
Kini Wawa tengah sampai didepan gerbang rumahnya, ia diantar pulang oleh Faldi, nampak dia masih mematung menatap punggung Faldi yang sudah tak terlihat, tatapannya begitu kosong, fikirannya teralihkan kembali pada kejadian diparkiran sekolah pagi tadi.
"Neng Wawa ngapain disini?" ujar mang Udin, membuat lamunan Wawa buyar, iapun menoleh kearah mang Udin yang berada dibelakangnya.
"Eh, mang Udin sejak kapan disitu?" ucap Wawa bertanya balik
"Tadi neng, selitar sepuluh menitan" jawabnya
"Mamsky ada mang?" tanya Wawa lagi
"Iya neng ada di dalem baru pulang tadi pagi" jawabnya "eh neng Wawa teh tumben jam segini udah pulang?"lanjutnya bertanya
"Oh iya mang, Wawa sedikit gak enak badan" jawabnya bohong "Euh yaudah mang Wawa masuk dulu ya" lanjutnya, lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam
"Neng Wawa teh kenapa ya? kok gak kaya biasanya?" monolog mang Udin
Wawa pun masuk kedalam rumah yang nampak sepi "Mamsky dimana ya? ah kayanya masih dikamar, bagus deh" monolog Wawa, saat ia hendak melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar, suara panggilan dari seseorang menghentikan langkah nya
"Lho! Wa ko tumben sih kamu udah pulang!" ujar Fanni yang berada dibelakang Wawa, Wawa pun menoleh kearah Fanni, lalu berhambur memeluk ibunya tercinta
"Eh?! lho tumben kamu peluk-peluk mamsky?" ujar Fanni heran, Wawa mendonggakkan kepalanya matanya menatap manik mata Fanni lekat
"Wawa kangen bangeet sama Mamsky" jawabnya sambil mempererat pelukannya
"Haleuh gaya kamu tuh Wa, so so an kangen sama Mamsky bukannya kamu seneng kalo gaada mamsky di rumah? atau jangan-jangan lagi ada maunya ya?" balas Fanni
"Iiih mamsky mah suudzon mulu sama anaknya sendiri" rengek Wawa
"Iya iya, cup cup cup sayangnya mamsky jangan sedih gitu dongg, iya iya mamsky juga kangen ko sama kamu" ujar Fanni sambil melepaskan pelukannya, dan beralih membelai rambut Wawa, matanya menangkap manik mata Wawa yang sembab
"Lho Wa? kamu abis nangis?" tanya Fanni
"Ihh Mamsky ngaco deh, masa iya si seorang incess nangis" elak Wawa, sambil mengalihkan pandangannya
"Wawa! kamu gak bisa boong sama Mamsky!" balas Fanni tegas "Kamu kenapa sayang? siapa yang udah bikin kamu nangis kaya gini heem? ngomong sama Mamsky?" lanjutnya
"Mamsky, Wawa tuh gapapa, ih mamsky mah lebay deh" elaknya lagi sambil memdorong bahu Fanni pelan
"Wa, kamu liat mamsky! mamsky ini mamsky nya kamu! mamsky yang besarin kamu dari kecil, jadi mamsky tahu kamu orangnya gimana, kamu gak akan bisa nyembunyiin sesuatu dari mamsky kamu sendiri" tegas Fanni " Kamu mungkin bisa bohongin orang lain, tapi nggak mamsky!" lanjutnya, membuat air mata Wawa kembali menetes
"Mamskyyy" tangisnya sambil kembali memeluk Fanni
"Kamu kenapa sayang? apa ada yang nyakitin kamu?" ujar Fanni sambil mengelus-ngelus rambut Wawa
