The Magical Of Love

The Magical Of Love
Wawa Dan Ardan



Kediaman Erlangga


Hari berganti begitu cepat, kini mentari pagi telah muncul kembali bersama cahaya terang nya, menerangi sosok pria tampan bertubuh atletis yang sedang lelap tertidur, perlahan ia mengerjap karena tidurnya terganggu olwh sinar terang itu, ia mulai membuka matanya perlahan dan melihat kearah jendela, lalu ia mulai bangkit dan mulai mengumpulkan nyawanya, hari ini adalah hari minggu, hari untuk bermalas-malasan bagi seorang pelajar, namun tidak bagi Ardan, hari ini ia disibukkan dengan kegiatannya bersama teman-teman nya, biasanya setiap hari minggu memang hal yang sangat menyenangkan baginya, karena ia dapat dengan leluasa pergi sampai larut malam, untuk sejenak meluapkan segala uneg-uneg nya, setelah nyawanya terkumpul, ia berjalan ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya, dua puluh menit kemudian ia selesai mandi dan keluar dengan mengenakan handuk putih yang melilit di pinggangnya, ia berjalan kearah ruang ganti dan mulain memilih dan memakai pakaiannya, usai memakai pakaian, ia bergegas ke bawah untuk pergi bersama teman-teman nya


"Selamat pagi tuan muda" sapa pembantu rumah tangga yang bernama bi Marni


"Pagi bi" balas nya ramah, sambil berjalan kearah meja untuk mengambil kunci mobilnya, lalu melanjutkan langkah nya, beberapa saat kemudia langkahnya terhenti karena oanggilan dari sang ayah


"Mau kemana kamu?" tanya Juan


"Bukan urusan papa!" balas nya kesal


"Kamu itu anak papa Ardan! jelas itu urusan papa kalo kamu mau pergi, kamu harus ijin sama Papa!" tegas Juan


"Anak? siapa yang papa maksud anak itu? Ardan? Ardan gak pernah ngerasa punya orang tua pa!" sahutnya


"Ardan!" pekik Juan


"Apa pa?! kenapa?! papa kesel?! mau marah? mau mukul Ardan?! pukul aja pa pukul!" tantang nya


"Kamu itu gak punya sopan santun apa!" sentak Juan


"Apa pa? sopan santun hahaha! sekarang Ardan tanya sama papa apa mama sama papa pernah ngajarin Ardan sopan santun?! enggak kan?! kalian tau apa yag udah kalian ajarin sama saya? kalian buat saya jadi anak yang pembangkang, kasar, dan arrogant! cuma itu didikan yang anda berikan pada saya yang anda katakan sebagai anak anda!" tegasnya


"Ardan jaga bicara kamu!" balas Juan


"Maaf! saya gak punya banyak waktu! saya pamit! Permisi tuan Juan ERLANGGA" pamitnya sambil menekan kata Erlangga.


Sedangkan di kediaman Fanni, nampak gadis yang biasanya ceria, itu kini tengah murung, entah kenapa dia menjadi seperti itu, harusnya hari ini ia pergi bersama sang ibu untuk menghabiskan waktu bersama, tapi kenapa dia sekarang nampak bersedih duduk di sudut ruangan kamarnya? nampaknya ia tak bersemangat lagi setelah menerima panggilan telepon dari ibunya.


Flash back off


Lima menit yang lalu


" Mamsky mana ya? katanya kan sekarang mau jalan-jalan" gumamnya


tiba-tiba ....


drttt....drttt....drrttt, ponsel Wawa bergetar, menandakan aada sebuah panggilan masuk, tertera dilayar ponsel MAMSKY, dengan cepat ia menekan tombol hijau dan mengangkat telponnya


"Hallo! Mamsky kok lama banget si! Wawa udah nungguin dari tadi!" rengek nya


"Sayang, maaf mamsky kaya nya ng...." jawab Fanni


"Nggak bisa?!" potong Wawa


"Maafin mamsky sayang, pasien mamsky disini emang lagi darurat banget soalnya, kamu ngerti kan sayang?" ujarnya memberi pengertian


"Yaudah! iya Wawa pergi sendiri aja! cepet pulang mamsky!" balas Wawa lesu,ia pun segera mematikan sambungan telponnya secara sepihak.


Flash Back On


"Kenapa si mamsky sibuukk sibuuk terus sama pasien nya" gerutu nya


" aku kan anaknya juga perlu di perhatiin😒" ia terus saja mengoceh karena kesal, rencana berlibur menghabiskan waktu bersama mamsky tercintanya batal, Wawa pun akhirnya memilih pergi ke taman kota, dengan diantar oleh mang Udin.


Tidak perlu waktu lama untuk sampai disana, karena memang jalanan yang tidak macet, dapat mempersingkat eaktu perjalanannya, sesampainya ia ditaman, ia pun segera turundari mobilnya


"Mang Udin pulang aja! Wawa mau main-main dulu" ujarnya


"Iya mang, kan Wawa udah gede ih" jawabnya


"Yauda atu, kalo itu mau nya neng, mang pamit pulang dulu ya? hati-hati neng" pamitnya, dan berlalu pergi setelah mendapat anggukkan dari Wawa, Wawa pu mulai menyeret langkah kakinya untuk mengelilingi area taman, langkahnya terhenti tepat didekat seseorang yang sedang duduk termenung denganraut wajah yang begitu tak bersemangat di bawah pohon besar yang ada disana, matanya mulai menyelidik, menatap orang itu untuk memastikan penglihatannya benar


"Ardan?" gumamnya, setelah menatap orang itu


Yaps memang benar, orang itu adalah Ardan, dia pergi ketaman untuk menenangkam hatinya terlebih dahulu, sebelum ia berencana pergi bersama Bevan dan Jojo


