
Kini mereka tengah berkumpul didepan ruangan Wawa, menatap tubuh mungil Wawa yang terbarung lemas, dengan perban diseluruh tubuhnya, alat bantu pernafasannya, juga alat pemicu jantung terpasang di tubuhnya, tubuhnya begitu tak berdaya, matanya terpejam begitu lelap padahal delapan jam sudah ia setelah operasi, namun ia masih juga belum sadarkan diri, semua orang yang ada disana nampak sangat khawatir menunggui nya, sampai akhirnya dokter pun keluar
"Dok gimana keadaan Wawa?" tanya Fanni "Kenapa dia masih belum juga sadar dok? Bukannya ini udah delapan jam setelah operasi? Bukannya harus nya dia sadar kan dok?" lanjutnya bertubi-tubi
"Dokter Fanni benar, memang seharusnya putri anada sudah sadar sekarang, namun dengan berat hati saya menyampaikan bahwa, sepertinya putri anda mengalami koma, akibat pendarahan dan benturan keras dikepalanya, kondisinya juga masih sangat lemah dan kritis, kami tidak bisa memastikan kapan ia sadar, kita hanya perlu berdo'a saja, semoga tuhan membuat keajaiban untuknya" jelas dokter Hendra
"K-koma dok?" lirihnya, dokter pun mengangguk mengiyakan
"Baik, saya pamit undur diri" ujar sang dokter lalu berlalu pergi, seiring dengan kepergian dokter, Ardan pun datang menghampiri mereka
"Van, gimana keadaan Wawa?" tanya Ardan
"Wawa, Wawa koma Dan" jawabnya sedih, Aryan melirik kearah Ardan, dan menghampirinya
"L-lo Ardan kan?" tanya Aryan kesal "Lo yang udah buat calon istri gue kaya gini kan?" lanjutnya, sambil tanpa ba bi bu ia menghantam wajah Ardan dengan tinju nya, sampai Ardan terhuyung kebelakang, pelipis nya lebam, dan sudut bibir nya pun berdarah, Bevan, Jojo, dan Faldi mencoba memisahkan mereka, namun tetap saja tak bisa
"Cukup!Cukup!" pekik Fanni, membuat Aryan menghentikkan aksinya "Kalian gak kasian sama Wawa hah?! Liat Wawa lagi berjuang antara hidup dan mati! Apa kalian gak mikir?!" lanjutnya
"Tapi tante, anak ini harus diberi pelajaran" protes Aryan
"Aryan cukup! Ini bukan salah Ardan! Apa yang menimpa Wawa itu murni kecelakaan! Tante mohon cukup, seenggaknya kalian hargai Wawa yang lagi terbaring lemah disana, berjuang antara hidup dan matinya!" ujarnya "Lebih baik, sekarang kalian pulang, ini udah larut, biar Wawa tante yang jaga, besok kalian harus sekolah" lanjutnya
"Tapi tan-..." protes Faldi
"Faldi! Tante mohon" potong Fanni
"Tante Fanni bener Fal, kita juga harus sekolah besok" ujar Yaya, akhirnya mereka semua mengiyakan permintaan Fanni, dan pergi meninggalkan rumah sakit terkecuali Ardan
"Ardan, kenapa kamu gak pulang nak?" tanya Fanni lembut
"Tante, Ardan mohon, biarin Ardan disini tan, Ardan mohon" pintanya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya, dengan air mata yang mengalir deras ke pipinya
"Ardan, kamu gak perlu kaya gitu, oke, oke kalau kamu mau nemenin Wawa" ujar Fanni, Wawa dan Fanni pun masuk keruang rawat Wawa
"Hai Wa, lo marah sama gue? Maafin gue ya Wa?" lirihnya sambil menggenggam tangan Wawa erat, Fanni yang melihatnya begitu terharu, ia tak menyangka orang sekeras Ardan bisa rapuh hanya karena putrinya "Tante, maafin Ardan ya, gara-gara Ardan, Wawa harus ngalamin ini semua" lirihnya
"Ardan, tante sama sekali gak nyalahin siapa-siapa atas apa yang menimpa Wawa, ini semua udah takdir yang harus Wawa jalani, kamu gak boleh nyalahin diri kamu sendiri ya?" balas Fanni lemah lembut, sambil mengelus-ngelus bahu Ardan dengan tangan kirinya "lebih baik sekarang kamu istirhat ya?" lanjutnya
"Tante duluan aja, biar Ardan nungguin Wawa disini" ujarnya, Fanni pun mengiyakan, iya mendudukkan dirinya di sofa samping dekat ranjang Wawa, sedangkan Ardan matanya masih terjaga menunggui gadis itu, dengan air mata yang terus mengalir, dan tangan yang menggenggamnya erat
"Lo bangun Wa, gue tahu lo kuat, gue mohon Wa, bangun, kasian mamsky lo" lirihnya "demi gue Wa, demi cinta lo ke gue, Wa, Wa bangun gue janji gue janji sama lo gue bakal jagain lo, Wa gue mohon kalo sampe sesuatu terjadi sama lo, gue gak akan maafin diri gue sendiri" lanjutnya, hingga akhirnya Ardan pun tertidur karena terlalu lama menangis.