"Mamsky Wawa kangen sama Papsky hiks hiks"ujarnya sambil menangis tersedu-sedu
"Kamu tenang dulu ya, sekarang ayok kita kekamar dulu ya?" Balas Fanni mengakal Wawa kekamarnya, Wawa pun mengangguk lemah sambil melepaskan pelukannya, mereka pun berjalan kearah kamar Wawa, sesampainya dikamar, Wawa dan Fanni mendudukkan dirinya di tepi ranjang, Fanni menatap Wawa lekat, sambil tangannya menyematkan rambut yang menghalangi wajah Wawa kebelakang telinganya
"Jadi, kamu bolos sekolah karena kangen papsky?" Tanya Fanni
"Wa-wa-Wawa" ucap nya bingung " Iya mamsky Wawa kangen banget sama papsky" lanjutnya sambil kembali memeluk Fanni
"T-tapi kalau papsky ma-masih ada apa papsky bakal benci ke Wawa ya mamsky?" Tanyanya
"Kamu tuh ngomong apaan si Wa! Papsky gak mungkin benci sama anaknya sendiri! Kamu kan tahu papsky sayang banget sama kamu, jadi mana mungkin papsky benci ke kamu!" Balas Fanni tegas
"Apa mamsky ngebenci Wawa?" Tanyanya lagi
"Maksud kamu apa? Wa, mamsky tuh sayang banget sama kamu" jaqab Fanni sambil mengeratkan pelukannya, namun Wawa melepaskan pelukannya, dan menatap Fanni lekat
"Mamsky gak nyalahin Wawa atas meninggalnya papsky?" Celetuknya tiba-tiba
"Kamu itu ngomong apa si Wa! Denger mamsky baik-baik! Kamu itu bukan penyebab meninggalnya papsky kamu!" Tegas Fanni sambil memegang kedua bahu Wawa
"Enggak mamsky! Mamsky gak bisa lari dari kenyataan! Nyatanya emang Wawa yang menjadi penyebab meninggalnya Papsky hik hiks " Balas Wawa tegas sambil menangis tersedu-sedu
"Nggak sayang, kamu bukan penyebab itu semua, siapa yang bilang kalau kamu penyebab papsky kamu meninggal heem? Siapa? Gaada yang bilang kamu ka- .." ucapannya terpotong oleh Wawa
" Omma! Omma sama Oppa kan yang bilang gitu? Kalo emang bukan Wawa penyebab nya terus kenapa Omma sama oppa benci banget sama Wawa?!" Serunya "Mamsky juga tahu sendiri kan? Kalo mereka benci banget sama Wawa! Mereka gak pernah nerima kehadiran Wawa mamsky, mamsky tahu itu kan? Karena apa? Karena Wawa emang pembunuh mamsky, Wawa anak durhaka, Wawa udah bunuh Papsky Wawa sendiri!" lanjutnya sambil mendorong Fanni yang mendekapnya
"Nggak sayang, kamu bukan pembunuh nak, kamu gak pernah bunuh siapapun! Apalagi papsky kamu sendiri!" Bantah Fanni sambil mendekap tubuh Wawa kembali
"T-tapi, oma gimana mamsky?" tanta Wawa
"Papsky? kasian anak kita Wawa, dia menderita papsky" gumam Fanni,tak terasa bulir bening tiba-tiba jatuh dipelupuk matanya tanpa permisi "Ayah, sama ibu kamu gak mau ngakuin Wawa sebegaui cucunya, dia sekarang begitu tersiksa hiks..hiks.." lanjutnya tersedu-sedu.
Tak lama kemudian, Wawa telah menyelesaikan ritual mandinya, dia keluar dengan sudah menggunakan pakaian lengkap, Fanno yang mendengar suara pintu terbuka segera menghapus air matanya dan menetralkan perasaannya.