"Iya bener itu My prince nya inceess, ooo yaampun jangan jangan dia emang jdoh gue lagi aaaaaa" ujarnya histeris kesenangan, dengan segera, ia berlari kecil menghampiri Ardan


"Hai my prince" sapa Wawa saat sudah berada tepat di depan Ardan, Ardab yang merasa tak asing dengan oanggilan dan oemilik suara cempreng itupun mendonggakkan kepalanya, dan langsung berhambur memeluk Wawa sambil menangis tersedu-sedu dalam pelukannya


"Eh? kesambet apa ini si manusia es? kok tiba-tiba peluk-peluk inces gini? ah bodo ah yang penting enak hhi, kapan lagi dia meluk-meluk gue kaya gitu" gumam Wawa sambil senyum-senyum sendiri


"Wa, biarin gue gini sebentar aja sama lo Wa" ujar Ardan tersedu-sedu " gue gak tahu Wa, sebelum nya gue selalu ngebenci perempuan, dan jijik sama perempuan, tapi sama lo, gue gak tau kenapa bisa nyaman gini kalo sama lo" lanjutnya di dalam hati, sambil mengeratkan pelukannya


"My prince, gue bersedia kok, jadi bahu buat lo bersandar, kalo lo ada masalah, cerita aja sama incess, seenggaknya walaupun unces gak bisa bantu nyelesain masalahnya, minimal sedikit melegakan beban nya gituu" ujar Wawa menenangkan


"Kenapa Wa? kenapa dia begitu egois? kenapa dia nyalahim gue? apa dosa yang gue perbuat sehingga gue harus menangnggung segala konsekuensi akibat dari pertengkaran dan perpecahan keluarga gue? sehingga gue menjadi korban mereka? dan dia menuntut kesopanan dari gue, yang gak pernah sama sekali mereka ajarin ke gue? kenapa dunia ini begitu gak adil sama gue? apa yang harus gue lakuin? aoa gue harus bersikap sopan pada orang yang udah buat ibu gue pergi? apaaaa Wa apa?" ucap Ardan panjang lebar, sambil terus tersedu-sedu


"Lo tenang, kita gak bakal tahu rencana tuhan apa, tapi yang gue tahu rencana tuhan itu pasti lebih indah, di akik segala masalah, pasti ada hikmahnya Dan, kita ambil sisi baiknya, sebelumnya sory, gue gaak ada maksud buat belain bokap lo, tapi Dan apa yang di bilang bokap lo tuh bener, lo harus bisa sopan sama dia, gimanapun juga dia tetep orang tua lo, walaupun mereka gak ngajarin lo itu semua, seenggaknya kalo bukan karena mereka, lakuin itu demi pembantu yang udah ngurus lo, buktin kalo ajaran dia tuh bener, sekaligus buktiin kalo lo bisa hidup dengan baik walau tanpa didikan dan kasih sayang mereka, lo bisa tumbuh menjadi anak yang baik tanpa mereka, lo harus bisa meredam amarah lo Dan gue tahu hati lo lembut kaya malaikat" balasnya menenangkan, perlahan Ardan melepaskan pelukannya, dan memalingkan pandangan nya dari Wawa, Wawa pun merasa aneh, takut-takut perkataannya salah, dan menyinggung perasaan Ardan, perlahan ia menyentuh bahu Ardan dengan tangan kanannya, dan memberi usapan lembut, Ardan pun menoleh kearah Wawa, menatap wajah Wawa yang mungkin terlihat takut


"Lo bener Wa, gue harus buktiin sama bokap gue, kalo gue hisa tumbuh jadi anak yang baik walau tanpa didikan mereka!" ujar Ardan mantap, Wawa pun tersenyum bahagia, ternyata Ardan menerima masukkannya, sejenak ia melupakan masalahnya bersama Fanni yang mengingkari janji nya


"Dan, gimana kota beli es krim? biat ngembaliin mood lo sama gue" seru Wawa tiba-tiba


"Ngembaliin mood lo? emg mood lo bisa rusak ya? hahaha" sahut Ardan


"Iiiii my prince my hunny bunny sweery henseeem nya inces, inces kan juga manusia biasaaa, jelas bisalah mood inces rusak" pekiknya heboh


"Yaampun toa masjiid rusak! kaga usaj teriak-teriak gue gak budeg!" ujar Ardan dingin


"Yaampun gue punya cowo ko begi banget sii,my prince, gue gak bilang lo bideg yaa!" sahut Wawa polos


"Ah udalah! emang lo bad mood kenapa?" tanya Ardan


"Gak papa! gue kesel aja sama mamsky, harusnya kan hari ini gue liburan sama diaa huaa" jawabnya so dramatis


"Oh jadi lo pengen liburan?" tanya Ardan, Wawa pun mengangguk cepat


"Gimana kalo kita ke pantai?" ajak Ardan


"Wuaah serius hunny bunny sweeth hensem nya incess?" sahut Wawa antusias, Ardan pun mengangguk mengiyakan


"Serius la Wa, kita kan sekarang temen!" ujarnya


"Oke deh cuus, tapi sebelum itu kita ke kedai eskrim dulu ya ya yaaa" pinta Wawa memelas, Ardan pun mengiyakan, dan melajukan mobilnya ke kedai eskrim.


Hallo gays, balik lagi sama akuu, maaf ya aku udah lama gak up hhe, soalnya sibuk benerrr😅


sebenernya nggak si, cuman kuotanya abis aja😅


Jangan lupa supporrt aku terus yaaa sayang-sayang nya akuu, jangan lupa like, share, vote, rate, and comment😙😅


Happy Reading😙