The Magical Of Love

The Magical Of Love
Kembali ke Rumah



Semakin hari kondisi gadis itu semakin membaik, kondisi tubuhnya juga mulai stabil, walaupun masih ada beberapa otot-otot tulang yang tak bisa digerakkan, sehingga mengharuskan ia untuk duduk dikursi Roda, kini gadis itu tengah bersiap untuk pulang, setelah tadi dokter memeriksa nya, dan berkata bahwa ia sudah diperbolehkan untuk kembali kerumah, namun tidak hal nya pasien lain, yang jika pulang akan sangat senang dan bersemangat, kini ia malah sebaliknya, wajah yang biasanya ceria, dan tersenyum kini nampak sedih dan murung, pandangannya begitu kosong, setetes demi setetes air mata bahkan  jatuh mengalir dipipinya, mungkinkah ia meratapi nasibnya yang kini terasa begitu menyedihkan, ia tak bisa lagi melakukan apa-apa, ia bahkan tak bisa berjalan, dan tak mengingat apapun, bahkan walau hanya namanya saja


Mengapa takdir begitu kejam padanya? dia merenggut segalanya? merenggut ingatan? Kebebasan untuk melangkah? dan bahkan penglihatannya pun sudah hilang? dan itu pun diperkirakan akan permanen, entah harus bagaimana lagi dia menjalani hidupnya untuk saat ini? kini dia hanya akan menjadi beban bagi orang-orang disekelilingnya, dengan kondisinya sekarang? ia hanya akan menjadi benalu dikehidupan orang lain Fikirnya. Fanni menatap gadisnya itu sendu, ia mengerti apa yang dirasakan putrinya itu, tapi apa yang bisa ia lakukan? ia tak bisa melawan takdir.


"Sayang, kamu jangan nangis ya" ujar Fanni sambil menggenggam tangan Wawa


"Aku gak nangis kok" elaknya, sambil menghapus air matanya


"Haaai Alien sagitariuss kesayangan nya guueee" pekik Jejes yang baru saja datang heboh,  sambil langsung berlalri memeluk Wawa


"K-kamu Jejes?"  tanyanya sambil meraba-raba lengan Jejes yang sedang memeluknya, memang ia sudah tahu siapa saja teman-teman nya, karena setelah ia sadar teman-teman nya menjadi lebih sering menjenguknya, tapi tidak dengan Ardan


"Iya lah ini gue!" sahut Jejes sambil melepas pelukan


"Hai Wa? Gimana kabar lo? Lo senengkan sekarang lo udah bisa pulang" ujar Caca lirih, matanya berkaca-kaca menatap gadis yang terduduk dikursi roda itu begitu tak berdaya, pandangannya saja kosong entah  melihat kemana


"I-itu? Caca?" tanyanya memastikan


"Iya Wa, ini gue" sahut Caca, sambil mendudukkan dirinya disamping kursi Wawa, guna mensejajarkan tubuhnya dengan gadis itu


"Gimana my princes? Lo siap kan buat pulang?" tanya Faldi


"Itu siapa? Ardan? Aryan? atau Faldi?" lirihnya, semua irnag yang ada disana heran, bagaimana bisa refleks Wawa menyebutkan nama Ardan? pria itu sama sekali tidak pernah menemui gadis itu saat mengetahui bahwa gadis itu telah sadar, tapi bagaimana mungkin ia bisa menyebutkan nama itu? entahlah, mungkinkah masih ada dia dihatinya? "Ardan? kenapa aku sontak nyebut nama itu? bahkan aku sendiri tak tahu siapa pemilik nama itu? tapi kenapa hati aku ngerasa aneh ya pas nyebut nama itu? seperti gak asing" batinnya


"Ah udahlah, Tante, Wawa jadi pulang kan?" tanya Yaya, mengalihkan perhatian


"Ah? Iya jadi Ya, tadi dokter Davin udah bilang kok kalo Wawa boleh pulang sekarang" sahut Fanni kikuk


"Yaudaah, Wawa canteeek kembarannya guee, gue dorong kursi roda lo ya" ujar Jejes heboh, mereka semua tertawa mendengarnya, kecuali Wawa, ia nampak begitu sedih, sebegitu menyedihkannya kah dia sekarang? sampai kemana-mana harus memakai kursi roda, dan harus selalu didampingi? fikirnya


"Gue ngerti Wa apa yang lo rasain" batin Caca


"Gue tahu lo kuat princes, gue yakin ada cara buat lo sembuh lagi kayak sebelumnya" batin Faldi


