
Nampak semua sahabat-sahabatnya telah berkumpul diruang perawatan Wawa untuk menunggu dokter keluar agar mengetahui kondisinya saat ini, mereka segera datang ketika mendapat telpon dari mang Udin bahwa Wawa mencoba untuk bunuh diri, mereka nampak panik mendengar semua itu sehingga memutuskan untuk segera melaju kesana, tak lama setelah mereka, Aryan datang dengan tergesa-gesa, ia berlari segera setelah melihat sahabat-sahabat Wawa untuk menghampiri mereka
"Gimana keadaan dia?" tanyanya panik, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan
"Lo kemana aja Hah?!" bentak Faldi, sambil mencengkram kerah Aryan
"Fal udah Fal! inget ini rumah sakit!" tegas Yaya mencoba melepaskan Aryan
"Lo kenapa sih belain cowok brengsek kaya dia?!" seru Faldi, setelah melepas cengkramannya
"Gue bukan belain dia! Tapi sadar dong lo, ini rumah sakit!" bentak nya sambil menunjuk kearah Faldi
"Udah! Udah! Lo juga diem Ya!" lerai Caca, mereka pun diam, dan saling menatap tajam, Caca mendekat kearah Aryan yang masih berdiri mematung memandang Faldi yang emosi
"Lo kemana aja? Setelah lama lo gak ada kabar? Lo ngilang disaat Wawa lagi butuh lo? Lo tahu, apa yag selama ini Wawa alamin? dia tuh hampir defresi gara-gara lo! disaat kondisi dia kayak gitu, dan lo malah tiba-tiba pergi dan ngilang gitu aja tanpa ada kabar? dan sekarang lo muncul lagi setelah enam bulan lamanya lo ninggalin Wawa?" tanya Caca datar
"Maafin gue, gue tahu gue salah, gue gak bermaksud buat ninggalin Wawa, tapi gue sibuk sama sekolah gue, gue juga harus ngurus bisnis bokap gue yang lagi drop" jawabnya bohong, pria yang sedari tadi berada disana nampak kesal dengan jawaban yang dilontarkan Aryan, bagaimana bisa dia berbohong? fikirnya
"Dan bisnis le-..."
"Tante!" seru Yaya memotong ucapan Caca, saat melihat Fanni dan dokter herawan keluar, sontak Caca mengalihkan pandangannya
"Gimana keadaannya tante?" tanya Faldi panik
"Dia kehilangan banyak darah lagi" jawabnya lemah, pria yang sedari tadi memerhatikan mereka segera pergi dari tempat itu
"Golongan darah dia apa?" tanya Aryan, Fanni mendonggakkan kepala menatapnya
"Aryan?" lirihnya kaget
"Maaf, tante Aryan tahu Aryan salah, Aryan udah gak kasih kabar ke Wawa, tapi Aryan benar-benar sibuk tante sekali lagi Aryan maaf" ujarnya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya memohon
"Sudahlah, tante mengerti" balas Fanni
"Golongan darah pasien A resus negatif, dan itu sangatlah langka" ujar dokter Herawan, tak lama setelah itu ada seorang perawat datang dan menghampiri mereka
"Dok, kami sudah mempunyai pendonornya dok" ujar perawat itu girang
"Ah? Benarkah?" sahut Fanni
"Benar dokter" jawab perawat itu
"Baiklah sus, segera siapkan transfusi darahnya! kita tidak punya banyak waktu!" seru dokter Herawan "Dokter Fanni, anda tenang saja, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan putri anda" lanjutnya lalu berlalu meninggalkan mereka
"Siapa pendonor itu?" batin Aryan
Mereka semua menunggu hasil dokter, nampak raut wajah kecemasan pada diri mereka, sesekali mereka melirik keruang perawatan yang belum juga terbuka, sampai akhirnya, setelah setengah jam lamanya mereka menunggu, pintu pun terbuka, seorang dokter paru baya keluar dari sana diikuti dua perawat dibelakangnya, sontak mereka bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter itu
"Bagaimana dok?" tanya Fanni penasaran, dengan raut wajah khawatir
"Syukurlah transfusinya berjalan dengan baik, dan bagusnya kita mendapatkannya tepat waktu, hkngga pasien bisa diselamatkan, dan kondisinya juga sudah mulai stabil, kita hanya perlu menunggunya sadar" jelas dolter itu "baiklah saya pamit undur diri" lanjutnya, diikuti perawat itu, sementara Fanni, dan sahabat-sahabat Wawa masuk kedalam ruangan gadis itu untuk melihat kondisinya.