Keesokan paginya, diruangan yang bernuansa putih, diatas brangkarnya terdapaat tubuh sosok gadis yang terbaring lemah tak sadarkan diri, dengan seorang pria yang duduk tertudur disampingnya, dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan gadis itu seakan tak mau kehilangan, sedangkan di sofa samping tempat tidur nya, seorang wanita setengah baya tertidur meringkuk disana, perlahan tubuh wanita itu mulai mengerjap, matanya mulai terbuka perlahan, ia melihat sekeliling ruangan, melihat putrinya yang masih tetap dalam keadaan yang sama, bahkan kondisinya masih belum stabil, ia bangun dan mengumpulkan nyawanya, lalu mulai beranjak mendekati brangkar putrinya, dan menatap putrinya yang begitu lemah, dengan luka lebam dimana-mana
"Ardan, dia anak yang baik, dia pasti lelah menunggui Wawa semalaman" gumamnya, perlahan lengannya mulai menyentuh bahu Ardan dan mengguncangnya pelan, Ardan yang merasakan nya pun mulai mengerjap dan membuka matanya, dan mengucek nya, menormalkan pandangannya yang sedikit kabur
"Ah? Tante" ujar nya
"Ardan, lebih baik sekarang kamu pulang dulu ya? Kan kamu harus berangkat sekolah" ujar Fanni lembut
"Tapi Wawa?" tanyanya
"Kamu tenang aja, tante janji bakal jagain Wawa ya, sekarang kamu pulang dulu, nanti jika pulang sekolah kamu bisa datang lagi kok" balas Fanni
"Untuk apa?" heran Fanni
"Nanti saya jelaskan" jawabnya "yang jelas ini demi keamanan Wawa tante" lanjutnya, akhirnya Fanni pun mengiyakan permintaan Ardan, dan Ardan pun pamit kesekolah.
#Kediaman Nasution
"Aryan, bagaimana keadaan putri Fanni?" tanya Willi
"Dia koma yah" jawabnya "Yah, Aryan harus pergi sekolah, Aryan pergi dulu" lanjutnya pamit, ia pun melangkah keluar dan menaiku mobilnya, lalu segera melajukan mobilnya, namun, ditengah perjalanan, tiba-tiba ada sebuah mobil menghadang jalan nya
"Shiit! Siapa dia?!" umpat Aryan, Aryan menatap kearah mobil itu, seorang Wanita keluar dari mobil itu dan mendekat kearahnya
"Hallo Aryan Nasution?" sapa Wanita itu "Masih ingatkah kau denganku? Saudari angkat mu?" lanjutnya
"Tari?" balasnya
"Benar sekali, ternyata kau masih ingat dengan ku" sahutnya bangga
"Apa kabarmu adik angkat ku tersayang?" lanjutnya
"Aku baik, bagaimana keadaan ibu?" jawab Aryan
"Ibu? Kau tahu? Dia sangat tidak baik" jawab Tari dengan raut wajah sedih
"Apa maksudmu?" tanya Aryan tak mengerti
"Dia kehilangan kejuwaan nya, gara-gara keluarga Richardo! Wanita yang dijodohkan dengan mu yang membuat dia menjadi gila!" tegas Fanni
"M-maksud mu, Wawa?" tanya nya tak percaya
"Iya! Dia yang udah bikin ibu kita gila, dan ayah meninggal, kau tahu, setelah orang tua kandungmu mengambilmu dari ayah dan ibu, Ibu semakin menjadi, ia tak sengaja membunuh ayah hiks" jelasnya
"Kau tidak berbohong?" tanya Aryan lagi
"Apakah aku terlihat berbohong?! Aryan, kau masih sayang ibu kan?" tanya Tari
"Apa yang kau bilang, tentu saja aku sayang kalian, karena sebelum orang tua kandungku, kalian lah yang mengurus ku!" jawab Aryan
"Jika memang kau masih menyayangi ibu kita, kau bersedia kan membalaskan dendam ibu pada keluarga Richardo?" tanyanya lagi
"Aku akan melakukan apapun untuk membalas jasa ayah dan ibu selama ini" ujar nya mantap, Tari pun membisikkan sebuah rencana pada Aryan
"Wawa, lihat saja, bagaimana aku akan menghancurkan hidupmu!" gumam Aryan "Baiklah, aku harus pergi sekolah, nanti kita bertemu lagi" pamitnya, lalu berlalu meninggalkan Tari
"Dengan begitu, aku tidak perlu mengotori tanganku untuk menyingkirkan gadis itu" desis Tari dengan senyum menyeramkan
Apakah yang direncanakan Tari dan Aryan untuk balas dendam pada Wawa? Akankah Rencana nya itu berhasil? Dan bagaimana keadaan Wawa selanjutnya? Nantikan terus kisah nya ya, Jangan Lupa Like, Komen, Vote, and Rate nyaa
Happy Reading😍😙