The Magical Of Love

The Magical Of Love
Berkunjung ke Makam Papsky



Sesuai rencana, Sepulang sekolah Wawa dan ibunya Fanni akan pergi berkunjung ke makam Richard, kini mereka tengah berada didalam mobil, selama perjalanan tak hanya sekali Wawa mengoceh tentang apa yang dialaminya disekolah, sedangkan Fanni menanggapi nya dengan senyum


"Mamsky, mamsky, nanti Wawa mau cerita ke Papsky kalo Wawa udah besar, Wawa juga udah bisa jagain Mamsky jadi Papsky gak perlu khawatirin mamsky terus" ujarnya polos, ia terus saja mengoceh seperti anak kecil yang bercerita pada ibunya


"Iya, sayang iya" balas Fanni dengan senyum miris, hatinya begitu tersayat mendengar penuturan sang putri tentang sang ayah


Akhirnya mereka sampai ditempat tujuan, mereka berdua pun turun dan memasuki area pemakaman, mereka mwncari-cari letak makam richard, dan tak lama setelah itu, mereka menemukan makam yang dicarinya, nampak nisan makam tersebut sudah terlihat agak kecoklatan dan kotor, tanahnya kerung yang mulai ada rerakan ditumbuhi rumput-tumput hijau yang cukuo panjang, menandakan bahwa makam tersebut sudah lama tak dikunjungi.


Wawa dan Fanni berjalan kearah makam tersebut, lalu mendudukkan diri disamping tepi makam tersebut. Dibelainya Nisan sang ayah tercinta oleh Wawa dengan air mata yang mulai mengalir deras, begitupun Fanni, ia begitu tak kuasanya melihat putri kecilnya yang menangis tersedu-sedu sambil memeluk nisan sang ayah


"Hai, Mas, aku hari ini berkunjung kesini, maaf aku baru berkunjung lagi, aku baru menyempatkan waktu sekarang,aku hadir disini bersama anak kita mas, anak yang kau selamatkan 18 tahun yang lalu kini dia telah tumbuh dewasa, menjadi gadis yang sangat ceria, cantik dan baik mas" ujar Fanni dalam hati sambil tangan kirinya membelai rambut Wawa lembut dan tangan kanannya menyentuh tanah makam yang sudah kering itu,matanya menatap pada nisan yang tertera nama Richard disana


"Hai, papsky, kau ingat aku? ini aku Wawa anak papsky, sekarang Wawa udah dewasa papsky, Wawa udah bisa jagain mamsky, papsky gausah khawatirin mamsky lagi ya" ucapnya sambil menyeka air matanya "Papsky? maafin Wawa ya, gara-gara Wawa papsky harus pergi ninggalin mamsky sendiri, papsky jangan benci ke Wawa ya? papsky jangan kaya orang-orang lainnya yang ngebenci Wawa hiks.... hiksss... Sejak kecil aja Wawa udah bisa bunuh papsky, gimana Wawa sekarang papsky? maafin Wawa ya papsky hiks hiks, Wawa mohon sama papsky, papsky jangan benci sama Wawa ya? Wawa sayaang banget sama papsky, cukup mereka aja yang benci sama Wawa tapi jangan papsky yaa hiks....hiksss" lanjutnya tersedu-sedu


"Wa, mamsky yakin kok papsky gak mungkin benci sama kamu, kamu harus belajar ikhlas nak, ini semua udah terjadi, ikhlasin papsky kamu biar papsky tenang dialam sana" ujar Fanni menenangkan sambil merengkuh tubuh Wawa dari samping dan membelai lembut rambut Wawa


"Tapi papsky kaya gini gara-gara Wawa mamsky! mamsky gak ngerti rasanya jadi Wawa hiks....hiksss....." balasnya sambil menangis dipelukan sang ibu.


"Mas? gimana aku harus jelasin ke Wawa mas? kalo ini semua bukan salah dia? gimana mas? aku gak tega liat dia terus-terusan nyalahin dirinya, mas liatkan? ibu juga terus-terusan mojokin Wawa, dia gak pernah ngakuin Wawa cucunya, dia masih beranggapan kalo semua yang terjadi gara-gara Wawa mass hikss, bagaimana aku bisa menghadapi ini sendiri? hampir seluruh keluargamu menyalahkan Wawa atas kepergian kamu mas hiks....hiks... bahkan teman Wawa disekolahnya menjadikan Wawa sebagai bahan olok-olokkan mas hiks....hiksss, aku harus gimana mass gimana??" teriak Fanni dalam hati dengan air mata yang terus saja mengalir sambil menciumi puncak kepala Wawa "Sayang? kita pulang sekarang ya?" ujar Fanni sambil melepaskan pelukannya


"Mamsky kalo mau pulang duluan aja! Wawa masih pengen disini, biar nanti Wawa pulangnya naik taksi aja." balasnya


"Kamu yakin gak mau pulang bareng mamsky?" tanya Fanni memastikan, dan dijawab anggukkan oleh Wawa "Yaudah mamsky minta maaf ya, mamsky harus pulanbg duluan sayang, mamsky juga mau kerumah sakit, meriksa pasien gawat darurat kemaren kamu gak papa kan?" lanjutnya


"Iya, mamsky pergi aja, lagian Wawa gak papa kok" balas Wawa, Fanni pun beranjak dan pergi meninggalkan Wawa yang masih setia terjaga sendirian disana,ia terus saja menangis tersedu-sedu, sampai-sampai ia tak sadar ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya, Ardan, Ardan memperhatikkan gerak gerik Wawa dari kejauhan, sebenarnya ia hendak pulang, namun saat manik matanya menangkap sosok yang begitu dikenalnya, spontan ia langsung memberhentikan mobilnya, memperhatikkan gadis yang sedang terduduk lemah ditepi makam


