The Magical Of Love

The Magical Of Love
Patah Semangat



Enam bulan sudah waktu berlalu, kini gadis itu sudah bisa berjalan seperti sebelumnya, hanya saja ingatannya masih juga belum kembali, terkadang saat datang orang baru ia masih tak mengenalinnya, matanya pun masih belum bisa melihat sehingga mengaharus kan ia mengenakan tongkat, dengan kondisinya seperti itu selalu menjadikan dirinya yang menjadi bahan ledekan dan cemoohan tetangga-tetangganya karena ia tak dapat berjalan dengan baik, terkadang bahkan ia sering sekali menabrak orang lain ketika ia berjalan sendirian, cemoohan dan ledekan itu cukup membuatnya terpuruk, setelah apa yang terjadi awalnya ia mencoba menumbuhkan semangatnya, namun seiring berjalannya waktu semangatnya runtuh kembali, bahkan ia tak ingin keluar kamar Fanni dan sahabat-sahabatnya pun sudah berulang kali membujuknya namun apalah daya, ia benar-benar hilang harapan hari-harinya ia lalui dengan air mata, Aryan yang akan menjadi tunangannya pun tak kunjung pernah terlihat, mungkinkah dia malu? dan dia memutuskan perjodohan dengannya? fikir gadis itu, hatinya benar-benar hancur, kini ia hanya bisa berdiri dibalkon kamarnya menatap kegelapan dengan tatapan kosong, kedua tangannya memegang tongkat, perlahan setetes demi setetes air mata mulai bercucuran, Fanni merasa iba melihat kondisi gadis kecilnya itu, bibir yang selalu tersenyum dan mengoceh, mata yang srlalu berbinar memancarkan keceriaan, kini sudah tak ada dalam diri gadis itu, semua itu seakan lenyap seiring dengan waktu, Fanni dan keempat sahabatnya selalu menyalurkan semangat untuknya, namun tidak ada lagi yang bisa diharapkan gadis itu kini telah berubah 180 derajat menjadi gadis pendiam, tak ada lagi tawa, bukan bukan tawa, bahkan senyum yang biasanya selalu merekah dibibir gadis itu kini sudah lagi tak terlihat, membuat orang-orang disekelilingnya begitu iba menatapnya


"Wa, makan dulu ya sayang?" lirih Fanni, sambil berjalan menerobos masuk kekamar gadis itu dengan nampan berisi makanan, susu dan air putih diatasnya, namun Fanni tak mendapati gadis itu, Fanni lalu meletakkan nampannya diatas nakas, dan beralih mencari keberadaan gadis itu, manik matanya menatap sosok gadis yang begitu dikenalnya, gadis yang selama ini menemaninya, segeralah ia menghampiri gadis itu dengan tatapan yang sendu, tangannya menyentuh bahu gadi itu "Sayang, kita makan dulu yu" ujarnya lembut, Wawa hanya menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri mencari asal suara


"Mamsky? itu mamsky?" tanyanya menghadap kearah Fanni


"Iya ini, ini mamsky disini sayang, kita makan ya" lirihnya lemah, air matanya mulai bercucuran


"Masky nangis?" tanya Wawa, saat mendengar suara sesengukkan dari ibunya itu


"Ah? nggak ko sayang, mamsky gak nangis" elak Fanni sambil menyeka air matanya


"Mamsky, Wawa minta maaf, Wawa gak bisa jadi anak yang baik, Wawa cuman nyusahin mamsky aja hiks" lirih gadis itu, air matanya tak kuasa ia bendung, perlahan air matanya mulai berjatuhan, namun dengan segera Fanni menyekanya


"Kamu gak pernah nyusahin mamsky" ujar Fanni menenangkan "Kamu anak mamsky, udah kewajiban mamsky buat jagain kamu, dan selalu berada disisi kamu apapun kondisi kamu sekarang, kamu sayang kan sama mamsky? Wawa, mamsky mohon sama kamu, kamu jangan kayak gini lagi, mana Wawa yang ceria Wawa yang dulu mamsky kenal? Wawa yang sering ngajak mamsky debat? mana? " ujarnya sambil menangis tanpa suara, ia tak ingin putrinya mendengarnya menangisi nasibnya, karena ia tahu, itu hanya akan membuatnya semakin patah semangat dan hilang harapan, dan ia tak ingin itu terjadi "Sekarang kamu makan ya sayang" lanjutnya, sambil menuntun Wawa masuk kedalam kamarnya, lalu mendudukkan nya ditepi ranjang, dan saat hendak menyuapinya....


