
Nampak semua dekorasi sudah tertata dengan Indah malam ini dirumah keluarga Fanni, sudah banyak tamu undangan yang datang kekediamannya, mulai dari rekan-rekan bisnis Keluarga Aryan maupun rekan kerja Fanni dirumah sakit pribadinya, tak lupa juga orang-orang terdekat Wawa dan Aryan kecuali Tari, Kini Wawa telah tampil cantik dengan balutan gaun putih yang sederhana namun terlihat sangat elegan dipakainya, dengan rambut disanggul rapi ditambah tiara diatas kepalanya, dipadukan dengan make up yang nampak standar tidak terlihat polos, dan tak juga terlihat mencolok
Kira-Kira begitu yak penampilannya wk
"Ini akan menjadi awal baru untukku" gumamnya kala menatap dirinya yang kini tengah siap untuk segera melangsungkan pernikahan, tak lama Fanni pun datang untuk menjemput putri tercintanya itu
"Sayang, kau cantik sekali" puji Fanni dengan seyum bahagia sambil membelai pipi putrinya itu lembut
"Terima kasih" lirihnya dengan senyum dipaksakan
"Mari, semua orang sudah menunggumu" ucap Fanni sambil menggandeng tangan Wawa untuk keluar kamarnya, didepan kamar sudah berdiri mang Udin yang suao menjadi Waki nikahnya, Wawa segera memeluk lengan mang Udin yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri, mang Udin tersenyum bahagia, ia tak percaya kini ia akan menyaksikan pernikahan anak majikannya sekaligus menjadi wali untuknya, Wawa segera berjalan dengan anggun bersama mang Udin menuju tangga, Fanni menatap mereka dibelakangnya, ada rasa gembira bercampur sedih dihatinya kala melihat putri kecilnya akan menikah hari ini
"Andai kamu disini mas, lihatlah hari ini putri kita akan menikah" lirihnya dengan air mata yang perlahan mulai jatuh membasahi pipinya
Semua mata tertuju pada Wawa yang kini tengah berjalan dengan anggunnya menurunu tangga bersama mang Udin, saat ditangga terakhir ia disambut dengan uluran tangan dari Aryan yang sedang menampakkan senyum kearahnya, Wawa pun dengan terpaksa membalas uluran tangan Aryan dan menggandengnya menemui kerabat-kerabat temab dan rekan kerja nya sebelum pernikahan dimulai
"Kau cantik malam ini sayangku" bisik Aryan, Wawa menatapnya kesal "Tenang saja, aku akan memberikanmu hadiah yang tak akan pernah kau lupakan" lanjutnya berbisik
"Hai Aryan, ini calon istrimu?" tanya salah seorang pria
"Ya tentu bagaimana?" balasnya berbangga diri sambil melirik kearah Wawa yang nampak murung "Tersenyumlah, jika tidak orang akan menyangka kau tidak bahagia dengan pernikahan ini" bisik Aryan, Wawa menoleh kearahnya dan berkata "Aku memang tak bahagia dengan pernikahan ini" ucapnya berbisik
"Hoy ayolah, sepertinya kalian ini sudah tidak sabar ya hahaha" goda pria lainnya yang merupakan teman Aryan "Perkenalkan namaku Axel" ucapnya sambil mengulurkan tangannya kearah Wawa, Wawa pun dengan malas membalas uluran tangan dari pria bernama Axel itu "Wawa" balasnya dengan senyum dipaksakan
"Namaku, Erick" ujar pria pertama sambil melakukan hal yang sama seperti Axel, dan dibalas puka oleh Wawa
"Wawa"
"Sudahlah cukup perkenalannya, kita akan melangsungkan pernikahan segera mari" tukas Aryan, sambil menggandeng paksa lengan Wawa menuju ke Altar pernikahan "Kau diam dulu disini" titah Aryan
"Kau mau kemana?" tanya Wawa heran
"Aku akan menyiapkan kejutan untukmu sayang" godanya lalu berlalu pergi meninggalkan Wawa, Wawa menatap sekeliling ruangan yang nampak penuh dengan dekorasi yang nampak indah itu, namun tidak dimata Wawa ia menganggap ini semua merupakan mimpi buruk yang terjadi, rasanya seperti ia ingin segera bangun dari mimpi ini dan segera melanjutkan hidupnya didunia nyata, penghulu sudah datang dan duduk bersama Wawa dialtar pernikahan, para saksi dan wali pun sudah berkumpul disana, namun Aryan? Entah dimana dia saat ini, sedari tadi ia pamit pada Wawa pria itu belum juga kembali
"Dimana mempelai prianya?" tanya penghulu heran
"Tunggu seben....."
"Aku disini" tukas Aryan lantang, semua tamu undangan mengalihkan pandangan mereka pada Aryan yang kini nampak comoang camping dengan luka lebam dimana-mana dan mata berkaca-kaca
"Aryan sayang" pekik sang ibu shock, sambil berlari kearahnya dan memeriksa sekujur tubuh Aryan "Kau kenapa nak?" tanya lirih dengan air mata yang mulai mengalir, banyak dari oara tamu undangan yang menggunjing Aryan tak terkecuali para sahabat Wawa
"Tuh anak kenapa sih, tadi ngilang nah sekarang tau tau dia dateng dengan kondisi kayak gitu?" ujar Yaya
"Udah diem dulu" sahut Caca datar
"Sebaiknya pernikahan ini tidak usah dilanjutkan" lirih Aryan, semua tamu undangan nampak terkejut dengan pernyataan Aryan, begitupun Wawa
Plaakkk.....
