
Brugh........
Pintu terbuka paksa, menampakkan dua sosok pria yang begitu dekat dengan Ardan yang nampak sangat panik kala melihat apa yang dilakukan Ardan pada wanita itu
"ARDAAN!" pekik kedua pria itu bersamaan, sambil segera berlari kearah Ardan
"Dan sadar Dan!" ujar Jojo sambil menepuk pipi Ardan, Bevan mengalihkan pandangannya pada Mic
"Makasih bro! untung ada lo, kalau nggak pasti banyak yang bakal manfaatin kondisi kayak gini" ujar Bevan sambil menjabat tangan Mic
"Santuy bro" balas Mic sambil menepuk bahu Bevan, Bevan mengalihkan pandangannga kembali pada Ardan
"Dan!" tegas Bevan, sambil menepuk pipi Ardan guna menyadarkannya, karena Ardan masih tak kunjung sadar dan masih terpengaruh minuman, akhirnya diraihnya gelas berisi air putih dikamar hotel tersebut oleh Bevan dan disiramkan kewajah tampan Ardan, sampai akhirnya membuat Ardan tersadar
"Van? Jo?" lirihnya, sambil mengucek kedua matanya guna menyempurnakan penglihatan "Kalian ngapain di sini?" lanjutnya
"Harusnya kita yang tanya lo ngapain lo disini? Mana mabuk lagi" balas Bevan ketus
"Mabuk?" herannya, sambil memegangi kepalanya mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi
"Hah?! Argghhh pala guaa" pekik nya kesakitan kala mengingat apa yang terjadi, pandangannya terlaihkan pada dua orang yang telah membawanya tadi "Mic? lo disini?" herannya
"Udah mending sekarang lo balik! Istirahat!" ujar Bevan
"Kalian kok bisa ada disini?" tanyanya
"Tadi dia nelpon gue, katanya lo mabuk parah, mereka juga yang bawa lo kekamar ini, karena gak enak dilihat banyak orang, secara bokap lo orang terpandang kan" jelas Bevan
"Lagian lo kenapa si?" tanya Jojo
"Iya lo kenapa? Gak biasanya lo minum kayak gini, sampe mabuk lagi" ujar Bevan menimpali
"G-gue gak tahu gue juga gak nyadar, fikiran gue kacau banget, semua dipenuhin sama kejadian tadi saat Wawa memasangkan cincin ke Aryan" ujarnya kesal
"Lo frustasi ditinggal Wawa tunangan? Hahaha" ledek Jojo yang langsung mendapat tatapan tajam dari Bevan
"Gue ngerti Dan, lo emosi, lo kesel, tapi gak gini caranya! Gimana kalau Wawa tahu kejadian tadi? Yang ada dia makin benci dan makin ilfil sama lo Dan!" ujar Bevan
"Gue gak tahu Van, gue gak tahu dan gue gak peduli!" balasnya datar
"Udahlah Dan, lo gak usah ngelak lagi! Sikap lo yang kayak gini udah cukup ngebuktiin kalau lo sebenerbya emang cinta sama Wawa!" tegas Bevan
"Hiks, g-gue akuin, gue emang suka sama dia, tapi gue gak mau rusak kebahagiaan dia lagi" lirihnya, dengan air mata yang perlahan mengalir "Sekarang gue udah kehilangan dia Van, udah gak ada lagi harapan buat gue bisa deketin dia, semuanya hancur, harapan, mimpi semuanya hilang dan sirna Van" tangisnya
"Semua belum terlambat Dan, lo tahu kan mereka masih tunangan? Belum sampe nikah" celetuk Jojo " Inget Dan sebelum janur kuning melengkung, jomblo bebas menikung hahaha" lanjutnya polos, Ardan dan Bevan pun menatap Jojo dengan tatapan yang sulit ditebak
"Kenapa? Ada yang salah?" tanyanya polos
"Lo mau gue tabok Jo?" celetuk Bevan sambil bersiap hendak menpar Jojo
"Ampun bang saya diem dah diem" lirihnya, sambil meringis "Perasaab salah mulu dah gua" gumamnya pelan namun sedikit masih terdengar Bevan
"Gua denger ya Jo!" sahut Bevan
"Oh, gua kira lu budeg" balasnya sambil berlari meninggalkan mereka
"Udah Dan, sekarang kita balik dulu nyok!" ajak Bevan, Ardan pun mengangguk lemah, mereka pun bergegas pergi meninggalkan bar tersebut.
***
"Dan, gue gak nginep ya gue balik" ujar Bevan setelah mengantarkan Ardan sampai didepan rumahnya
"Iya Dan gua juga" sahut Jojo
"It's oke, gua tahu kalian cuma mau ngasih waktu buat gue sendiri" balasnya
"Ya lo emang butuh waktu buat ngerenungin semuanya dan berfikir jernih, kalo gitu gua sama Jojo pamit ya Dan bye" pamit Bevan lalu melakukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Ardan
"Pak masukin mobil saya ya" ujar Ardan pada satpam sambil melemparkan kunci mobilnya, dan melangkah masuk kedalam rumah mewah itu
"Kamu dari mana?" tanya Juan, saat melihat Ardan membuka pintu
"Bukan urusan Papa" jawabnya dingin, sambil terus melangkah tanpa memperhatikan siapapun ia pun memasuki kamarnya, dan merebahkan tubuhnya diatas kasur berukuran king size nya itu, matanya menatap kosong kearah langit-langit kamarnya yang bernuansa putih hitam itu
Tok....tok....tok....