"Mamsky" ujar Wawa, sambil menahan tangan Fanni yang hendak menyuapinya "Wawa gak laper, mamsky simpen aja makanannya disini, nanti kalau Wawa laper Wawa bakal makan sendiri kok" ujarnya dengan tatapan kosong, entah menatap kearah mana


" Tapi Wa-..."


"Mamsky" mohonnya, akhirnya Fanni mengalah


" Kamu janji makan, makanannya ya, Mamsky keluar dulu, nanti kalau makanannya udah abis kamu panggil mamsky ya" ujar Fanni lalu berlalu keluar meninggalkan kamar Wawa, gadis itu pun kembali sendirian, ia menatap kedepan dengan tatapan kosong, tak ada yang dapat ia lihat selain kegelapan yang menyelimuti dirinya


"Hiks...Hikss" tangis nya "Kenapa?Kenapa ini semua terjadi keaku? Apa salahku tuhan sampai kau menghukumku seperti ini? Aku tak ingat apa-apa, bahkan kau mengambil penglihatanku hiks" lanjutnya lirih, ia segera bangkit dari duduknya dan meraba-raba nakas disampingnya, tangannya menyentuh piring yang berisi makanan dari Fanni, ia lemparkan piring itu hingga semua berserakan


Praaaaang.....


Suara piring yang dilemparkan Wawa, tidak ada yang mendengar suara itu, karena memang kamarnya kedap suara, ia pun berjalan sambil meraba-raba sekitar, kakinya menginjak pecahan piring tersebut, ia pun duduk, lalu mencari-cari pecahan piring tersebut yang dirasa cukup besar.


"Maafin Wawa mamsky, Wawa cuman gak mau nyusahin kalian terus" lirihnya, lalu digoreskanlah pecahan piring itu ke pergelangan tangan kirinya, hingga darah mulai bercucuran disana, tak lama setelah itu, iapun terbaring tak sadarkan diri, dengan tangan kanan menggenggam pecahan piring, dan tangan kiri dan kakinya mengeluarkan darah segar.


Setengah jam kemudian, Fanni yang heran karena tak ada panggilan dari Wawa pergi ke kamarnya, karena sekalian mengingatkannya untuk meminum obat


Ceklek....


Pintu kamarnya terbuka, ruangan nampak gelap sampai Fanni tak dapat melihat dengan jelas


"Wawa?" ujarnya sambil mencari-cari putrinya, kakinya mulai melangkah masuk kedalam kamar gadis itu, ia menelusuri setiap sudut yang ada disana, sampai ia berhenti disatu titik, matanya terbelalak lebar, mulutnya menganga,  kedua tangannya beralih menutupi mulut nya, matanya mulai bercucuran, alangkah terkejutnya dia melihat putri semata wayangnya terbaring  tak taksadarkan diri, dengan darah yang terus saja mengalir ditangan kirinya, dan wajah yang pucat, mungkin karena darah yang keluar terlalu banyak


"Wawaaaa!" histeris Fanni "Maaaang! MAAAAANG UDIIIN HIKS!" lanjutnya panik, mang Udin yang mendengar kepanikan majikannya segera menghampirinya dengan berlari, sampai akhirnya ia sampai, dan ia pun tak kalah terkejutnya seperti Fanni


"Masyaallah bu, kita harus segera membawa neng Wawa kerumah sakit!" seru mang Udin tak kalah panik, mang Udin segera mengangkat tubuh gadis itu dan membawa nya kedalam mobil, tanoa mereka sadari ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka, mang Udin pun segera melajukan mobilnya kerumah sakit milik Fanni, sesampainya dirumah sakit, ia juga ikut turut tangan menangani putrinya sendiri, orang yang memperhatikan mereka pun senantiasa mengikuti mereka dari belakang, ia nampaknya sedang menelpon seseorang


"...."


"Dia dirumah sakit bos, sepertinya dia melakukan percobaan bunuh diri bos"


"...."


"Untuk itu saya belum pasti, dokter masih menanganinya didalam"


"....."


"Ba-.."


Tuut....


Sambungan telpon terputus


"Oh shit! Belum juga gue selesai ngomong main matiin aja!" umpat pria itu.


_


_


_


_


_


_


_


Menurut kalian siapa pria itu? Dan siapa pula orang yang ditelpon pria itu ya g disebutnya Bos?penasaran gak? Dan bagaimana pula keadaan Wawa? semoga kalian penasaran sih ya😅


Penasaran atau nggak kalian harus penasaran pokoknya😅


Nantikan terus kisahnya, jangan lupa kasih Like, Vote nya juga huaaaa, rate nya jangan lupaaaa😢


Selamat membacaa😍