Tamparan keras yang berasal dari Fanni mendarat dipipi Aryan, Fanni begitu tak menyangka pria itu akan mengatakan hal itu
"Apa kau sudah gila?! Kau ingin menghancurkan hidup putriku?" pekiknya dengan mata berkaca-kaca
"Fann ku mohon tenang dulu"
"Bagaimana aku bisa tenang melihat putramu bersikap seperti ini pada putriku?!" bentaknya
"Maafkan Aryan tante, tapi Wawa tidak mencintai Aryan" ujarnya dengan nada kecewa
"Cinta bisa datang dengan berjalannya waktu" balas samg ibu
"Tidak semudah itu bu, kau tahu kenapa aku begini? Tadi saat aku hendak pergi ketoilet ada seseorang menyerangku dari belakang, dan dia mengancamku" lirihnya " Dia tak ingin aku bersatu dengan Wawa, sebenarnya aku tahu selama ini Wawa telah menjalin hubungan dibelakangku dengan kekasihnya itu, bahkan dimalam sebelum pernikahan kami, dia diam-diam menemuinya dan menghabiskan waktu bersamanya" lanjutnya, Fanni membulatkan matanya sempurna, pandangannya teralihkan pada putri kecilnya yang sedari tadi diam
"Wa? Apa itu benar?" lirih Fanni penuh harap
"CUKUP!! Omong kosong apalagi ini hah?!" sentak Wawa "Itu semua tidak benar mamsky" lanjutnya lirih
"Wa, jika kamu memang tak mau melanjutkan pernikahan ini aku akan bilang, tapi kau tak perlu menyuruh orang untuk membunuhku" ucap Aryan, Wawa mengernyitkan dahinya heran
"Apa maksudmu?" tanyanya
"Penjaga!" tegas Aryan, tak lama kemudian dua penjaga datang, membawa seorang pria yang sudah babak belur "Kau tahu dia kan?" tanyanya pada orang itu sambil menunjuk kearah Wawa, orang itu nampak melihat kearah Wawa
"Apa yang kau katakan! Siapa kau?!" lantang Wawa
"Kau tak usah mengelak Wa aku tahu, kau ingat malam itu? Saat kau memaki-maki ku saat aku mempergokimu sedang bermesraan bersama kekasihmu?" tanya Aryan
"Apa maksudmu? Kapan?" herannya, semua tamu undangan menggunjing pertikaian mereka berdua
"Kalian pasti tak akan percaya padaku" ujar Aryan, ia pun merogoh ponsel disaku celananya lalau menghubungkannyadengan layar proyektor dan menunjukkan sebuah vidio pada semua tamu undangan, dimana dividio itu sedang berada dibar, muka dari vidio itu tak teerlihat jelas, yang terdengar hanyalah suara erangan dan juga pergerakan dari orang yang ada disana
"Wawa apa yang kamu lakukan?"
"Bukan urusanmu, lagipula aku tak mencintaimu, aku hanya mencintainya, ingat jika kau memberitahukan hal ini oada mamsky aku tidak akn segan segan membunuhmu!"
Semua orang nampak terkejut termasuk Wawa, ia tak mengerti bagaimana bisa ini terjadi? Ia bahkan tak pernah merencanakan apapun sebelumnya untuk menghentikkan pernikahannya
Plaaak
Tamparan yang amat sangat keras mendarat tepat dipipi mulus Wawa sehingga membuatnya terhuyung, dengan sigap sahabat-sahabatnya segera membantu Wawa
"WA!" pekik mereka bersamaan, sambil berlari kecil kearahnya
Wawa mentap sendu kearah tamparan "Mamsky" lirihnya
"Bagaimana bisa kau melakukan itu hah?! Kau membuat semua orang meragukan didikan ibumu ini, apa ini balasanmu untuk ibumu yang selama ini menjagamu? Dan selalu membelamu? Apa ini balasan untuk ibumu yang selama ini telah menanggung beban penderitaan yang disebabkan olehmu?!" lantang Fanni penuh amarah
"Mamsky dengarkan Wawa" lirihnya sambil mencoba bangkit lalu berlari memeluk ibunya, namun Fanni mendorongnya
"Tak ada yang perlu dijelaskan! Semua sudah jelas! Kau tahh aku menyesal memiliki putri sepertimu! Seharusnya kau berterimakasih padaku karena aku telah mengurusmu! Jika aku tahu kau hanya akan membuat aku malu harusnya dulu aku membiarkanmu mati ditangan wanita itu! Dengan begitu suamiku pasti akan masih hidup, dan keluarga ku tidak akan membenciku!" amarahnya tanpa sadar, mata Wawa terbelalak sempurna begitupun para sahabatnya, bagaimana bisa Fanni mengatakan hali itu? fikir mereka, hati Wawa begitu tersayat kala mendengar pengakuan bahwa ialah penyebab segala penderitaan yang Fanni alami
"CUKUP! HENTIKAN!" lantang seorang pria dari pintu masuk
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Siapa ya pria itu? Ardankah? Penasaran gak? Ikuti terus ya kisahnya, jangan lupa Like, Vote, Rate sama komennya yaa say😚❤
Mampir juga ya ke karya aku lainnya
"Broken Child"
"Kekasihku ternyata ayah tiriku"
"Cinta yang terbuang"
Jangan lupa juga tinggalkan jejak 😚❤
Happy Reading😚❤