"Siapa?" tanyanya
"Ini saya den, mau mengantar makan siangnya aden, aden Psti belom makan kan" ujar salah satu pelayan dari balik pintuu
"Gak usah! Saya gak lapar" balasnya ketus
"Tapi den, kata tuan be-"
"Saya kan udah bilang saya gak lapar ya gak lapar! Gak usah paksa saya!" tegasnya sambil membanting gelas kearah pintu, sampai membuat pelayan itu terkejut
"B-baik den" ujar pelayan itu gemetar, lalu menjauh dari kamar tuannya yang sedikit agresif itu
"Aaaarrghhhhhh" pekiknya frustasi sambil menyeka semua barang yang ada di meja riasnya itu sampai semuanya pecah dan terjatuh
Praaank.......
Pecahan demi pecahan cermin berserakan akibat tonjokan leras dari Ardan, dari jari-jari tangannya keluar darah segar, keringatnya mulai mengucur bersamaan dengan air matanya
"Kenapaaa? Kenapa ini terjadi sama guee? Disaat gue mulai bisa menerima kehadiran seorang wanita dan nyaman dengan keberadaannya semua malah hancur kayak gini kenapaaa?" pekiknya lantang sambil menjambak rambutnya frustasi
"Wanita yang udah mulai gue cintai kini gue gak bisa milikin diaa hiks" lanjutnya, tanpa sadar ada seorang pelayan yang mendengar amukannya diluar kamar, lalu berlalu pergi untuk memberitahukannya pada kepala pembantunya
Tok....tok...tok
"Adeen? Aden gak apa-apa kan den?" panik bi irah "Mas Ben, tolong dobrak pintunya" pintanya pada sang suami yang juga pekerja dikediaman Erlangga menjabat sebagai kepala pelayan, pak Ben pun langsung mendobrak pintu dan segera masuk diikuti dengan bi Irah di belakangnya, betapa terkejutnya bi Irah melihat sang tuan muda nya terduduk lemas disamping ranjangnya dengan mata yang sembab karena kebanyakan menangis, kamarnya berserakan dan pecahan cermin dimana-mana, kedua tangannya mengepal meremas pecahan cermin itu sampai mengeluarkan darah segar
"Aaadeeeen!" pekik Bi Irah sambil berhambur menghampiri Ardan dan meraih kedua tangannya yang berdarah "Mas cariin kotak p3k nya!" pintanya panik
"Iya" balas pak Ben seraya mencari kotak obat dan menemukannya lalu meyerahkannya pada bi Irah
"Yaampuun aden, kamu th ku naon bisa gini atu ujang ganteeng" lirihnya dengan airmata yang mengalir, Ardan mendonggakkan matanya menatap bi Irah, lalu bergantian menatap pak ben, pak ben yang mengerti maksudnya pun langsung pamit pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya
"Bi" lirihnya
"Kenapa den? Aden kenapa? Aden ada masalah? Cerita sama bibi den, jangan ngerusak diri aden sendiri atu, bibi teh jadi sedih kan" balasnya sambil merengkuh bahu kekar Ardan untuk bersandar dipundaknya, Ardan memang selalu begitu sedari kecil pada bi Irah, bi Irah pun sudah paham betul dengan kebiasaan tuan muda yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri itu.
"Kenapa bi? Kenapa rasanya dunia ini gak adil sama Ardan?" tangisnya
"Aden kok ngomong gitu?" balas Irah
"Setiap orang yang Ardan sayang, mereka selalu ninggalin Ardan bi, mereka gak suka sama Ardan, apa dosa yang Ardan perbuat bi?" liriihnya
"Aden gak salah kok den, aden jangan kayak gini den, kalo.aden kayak gini bibi jadi ikut sedih den, nanti jikalau memang dia jodoh Aden percaya sama bibi, dia gak bakal jadi jodoh orang lain, dia pasti kembali lagi sama Aden percaya sama bibi" ujar bi Irah menenangkan sambil mengusap kepala Ardan lembut "Lebih baik sekarang Aden istirahat ya? Aden pasti capek kan, ayo sini bibi bantu" lanjutnya sambil membantu Ardan berdiri dan membawanya berbaring ditempat tidurnya, ia mengusap kepala Ardan sampai akhirnya Ardan terlelap.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Maafin aku kalo ceritanya gak seruu(
Tapi aku mohon dukungannya sama kalian, kalian like, vote sama rate novel aku dong:(
Biar ke akunya semangat nulisnya huaaa
Inge ya LIKE, VOTE, RATE sama KOMENnya(
Happy Reading😚