"Eh?! mamsky masih disini?"kaget Wawa heran, sambil menghampiri Fanni dan mendudukkan dirinya disamping Fanni
"Mamsky abis nangis ya?" tanya Wawa
"Ah? enggak ko, mamsky tadi kelilipan Wa" jawab Fanni bohong sambil pura-pura mengucek matanya, Wawa hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya sambil ber oh ria, dengan mata menatap kearah jendela dengan tatapan kosong
"Wa!" ujar Fanni sambil menepuk bahu Wawa, menyadarkannya dari lamunan nya, Wawa menengok kearah Fanni
"Ah? Iya mamsky?" jawabnya spontan
"Kamu bener kangen sama papsky?" tanya Fanni ragu, Wawa hanya menjawab dengan deheman menandakan jika ia menjawab "ya"
"Eum, kalo gitu gimana besok setelah pulang sekolah kita pergi ke makam papsky?" Usul Fanni
"Hah?! serius mamsky?!" balasnya antusias, dijawab anggukkan oleh Fanni "Makasih ya mamsky, mamsky emang mamsky terrrbaeekkk seduniaa" lanjutnya alay sambil memeluk Fanni
"Yaudah! udah dong meluknya! sekarang kamu sholat mhagrib dulu ya? mamsky mau masak buat makan malem" ujar Fanni sambil melepaskan pelukannya, Wawa mengangguk semangat
"Kamu mau mamsky masakin apa?" tanya Fanni
"Eum, Wawa mau ayam goreng balado, Cumi mentega, terus dessert nya pudding Choclate, dan satu lagi jangan lupa Milkshakenya!" jawab Wawa semangat
"Yaudah, sekarang kamu sholat dulu ya, mamsky mau turun kedapur buat masak" ujar Fanni sambil berdiri lalu mencium kening Wawa, dan berlalu pergi keluar dari kamar Wawa
***
#Didapur
Fanni kini telah menyelasaikan masaknya, kini nampak ia sedang sibuk menyajikan makanan dimeja, setelah dirasa beres Fanni segera naik keatas untuk memanggil Wawa, sesampainya didepan pintu kamar Wawa, Fanni langsung mengetuk pintunya
tok...tok...tok...
"Sayang! Wawa yuk makan! makanannya udah siap sayang!" ujar Fanni,mendengar itu Wawa pun langsung keluar
"Eh, mamsky?" balasnya sambil membuka pintu
"Yuk makan! mamsky udah masakin makanan yang kamu mau" ujar Fanni sambil menyentuh rambut Wawa
"Iya mamsky, tapi makannya ajakin mang Udin ya?" jawabnya
"Eum? iya deh terserah kamu" balas Fanni "Yaudah yuk!" lanjutnya, dijawab anggukkan oleh Wawa, merekapun berjalan beriringan kedapur, sesampainya didapur, Wawa langsung memanggil mang Udin
"Maanggg! manggg udiiin!" pekiknya
"Iya neng? neng manggil saya?" sahut mang Udin datang dari belakang
"Mang ayo sini! makan bareng sama kita!" titahnya
"Ah, gausah atuh neng saya makannya biar nanti dibelakang"tolak Mang Udin
"Iiiih maaang udiinn maah ayyoooo"rengeknya
"Udah mang, ayo sini gabung gapapa kok" ujar Fanni dengen senyum ramah kearah mang Udin
"Ah? gausah atuh nya, saya gak enak" balas mang Udin
"Udah mang enakin aja lagi!" celetuknya "Ini kan perintah!" lanjutnya tegas, dengan sangat terpaksa meng Udin pun mengiyakan permintaan Wawa dan mendudukkan dirinya dikursi meja makan, karena ia tahu betul bagaimana Wawa, gadis itu sangat tidak menyukai penolakan
"Neng Wawa teh kenapa ya? kayaknya lagi kangen kali yak sama tuan? kasian atuh ya diateh" ujar mang Udin dalam hati sambil menatap Wawa lekat
Keadaan begitu hening, yang ada hanyalah dentingan sendok dan garpu menyatu dengan piring, mereka nampak melahap makanannya dengan begitu tenang tak terkecuali Wawa, meski fikirannya terkadang terpaut pada ucapan Tari diparkiran pagi tadi, tapi itu tak menghilangkan selera makannya, selesai makan mereka pun memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat.
Maaf ya! Baru Up hhe
**Jangan lupa LIKE, VOTE, and RATE-nya!
Happy Reading Readers😍❤**