
Satu tahun sudah berlalu, Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh sekuruh siswa SMA Kartini Hari dimana masa depan mereka ditentukan, hari yang merupakan penentuan masa kelulusan mereka kini seluruh siswa kelas XII SMA Kartini telah berkumpul dilapangan untuk merayakan hari ini, nampak semua orang tertawa riang gembira dihari ini terkecuali Ardan, ia masih saja memasang muka datarnya bahkan dihari kelulusannya, hasil pengumumang kelulusan sudah dibagikan oleh kepala sekolah, kini saat bagi mereka untuk saling memberi warna dibaju mereka dan meninggalkan tanda tangan, Wawa, gadis itu yang sedari tadi memperhatikan Ardan akhirnya mendekatinya
"Hai Dan" sapanya
"Hai" balasnya datar
"Lo gak mau ninggalin jejak di baju gue?" tanyanya sambil menyerahkan spidol hitam pada Ardan
"Untuk apa?" tanyanya datar
"Untuk kenang-kenangan, lo bilang lo cinta kan sama gue?" balas Wawa
"Taoi semuanya sia-sia kan? toh juga gue gak ada hak buat lo, oh ya selamat atas pernikahan lo nanti, mungkin nanti saat pernikahan lo tiba gua udah gak disini lagi" ujarnya
"Emang lo mau kemana?" tanya Wawa penasaran
"Gua mau kuliah di london" jawabnya
"Lo yakin? lo mu ngebiarin gue nikah sama pria itu?" tanya Wawa
"Itu udah keputusan lo kan, lo ingat kan satu tahun lalu?" balas Ardan, Wawa pun mengangguk lemah, sambio mengingat kembali yang terjadi satu tahun lalu
#Flash back Off
"Kenapa Aryan bilang gitu yak?" gumam Wawa
tok...tok....tok....
"Wawa, buka pintunya!" ujar Fanni diluar kamar, dengan langkah malas Wawa pun berjalan kearah pintu dan membuka nya, menampakkan wanita setengah baya yang masih saja terlihat sangat cantik diusianya yang mulai maju dikepala empat
"Ada apa?" tanyanya malas
"Mamsky mau ngomong sama kamu" ujar Fanni sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Wawa mendahuluinya dan diikuti oleh nya dibelakang
"Kamu harus menikah dengan Aryan" ujar Fanni to the point
"Mamsky gak ngerti mamsky, Aryan itu gak baik!" tolak Wawa
"Wawa ini yang terbaik buat kamu! kenapa? kenapa kamu nolak perjodohan ini?! kalian sudah bertunangan" ujar Fanni tegas
"Tapi Mamsky" lirihnya, sambil menatap lekat Fanni
"Tidak ada tapi-tapian!" tegasnya
"Mamsky gak ngerti aoa yang dirasain Wawa kan?! mamsky malah lebih membela dia dari anak mamsky sendiri, mamsky tahu dia nuduh Wawa sebagai pembunuh!"
Deg...
Hati Fanni tersentak mendengar kata PEMBUNUH, ia takut jika Wawa menanyainya akan segala hal, selama ini selama ia hilang ingatan Fanni tidak pernanh mengatakan apapun pada putrinya akan pentebab kematian ayahnya, bagaimana bisa ia tahu fikirnya
"Mamsky?" ujar Wawa menyadarkan sambil menyentuh bahu Fanni
"Ah iya?" kikuk Fanni
"Mamsky tahu, penyebab kematian papsky? apa bener itu karena Wawa?" tanyanya
"Wawa sudahlah, mamsky harus oergi kerumah sakit, dan ingat setelah lulus sekolah mamsky akan menikahkan mu, kamu tahu keluarga Aryan sudah baik pada kita dia memberi ibu modal untuk merintis usaha membangun rumah sakit itu, jadi hanya dengan ini kita bisa membalas jasa mereka" ujarnya lalu pergi meningglkan Wawa sendirian dikamar
"Apa ada yang disembunyiin Mamsky ya?" gumamnya, pandangannya beralih pada foto keluarga kecil yang begitu berbahagia setelah mendapat kehadiran seorang bayi dikehidupannya, tawa bahagia yang tulus terpancar dari foto itu, tangan Wawa menyentuh lembut foto itu, ingatannya akan pernyataan Aryan yang mengatakan bahwa ia adalah pembunuh kembali terngiang difikiran Wawa, ia memaksakan dirinya untuk mengingat sesuatu
"Arrghhhh sakiiit" pekiknya sambil memegangi kepalanya yang terasa amat sangat sakit saat perlahan sekelebat ingatan demi ingatan muncul diotaknya
ingatan dimana saat ia dihina oleh tari saat disekolah dan pergi ke gudang lama dan dipeluk oleh Ardan, ingatan dimana ia pertama kali bertemu dengan Ardan, dan selalu mengejar-ngejarnya, ingatan dimana ia diculik oleh Tari dan disiksa disebuah rumah tua yang begitu gelap dan ditolong oleh Ardan hingga terjadi kecelakaan, semua ingatan perlahan kembali memutar dalam fikirannya, membuatnya semakin kesakitan