"Tuh si cewek gila ngapain disitu? itu makam siapa lagi? makam ayahnya?" monolognya


Awan sudah mulai mendung rintik hujan pun sudah mulai turun, namun gadis itu masih tetap terjaga memeluk nisan sang ayah sambil menangis tersedu-sedu dengan mulut yang tak berhenti mengoceh, Ardan yang melihatnya begitu iba, hujan sudah turun dengan derasnya, namun gadis itu masih belum bangkit, akhirnya Ardan memutuskan untuk menghampiri Wawa, ia segera turun dari mobilnya, dan berjalan mendekat kearah Wawa, sesampainya dibelajang Wawa, ia hanya menatap punggung gadis tersebut, hatinya begitu tersentuh melihat tangis gadis itu, manik matanya beralih pada nisan yang dipeluk oleh Wawa


"Papsky! Wawa kangeeen banget sama papsky, paps apa Wawa ini anak durhaka? karena udah buat ayah kandungnya sendiri terbunuh? papsky tau? omma sama oppa bencii banget sama Wawa, apa paps juga sama kaya mereka? apa pasky benci juga sama Wawa?hiks...hikkss" ujarnya tersedu-sedu, dibawah guyuran hujan yang mengguyur tubuh mungilnya,seakan mengiringi tangis gadis itu


"Kasian ya dia? pasti sakit banget dibenci sama keluarganya sendiri" gumam Ardan


"Papskyy, Papss maafin Wawa yaa, Papsky tay? Wawa itu sayaaaang banget sama paps, Wawa sama sekali gak ada maksud buat bunuh papsky dan buat mamsky menderita hiks....Secara nggak langsung Wawa udah bikin mamsky menderita padahak dia udah ngurus Wawa dengan baikk, mamsky gak pernah biarin Wawa kekurangan kasih sayang dari figur seorang ayah, mamsky ibu yang tangguh paps, ia bisa jadi ibu sekaligus ayah buat Wawa, tapi apa balesan Wawa? Wawa malah ngerenggut kebahagiaannya paps hiks...." Ujarnya Lagi, Ardan semakin tak kuasa melihat Wawa yang serapuh itu, ia pun akhirnya mulai mendudukkan diri disamping Wawa


"Lo gak perlu nyalahin diri lo sendiri! semua yang terjadi itu adalah takdir, dan lo harus yakin bahwa takdir itu yang terbaik buat lo sama mamsky lo! Lo juga harus inget, bahwa seluruh alam semesta ini udah ada yang atur, jadi kita juga gak bisa seenaknya nentuin hiduo.mati seseorang, kehidupan adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri, sedangkan kematian adalah hal yang tak sepatutnya ditangisi, lo harus inget kematian itu bisa datang kapan aja! siap gak siap kita harus siap,dan ikhlas gak ikhlas kita harus ikhlas! dan apa yang tejadi sama Papsky lo itu udah jadi bagian takdir hidup lo! lo harus belajar dari pahitnya hiduo supaya bisa menjadi orang yang kuat!" ujar Ardan datar, lalu mendekap Wawa yang tersedu-sedu dari samping membuat Wawa tersentak sampai mendonggakkan kepalanya menatap siapa yang memeluknya itu


"A-ardan?" ujarnya, sambil mencoba melepaskan pelukannya "Lo ngapain disini?" lanjutnya lirih


"Gue tadi gak sengaja lewat sini, terus gue liat lo keujanan" jawabnya datar "Udah, mending sekarang lo balik! hujan makin deras, tar lo sakit, gue anterin lo" lanjutnya, dan dijawab anggukkan oleh Wawa.


Mereka berdua pun berjalan beriringan ketempat mobil Ardan terparkir, sesampainya dimobil, mereka langsung menaiki dan melajukan mobil itu, selama perjalanan tidak ada percakapan antara mereka, bahkan Wawa yang biasanya selalu menggoda Ardan kini ia terlihat murung, sesekali Ardan mencuri pendangan kearah Wawa yang menunduk sambil memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan, Ardan pun merasa tak tega melihatnya, ia segera menepikan mobionya dipinggir jalan.


"Lho! ko berhenti? rumah gue kan masih jauh" ujar Wawa sambil menoleh pada Ardan dengan raut wajah bingung, Ardan tak menggubris pertanyaan itu, ia fokus mencari sesuatu dibelakang jok mobil " Lo nyari apa?" lanjutnya, namun tetap tak dihiraukan olehnya, setelah ia menemukan yang ia cari, iapun segera berbalik dan menghadapkan dirinya ke Wawa, perlahan ia mendekat pada Wawa, kini jarak mereka hanya tinggal beberapa centi saja Wawa gugup dengan perlakuan Ardan " L-lo mau apa?!" tanyanya tegas, namun tak dijawab oleh Ardan ia malah semakin mendekatkan dirinya pada Wawa, lalu ia memakaikan jaket yang ada ditangannya pada tubuh Wawa, untuk menyelimuti tubuh gadis tersebut, setelah itu ia langsung kembali pada posisi semula


"Lo fikir gue mau apain lo?!" balasnya datar, lalu segera melajukan mobilnya sampai di rumah Wawa.


"Makasih ya" ujarnya setelah turun dari mobil, Ardan tak membalas, ia segera melajukan mobilnya begitu saja, Wawa pun mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam dengan perasaan bahagia,terlihat jelas diraut wajahnya, karena ia terus saja senyum-senyum sendirian, ia pun masuk kedalam kamarnya, lalu mengganti pakaian dan merebahkan diri diatas Ranjang nya


**Don't Forget For Like, Vote, and Rate😍


semoga kalian suka dengan ceritanyaa😍


Happy reading😙**