"Euh tunggu sus" ujar Aryan menghentikan langkah salah satu perawat itu, perawat yang memberitahukan pendonor bagi Wawa
"Iya pak?" tanyanya, setelah menoleh
"Kalau boleh saya tahu, siapa pendonor itu?" tanyanya
"Siapa sebenarnya pendonor itu?" gumamnya, lalu ia pun menyusul Fanni dan Yaya dkk kedalam ruangan Wawa
Nampak gadis itu kini telah sadar, selang infus menempel ditanggannya, tangannya digenggan oleh Fanni dengan sangat erat, Aryan pun mendekat kearah Wawa yang terbaring
"Hai Wa?" sapanya, Wawa nampak clingak-clinguk mencari asal suara
"A-aryan?" tanyanya sambil meraba-raba tangan Aryan
"Iya, ini aku" balasnya menggenggam tangan Wawa "Maafin aku ya Wa, aku gak ada dimasa-masa sulit kamu, seharusnya disaat kamu terpuruk aku ada buat kamu, buat menyemangati kamu" lanjutnya pura-pura sedih
"Udahlah Yan, gak usah bahas itu" balas Wawa sambil tersenyum getir
"Wa, kamu cinta kan sama aku? Aku juga cinta Wa sama kamu, aku mau kita segera bertunangan" ujarnya mantap, semua orang yang ada disana nampak heran dan shock, mengapa tiba-tiba? dan sangat terburu-buru, setelah lama dia menghilang dan sekarang tiba-tiba datang dan meminta bertungan? Apakah ini lelucon? mereka nampak sibuk dengan pemikirannya masing-masing sambil menatap kearah Aryan intens, sampai akhirnya suara Wawa memecahkan lamunan mereka
"Tapi Yan, seperti yang kamu lihat, aku masih buta" lirihnya
"Aku gak peduli kondisi kamu, yang aku peduliin aku cinta sama kamu, dan aku juga sayang sama kamu, aku pengen hubungan kita lebih serius lagi" ujarnya meyakinkan "Gimana kamu mau?" lanjutnya, wajah Wawa beralih menghadap Fanni, ia menggenggan tangan ibunya erat, seakan meminta persetujuan
"Mamsky, mamsky setuju aja Wa, mamsky yakin Aryan yang terbaik buat kamu" ujar Fanni "Kita butuh persiapan buat acara pertunangan kalian kan? jadi kita perlu sedikit waktu biat nyiapin semuanya, bagaimana jika sebulan? Maka setelah sebulan kalian akan bertunangan?" lanjutnya
Deg..
Bagaikan tersambar peting disiang bolong, alangkah sakitnya hati Fakdi mendengar pernyataan Fanni, Jodoh yang terbaik?lalu bagaimana dengan cintanya?sungguh menyakitkan rasanya melihat orang yang dicintainya kini memutuskan untuk bertunangan, bahkan tanggal pertunangan nya saja sudah ditentukan
"Baik Tante, Aryan mengerti" ujarnya, sontak menyadarkan lamunan Faldi, ia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan itu, bahkan ia tak menggubris pertanyaan dari Yaya
"Eh, Fal mau kemana lo?" tanya Wawa, Caca mengalihkan pandangannya kearah Falfi yang berjalan keluar, tatapannya menjadi nanar
"Lo pasti salit hati Fal, ngeliat orang yang lo cintai malah mau bertunangan sama orang lain" lirih batin Caca "apalagi gue? selama ini gue menantikan lo, mengharapkan cinta lo yang jelas gue tahu, itu cuman buat Wawa, sakit Fal sakit, mengetahui yang ada dibenak lo, fikiran lo, dan hati lo juga hanya ada nama dan wajah Wawa, tapi gue bingung Fal, apa yag harus gue lakuin?" lanjutnya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Siapa pendonor buat Wawa? Apakah pertunangan mereka akan berjalan lancar? dan apakah cinta Caca ke Faldi akan terbakas? Nantikan terus kisahnya ya, jangan lupa Like, Vote, and Rate nya juga ya😊
Selamat Membaca😍😙