"Mamsky harap kamu gak terus larut dalam kesedihan kamu Wa, kamu gak terus nangis meratapi nasib kamu" batin Fanni, suasana hening seketika, sepertinya semua sibuk dengan fikiran masing-masing, hingga akhirnya Yaya angkat bicara


"Eh, tante maaf sebelumnya, tapi Aryan kemana ya tante? Kok kita gak liat dia dari tadi?" tanya Yaya sedikit takut, Fanni yang seakan mengerti ketakutan gadi itu menyentuh bahu gadis itu, dan mengusap nya pelan


"Kamu jangan sungkan, jangan takut gitu, tante juga gak tersinggung sama pertanyaan kamu kok" balas Fanni ramah "Lagian emang bener, Aryan gak ada hari ini,


mungkin dia sibuk" jawabnya bingung, Yaya hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya


"Ah tuh mang Udin udah sampe" ujar Fanni setelah melihat mobilnya yang dikendarai mang Udin memasuki pekarangan rumah sakit "Kalian mau bareng sama tante sama Wawa?" lanjutnya bertanya


"Caca aja tan yang sama tante sama Wawa, lagian Faldi bawa mobil, jadi biar aku sama Yaya dan Jejes, ya kan Ca?" sahut Faldi


"Yaudah, Faldi tante minta tolong ya sama kamu, tolong bantu Wawa naik mobilnya" lirih Fanni sungkan


"Tante tenang aja, Faldi siap kok, kapanpun tante butuh Faldi😆" sahut Faldi, dan langsung mengangkat tubuh Wawa dari kursi roda, dan menggendongnya ala brudal style, lalu memasukkannya kedalam mobil "Apa pun yang terjadi sama lo Wa, mau lo buta permanent atau lumpuh sekalipun, gue tetep cinta sama lo" batin Faldi, sambil menatap wajah cantik Wawa yang pucat,  semua pun naik kedalam mobil yang dibawanya masing-masing, dan mulai melajukannya kekediaman Fanni.


Setelah sampai dikediaman Fanni, seperti tadi, Faldi membantu Wawa keluar dari mobil, dan mendudukkannya dikursi rodanya lagi, Caca mendorong kurdi rodanya kedalam, diikuti yang lainnya dibelakang, gadis itu membawa Wawa kekamarnya sesuai permintaan Fanni


"Hiks....Hiks..." tangis Wawa


"Lo kenapa Wa? Lo kenapa nangis?" tanya Caca bingung


"K-kalian gak malu punya temen kayak gue? kondisi gue sekarang kayak gini, gue buta, fan bahkan gue gak ngenalin jati diri gue sendiri itu siapa?" lirihnya


"Wa, kita semua sayang sama lo, apapun kondisi lo sekarang, gak akan ngerubah itu semua, lita bakal selalu ada buat lo, disaat-saat tersulit lo, kita bakal selalu ngedukung lo" ujar Caca sambil memeluk Wawa, gadis itupun membalas pelukannya dengan sangat erat "Jadi Wa, gue mohon lo jangan terus murung kayak gitu, mana Wawa yang gue kenal? Wawa uang terkenal bar-bar seantero  Kartini, lo gak cocok Wa kalem gitu" celetuk Caca menghibur


"Emang gue se bar-bar apa?" tanyanya penasaran


"Pokoknya lo bar-bar banget, lo ngerjain guru, palagi pak Bandi, doyan banget lo biat dia darah tinggi, lo juga suka bolos pelajaran, dan ngajak kita bolos, samanya sama si  Playboy kampungan kesayangan lo itu" cerita Caca


"Se bar-bar itu ya?" lirih nya sambil tersenyum membayangkan


"Gue mohon Wa, lo jangan patah semangat, lo tahu kan didunia ini gak ada yang gak mungkin Wa, apapun bisa terjadi kalau kita yakin dan selalu berusaha" nasehat Caca "yaudah, mending sekarang lo istirahat ya, abis lo istirahat  kita mau balik ya? udah sore juga soalnya kaga enak" ujar Caca, dan dianggukki oleh Wawa perlahan ia pun mulai terlelap, teman-temannya yang melihat Caca tadi saat bercengkrama bersama Wawa dengan menghibur dan terus menyemangati Wawa sungguh membuat mereka terharu, merua


pakan pemandangan yang sangat jarang dapat dinikmati, bahkan hampir tidak pernah, karena sikap Caca yang terbilang jutek, dingin, dan suka bicara seperlunya saja, membuat mereka menggelengkan kepala saat ini, seorang Wawa yang merubah gadis jutek ini hanya dalam hitungan beberapa jam saja ckckck.


_


_


_


_


_


_


Semoga suka ya sama ceritanya😊


Jangan lupa Like, Vote, and Rate ya😙


Happy Reading😍