
yang like nya aku dikit banget(
Apa cerita aku gak menarikya?:)
Kalau benar tidak menarik, aku minta saran dari kalian para readers senior supaya menjadi lebih menarik gimana?
Maaf ya aku malah curhat(
Happy Reading:)ā¤