"Aargghhhh" ujarnya sambil terus memegangi kepalanya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan yang satunya mencari obat pereda rasa sakit
"Yah aku mengingatnya! gue inget semuanya!" ujarnya saat rasa sakitnya mulai mereda "Ardan! dia lelaki yang gue cinta, Gue harus nemuin dia buat ceritain semuanya!" lanjutnya sambil berlari keluar dan melajukan mobilnya untuk menemui Ardan
***
"Ngapain lo ngajak gua kesini?" tanya Ardan saat sampai disebuah pantai yang pernah ia datangi dulu bersama Ardan
"Lo inget Baby Hunny? di tempat ini kita pernah mwnghabiskan waktu berlibur bersama" ujar Wawa sambil menatap keindahan pantai itu, Ardan tersentak saat mendengar panggilan lama dari Wawa, panggilan yang telah lama ia rindukan
"Lo tadi manggil gue apa?" tanyanya
"Baby Hunny" jawab Wawa dengan polosnya
"Lo-lo?" Wawa mengangguk mengiyakan
"Gue inget semuanya, Seeemuaaa tentang kehidupan gue juga tentang cinta gue" ujarnya dengan senyum bahagia
"Lo gak bercanda?" tanya Ardan meyakinkan
"Lo sekarang tahukan siapa pria yang lo cinta? dan lo tahu kan akan cinta gue?" tanya Ardan dengan perasaan bahagia
"Tentu" balasnya
"Jadi apa lo mau jadi pasangan hiduo gue?" tanya Ardan sambil menggenggan tangan Wawa erat, kedua bola mata mereka saling bertemu, perlahan Wawa melepas genggaman tangan Ardan
"Sory Dan, gue gak bisa, tahun depan setelah kita lulus sekolah, mamsky mau nikahin gue sama Aryan, dan gue gak bisa nolak karena suatu hal" lirihnya, Ardan tak percaya dengan penuturan Wawa ia tak menyangka penantiannya akan benar benar tak berbuah
"Tapi lo tahu dia gak baik buat lo!" bantah Ardan
"Gue tahu Dan, tapi gue gak bisa bantah mamsky, selama ini mamsky nanggung segala penderitaan karena gue, cuma ini yang bisa gue lakuin buat ngebalas semuanya" balas Wawa
"Oke kalau itu keputusan lo, gua harap lo bahagia dengan pernikahan lo" ujar Ardan pasrah.
#Flash back on
"Dan ini hari terakhir bagi kita, gue mohon sama lo, lo mau kan ngehabisin waktu lo sama gue?" tanya Wawa penuh harap
"Sory, gue gak bisa, sepulang dari sekolah gua harus langsung berangkat ke London, maaf gua harus pergi" ujar Ardan menghindar, sambil melangkahkan kakinya menjauh dari Wawa"Sory Wa, bukannya gua gak mau nemenin lo, tapi ini yang terbaik untuk kita, gua gak mau biarin rasa ini tumbuh semakin besar pada lo saat lo udah jadi istri orang" batin Ardan, sambil menghentikan langkahnya sesaat dan menoleh pada Wawa yang masih mematung disana, dan melakukan kembali langkahnya.
"Hooy Waaaa" kaget Faldi sambil menepuk bahu Wawa
"Eheh ayam jatoh dari pohoon!" latahnya
"Hahaha ada-ada aja ih si Wawa masa ayan jatuh dari pohon" ujar Jejes dengan polosnya
"Ih! curut got lu tuh kebiasaan banget sih ngagetin gue aja!"gerutunya
"Lagian liatin apa lo sampai segitunya?" sahut Yaya
"Nggak!" elak Wawa
"Eh kita hunting kuuy! terakhiran nii jarang-jarang lho" ajak Faldi
"Meluncuur" seru Wawa
"Eh Wa bukannya lo harus fitting baju pengantin ya sama Aryan?" tanya Yaya, seketika raut wajah Faldi berubah
"Ah iya gua lupa, kagak ngaoa deh bentar doang, ini kan terakhiran" ujar Wawa
Caca yang sedari tadi memperhatikan Faldi merasa iba sekaligus sakit kala melihat pria yang dicintainya masih saja berharap pada wanita yang akan menikah
"Elo mau nikah Wa?" tanya Jejes
"Iya lah Jes" sahut Yaya
"Wah kasian dong si Faldi bisa patah hati tuh" celetuk Jejes yang langsung mendapat tatapan tajam dari Faldi
"Apa si nggak!" elaknya tegas "Ah udahlah ayok jadi gak nih hunting nya?" tegasnya
"Sensi amat si lu bang PMS ya?" ledek Wawa
"Bodo!" balasnya, lalu berjalan mendahului mereka "Lo gak ngerti Wa perasaan gue, tapi gak papa, gua harap lo bahagia sama Aryan" batin Faldi
"Gue ngerasain apa yang lo rasain Fal, pasti sakit kala melihat orang yang lo cintai mau nikah sama orang lain" batin Caca sambil menatap langkah Faldi yang mulai semakin menjauh.
_
_
_
_
_
_
_
_
Kasihan ya sama sama bertepuk sebelah tangan cintanya:)
Jangan lupa Like, vote, sama ratenya yaa😚
Semoga kalian suka sama ceritanya❤
Happy reading❤